Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#5 WP?S2


__ADS_3

WAH AUTHOR SENENG BANGET KEMARIN KISAH AUTHOR INI MENDAPATKAN RANKING 150-AN,  TERIMA KASIH BANYAK BUAT KALIAN YANG VOTE :) TETAP VOTE DAN IKUTI KISAHNYA SARAH YA!!!


SEBAGAI BONUSNYA HARI INI AUTHOR UP 2 EPISODE SEKALIGUS!!! SELAMAT MEMBACA SEMUA.


"Sarah." Teriak Ibu Aisyah kepadaku saat aku sudah masuk ke dalam Panti. "Kamu kemana aja Nak? Apa yang terjadi denganmu?" Tanyanya khawatir. Aku langsung memeluknya menangis. "Sarah kangen Bu." Hanya itu kata-kata yang dapat keluar dari mulutku saat ini.


Aku pun meminta izin kepada Ibu Aisyah untuk istirahat terlebih dahulu, karena aku merasakan tubuhku sangat lelah. Di hari itu juga aku hanya dapat terbaring di Kamarku, Ibu Aisyah beberapa kali masuk ke Kamarku, meyakinkan bahwa aku baik-baik saja.


"Sarah, gak pa-pa Bu, Ibu gak perlu khawatir." Ucapku kepadanya, aku tidak mau menambah beban pikirannya dengan masalahku lagi. "Kamu yakin Nak? Apakah ini semua berhubungan dengan Tuan Angkasa?" Tanyanya lagi. Aku sedikit terkejut bagaimana Ibu Aisyah bisa menebak semua masalahku sekarang berhubungan dengan Angkasa.


"Maksud Ibu?" Tanyaku, Ibu Aisyah memberikan sebuah surat kepadaku, aku membaca surat itu dengan teliti dan berulang kali. "I...ini." Ucapku kepada Ibu Aisyah tidak percaya. "Iya, ini surat dari Tuan Angkasa Pratama, Ibu tidak tahu mengapa tiba-tiba surat ini datang ke Panti." Ucap Ibu Aisyah.


Di dalam surat itu dituliskan bahwa semua hutang dari Ibu Aisyah dianggap lunas, dan salah satu perusahaan Angkasa, akan menjadi donatur tetap setiap bulannya untuk memberikan bantuan kepada Panti, bahkan Panti sendiri akan di renovasi menajdi lebih layak huni lagi. Apa yang kamu rencanakan Kassa.


"Apakah ini semua berhubungan dengan masalahmu Nak?" Ucap Ibu Aisyah yang membuatku tersadar dari lamunanku. "Hmm bu...bukan Bu." Ucapku bohong, aku tahu sekali kalau Ibu Aisyah tahu bahwa aku sedang berbohong kali ini, tetapi beliau tidak menanyakan lebih karena tahu bahwa aku belum siap cerita untuk masalahku.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu kamu istirahat ya." Ucap Ibu Aisyah mengecup keningku dan pergi meninggalkanku di dalam Kamar. Pikiranku masih terbayang akan Angkasa, ada dua sisi di dalam pikiranku sekarang. Di satu sisi aku takut akan kehidupan Angkasa yang penuh dengan sisi gelap, tetapi di satu sisi hatiku berkata bahwa aku ingin mendekatinya, sudah lama aku tidak mendapatkan kenyamanan dan kehangatan di hatiku saat bersamanya setelah kepergian Indra. Aku harus membicarakan ini semua kepada seseorang.


Aku mengambil handphoneku dan menekan satu nomor. "Halo, Sarah?" Ucap seseorang di seberang teleponku. "Iya ini aku Sarah, hmm apakah kita bisa bertemu malam ini? Ada yang ingin aku tanyakan." Tanyaku kepada orang tersebut, telepon itu hening selama beberapa detik. "Oke bisa, aku akan mengirimkan alamatnya kepadamu." Ucapnya, setelah itu aku memutuskan sambungan telepon tersebut dan menidurkan diirku sebentar di atas tempat tidurku, melpaskan masalahku sebentar dan ingin mendapatkan bunga tidur yang mungkin dapat sedikit melegakan hati dan pikiranku.


....


"Tolong jangan sentuh aku, aku mohon." Teriakku dengan isakan tangisku, orang tersebut menekankan tubuhnya diatasku, mengecup dan menggigit dengan kasar setiap inci tubuhku. Aku mengerang kesakitan dengan tangan dan kaki yang terikat. "Aku mohon lepaskan aku." lirihku. "Kamu adalah milikku." Suara dingin itu berbisik di telingaku.


Aku langsung terbangun dengan keringat dingin yang mengalir ke semua tubuhku, bahkan bajuku pun basah olehnya. Aku menghembuskan nafasku berat dan mengusap kasar wajahku. Hanya mimpi, mimpi yang menakutkan. Aku melihat jam dinding kamarku yang menunjukkan pukul setengah enam malam, artinya aku masih bisa mempersiapkan diriku sebelum jam delapan malam untuk bertemu seseorang.


Aku membersihkan tubuhku dan mempersiapkan diriku dengan sedikit cepat. Saat aku keluar dari pintu Panti, dua orang Bodyguard Angkasa mendekatiku. "Mau kemana Nona?" Tanya salah satu dari mereka. "Aku ingin bertemu dengan temanku di suatu tempat." Ucapku mencoba tenang.


Aku melihat ke belakang dimana kedua Bodyguard itu sudah menghilang beserta mobil mereka. Handphoneku bergetar menandakan adanya pesan yang masuk, pesan tersebut berisikan bahwa orang yang membuat janji kepadaku mengatakan bahwa dia sedang menuju ke lokasi tempat kami akan bertemu.


Taksi yang aku tumpangi sudah sampai di sebuah Cafe yang menjadi tujuanku, setelah membayar uang Taksi, aku lagsung turun, dan mencari meja yang kosong. Aku duduk dan memesan minuman saat seorang Pelayan datang ke mejaku. Jam ditanganku menunjukkan pukul delapan malam yang artinya aku sampai tepat waktu disini.

__ADS_1


"Sarah." Panggil seseorang di belakangku, aku pun berdiri dan menyalaminya. "Fahmi." Ucapku, dia pun mengambil tempat duduk di depanku. Fahmi memesan minuman saat seorang Pelayan datang kembali di meja kami.


"Oke Sarah, apa yang ingin kamu bicarakan." Ucap Fahmi langsung tanpa basa basi. "Bantu aku Fahmi, aku ingin memahaminya, aku ingin mengenalnya lebih dalam lagi, hanya kamu yang bisa membantuku." Ucapku dengan sedikit ragu-ragu.


"Apakah kamu yakin?" Tanyanya lagi, aku berpikir sejenak sampai minuman yang kami pesan datang dan di letakkan diatas meja kami. "Aku yakin." Ucapku memantapkan keyakinanku. Aku melihat Fahmi sedikit berpikir, dia mengambil tissue dan menulis sesuatu.


"Kunjungi website ini, dan cari di halaman pencarian HIRAM CLUB." Ucapnya sambil memberikan tissue itu kepadaku. Aku langsung memasukkan tissue itu ke dalam tasku. "Apa yang kalian lakukan disini." Suara dingin dari belakangku, membuat seluruh bulu halusku berdiri.


Aku memutar tubuhku perlahan, berharap orang yang ada di belakangku bukanlah orang yang aku pikirkan. "Ka...Kassa." Ucapku ketakutan, Angkasa menarik tanganku membuatku berdiri, dia menyembunyikanku di balik punggung kokohnya.


"Lo mau mati?" Ucap angkasa kepada Fahmi. "Ka...Kassa itu bukan salahnya, aku yang mengajaknya kesini." Ucapku takut, dia langsung berbalik menatapku. "Tenang Kass, Sarah kesini hanya ingin berkonsultasi tentang traumanya, lagian gua bakal cari mati apabila gangguin milik lo." Ucap Fahmi tenang.


Angkasa menatap tajam Fahmi lagi. "Jangan lakukan ini lagi Dokter bodoh, kalau lo masih mau kerja di Rumah Sakit itu." Ucap Angkasa membuat Fahmi hanya dapat mengangkat tangan. Angkasa menarik tanganku erat dan berjalan sedikit cepat menuju keluar Cafe.


Sesampainya kami di Parkiran mobil, dia membukakan pintu mobilnya di bagian penumpang sebelah supir. "Masuk." Perintahnya, membuatku terpaksa masuk ke dalam mobil itu tanpa bantahan. Aku melihat Angkasa mengambil kunci dari Rafael, dan masuk ke mobil di tempat duduk supir. "Kita mau kemana?" Tanyaku Panik. "Aku akan menghukummu." Ucapnya.

__ADS_1


Mobil sport merah Angkasa langsung melaju cepat memasuki jalanan Ibukota. Mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi melewati mobil-mobil lain yang berada di depannya. "Kassa pelan-pelan." Ucapku ketakutan, tetapi dia tidak menghiraukannya, dia masih tetap melajukan mobilnya dengan cepat tanpa mempedulikanku yang sudah ketakutan di sebelahnya. "Kassa, aku mohon pelan-pelan, aku takut." Ucapku bergetar, mobil itu pun terasa secara perlahan berjalan pelan membuat jantungku juga berirama normal kembali. "Kamu akan menyesalinya, karena kabur dari pengawasanku." Ucapnya dingin.


BERSAMBUNG.


__ADS_2