Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#20 WP?S2


__ADS_3

Aku terbangun dari tidurku berniat untuk menuju Kamar Mandi, namun sebuah lengan kekar melingkar pada perutku menahan pergerakanku, dengan perlahan aku melirik ke belakang dimana pandanganku langsung bertemu dengan wajah tampan Angkasa yang masih memejamkan matanya.


Hembusan napas Laki-Laki itu sangat pelan dan teratur yang menandakan dirinya masih nyenyak dalam tidurnya. Aku menahan napasku karena tidak mau membangunkan Laki-Laki yang sedang memeluk tubuhku sekarang ini, dengan perlahan dan lembut aku mengangkat lengan kekarnya lalu keluar dari pelukannya.


Dengan perlahan aku berjalan dan memasuki Kamar Mandi, mencoba tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Aku melihat bathtub dengan mata sendu, mengingat hal murahan yang aku lakukan terhadap Angkasa semalam. Aku lewati bathtub itu dan berdiri di bawah shower dengan pakaian tidur yang sudah aku lepaskan sebelumnya.


Air hangat membasahi tubuhku yang membuat tubuhku menjadi rileks. Ketika sedang menikmati waktu mandiku, tiba-tiba sepasang lengan yang kekar melingkari pinggangku dan membuatku terlonjak kaget. "Aku akan membantumu mandi." Bisiknya pada telingaku yang berhasil membuat tubuhku kaku dan menegang. Kenapa aku bisa lupa mengunci pintu.


"Ti...tidak usah repot-repot, aku bisa mandi sendiri." Ucapku gugup. Dia mengabaikan penolakanku dan mengambil sebuah shower puff, menuangkan sabun lalu membusakannya kemudian menggosokkannya ke tubuhku dengan lembut, "Kenapa kamu berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri?" Ucapnya di belakangku.


"Aku hanya tidak ingin membangunkanmu." Ucapku pelan dan merasa sedikit geli karena sentuhan-sentuhan intim serta beberapa ciuman dan kecupan pada leher dan pundakku. "Aku minta maaf." Ucapku pelan dan tertunduk membuatnnya menghentikan aktifitasnya.


"Bisakah kamu menutup matamu dulu." Ucapku lagi. "Hmm?" Jawabnya dengan geraman yang heran. "Tutup saja matamu." Ucapku lagi. "Sudah." Jawabnya singkat. Dengan perlahan aku membalikkan tubuhku dan melihat tubuhnya yang tanpa sehelai benangpun dengan mata tertutup


"Jangan buka matamu sampai aku memperbolehkannya, janji?" Ucapku kepadanya dan dijawab anggukan olehnya. "Maafkan aku karena perbuatanku semalam yang seperti Wanita murahan di depanmu, aku pikir kamu menginginkan hal itu karena terlihat sekali kamu sangat menahan hasratmu selama bersamaku. Maafkan aku karena tidak berpikir panjang dalam melakukan hal itu, maafkan aku." Ucapku menunduk kepadanya dan tercipta keheningan selama beberapa detik.

__ADS_1


"Boleh aku bicara sekarang?" Tanyanya. "Boleh, tetapi tetap tutup matamu, aku tidak ingin kamu melihat tubuhku sekarang." Ucapku kepadanya. Dia mengernyitkan dahinya, tetapi tetap mengikuti perkataanku. "Apakah kamu pikir aku sama sekali tidak ingin memakan tubuhmu kemarin bahkan terlebih sekarang?" Tanyannya kepadaku yang hanya aku jawab dengan diam.


Dia menghembuskan napasnya berat. "Kamu adalah Wanita yang berhasil membuatku menjadi seperti ini, Wanita yang dapat menahan sifat hewaniku hanya dengan kehadiranmu di sisiku. Apabila semalam itu bukan kamu dan merupakan Wanita lain, mungkin aku akan membuat Wanita itu tidak dapat berjalan pagi ini." Ucapnya penuh penekanan.


"Jangan salahkan dirimu, aku seharusnya merasa tersanjung dengan apa yang kamu lakukan, tetapi kamu adalah Kekasihku, aku menghargai semua kepentingan dan prirotasmu. Bukankah kamu yang memintaku untuk mencintaimu dengan cara yang benar?" Ucapnya membuatku melihat dirinya yang sedang tersenyum.


"Terima kasih." Ucapku pelan yang dengan pasti dapat di dengarnya. "Boleh aku membuka mataku dan memelukmu sekarang." Ucapnya yang hampir membuka matanya, tetapi langsung aku tutup dengan kedua telapak tanganku sambil sedikit berjinjit karena tingginya yang sedikit lebih tinggi dariku.


"Tidak boleh, kamu hanya boleh melihat tubuhku kalau kamu sudah berjanji kepadaku di depan semua orang bahwa kamu akan menjalani hidup bersamaku di saat sakit atau pun sehat, dan di saat suka ataupun duka." Ucapku dengan tersenyum malu. "Baiklah." Ucapnya dengan sedikit malas. Aku menjijit kakiku lebih tinggi dan mengecup sekali bibir tebalnya. "Itu hadiah dariku karena sudah mau mencintaiku dengan benar." Ucapku dan langsung pergi meninggalkannya di bawah shower dan menggunakan handuk.


Saat aku yang berpura-pura tidak tahu dengan tatapan Angkasa kepadaku, tiba-tiba saja handphone Angkasa yang berada di atas meja bergetar. Dia langsung menautkan alisnya saat melihat nama pada layar handphonenya. Saat dia mengangkat telepon tersebut tampak wajah khawatir pada raut mukanya.


Setelah telepon itu berakhir, dia menatapku lekat. "Maukah kamu ikut denganku?" Tanyanya kepadaku. "Kemana?" Tanyaku balik dengan heran. "Menemui Kakek." Ucapnya yang membuatku sedikit terkejut dan menelan ludahku kasar.


Bertemu dengan Keluarga Besar Pratama kemarin sudah membuat hariku menjadi buruk, apalagi sekarang bertemu dengan Kakeknya, akan seperti apa Kakeknya? Pasti sifat dan sikap Kakeknnya akan lebih kuat daripada Paman yang dipanggil Ayah oleh Angkasa kemarin. Dalam hati kecilku ingin sekali aku menolak, tetapi hal ini pasti akan mengecewakan Angkasa apabila aku menolak untuk bertemu Kakeknya, akhirnya aku pun menyutujui untuk bertemu dengan Kakeknya.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju ke Rumah Kakek Angkasa, aku hanya menatap ke luar jendela mobil dengan perasaan takut dan cemas, sampai-sampai tidak terasa mobil masuk ke dalam sebuah perkaragan Rumah mewah. Aku dan Angkasa turun dari mobil, aku dengan sengaja memperlambat langkahku untuk mengikuti Angkasa dari belakangnya.


Sampai masuk ke dalam Rumah besar dan mewah itu, aku hanya menundukkan kepalaku melihat kemana langkah kaki Angkasa berjalan. Sampai dia masuk ke dalam sebuah Kamar, aku tidak dapat meihat sosok dari Kakek Angkasa yang berada di dalam Kamar karena terhalang punggung kokoh Angkasa.


"Kakek." Panggil Angkasa dengan suara lembut, dimana baru kali ini aku mendengarkan Angkasa memanggil seseorang seperti itu selain memanggil namaku. "Anak nakal, apa kamu akan mengunjungi Kakekmu ini setelah jatuh sakit?" Suara Orang Tua dengan lemah.


"Bukan begitu Kek." Ucap Angkasa tetapi langsung di potong dengan cepat oleh Kakek Angkasa. "Minggir, aku mau melihat calon Istrimu, urusan kenakalanmu akan kita bahas nanti." Ucap Kakek kepada Angkasa. Angkasa menggeser tubuhnya untuk memperlihatkan diriku yang sedang menunduk takut di belakangnya.


"Kemarilah Nak." Panggil Kakek dengan nada lembut, aku perlahan membuka mataku dan melangkahkan kakiku mendekatiya. Dia mengulurkan tangannya membuatku melihat ke arah Angkasa yang mennganggukkan kepalanya dengan wajah tersenyum.


Aku menggenggam tagan Kakek Angkasa, dan seketika itu juga aku melihat sebuah senyuman tulus terukir pada wajahnya. "Terima kasih sudah mengembalikan senyuman Cucuku yang nakal ini, kamu adalah Gadis yang manis dan sangat pantas untuk mendampingi Cucu nakalku ini." Ucapnya dengan lembut, tidak terasa air mataku menetes dari pipiku karena penerimaan yang hangat dari Kakek Angkasa.


"Terima kasih, karena Kakek sudah mau menerimaku yang bukan siapa-siapa ini untuk bersama Angkasa dan aku meminta maaf karena kesalahan dari Ibuku." Ucapku sedikit terisak. "Hapus air matamu Nak, itu adalah urusan rumah tangga anakku dulu dan bukan kesalahanmu, dan juga tidak sepenuhnya juga itu menjadi kesalahan Ibumu, itu merupakan kesalahanku juga karena memaksa Alex untuk menikah dengan Mega, karena aku pikir Alex akan dapat merubah sifat Mega yang buruk." Ucap Kakek Angkasa.


"Aku sudah mencari tahu tentang dirimu, semenjak Cucu nakalku itu mengatakan ingin berhenti dari pekerjaan-pekerjaan 'gelapnya' karena ingin bersamamu." Ucap Kakek Angkasa. "Dan kamu Anak nakal, kamu harus menjaga Cucu Kesayanganku ini dengan nyawamu, kalau sampai aku melihat dia terluka atau menangis karenamu, aku sendiri yang akan mengambil nyawamu." Ucap Kakek Angkasa melihat kearah Angkasa yang sekarang sedang tersenyum senang melihat interaksi antara aku dan Kakeknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2