Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
PERPISAHAN (4)


__ADS_3

“Bersegeralah melakukan yang kau rencanakan dan setelah mengerjakannya sampai selesai, agar dirimu mempercayai janji-janjimu kepadanya.” – Mario Teguh.


“Halo Sarah.” Aku menegakkan kepalaku dan terkejut melihat sosok perempuan yang ada di depanku, berdiri dengan angkuhnya yang menggunakan seragam sekolah yang sama denganku. “Sabrina.” Aku berdiri mematung melihat Sabrina yang tiba-tiba sudah ada di hadapanku saat aku sudah berada di luar Bandara. Dia mendekatiku dengan melipat kedua tangannya di dada. “Ketemu Davenya?” Tanyanya dengan senyuman sinisnya.


“Ke-kenapa kamu ada disini?” Tanyaku gugup. Dia mengibaskan rambut panjangnya. “Abis nganterin Davelah.” Ucapnya. “Ha? Apa maksudmnu.” Ucapku terkejut dan menarik pergelangan tangannya saat dia akan berbalik membelakangiku. “Apa yang telah kamu lakukan Sabrina.” Lanjutku dengan sedikit berteriak.


Dia menarik tangannya dari genggamanku. “Jangan pernah menyentuhku, dasar anak perebut suami orang.” Sabrina menatapku jijik dari ujung kaki sampai ke ujung kepalaku. “Aku tidak melakukan apa-apa, hanya memberitahukan ke semua orang kebenaran tentang kamu.” Lanjutnya dengan tertawa sinis yang membuat air mataku menetes.


“Apa yang telah aku lakukan kepadamu Sabrina? Apa salahku?” Tanyaku. “Kesalahanmu? Ehmm, salahmu karena kamu menyukai orang yang aku suka.” Ucap Sabrina yang memainkan kuku-kuku jari kanannya saat dia berbicara kepadaku. “Sabrina, ayo pulang.” Suara Tante Sonia yang tiba-tiba datang mendekati kami. Sabrina pun berbalik mendekati wanita itu, tanpa menghiraukanku yang berdiri menangis atas apa yang telah mereka lakukan.


“Tante, apa yang telah Tante lakukan.” Suaraku terdengar lirih karena isak tangisku. Tante Sonia berbalik dan tersenyum kearahku, dia berjalan mendekatiku dengan kaca mata hitam yang masih digunakannya. “Aku tidak mau tikus seperti kamu menjadi penghalang di hidupku.” Ucap Tante Sonia saat dia sudah berada di depan wajahku.


“Apa maksud Tante?” Aku masih menatapnya heran dengan air mata yang membasahi pipiku. “Kamu akan menjadi penghalang untukku mendapatkan harta Albert dan.” Dia membuka sedikit kaca mata hitamnya dan melihatku dengan menjijikan. “Tikus miskin seperti kamu mana pantas bersanding dengan keluarga kaya seperti mereka.” Lanjutnya. “Ak-aku akan memberitahukan semua orang kalau Tante dan Om Albert.” Ucapku sedikit ragu-ragu tetapi memberanikan diri untuk mengatakannya. “PLAK!”


“Mama.” Ucap Sabrina yang terkejut menutup mulutnya dengan tangannya karena melihat Mamanya menampar keras wajahku. “Jangan sampai aku membuat hidupmu lebih menderita daripada ini kalau kamu sampai berani mengatakan hal itu ke semua orang.” Ucap Tante Sonia menunjukku tepat didepan wajahku. Dia pergi bersama Sabrina meninggalkanku yang berdiri gemetar ketakutan dengan pipiku yang terasa panas dan berwarna kemerahan. Ibu.

__ADS_1


Aku terduduk lemah di antara kuburan Om Alex dan Ibuku, aku memandangi kedua tempat peristirahatan mereka dengan perasaanku yang sedih dan takut, pipiku masih terasa panas dan sedikit terasa perih karena tersentuh oleh air mataku. “Ibu, Ayah, Sarah takut.”


“Sarah kesepian, Hiks. Sarah takut Bu, Sarah kangen.” Aku melipat lututku dan menyandarkan kepalaku ke depan mengenai lututku sebagai sandarannya dan melingkarkan kedua tanganku memeluk lututku. “Sarah kangen Bu, Sarah mau ketemu Ibu.” Aku menghabiskan waktuku dan mencurahkan semua isi hatiku kepada kedua orang yang dulu tulus menyayangiku. Sampai tidak terasa hujan turun membasahi tubuhku seakan tahu dan ingin ikut bersedih bersamaku. Aku berdiri dengan tatapan kosong dan dada yang terasa sakit dan sesak. Sarah harus apa Bu.


Tiba-tiba aku merasakan kehadiran seseorang dibelakangku yang meneduhiku dari derasnya air hujan yang turun. Dia hanya diam sampai aku membalikkan tubuhku dan melihat wajah tampannya. “Kak Indra.” Entah mengapa dengan reflek aku langsung memeluk tubuhnya yang terasa hangat ditubuhku bahkan di dalam hatiku. Dia mengusap lembut kepalaku yang berada di dadanya. “Menangislah, aku akan selalu ada disini untukmu.” Ucap Indra dengan lembut. Aku meluapkan semua perasaanku di tubuh laki-laki yang sebelumnya sangat menjengkelkanku tetapi sekarang malah hadir untuk menemaniku menangis.


Di perjalanan pulang dari pemakaman yang tidak jauh dari Panti Asuhan tempatku tinggal, Indra berjalan di sampingku dengan meminjamkan jaketnya. Cuaca sore itu pun sudah tidak hujan lagi. “Kak Indra, makasih.” Ucapku masih melihat lurus kedepan dengan tatapan kosong. Dia hanya mengusap kepalaku dan tersenyum. “Sarah.” Suara Ibu Aisyah yang memanggilku dari depan pintu Panti terlihat cemas dan khawatir, sedikit berlari mendekatiku.


“Kamu gak pa-pa Nak?” Lanjutnya lagi menggiringku untuk masuk kedalam Panti. “Sarah gak pa-pa Bu, cuma kehujanan aja tadi.” Aku melihat Ibu Aisyah dengan senyum yang aku buat, aku tidak mau membuat wanita yang sudah merawatku selama delapan tahun ini menjadi sedih dengan apa yang terjadi kepadaku hari ini.


“Ya sudah, kamu langsung mandi ya, Ibu siapin air hangat dulu dan Nak Indra makasih banyak ya udah bantu cariin Sarah.” Ucapnya dan langsung masuk kedalam Panti meninggalkanku dan Indra di luar Panti. “Sekali lagi terima kasih ya Kak dan ini jaketnya Kak.” Aku menyerahkan jaket yang dipinjamkannya tadi tetapi dia menggelengkan kepalanya. “Itu buat.” Ucapnya yang langsung aku potong.


Tubuhku terasa lemas saat terbaring di tempat tidurku sendiri, yang dimana saat aku sudah masuk ke SMA, Ibu Aisyah memberikanku satu ruangan kosong yang biasa digunakan untuk menyimpan barang-barang bekas menjadi Kamar untukku. Aku menatap ke langit-langit Kamarku dengan pikiran menembus atap Rumah Panti tersebut. Ragaku tetap terasa lemas walaupun sudah tersiram air hangat yang disiapkan Ibu Aisyah saat aku mandi tadi.


Pintu kamarku diketuk dan terbuka sehingga muncul sosok Ibu Aisyah. “Sarah, makan dulu yuk, ini ibu bawain makanannya ke Kamar.” Ibu Aisyah meletakkan piring yang berisikan nasi dan lauk-pauknya diatas meja belajarku. Dia duduk di tepi tempat tidurku dan menempelkan punggung tangannya ke keningku. “Kamu beneran gak pa-pakan Nak, gak sakitkan?” Ucap Ibu Aisyah dengan wajah yang khawatir melihatku yang hanya terbaring lemah diatas tempat tidur.

__ADS_1


“Sarah gak pa-pa kok Bu, hanya kecapekan aja.” Aku berusaha untuk tersenyum dan menarik tangan Ibu Aisyah dari keningku. “Ibu tahu apa yang terjadi dengan kamu di Sekolah tadi dan untung ada Nak Indra yang datang kesini memberitahukan Ibu, dia terlihat sangat khawatir sama kamu Nak, Ibu juga yang memberitahukan dia kalau kamu mungkin ada di pemakaman Ibu kamu.” Ucap Ibu Aisyah yang membuatku terduduk menyenderkan badanku di kepala tempat tidur.


“Maafin Sarah Bu.” Aku menunduk tidak berani menatap Ibu Aisyah yang sudah sangat baik kepadaku. “Maafin Sarah karena gak jujur dengan teman-teman Sarah di Sekolah, Sarah hanya belum siap untuk memberitahukan kondisi Sarah yang sebenarnya.” Aku menahan tangis dengan air mata yang sudah ada di pelupuk mataku.


Ibu Aisyah menarik kepalaku dan memelukku hangat dalam pelukannya. “Ibu ngerti, Sarah anak yang baik, berbohong untuk kebaikan dan tidak merugikan orang lain bukanlah kejahatan Nak.” Dia mengusap kepalaku lembut. “Ya sudah, sekarang Sarah makan dulu ya.” Lanjutnya yang dijawab dengan anggukan dariku.


Setelah itu Ibu Aisyah keluar dari kamarku dengan menghapus air mata yang ada di pelupuk mataku terlebih dahulu. Aku memaksa mulut dan tanganku untuk memasukkan makanan yang sudah disiapkan Ibu Aisyah untukku. Setelah selesai makan, aku duduk termenung dengan pena ditanganku dan beberapa lembar kertas diatas meja belajarku.


Aku mulai menuliskan kata per kata diatas kertas putih tersebut, yang terkadang membuatku tersenyum, kesal, marah dan sedih saat aku menumpahkan tinta hitam diatas kertas yang terkadang basah dengan air mataku yang menetes. Aku mengungkapkan semua isi hatiku di dalam kertas tersebut. Dari saat aku begitu senang saat pertama kali melihatnya.


Betapa kesal dan marahnya ketika dia sering menjahiliku dengan lelucon dan cerewetnya. Betapa aku menyayanginya dan mencintainya dengan sepenuh hatiku. Dan betapa sedihnya aku ketika aku terlambat untuk mengatakan semuanya sehingga membuat dia pergi dari hidupku tanpa adanya kata perpisahan.


Setelah kurang lebih tiga jam aku menuliskan kata-kata pada kertas tersebut, aku memasukkan beberapa lembar kertas itu yang penuh dengan coretan tanganku ke dalam amplop dan merekatkannya. Aku menuliskan kata-kata di depan amplop tersebut. “Untuk Dave, Dari Sarah.” Aku memeluk surat itu didadaku dengan sangat erat. Terima kasih Dave.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2