Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MEMENUHI JANJI


__ADS_3

“Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada anda sendiri.” – H. Jackson Brown, Jr.


“Huft capek.” Ucapku dengan napas yang tersengal-sengal. “Daveee masih jauh gak?” Teriakku sambil terus melihat ke depan dengan jalan yang mulai menanjak. “Hahaha.” Suara tawa Dave yang membuatku mendengkus kesal. “Hmm masih jauh gak ya, mungkin sekitar satu jam lagi.” Jawab Dave yang ada di belakangku sambil tersenyum senang melihatku yang kecapekan.


“Ha? Serius? Jadi dari tadi kita jalan belum ada apa-apanya.” Ucapku langsung terduduk lemas di sebuah batang pohon yang tumbang. “Tawaran aku masih berlaku loh? Gimana mau aku gendong gak?” Ejek Dave sambil menaik-naikkan alisnya, aku langsung memasang wajah cemberut tanda menolak.


Sesuai janjiku ke Dave kemarin aku akan memenuhi satu keinginannya apabila dia memenangkan pertandingan basket saat melawan tim Edgar saat class meeting kemarin, dan keinginannya adalah menemani dia ke salah satu air terjun yang ada di daerah Puncak bersama teman-teman komunitasnya. Aku yang tidak pernah melakukan hal seperti ini awalnya menolak, tetapi karena sudah janji dan sekolah juga sedang libur dengan terpaksa aku pun menurutinya.


Dari jam lima pagi Dave sudah menjemputku, kami berangkat bersama rombongan komunitas Dave dari Jakarta menuju ke Puncak Bogor menggunakan sepeda motor, dikarenakan kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilewati oleh mobil apabila kami menggunakan kendaraan beroda empat tersebut dan agar lebih cepat sampai ke tempat tujuan kami, perjalanan kami pun nantinya akan dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke air terjun tersebut.


Dave yang sudah dari tadi pagi bersikeras untuk menggendongku berbicara tiada hentinya sepanjang perjalanan kami diatas motor, aku yang entah mengapa saat bersama Dave sama sekali tidak terganggu dengan ocehannya itu, bahkan saat mendengarkan suaranya pun dapat membuat hatiku tenang.


“Ini minum dulu.” Ucap Dave memberikan botol minuman kearahku disaat kami sedang beristirahat. “Udah jangan cemberut terus nanti cantiknya hilang loh.” Lanjutnya dengan tersenyum. Akupun melihat kearahnya dengan membuat senyum yang dipaksakan di wajahku, setelah itu aku meminum minuman yang diberikan oleh Dave, dan dengan tidak sengaja ada beberapa air yang membekas disekitar bibirku.


Dave yang melihat itu langsung dengan cepat membersihkan air tersebut menggunakan tangannya, Aku yang kaget dengan tindakan Dave secara spontan dengan tidak sengaja memegang tangannya dan mata kami saling bertatapan yang dimana berhasil membuat jantungku berdegup kencang.

__ADS_1


“Nanti kamu akan senang melihat pemandangan disini Sarah, air terjunnya juga bagus banget.” Ucap Dave yang sudah menarik tangannya dari pinggiran bibirku. “I-iya.” Jawabku. Kenapa jantungku jadi berdegup kencang gini. “Daavveeee ayo lanjut lagi.” Teriak salah satu teman Dave yang berada sedikit jauh di depan kami. Dave melihat temannya tersebut dengan menunjukkan jempolnya.


“Jadi mau digendong?” Ucap Dave yang masih mengejekku sambil mengencangkan ransel punggungnya. Aku mendekatinya dan mendekatkan wajahku kearahnya yang membuatnya sedikit terkejut. “NOOO.” Jawabku tertawa dan langsung berlari. “BRUK!! Ahh.” Aku terjatuh tersandung akar pohon yang ada didepan jalanku dan membuat kakiku terasa sakit.


“SARAH.” Teriak Dave yang langsung mendekatiku begitupun teman-temannya. Dave pun membantuku untuk duduk dan melepaskan sepatu kaki kananku. “Aww sakit Dave.” Ucapku yang merasakan sakit dan menggenggam erat lengan Dave. “Sepertinya kaki Sarah terkilir Dave, akan sulit untuk dia melanjutkan perjalanan ke atas.” Ucap salah satu teman Dave.


Dave yang semenjak tadi tidak berkata apa-apa melihat kaki ku dengan wajah yang tidak bisa aku pahami apakah terlihat marah, sedih atau kesal. “Kita lanjutkan perjalanannya Don, tolong bawakan ransel gua sama Sarah ya.” Ucap Dave sambil melepaskan ranselnya dan ranselku dan menyerahkannya ke Doni temannya, Doni pun mengambil ransel yang diberikan oleh Dave.


“Maaf.” Ucap Dave lirih sambil memakaikan sepatuku kembali secara perlahan. “Dave.” Aku memegang pipinya agar dia menatapku, dia hanya tersenyum. “Aku gendong ya.” Melihat ekpresinya yang penuh bersalah itu aku menganggukkan kepalaku. Dia mengangkat tubuhku ke belakang punggungya, bisa kurasakan otot tangan dan bahunya yang keras saat aku berpegangan pada tubuhnya itu.


“Capek ya? Kalo kamu capek gak pa-pa aku bisa usahain jalan kok Dave.” Ucapku karena takut Dave akan sangat kelelahan karena menggendongku sedari tadi dengan jalan di depan yang semakin naik. “Maaf.” Ucapnya lirih. “Dave maaf kenapa? Apa yang harus kumaafkan, kamu gak salah aku yang ceroboh tadi.” Ucapku. “Karena aku kamu jadi sakit begini, aku memang bodoh karena memaksa kamu ikut.” Ucap Dave dengan ekspresi wajahnya yang sendu.


“Dave.” Ucapku yang membuatnya berhenti berjalan. “Ini bukan salah kamu, aku yang tadi tidak hati-hati, sekarang aku yang khawatir kamu akan kelelahan menggendongku terus seperti ini.” Lanjutku.


“Aku akan menggendongmu kemanapun tanpa merasa lelah Sarah, aku akan menjagamu agar kamu tidak pernah merasakan sakit.” Kata-kata Dave membuat jantungku berdetak dengan cepat lagi, kata-katanya tadi berhasil membuat wajahku menjadi merona merah. Aku langsung melingkarkan tanganku di leher Dave, dan mempereratnya, meletakkan wajahku pada punggungnya dengan tersenyum. Terima kasih Dave.

__ADS_1


“Capek?” Tanyaku kepada Dave yang terbaring kelelahan di sebelahku setelah kami sampai di tempat tujuan kami, aku membersihkan keringat diwajahnya dengan lengan bajuku. “Hah hah huh lumayan, badan kamu ternyata berat juga ya haha.” Ucapnya sambil tertawa dengan napas yang masih tersengal-sengal dan aku langsung memukul perutnya. “Awww.”


“Hahaha rasainnn.” Ucapku tertawa setelah memukul Dave. “Ini kita dimana Dave” aku berkata sambil memandang ke seluruh tempat yang menjadi tujuan kami dengan senang karena tempatnya sangat indah. “Kita ada di air terjun Curug bagus kan?” Ucap Dave. “Bagus banget suasananya adem dan dingin aku suka, makasih ya.” Ucapku dengan tersenyum. “Makasih? Buat apa?” Tanya Dave heran. “Makasih sudah bawa aku ke tempat seperti ini, karena aku tidak pernah datang ke tempat-tempat seperti ini.” Dia mengusap kepalaku.


“Aku akan membawamu ke semua tempat yang belum pernah kamu datangi, aku janji.” Aku melihatnya dengan senyum penuh kebahagiaan. “Aww.” Aku yang mau berdiri untuk melihat lebih jelas keindahan tempat ini tidak sadar dengan kondisi kakiku yang masih sakit.


“Pelan-pelan Sarah, masih sakit ya? Aku ambilin minyak urut sama minuman hangat dulu ya, kamu tunggu dulu disini sebentar ya?” Ucap Dave yang langsung berlari menemui teman-temannya dan disaat yang bersamaan tiba tiba handphoneku berdering dengan nomor yang tidak aku kenali pada layar handphoneku itu.


“Halo.” Ucapku. “Halo.” Jawab suara Laki-Laki di ujung telpon tersebut. “Maaf ini siapa?” Tanyaku penasaran. “Indra.” Eh Kak Indra? Kenapa dia tiba-tiba telpon, terus dapat darimana dia nomor handphoneku perasaan aku tidak pernah kasih nomorku ke dia. “Hmm Kak Indra? Ada apa ya Kak.” Tanyaku lagi. “Kamu dimana?” Tanyanya balik.


“Aku di.” Ucapku terpotong. “Di rumah?” Tanya Indra lagi. “Enggak Kak lagi di luar.” Jawabku. “Sama siapa?” Tanyanya lagi terdengar sangat penasaran. Kenapa aku serasa di interogasi seperti ini. "Sama Dave, Kak.” Jawabku. “Oh.”Jawab Indra singkat. “Kenapa Kak?” Tanyaku lagi. “Gak pa-pa have fun.” Telpon itu langsung dimatikan. Ha? Kenapa dia? Kadang-kadang bersikap baik, kadang-kadang bersikap galak seperti ini.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.

__ADS_1


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2