Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#16 WP?S2


__ADS_3

Cahaya matahari yang hangat menyentuh wajahku secara lembut membuatku secara perlahan membuka mataku. Aku merenggangkan tubuhku dan merasakan sesuatu menahan diriku, lebih tepatnya memeluk diriku, sebuah tangan kekar melingkar pada perut rataku, semakin aku bergerak semakin erat pelukan itu.


Ingatanku terulang kembali akan kejadian tadi malam, dimana aku dan Angkasa hanya menghabiskan waktu kami di atas tempat tdur, bercerita, mengenal satu sama lain dan menyantap makan malam kami yang telah di sediakan oleh Pelayan Angkasa untuk kami.


Tidak ada aktivitas intim yng kami lakukan, mungkin hanya sesekali Angkasa memberikan ciuman hangat dan lembut pada bibir dan leherku yang sekarang penuh dengan tanda kemerahan olehnya. Aku memberanikan diri menyentuh punggung tangannya, menyerap kehangatan yang ada disana, membuatku tersenyum seperti orang bodoh.


"Aku ingin seperti ini seharian penuh." Bisiknya di telingaku yang membuatku tersadar dari lamunanku. "Kamu sudah bangun?" Tanyaku kepadanya yang dibalas dengan kecupan pada leherku. "Iya, aku sudah bangun terutama juniorku dibawah sana." Ucap Angkasa membuatku malu.


"Kamu tidak berkerja hari ini?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan yang nantinya aku sendiri yang tidak akan dapat mengikutinya. "Hmm." Dia meregangkan tubuhnya. melepaskan pelukannya dariku dan menjadikan kedua tangannya sebagai bantal kepalanya.


Aku melihatnya yang masih memejamkan matanya dan mengerutkan dahinya. "Ada apa?" Tanyaku kepadanya yang membuatnya menghembuskan napasnya berat. "Hari ini akan ada acara pertemuan Keluargaku." Ucapnya, dia melihat kearahku. "Dan aku ingin kamu ikut datang bersamaku." Lanjutnya lagi.


Aku sedikit terkejut dengan perkataannya, tetapi aku langsung mengubah raut wajahku tersenyum ke arahnya. "Aku akan datang bersamamu." Ucapku yang membuatnya melihatku dengan serius. "Benarkah?" Tanyanya kepadaku, aku menganggukkan kepalaku. "Aku akan baik-baik saja." Ucapku agar membuat kekhawatirannya hilang, aku tahu dia akan sangat khawatir dengan diriku yang mungkin belum siap untuk bertemu dengan Keluaraga Besar Pratama, tetapi aku harus bisa menghadapinya untuk orang yang mulai aku cintai di depanku ini. "Terima kasih." Ucapnya mengecup keningku. Kamu pasti bisa Sarah.

__ADS_1


Tidak lama kemudian aku membersihkan tubuhku di Kamar Mandi, tetapi dengan usaha dan izin yang sangat sulit dari Angkasa yang harus memberikannya kecupan pada seluruh bagian wajahnya, membiarkannya memberikan tanda kemerahan pada leherku yang belum dijamahnya semalam, setelah kurang lebih tiga puluh menit Angkasa melakukan aktivitas yang digemarinya itu sekarang, akhirnya aku dapat melangkahkan kakiku ke dalam Kamar Mandi.


Setelah mandi dan berpakaian, aku menuju ke Kamarku yang ternyata Angkasa sudah tidak ada lagi disana, aku pun keluar dari Kamarku dan turun menuju dapur untuk membuatkan sarapan, tetapi para Pelayan disana memaksaku untuk langsung menuju meja makan yang sudah tersedia penuh dengan menu sarapan.


Salah satu dari Pelayan itu menarik kursi di dekatku dan mempersilahkanku untuk duduk. Aku pun duduk pada kursi yang di sediakannya tadi, saat aku melihat ke arah Pelayan tadi, mereka sudah pergi meninggalkanku sendiri di meja makan. Kemana Angkasa.


"Nona." Panggil seseorang di belakangku. "Claire!" Ucapku sedikit berteriak, aku langsung berdiri dan memeluknya. "Nona maaf." Ucap Claire yang terkejut dan takut. "Maaf, maaf aku tidak bermaksud membuatmu takut." Ucapku yang langsung melepaskan pelukanku.


"Bukan, bukan seperti itu Nona, maaf ini ada telepon dari Tuan Angkasa." Ucapnya memberikan sebuah telepon kepadaku, aku mengambilnya dan meletakkan telepon itu di telingaku. "Halo." Ucapku. "Halo Sayang, dengan siapa kamu berbicara tadi?" Tanyanya kepadaku penuh selidik.


"Iya tidak apa-apa." Ucapku. "Baiklah kalau begitu aku akan menjemputmu di Rumah jam empat sore." Ucapnya lagi. "Iya Kassa maksudku Sayang." Ucapku memelankan suaraku. "Habiskan sarapanmu, aku mencintaimu." Ucap Angkasa dan langsung mematikan sambungan telepon.


Aku memberikan telepon itu kepada Claire, dan saat dia mau pergi aku menahan tangannya. "Claire, bisakah kamu menemaniku sarapan, please." Ucapku dengan memohon. "Ta...tapi Nona." Ucapnya yang gugup melihat kearah salah satu Bodyguard yang berdiri di sidut Ruangan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Claire, kalau ada masalah biarkan aku yang berbicara dengan Kassa hmm maksudku Angkasa." Ucapku kepadanya, dengan sedikit terpaksa dan takut akhirnya Claire mau menemaniku untuk sarapan. "Ambillah yang kamu mau Claire, semua makanan ini tidak mungkin dapat aku habiskan semua." Ucapku setelah meminum satu gelas susu hangat.


Selama sarapan aku dan Claire banyak bercerita, lebih tepatnya aku yang banyak bertanya tentang kehidupan Claire. Aku baru mengetahui sisi lain dari Angkasa yang ternyata sangat penolong, dimana Claire bercerita bahwa dia bertemu dengan Angkasa di Rumah Sakit waktu Ibunya sedang sakit.


Semua biaya Rumah Sakit dari Ibunya di bayar penuh oleh Angkasa, tetapi Ibunya Claire tidak dapat berumur panjang, sehingga Claire menjadi seorang anak Yatim Piatu tanpa ada Keluarga yang dia tahu. Singkat cerita akhirnya Angkasa meminta Claire untuk bekerja di Rumahnya sampai sekarang, dengan masih melanjutkan Sekolahnya SMAnya yang dibiayai oleh Angkasa. Banyak hal yang belum aku ketahui tentangmu Tuan Angkasa.


Setelah selesai sarapan, aku bermaksud untuk mencuci piring dan gelas kotor yang aku gunakan tadi, tetapi Claire langsung mengambil alih semua itu dan memintaku untuk bersantai saja di Rumah. Aku sama sekali tidak terbiasa dengan kehidupan seperti ini, karena setiap kali aku ingin mengerjakan sesuatu seperti bersih-bersih atau apapun itu pasti salah satu dari Pelayan di Rumah Angkasa langung mengambil alih pekerjaanku itu.


Aku tahu bukan para Pelayan itu yang ingin berbuat seperti itu, ini semua pasti karena perintah Angkasa yang meminta mereka untuk menghormati dan melayaniku dengan baik. Karena tidak ada lagi yang dapat aku lakukan, aku akhirnya kembali lagi ke Kamarku untuk merapikan tempat tidur dan Kamarku.


Saat aku masuk ke dalam Kamarku, aku lagi-lagi harus menyerah karena Kamar dan tempat tidurku yang sebelumnya berantakan sekarang sudah tersusun rapi dan bersih. Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menghabiskan waktuku di Rumah besar ini.


Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur, mengingat apa yang aku dan Angkasa lakukan semalam seperti berpelukan, bercerita tentang perasaan kami masing-masing dan saling membagi kehangatan tubuh. Aku masih tersenyum seperti orang bodoh sekarang, aku juga tidak pernah melihat senyuman tulus yang dimunculkan oleh Angkasa semalam.

__ADS_1


Laki-Laki itu benar-benar sudah memenuhi isi pikiranku sekarang, tetapi senyumku pudar saat aku harus mengingat apa yang akan aku jalani selanjutnya apabila aku menjalin satu janji sehidup dan semati dengan Angkasa, kehidupan yang penuh dengan sorotan, kemewahan dan perlakuan seperti yang aku dapatkan sekarang. Aku benar-benar tidak menginginkan kehidupan seperti ini. Aku mengambil satu bantal dan menutup wajahku dengan bantal itu, menyingkirkan bayangan Angkasa dari pikiranku sekarang sampai aku tidak merasakan tubuhku terbawa oleh mimpiku sendiri. Angkasa apa yang harus aku lakukan kepadamu.


BERSAMBUNG.


__ADS_2