Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#18 WP?S2


__ADS_3

Maafkan Author tidak dapat update kemarin-kemarin, karena ada pekerjaan yang tidak dapat ditunda, semoga kalian senang dengan update kali ini.


Debora dan Samuel meninggalkanku untuk bertemu dengan tamu-tamu yang lainnya, sedangkan Angkasa sedang berbicara dengan beberapa orang yang datang menyapanya. Aku berpikir mengapa Angkasa mau melakukan pekerjaan-pekerjaan ‘gelap’ padahal dia sendiri sudah mendapatkan kesuksesan seperti ini.


Aku melihat orang-orang yang berbicara dengannya, dimana terlihat sekali mereka sangat menghormati Angkasa. Mereka semua melihatku sekilas dengan dahi berkerut dan penuh tanda tanya yang membuatku sedikit merasa tidak nyaman, aku hanya membalas keheranan mereka dengan senyuman di wajahku.


Angkasa yang melihat ketidaknyamanan diriku, melingkarkan tanganku pada lengan kekarnya. “Kita pergi dari sini.” Ucap Angkasa menenangkanku. “Aku baik-baik saja, Sayang” Ucapku mencoba membuat senyuman pada wajahku. "Kamu tidak perlu berbohong untuk membuatku merasa nyaman, kenyamananmu adalah kenyamananku juga." Ucapnya tersenyum.


“Selamat malam Tuan Angkasa.” Suara seorang Laki-Laki dari sebuah pengeras suara di dalam Ballroom Hotel ini yang membuatku terkejut. Aku mencari sumber suara tersebut yang ternyata berasal dari atas podium dengan dekorasi berwarna putih yag terlihat sangat mewah dan indah. Diatas podium itu terdapat seorang Laki-Laki paruh baya dengan tubuh yang masih gagah dan wajah yang tegas.


Aku merasakan adanya ketegangan pada lengan Angkasa, tetapi saat aku melihat wajahnya, wajahnya terlihat datar degan mata yang melihat ke arah Laki-Laki itu. “Aku harap kamu menikmati acara malam hari ini, Nak.” Ucapnya lagi yang membuat semua orang langsung memberikan perhatian mereka kepada kami. Nak? Siapa Laki-Laki itu.


“Tidak maukah kamu ikut berfoto bersama Keluarga Besar kamu disini?” Tanyanya lagi membuatku melihat ke sekumpulan orang-orang di sekitarnya dengan pakaian dan aura yang berbeda dari tamu-tamu lainnya disini yang sudah jelas dan dapat aku duga mereka semua adalah Keluarga Besar Pratama, Keluarga yang paling ditakuti dan berkuasa di Negeri ini.

__ADS_1


Melihat Angkasa yang tidak bergerak dari tempatnya berdiri membuat Laki-Laki itu berbicara lagi dengan mic yang ada di tangannya. “Ah, Wanita murahan mana lagi yang datang bersamamu kali ini Nak?” Tanya Laki-Laki itu penuh penekanan tetapi terdengar lebih seperti ‘merendahkan’ dalam pendengaranku.


Semua mata langsung melihat ke arahku dimana dapat aku lihat jelas tatapan-tatapan merendahkan dan senyuman sinis dari mereka semua. “Dia Sarah.” Ucap Angkasa yang akhirnya bersuara dari diamnya sedari tadi. Aku hanya dapat menundukkan kepalaku dan mengeratkan genggaman tanganku pada lengan Angkasa saat dia memperkenalkanku di depan semua orang-orang kaya dan berkuasa di dalam Ruangan ini.


“Calon Istriku, Wanita di sampingku ini adalah calon Istriku.” Ucap Angkasa dengan tangannya yang satu lagi mengusap punggung tanganku pada lengannya. Aku merasakan jantungku berdegup kencang dan cepat, secara perlahan aku melihat wajah Laki-Laki di sampingku ini yang sekarang sedang tersenyum kepadaku.


“Kami akan mengadakan acara pertunangan satu minggu ke depan.” Ucap Angkasa yang mengalihkan pandangannya dariku menatap ke arah Laki-Laki itu. "Dan aku harap Ayah dan Keluarga Besar Pratama dapat merestuinya." Ucap Angkasa melihat datar ke semua orang yang ada di atas podium itu.


Mereka semua membuat raut wajah marah, kesal dan terutama Laki-Laki yang dipanggil Ayah oleh Angkasa mengeraskan wajahnya yang terlihat ingin membunuh seseorang. "Kami permisi, Kekasihku sudah terlihat lelah untuk hari ini, dan Debora selamat atas pertunanganmu." Ucap Angkasa melihat ke arah Debora yang tersenyum, bahkan dapat aku lihat hanya Debora yang tersenyum di atas podium itu.


"Abaikan mereka, yang harus kamu lakukan adalah memikirkanku bukan orang lain." Ucap Angkasa yang melihatku selalu menundukkan kepalaku. Sampai kami berada di dalam mobil tidak ada satu pun dari kami berdua yang bersuara, Angkasa hanya melihat ke arah luar jendela mobil sampai dia memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya berat.


Aku mengumpulkan keberanianku untuk mengusap punggung tangannya yang sekarang terasa dingin membuatnya melihat kearahku, dan dengan gerakan tiba-tiba dia menidurkan kepalanya di bagian pahaku membuatku sedikit terkejut. Dia hanya diam tidak bersuara dan memejamkan matanya seperti menanggung beban yang sangat berat pada pundaknya, aku mengusap kepalanya lembut berusaha untuk membuatnya nyaman akan sentuhanku. Aku ada disini sekarang, kamu sudah tidak sendiri lagi.

__ADS_1


Saat mobil kami tiba di Rumah Angkasa, para Bodyguard dan Pelayan Angkasa sudah berdiri bebaris di depan pintu utama menyambut kedatangan Tuan mereka. Angkasa menggenggam tanganku yang membuatku melangkah bersamanya menaiki tangga dan menuju ke Kamarnya.


Saat aku masuk ke dalam Kamar Angkasa, aku sempat terdiam sejenak melihat kemewahan di dalam Kamarnya yang besar. "Aku ingin kamu menemaniku membersihkan tubuhku." Ucapnya yang lebih terdengar seperti perintah. Saat pintu Kamar itu tertutup secara otomatis, Angkasa yang membelakangiku langsung menanggalkan semua pakaiannya tanpa sisa memperlihatkan tubuhnya yang polos dan berotot itu tanpa satu helai benang pun pada tubuhnya.


Dia langsung masuk ke dalam Ruangan yang aku yakini itu adalah sebuah Kamar Mandi. "Apakah kamu mau meminta bantuanku untuk membuka pakaianmu itu dan menggendongmu masuk ke dalam Kamar Mandi ini? Kalau iya aku akan sangat senang melakukannya." Ucapnya yang sekarang sedang berdiri di depan pintu kamar Mandi di dalam Kamarnya.


"Ti...tidak usah, aku dapat melakukannya sendiri." Ucapku gugup, dia hanya tersenyum sekilas kepadaku dan masuk ke dalam Kamar Mandinya. Saat aku pastikan Angkasa sudah masuk ke dalam Kamar Mandi, aku menanggalkan dress merah yang aku gunakan dan menyisakan pakaian dalam dengan model lingerie yang hanya dapat aku termukan di dalam lemari pakaian di dalam Kamarku. Seharusnya aku menggunakan pakaian dalamku yang lama kalau tahu bakal seperti ini.


"Sayang." Teriak Angkasa dari dalam Kamar Mandi yang membuatku terkejut dari tempatku berdiri, dengan sedikit takut dan malu aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam Kamar Mandi. Di dalam Kamar Mandi itu aku melihat Angkasa yang sudah berada di dalam *b*athtub besar dengan air yang sudah berbusa di dalamnya.


Aku meremat kedua tanganku dan menunduk mengikutiku. "Masuklah." Ucapnya melihatku yang sudah berdiri di sampingnya. "Kamu tenang saja, aku tidak akan memakanmu hari ini, kalau aku tidak khilaf." Ucapnya dengan terkekeh kecil yang dapat aku rasakan pipiku memanas yang aku yakini sekarang pasti merona merah.


Aku masuk ke dalam bathtub dan membelakangi Angkasa, aku merasakan kehangatan yang menyentuh kulitku karena air hangat yang ada di dalam bathtub ini. Aku tersentak kaget saat aku merasakan sebuah tangan melingkar pada perutku yang rata dan menarik tubuhku untuk bersender pada sebuah dada yang bidang, mengabaikan sesuatu yang terasa menyentuh bagian bawahku.

__ADS_1


Dengan tubuhku yang kaku dan kedua tanganku yang memegang kedua sisi bathtub agar aku bisa dapat langsung berdiri apabila terjadi sesuatu yang diinginkan oleh Angkasa, aku merasakan Angkasa menempatkan dagunya pada pundak kananku, dapat aku rasakan hembusan napas hangat Angkasa pada leherku dengan rambut yang sudah aku kuncir keatas. "Aku lelah." Ucapnya yang membuat hatiku terasa pilu, dengan perlahan dan lembut aku melepaskan tanganku pada kedua sisi bathtub dan memegang punggung tangannya pada perutku. "Ada aku disini, kamu bisa melepaskan keluh kesahmu sekarang." Ucapku yang sekarang menolehkan wajahku kepadanya dan memberikan sebuah kecupan lembut pada pipinya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2