
“Sahabat bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk apapun.”
Bel Sekolah tanda waktu istirahat sudah dibunyikan, aku masih enggan untuk berangkat dari tempat dudukku, apalagi untuk melangkahkan kakiku menuju Kantin Sekolah. “Sar, ayo ke Kantin.” Ucap Rizka yang sudah berdiri di sampingku. “Hmm kamu duluan aja deh Riz, nanti aku nyusul.” Ucapku padahal sebenarnya perutku sudah sangat lapar. “Oke aku tunggu disana ya.” Ucap Rizka yang dijawab anggukan olehku, setelah itu Rizka pun pergi keluar Kelas menuju ke Kantin bersama teman-teman yang lain.
Aku menghembuskan napasku berat, aku melihat bangku sebelah kiriku yang kosong. Seandainya kamu ada disini, pasti kamu tahu apa yang harus aku lakukan. Aku meletakkan kepalaku di atas meja dan entah mengapa aku merasakan air mataku jatuh membasahi rok abu-abu yang sedang aku gunakan. Apa aku memang tidak pantas untuk bahagia.
“TENG! TENG!” Suara bel Sekolah tanda selesai istirahat mengagetkanku dari tidurku dimana aku sendiri tidak menyadarinya kalau aku tertidur disaat jam istirahat, teman-temanku pun sudah masuk kembali ke dalam Kelas. “Sar kamu kemana tadi? Kamu gak istirahat?” Tanya Rizka yang sudah duduk kembali di bangkunya. “Aku ngantuk Riz, jadi aku ketiduran tadi di Kelas.” Jawabku kepada Rizka dengan sedikit membersihkan sisa air mata yang ada di sekitar pipiku.
“Kamu tahu gak tadi di Kantin suasananya menegangkan.” Ucap Rizka. “Menegangkan, maksudnya?” Tanyaku heran. “Iya, Indra dan Edgar mereka terlihat sangat ingin menjatuhkan satu sama lain, padahal setahu aku dulu mereka sahabat dekatkan?” Ucap Rizka yang membuatku terdiam melamun. Ini semua salahku. “Sar, kamu beneran gak pa-pa? Wajah kamu kelihatan pucat loh.” Ucap Rizka membuatku sadar dari lamunanku. “Aku gak pa-pa kok Riz, oh iya nanti kita jadi ke Rumah kamu buat kerja kelompok?” Tanyaku mengalihkan perhatian.
“Jadi, di Rumah aku juga cuma ada Kakakku, Orang Tuaku sedang pergi karena ada urusan di Luar Kota.” Ucap Rizka dan dijawab anggukan olehku. Setelah itu aku merasakan handphoneku bergetar, dan menandakan adanya pesan yang masuk yang bertuliskan Indra di layarnya.
Kamu dimana? Kenapa tidak ada di Kantin waktu jam istirahat? Kamu udah makan? Tampilan pesan singkat di telpon genggamku dari Indra. Aku ragu-ragu apakah akan membalas pesan tersebut atau tidak, aku memasukkan lagi handphoneku ke dalam tasku. Mungkin ini yang terbaik.
__ADS_1
Aku mengikuti pelajaran selanjutnya dengan pikiran yang menembus ke luar Kelas bahkan Sekolahku, memikirkan apakah memang orang-orang yang aku sayangi atau dekat denganku akan selalu mendapatkan masalah atau memang aku yang sudah ditakdirkan untuk tidak dapat bahagia. Apa salahku Tuhan?
Tidak terasa karena terlalu lamanya aku melamun, pelajaran terakhir di Kelasku pun sudah selesai dan suara bel tanda pulang pun telah dibunyikan. “Sar, yuk Vina sama Ivan juga udah nunggu di Parkiran, kamu bareng aku aja ya.” Ucap Rizka mengajakku pulang bersamanya untuk melakukan tugas kelompok yang diberikan oleh salah satu Guru kami.
Aku pun membereskan semua buku-buku dan alat tulisku, aku mengecek handphoneku dan mendapatkan adanya sepuluh pesan singkat dan lima kali telpon yang tidak aku angkat, semua itu bertuliskan Indra di layarnya. Maafkan aku Kak.
Aku pun langsung menggandeng tangan Rizka, dan berjalan beriringan dengannya, aku mengajak Rizka untuk melewat jalan yang tidak biasa aku lewati menuju Parkiran Sekolah, saat aku dan Rizka sudah hampir sampai di Parkiran aku melihat kearah Kelasku dan aku melihat Indra berdiri di depan Pintu Kelasku yang membuat hatiku menjadi sedih. Aku minta maaf Kak.
“Ayo masuk, di Rumah sekarang hanya ada aku dan Kakakku, tetapi aku tidak tahu Kakakku sudah balik kerja atau belum.” Ucap Rizka membuka Pintu Rumahnya dan mempersilahkan kami duduk di Ruang Tamu. “Memangnya Kakakmu kerja dimana Riz?” Tanya Vina setelah dia duduk di sofa empuk di dalam Rumah Rizka yang berwarna abu-abu. “Kakakku Pilot Vin, jadi dia sering bolak-balik Jakarta, kadang bahkan dia menginap di Negara-Negara lain apabila dia mendapatkan schedule penerbangan yang jauh dan tidak memungkinkan dia untuk langsung balik ke Jakarta.” Ucap Rizka menjelaskan kepada kami yang hanya dijawab anggukan oleh kami bertiga.
Setelah itu Rizka masuk ke dalam Rumahnya mengambilkan minuman kaleng dan beberapa makanan kecil untuk kami, sedangkan aku, Vina dan Ivan menyiapkan peralatan yang akan kami gunakan untuk tugas kelompok kami. Saat kami sedang sibuk mengerjakan tugas, aku merasakan penglihatanku sedikit kabur dan sedikit berkunang kunang. “Riz, aku mau ke Toilet boleh?” Tanyaku ke Rizka. “Oh iya boleh Sar, nanti kamu lurus, terus belok kiri, Toiletnya ada di sebelah Kamarku dan Kakakku.” Ucap Rizka.
Aku pun pergi meninggalkan teman-temanku dan berjalan ke dalam Rumah Rizka mengikuti instruksi yang diberikan oleh Rizka. Aku merasakan kepalaku menjadi lebih berat dan sedikit pusing. Aku kenapa? aku sudah berdiri di depan Toilet dengan kepala yang terasa sangat berat dan mata yang berkunang-kunang.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu Kamar di sebelah kananku terbuka yang membuatku sedikit terkejut dan keluarlah seorang Laki-Laki yang terlihat seperti baru bangun tidur dengan hanya menggunakan celana hitam panjang kantornya tanpa menggunakan baju atasnya yang menunjukkan dadanya yang bidang dengan perut yang rata dan terdapat beberapa otot disana.
“Kamu?” Ucapku dan dia bersamaan, tetapi setelah itu mataku terlihat gelap dan aku merasa akan terjatuh, tetapi aku merasakan ada seseorang yang menahan tubuhku untuk jatuh, setelah itu aku tidak sadarkan diri.
Aku merasakan kepalaku sedikit sakit, dan setelah aku mengumpulkan sedikit kesadaranku, aku merasakan aku tertidur di sebuah ranjang besar dengan Kamar yang terasa sangat asing untukku. Aku dimana? Aku mendudukkan diriku, melihat ke sekeliling Kamar yang dimana dari semua peralatan dan barang-barang yang ada di dalam Kamar ini aku bisa tahu bahwa pemiliknya adalah seorang Laki-Laki, dimana terdapat beberapa alat untuk melatih otot dan alat-alat fitness lainnya.
Aku melihat di pintu lemari dimana terdapat seragam pilot yang tergantung rapi. Tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka dari luar yang membuatku terkejut dan memfokuskan perhatianku kearah pintu Kamar tersebut, dan munculah sosok Laki-Laki yang tadi bertemu denganku saat sebelum aku jatuh pingsan. “Kamu udah sadar?” Ucapnya mendekatiku dengan baju santai yang digunakannya dan handuk yang ada di pundaknya dimana terlihat bahwa dia baru selesai membersihkan dirinya. Saat dia sudah berada di depanku dan duduk di tepi ranjang, dia mengulurkan tangannya. “Aku belum memperkenalkan diriku waktu itu di Bandara, aku Bara.”
BERSAMBUNG
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1