Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MOVE ON


__ADS_3

"Bagaimanapun keadaan kita, mau sedih, bahagia, waktu tidak pernah berhenti menunggu. Waktu tetap berjalan." - Tere Liye.


1 minggu kemudian.


Aku melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga pagi, dari semalam aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku, sekuat apapun aku berusaha tetap aku tak bisa. Aku memutuskan untuk mengganti baju tidurku dan mengambil satu tangkai bunga mawar diatas meja belajarku.


Aku melangkahkan kakiku keluar Panti, aku ingin melepas rinduku kepadanya. Pemakaman sepi di pagi hari yang masih gelap, aku berjalan perlahan menuju  ke tempat peristirahatannya, entah mengapa sama sekali tidak ada rasa takut dari diriku karena kesepian, kesunyian dan gelapnya Tempat Pemakaman Umum ini, semuanya kalah akan rasa rinduku kepadanya.


"Halo Ndra, aku datang lagi." Aku meletakkan satu tangkai mawar merah dekat batu nisan bertuliskan namanya. "Aku rindu Ndra, aku sangat merindukanmu, hari ini ada pertandingan Tim Basket Favoritmu Ndra, aku rencanannya mau nonton kesana siang ini." Ucapku dan suasana Pemakaman itu tetap hening, kemudian aku menangis sampai sesak.


Siang harinya aku pergi ke salah satu mall di Jakarta, ada pertandingan Basket di dalam mall itu dengan Wolfs Team yang akan bertanding siang ini, aku menonton agak sedikit jauh dari Lapangan 3 on 3 itu, penonton berteriak riuh saat Wolfs Team berhasil mencetak skor di Papan Skor, aku berpikir mungkin Indra akan merasakan euforia yang sama apabila dia disini.


Aku menundukkan kepalaku, menahan tangisku. "Sarah kan?" Suara seseorang di sampingku, aku langsung menengadah kepalaku dan melihat Laki-Laki dengan pakaian basket yang basah oleh keringat. Galang Prasetyo. Aku langsung pergi meninggalkannya tanpa berkata apa-apa.


2 minggu kemudian.


Aku meletakkan lagi satu tangkai bunga mawar dan membuang mawar layu yang sau minggu sebelumnya aku letakkan disana. "Aku masih merindukanmu Ndra, haruskah aku menyerah dengan perasaanku Ndra? Seaindainya perasaan dapat diubah semudah membalikkan telapak tangan, aku pasti akan langsung melakukannya." Ucapku, kali ini tidak ada issak tangis.


Siang harinya, aku pergi ke salah satu Pusat Olahraga dimana ada pelatihan basket Wolfs Team disana, aku duduk di salah satu bangku penonton menyaksikan mereka bermain dengan bola bundar berwarna merah itu. Selama kurang lebih 45 menit aku duduk, aku memutuskan untuk balik ke Panti.

__ADS_1


"Halo Sarah." Suara Laki-Laki yang aku mulai kenal dengan suara tersebut. Saat aku akan melangkah pergi meninggalkannya, dia menahan tanganku membuatku langsung melihatnya. "Maaf." Ucapnya dan langsung melepaskan tangannya. "Hmm, apakah kamu sendirian? Boleh aku tahu kemana Pacarmu?" Tanyanya, aku tidak menjawabnya dan pergi meninggalkannya lagi.


1 bulan kemudian.


Aku berusaha mengejar beberapa ketinggallan dalam pelajaran dan nilaiku karena tidak dapat berkonsentrasi dengan baik, setiap jam istirahat atau waktu kosong, aku menemui guru-guruku untuk bertanya akan pelajaran yang tidak aku mengerti.


Setiap minggu aku masih datang ke Pemakaman Indra, mungkin sedikit demi sedikit aku mulai bisa untuk mengurangi rasa sakit di hatiku, aku berusaha untuk maju dan menjadi lebih baik, bukan hanya untukku sendiri tetapi juga untuk Indra, Ibu Aisyah dan Adik-Adikku di Panti.


Setiap minggu juga aku menonton Wolfs Team bermain basket baik itu dalam sebuah pertandingan atau pun sebuah latihan biasa, aku merasakan hal ini harus selalu aku lakukan untuk mewakili Indra yang tidak dapat menonton Tim Basket Kesayangannya bermain, dan Galang Prasetyo setiap minggu juga berusaha untuk lebih dekat denganku, tetapi aku selalu menolaknya. Dan dia juga sudah tahu akan keadaan Indra.


3 bulan kemudian.


Dalam beberapa minggu ini juga, setiap hari minggu waktu aku ke Pemakaman Indra, terdapat bunga-bunga baru yang bukan hanya dariku, aku berpikir mungkin ada Edgar, Alisha atau bahkan Keluarga Indra yang datang untuk mengunjungi Pemakaman Indra. Galang masih berusaha untuk mendekatiku dan mengajakku pergi jalan bersamanya setelah mereka melakukan latihan atau pertandingan Basket, dan aku selalu menolaknya.


6 bulan kemudian.


Rapor Tengah Semesterku mendapatkan nilai paling tinggi di Kelas dan satu Sekolahku, aku mendapatkan beasiswa tambahan dari Sekolah karena nilai akademikku yang memuaskan dan juga keaktifanku menjadi Ketua Osis di Sekolah.


Di 6 bulan ini juga, Ibu Aisyah mendapatkan Surat Peringatan dari Angkasa Pratama, akan keterlambatannya dalam membayar hutangnya dan itu belum termasuk bunga dari hutang tersebut. Aku dengan ikhlas memberikan uang Beasiswaku kepada Ibu Aisyah untuk meringankan bebannya.

__ADS_1


"Nak kamu yakin? Ini semua hasil usaha kamu sendiri." Ucap Ibu Aisyah yang terduduk lemas di kursi dengan memegang surat dari Angkasa Pratama. " Sarah yakin Bu, itu semua untuk Ibu, nanti Sarah akan coba lagi cari tambahan untuk menutupi hutang-hutang Ibu." Ucapku lembut, aku hanya berharap Angkasa Pratama tidak melakukan sesuatu yang akan melukai Ibu Aisyah ataupun Adik-Adikku di Panti.


Semakin lama, setiap aku mengunjungi Pemakaman Indra, hatiku tidak sesedih dulu lagi, karena aku merasa bangga akan pencapaianku selama 6 bulan ini, aku bangga karena berkatnya aku bisa melakukan semua ini. "Kamu bangga kan Ndra? Kalau kamu disini pasti kamu akan selalu mengusap kepalaku dan mengatakan Sayangku ternyata hebat juga, bukan seorang Gadis lugu lagi." Ucapku dengan memegang batu nisan namanya.


Aku masih belum bisa membuka hatiku, entah mengapa aku juga tidak tahu, aku seperti takut ini akan melukai perasaan Indra, atau aku merasa aku seperti orang berselingkuh dari Pacarnya. Aku hanya berharap mungkin waktu yang akan menjelaskan semuanya.


1 tahun kemudian.


Aku menjadi Juara Terbaik di SMA XYZ karena nilai-nilaiku yang dapat dikatakan hampir sempurna, banyak tawaran Beasiswa untukku melanjutkan pendidikanku di Universitas baik itu tawaran dalam Negeri atau pun Luar Negeri, tetapi aku belum memutuskan akan memilih Universitas yang mana.


Alisha dan Edgar sudah lulus dari pendidikan SMA mereka, aku bahagia melihat dua sahabat terbaik Indra itu, setiap aku melihat mereka aku merasakan adanya sosok Indra diantara mereka, yang mungkin akan ikut dengan sahabat-sahabatnya itu dalam merayakan kelulusan mereka.


"Sha, Gar selamat ya." Ucapku memberikan selamat kepada mereka berdua. "Makasih Sar." Ucap Alisha memelukku dan Edgar ikut memeluk kami juga. "Aku merindukannya." Ucap Edgar yang membuat kami menangis sedih dalam pelukan kami bertiga.


Satu persatu semua hal yang berhubungan dengan Indra mulai pergi meninggalkanku, termasuk sahabat-sahabat terbaiknya ini, mereka berencana untuk melanjutkan pendidikan di Luar Negeri di Universitas yang sama dengan dulu mereka rencanakan bersama Indra juga.


Hatiku masih merasakan sakit kehilangan Indra, aku tidak tahu sampai kapan hal ini akan terjadi kepadaku, aku hanya tidak ingin kenangan bersama Indra hilang dariku, biarlah kenangan ini menyatu dengan seiring waktu yang berjalan di hidupku.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2