
Aku melihat senyuman tipis pada wajahnya, dia berdiri di depanku dan mengambil surat itu. "Kamu akan menyesalinya Bocah, karena aku tidak akan melepaskanmu kali ini." Ucapnya penuh penekanan. "Aku terima permintaanmu, dengan satu syarat." Ucapnya membuat dahiku mengernyit. "Tinggallah bersamaku."
Aku terdiam tidak menjawab atau mengatakan apapun kepadanya, entah kata-katanya itu adalah sebuah pertanyaaan atau sebuah perintah aku sendiri pun tidak tahu, yang jelas sekarang dia menatapku menunggu jawaban dari mulutku.
"Bawa dia kemari." Teriak Angkasa yang membuatku terkejut dan langsung melihat ke arah pintu. Aku langsung berdiri dan ingin menolong orang yang di depanku, tetapi tanganku ditahan oleh Angkasa. Aku langsung menatapnya dengan air mata yang sudah mengalir. "Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku bergetar.
Aku melihat Ibu Nur terikat di kursinya, dengan bibir berdarah dengan mulut tertutup oleh kain dan beberapa luka pada wajahnya, tidak ada yang menolongnya, mungkin Angkasa sudah menyuruh semua orang di luar untuk pergi. "Perempuan tua ini sudah terlalu banyak berbicara, jadi aku harus menutup mulutnya." Ucap Angkasa dia menarik sebuah pistol dari balik jasnya dan mendekati Ibu Nur yang membulatkan matanya ketakutan.
"Aku mohon, jangan lakukan, hentikan ini salahku." Ucapku dengan air mata yang sudah membasahi pipiku. Tetapi Angkasa tetap tidak memperdulikanku, dia terus melangkah dan menodongkan pistol ditangannya ke kepala Ibu Nur. "Aku akan menunjukkan kepadamu beginilah caraku membunuh." Ucapnya.
Aku menundukkan kepalaku. "Hentikan, Kassa hentikan, aku mau...aku mau tinggal bersamamu, tetapi lepaskan dia." Ucapku bergetar karena tangisanku. Dia mendekat kearahku dan menarik daguku untuk melihatnya. "Tetap panggil aku Kassa karena aku menyukainya, dan kamu harus berikan hidup dan jiwamu untukku mulai sekarang, karena kamu milikku sekarang." Ucapnya.
__ADS_1
Angkasa akhirnya meminta Bodyguardnya untuk melepaskan Ibu Nur dari semua ikatan pada tubuhnya. "Temui aku di depan Sekolah dalam lima menit, kalau kamu terlambat, kamu akan tahu sendiri akibatnya," Ucap Angkasa dingin dan berlalu ke luar Ruangan diikuti oleh para Bodyguardnya.
Aku mendekati Ibu Nur dan membersihkan beberapa bekas darah dan air mata pada wajahnya. "Pergilah Sarah, dan terima kasih karena sudah menyelamatkan Ibu, Ibu hanya bisa berdoa kamu selalu dalam keadaan baik-baik saja nantinya." Ucap Ibu Nur dengan susah payah menahan sakit pada tubuhnya.
Aku meninggalkan Ibu Nur dan sedikit berlari menuju depan Sekolah, dimana sudah terlihat mobil hitam dengan Angkasa yang merokok berdiri di samping mobilnya. "Hampir saja kamu telat, Bocah." Ucapnya. Salah satu Bodyguardnya membukakan pintu mobil dan Angkasa langsung masuk ke dalam mobil itu. "Masuk." Ucapnya aku dengan sedikit ragu melangkahkan kakiku masuk ke dalam mobil tersebut. "Atau kamu mau aku yang menarik kaki mulusmu itu untuk masuk ke dalam mobil ini." Ucapnya membuatku langsung dengan cepat masuk kedalam mobilnya.
Mobil itu langsung berjalan memasuki jalanan Ibukota, melewati gedung-gdung bertingkat dan masuk ke dalam kawasan sepi yang di sebelah kanan kirinya adalah hutan. Aku hanya mengernyitkan dahiku memandang ke luar jendela karena belum pernah masuk ke daerah ini.
Sampai mobil itu berhenti di depan sebuah pagar tinggi dengan penjagaan yang ketat, mobil itu berjalan lagi dan berhenti di sebuah Rumah yang sangat besar dan mewah. Pintu di sebelahku dibuka oleh salah satu Bodyguard Angkasa.
Aku masih mengikuti langkah Angkasa naik ke Lantai Dua, tanpa diikuti lagi oleh Bodyguardnya. Dia membuka sebuah pintu besar di depan kami. "Ini Kamarmu, semua yang kamu butuhkan ada disini." Ucapnya datar. "Tetapi, aku belum berbicara apapun kepada Ibu Aisyah." Ucapku kepadanya, dia tidak mempedulikan ucapanku dan langsung pergi meninggalkanku di dalam kamar besar ini.
__ADS_1
Aku melihat ke sekeliling kamar, dimana terdapat sebuah tempat tidur besar yang cukup untuk dua orang, aku membuka lemari geser 3 pintu yang berwarna putih, dimana sudah terdapat pakaian-pakaian yang membuatku langsung mengernyitkan dahiku, bagaimana tidak. Pakaian-pakaian yang ada di dalam lemari ini isinya hampir dapat memperlihatkan lekuk tubuh pemakainya, bahkan baju tidurnya pun tembus pandang dengan bahan yang tipis, aku menarik laci di dalam lemari tersebut dan terdapat pakaian dalam wanita yang membuatku menghela nafasku lebih berat. Pakaian dalam seperti apa ini, semua hanya berupa tali-tali dan tetap tembus pandang.
Tiba-tiba ada yang mengetok pintu kamarku, membuatku berlari kecil untuk membukanya. "Selamat siang Nona, saya Claire, saya ditugaskan untuk menjadi Pelayan Pribadi Nona." Ucapnya menunduk tidak menatapku. "Ha? Maksudnya apa? Aku sama sekali tidak membutuhkan seorang Pelayan Pribadi." Ucapku terkejut.
"Maaf Nona, ini semua permintaan dari Tuan Angkasa." Ucapnya lagi yang membuatku sudah tidak dapat membantah lagi. "Apa ada yang dapat saya bantu Nona?" Ucapnya lagi. "Untuk sekarang aku tidak membutuhkan apa-apa Claire, terima kasih, hanya saja aku meminta padamu, saat berbicara denganku tataplah mukaku, kamu tidak perlu untuk menunduk takut seperti itu." Ucapku lembut kepadanya, aku melihat dia sedikit terkejut dan menegakkan tubuhnya secara perlahan, tetapi masih dengan wajah yang tertunduk. "Ba...baik Nona, kalau begitu saya izin pamit dulu, kalau Nona butuh apa-apa, Nona bisa menekan bel yang ada di sebelah tempat tidur Nona." Ucapnya, setelah itu dia pergi meninggalkanku dan menutup pintu kamarku.
Aku duduk di tepi ranjangku, memandang ke sekitar ruangan kamarku, membuatku hanya melamun, memikirkan apakah keputusan yang aku buat ini benar atau tidak. Aku merebahkan tubuhku pelan diatas tempat tidur, mencoba memejamkan mataku berharap ini semua hanya salah satu dari bunga tidurku. Semoga.
"Bangun, Bocah." Suara seseorang membangunkanku, membuatku langsung terbangun secara tiba-tiba membuat kepalaku menjadi sedikit pusing. "Persiapkan dia." Ucap Angkasa kepada seseorang di belakangnya yang ternyata adalah Claire. "Baik Tuan." Ucap Clare menunduk.
"Persiapkan aku untuk apa?" Tanyaku heran, dia menampilkan senyuman yang sedikit menakutkan untukku. "Aku akan menjadikanmu umpan untuk malam ini." Ucapnya datar. "Umpan? Apa maksudmnu?" Tanyaku yang sudah berdiri di depannya.
__ADS_1
"Iya, umpan untuk lawan bisnisku, dia pasti akan sangat tertarik dengan seorang gadis muda dan cantik sepertimu, Bocah." Ucap Angkasa. "Aku tidak mau!" Ucapku sedikit berteriak dengan air mata yang mulai berlinang di mataku. "Aku mohon Kassa, aku mohon." Ucapku tertunduk. "Kamu sudah terlalu banyak memohon hari ini Bocah, jika kamu tidak mau melakukannya, kamu akan tahu sendiri akibatnya untuk orang-orang yang berada di Panti itu." Ucapnya, membuat air mataku semakin mengalir cepat. "Aku mohon." Ucapku terisak dan Angkasa sama sekali tidak mempedulikanku dan berlalu pergi meninggalkanku dengan Claire di dalam kamar. Apa yang harus aku lakukan.
BERSAMBUNG.