
Tidak ada yang jadi rendah karena merendah, tidak ada yang lantas kalah karena mengalah.
“Maafkan aku.” Ucap Indra merebahkan kepalanya pada jok mobilnya yang sekarang masih berada di Parkiran Sekolah, dia menghembuskan napas berat. “Kak Indra kenapa?” Ucapku sambil membersihkan luka pada tangannya dengan alkohol yang mungkin disebabkan karena memukul Edgar tadi. Dia hanya menggelengkan kepalanya. “Wajah kamu gak pa-pa?” Tanyanya dia melepaskan tangannya dari tanganku dan menyentuh lembut pipiku yang sedikit merah karena terkena tangan Indra.
Aku menyentuh tangannya lembut dan menciumnya. “Aku tidak apa-apa Kak.” Ucapku lembut dan aku akhirnya dapat melihat senyuman di wajahnya, setelah kemarahannya yang aku lihat saat dia sedang memukul Edgar tadi. “Sekarang Kakak cerita, apa yang membuat Kakak bisa sampai semarah tadi dengan Edgar? Apa masih karena Pemilihan Ketua Osis ini?” Tanyaku lembut karena tidak mau membuat Laki-Laki di depanku ini menjadi emosi lagi.
Dia mengusap lembut kepalaku. “Dia ingin mengusik hal paling berharga dalam hidupku.” Ucapnya lirih dan terdengar sangat sedih dan menyakitkan saat dia mengucapkannya. “Apa yang membuat Kak Indra menjadi sedih seperti ini, jangan sedih, aku mau melihat Kak Indra bersemangat dan selalu tersenyum seperti sebelumnya, apa yang harus aku lakukan Kak?” Ucapku memeluk tubuhnya. Dia mengecup pucuk kepalaku berkali-kali. “Aku tidak akan membuatmu tersakiti lagi, aku akan selalu menjagamu, kamu tidak perlu melakukan apa-apa, kamu hanya perlu selalu bahagia, selalu katakan kepadaku apa yang membuatmu sedih, aku akan selalu berusaha untuk menjagamu dan mencintaimu sepenuh hatiku.”
Aku mendongakkan kepalaku yang sebelumnya berada di dada bidangnya, melihat matanya yang tajam, yang selalu dapat membiusku dengan sendirinya, aku mendekatkan wajahku yang membuat Indra pun mengikiskan jarak antara kami berdua, aku merasakan bibir hangatnya lagi, seperti waktu jam istirahat tadi, sampai kami berdua sama-sama kehabisan napas dan menghentikan aktifitas intim itu untuk mengambil napas. “Aku akan selalu mencintaimu Kak.” Ucapku yang membuat rekahan senyum dibibirnya. Setelah itu kami pun memutuskan untuk pulang karena hari sudah hampir gelap, dan jam pun sudah menunjukkan pukul empat sore.
Keesokan harinya, Indra mengirimiku pesan bahwa dia tidak dapat menjemputku untuk pergi ke Sekolah, karena dia ingin mengurus sesuatu di Sekolah terlebih dahulu. Aku pun berangkat ke Sekolah dengan menggunakan kendaraan umum yang biasa aku gunakan sebelum Indra rutin menjemputku. Saat tiba di Sekolah, aku melihat Tim Pemenang Edgar sedang merayakan sesuatu dimana ditengah-tengah mereka berdiri Edgar yang seperti tersenyum senang dan licik kearahku. Apa yang sedang mereka rayakan?
“Indra apa yang kamu lakukan? Apakah kamu tidak menghargai kerja keras kami semua yang sudah mendukung kamu selama masa kampanye ini?” Ucap Adel dengan sedikit berteriak saat aku melewati Lorong Sekolah. “Bukan seperti itu Del, ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan alasannya.” Ucap Indra menenangkan Adel.
__ADS_1
“Pagi.” Ucapku kepada kedua orang tersebut yang membuat mereka berdua sama-sama menoleh kearahku. “Pagi Sayang.” Ucap Indra kepadaku dan aku melihat kearah Adel yang terlihat kesal. “Kak Adel kenapa Kak?” Ucapku mendekati Adel. “Kamu tanya sendiri ke Indra, aku capek.” Ucap Adel dan langsung pergi meninggalkanku dan Indra.
Aku melihat ke wajah Laki-Laki yang selalu bersemangat saat setiap kali bertemu denganku, tetapi tidak pagi ini, wajahnya terlihat sedih dan tidak bersemangat. “Kenapa Kak?” Ucapku dan dia menyandarkan keningnya di bahu kiriku, aku mengusap kepalanya dengan tangan kananku. Bersandarlah Kak, aku akan selalu ada untuk menjadi tempatmu bersandar.
Setelah itu aku dan Indra kembali ke Kelas kami masing-masing, tanpa aku berani bertanya terlebih dahulu kepada Indra, apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Adel, dan mengapa dia terlihat sangat murung pagi ini. Saat semua Siswa SMA XYZ melakukan aktifitas belajar di mata pelajaran pertama ini, terdengar suara pengumuman dari salah satu Guru SMA XYZ, yang mengatakan bahwa untuk Pemilihan Ketua Osis sudah ditentukan dikarenakan salah satu kandidatnya mengundurkan diri, dan secara resmi Edgarlah yang menjadi Ketua Osis tahun ini.
Semua teman-temanku sedikit terkejut karena sebagian besar dari mereka mendukung Indra untuk menjadi Ketua Osis tahun ini, dan sesekali mereka melihat kearahku seperti menanyakan apa yang terjadi, sedangkan aku sendiri sama sekali tidak tahu apapun mengenai hal ini. Apakah hal ini yang membuatnya menjadi murung pagi ini.
dibunyikan, aku mau segera menyusul Indra ke Kelasnya, dengan buru-buru aku melangkahkan kakiku, saat aku keluar dari depan Pintu Kelasku aku dengan tidak sengaja menabrak seseorang.
“Akh.” Teriakku meringis, aku mendongakkan kepalaku. Edgar. Tubuhku dengan sendirinya mundur beberapa langkah dari dirinya, aku melihat teman-temanya sudah jauh berada di depan kami menuju ke Kantin dengan tertawa senang yang mungkin disebabkan oleh kemenangan Edgar menjadi Ketua Osis pikirku.
“Ternyata kau berguna juga gadis cantik.” Ucap Edgar kepadaku dengan senyum yang sulit aku artikan. “Ap-apa maksudnya?” Tanyaku gugup, aku merasakan tangan Edgar bergerak ingin menyentuh pipiku tetapi tertahan karena digenggam oleh seseorang. “Jangan pernah tangan kotor Lo menyentuh Sarah!” Suara Laki-laki yang sangat aku kenal di tengah antara aku dan Edgar. Indra. Edgar melepaskan genggaman tangan Indra pada tangannya dengan paksa, tersenyum licik kearah kami dan pergi meninggalkanku dan Edgar.
__ADS_1
“Kamu tidak apa-apa?” Tanya Edgar menyentuh pipiku lembut yang membuatku tersentak karena melihat kepergian Edgar. “Aku tidak apa-apa Kak.” Ucapku. “Apa yang terjadi Kak?” Lanjutku dan saat itu juga aku melihat perubahan raut wajah pada Indra dan dia menghembuskan napasnya berat. “Ya sudah kita makan dulu yuk, aku buat nasi goreng dengan dua telor mata sapi kesukaan Kakak.” Ucapku tersenyum dan menarik tangannya masuk ke dalam Kelasku yang sudah sepi.
Kami pun duduk di tempat dudukku, aku meletekkan bekal di depan Indra dan membukanya, membuatnya tersenyum senang setelah mencium aroma yang keluar dari bekal yang kubawakan untuknya. “Terima kasih Sayang.” Ucapnya dan aku jawab dengan anggukanku, setelah itu aku memakan makananku dengan sendok yang sudah berisikan nasi goreng ke dalam mulutku, aku melihat kearah Indra yang seperti melamun dan hanya mengaduk-ngaduk nasi pada bekal yang ada di depannya.
“Apakah semuanya baik-baik saja kak?” Tanyaku memegang punggung tangan kirinya dengan tangan kananku, yang membuatnya menghembuskan napasnya dengan berat. “Sarah, aku boleh menanyakan sesuatu?” Tanya Indra melihat tajam kearahku dan nada suaranya dapat kupastikan bahwa pertanyaan yang akan diajukan oleh Indra adalah pertanyaan yang serius. “Iya Kak.” Ucapku kepada Indra untuk memastikannya bahwa dia boleh menanyakan pertanyaannya, Saat Indra akan menanyakan pertanyaannya itu, tiba-tiba aku melihat seorang gadis cantik ada di belakang tubuh Indra. “Indra!” Ucap gadis tersebut yang membuat Indra menolehkan kepalanya menghadap kearah gadis tersebut dan gadis tersebut dengan cepat memberikan sebuah kecupan di bibir Indra yang membuat Indra terpaku terdiam selama beberapa detik, dan Indra dengan cepat langsung mendorong tubuh gadis tersebut untuk menjauh darinya. “ALISHA!”
BERSAMBUNG
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR YA!!!
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1