Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
TERIKAT


__ADS_3

"Mencintai khayalan mungkin memang lebih eksotis ketimbang mencintai sosok yang jelas-jelas konkret di depan mata dan terikat di bumi." - Sujiwo Tejo.


Melihat Angkasa yang duduk di depanku membuatku menunduk dalam tanpa berniat untuk menatapnya ataupun mendekatkan diri kearahnya, seolah kakiku terpaku di lantai. "Sarah." Panggilnya dingin dan aku masih belum berani untuk menjawab atau pun menoleh kearahnya.


"Apa kamu sekarang menjadi bisu dan tuli?" Ucapnya lagi, aku masih diam meremat kedua tanganku yang kini mengeluarkan keringat. Aku mendengar suara kursi yang digeserkan, dan langkah kaki yang semakin dekat kearahku. Angkasa menarik daguku dengan paksa dan membuatku menatap matanya yang tajam.


Secara reflek aku memundurkan kakiku, membuatku terjebak pada pintu yang ternyata sudah ditutup oleh Cassy. Tangannya tiba-tiba mengelus kepalaku dengan lembut yang membuatku tambah ketakutan dan berkeringat. "Kamu harus menjadi milikku dan harus ku tandai dengan benar." Ucapnya dengan seringai yang menakutkan.


Aku masih diam tidak bersuara, bahkan saat Angkasa menarik pergelangan tangan kananku menuju ke meja tempat dia tadi duduk, aku masih ketakutan. "Duduk." Ucapnya, aku masih terdiam terpaku. "Duduk Sarah, atau kamu mau aku mendudukkanmu diatas tubuhku lagi seperti semalam." Ucapnya lagi membuatku langsung menarik kursi di depanku dan duduk dengan cepat.


"Bukankah kamu kesini ingin melakukan wawancara? Kalau kamu seperti ini mana mungkin kamu bisa mendapatkannya." Ucapnya lagi dengan dagu yang tertahan dengan tangannya dan mata yang menatap tajam kearahku. "A...apa sebenarnya yang kamu inginkan?" Tanyaku yang akhirnya dapat mengeluarkan suara.


"Kamu." Ucapnya yang membuatku terkejut. "Kamu yang kuinginkan dan tidak sadarkah kamu bahwa hidupmu selama ini sebenarnya berhubungan denganku?" Ucapnya lagi. "A...apa maksudmu?" Tanyaku takut. "Hmm, kamu bisa sekolah disini tanpa membayar sepeser pun, apakah kamu sama sekali tidak curiga, bahkan masa depanmu nanti sangat tergantung dari keputusanku." Ucapnya tanpa memandang lagi aku yang takut dan kebingungan dengan maksud dari perkataannya.


"Aku mendapatkan beasiswa disini dan penddidikan selanjutnya, semua karena usahaku sendiri dan otakku, bukan karenamu." Ucapku menantangnya dengan cara menatap matanya balik. Dia tersenyum dan menyenderkan punggungnya pada badan kursi yang di dudukinya.

__ADS_1


"Harus aku akui ternyata kamu tidak sebodoh yang aku kira, tetapi coba lagi kamu pikirkan Bocah, mana ada SMA yang terkenal dengan sekolah yang semua isi muridnya adalah orang-orang berduit, dapat menerima seorang Bocah yang bahkan hanya tinggal di Panti dengan kehidupan yang pas-pasan." Ucapnya. "Dan jangan lupa aku adalah salah satu dari Pendiri Yayasan untuk sekolah ini, jadi aku dapat dengan mudah meminta Kepala Sekolahmu melakukan apapun yang aku mau." Ucapnya membuatku memejamkan mataku.


"Sejak awal hidupmu sudah aku atur Bocah, bahkan Kekasihmu yang pergi meninggalkanmu tanpa berkata apapun kepadamu, aku yang mengaturnya. Kemana pun kamu pergi, kamu akan kembali kepadaku." Aku terdiam, tubuhku menjadi lemas saat mengetahui fakta itu.


"Jadi, berpikir seribu kali jika kamu ingin kabur dariku, aku akan dengan mudah membuatmu hidup dengan nyaman dan dapat dengan mudah juga membuatmu hidup sengsara beserta orang-orang yang ada di sekitarmu." Ucapnya lagi. Pikiranku penuh dengan tanda tanya, apakah benar semua yang dikatakan oleh Angkasa. Apakah benar semua usahaku selama ini untuk mendapatkan pendidikan yang layak semua sudah diatur oleh Sang Penguasa. Apa sebenarnya yang diinginkan olehnya dariku.


Aku membuka mataku secara perlahan dan langsung bertemu dengan matanya tajamnya. "Kamu adalah orang paling jahat yang pernah aku kenal." Ucapku akhirnya. "Aku memang orang yang jahat untukmu saat ini, Bocah." Ucapnya.


Dia melemparkan sebuah map kepadaku di atas meja di depannya. "Tanda tangani itu, kamu akan mendapatkan beasiswamu dan juga akan terikat denganku selama yang aku mau." Ucapnya dengan seringainya yang membuatku bergidik takut. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" Ucapku dengan sedikit berani, dia berdiri dari tampat duduknya, mendekatiku dan berdiri menunduk di depanku dengan tangan pada kedua sisi kursiku.


"Memohonpun tak ada gunanya lagi, Bocah." Ucapnya dingin tanpa pertimbangan, aku mencoba mencari sebuah pengampunan dari matanya dan aku tahu bahwa sudah tidak ada harapan lagi untukku, aku tidak akan bisa lari darinya sampai dia sendiri yang melepaskanku.


Aku menatap lebih dalam mata tajamnya, yang ada hanya kesepian dan kehampaan. Tiba-tiba air mata yang aku tahan jatuh, aku menangis dan tanganku dengan sendirinya menyentuh wajahnya yang membuatnya tersentak, tetapi tidak menjauhkan tanganku dari wajahnya.


"Kehampaan dan kesedihan, kamu merasakan itu semua, kamu tidak merasakan sakit saat kamu menyakiti orang lain, kamu mencari sesuatu yang hilang dari dirimu, tetapi kamu tidak menemukannya, apa sebenarnya yang terjadi denganmu Kassa?" Ucapku menatapnya, aku merasakan tubuhnya menegang beberapa detik dengan mata terpejam, tidak ada ekpresi datar dan dingin kali ini, wajahnya hanya menampilkan ekpresi kosong dengan kehangatan dan kelembutan yang dia coba hirup dari telapak tanganku.

__ADS_1


"Biarkan aku menolongmu." Ucapku yang membuatku sedikit terkejut dengan kata-kataku sendiri, apa yang telah aku katakan, mengapa aku malah memasukkan diri lebih dalam kedalam ikatannya. Aku melihatnya membuka mata dan menatapku tanpa ekspresi.


Dia tertawa yang membuatku langsung menarik tanganku kembali dari wajahnya. Saat tawanya terhenti dia melihatku tajam kembali, membuatku menunduk dengan tangan yang berkeringat kembali. "Kamu kesepian." Ucapku tertunduk, tidak ada pergerakan ataupun suara darinya membuatku semakin takut untuk menatapnya.


Dia menegakkan dirinya dan berdiri sedikit jauh dariku dengan tangan di dalam kantong celananya, aku mencoba menatapnya lagi. "Kamu kesepian, aku pernah merasakan itu dulu, disaat aku merasakan ditinggal oleh orang-orang yang aku sayangi, aku merasa sepi dan hampa." Tidak terasa air mataku jatuh kembali. "Tetapi itulah roda kehidupan, kita tidak akan tahu bahwa nanti suatu saat kita akan mendapatkan kasih sayang dari orang-orang yang tidak kita duga." Lanjutku.


Dia mendekatkan dirinya kepadaku, menghapus air mata di pipiku sedikit kasar dengan ibu jarinya. "Kalau begitu, berikan aku kasih sayang seperti yang kamu katakan, buat aku merasakan kasih sayang seperti yang kamu katakan." Bisiknya di telingaku, aku menatap wajahnya dengan senyuman yang tidak dapat aku artikan.


Aku berdiri mengambil map yang dia berikan tadi kepadaku diatas meja dan menandatangani map tersebut, lalu menyerahkan map itu kepadanya. "Asal kamu tahu Sarah, tidak mudah untuk berada di sekitarku dan memberikan apa yang kamu katakan tadi, kasih sayang? Bagiku yang ada hanyalah menguasai dan mendominasi, membuat semua orang takut kepadamu dan tunduk dibawah kakimu, tetapi aku hargai usahamu, apabila kamu gagal, kamu akan tahu akibatnya." Ucap Angkasa, dia melewatiku dengan map yang ada di tangannya diikuti oleh Bodyguardnya, meninggalkanku berdiri sendiri di dalam Ruangan itu. Bodoh kamu Sarah Gibran.


BERSAMBUNG.


AKHIRNYA SEASON 1 SELESAI JUGA, NEXT EPISODE KITA AKAN LIHAT KEHIDUPAN SARAH SELANJUTNYA, APAKAH DIA BERHASIL UNTUK MENOLONG ANGKASA? ATAU SETELAH DIA TAHU KEBENARAN AKAN MASA LALUNYA, DIA AKAN KEMBALI PADA MASA LALUNYA?


TETAP IKUTI KISAHKU YA!!! JANGAN LUPA UNTUK VOTE CERITA INI BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT.

__ADS_1


BUAT SEASON 2 MUNGKIN AUTHOR AKAN JEDA SEKITAR 1 ATAU 3 HARI YA. TETAP SEMANGAT SEMUA!!! SUKSES SELALU!!!


__ADS_2