Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#14 WP?S2


__ADS_3

Aku keluar dari Ruangan Fahmi tertunduk dengan mata sedikit berair. "Sayang, kamu kenapa?" Tanya Angkasa yang sudah berdiri di depanku, aku hanya menggelengkan kepalaku membuat wajahnya mengeras marah. "Sialan Dokter bodoh itu, dia mau cari mati." Angkasa sudah ingin menendang dengan kasar pintu di belakangku, tetapi aku menahannya, menahan tangan kanan kekarnya.


"Sayang aku tidak apa-apa," Ucapku melihatnya. "Tetapi Dokter bodoh itu membuatmu menangis seperti ini." Ucapnya dengan wajah yang mengeras penuh dengan luapan emosi. "Tangisan ini adalah tangisan yang membuatku dapat menjawab pertanyaanmu." Ucapku melihat kepadanya.


"Apa maksudmu?" Tanyanya dengan wajah yang sedikit heran, aku menghela napasku sebelum mengeluarkan kalimat yang akan menjadi masa depanku nantinya. "Aku bersedia Kassa, aku bersedia untuk menikah denganmu." Ucapku yang sekarang mencoba dengan berani menyentuh wajahnya, mengusap lembut wajah tampan itu dengan ibu jariku.


Angkasa memejamkan matanya, wajah yang tadi mengeras marah berubah menjadi sendu dan tanpa aku sadari ibu jariku menyentuh satu tetes air mata yang jatuh dari sudut matanya. "Kassa?" Tanyaku khawatir, tanganku pada wajahnya di genggam lembut dan di ciuminya berkali-kali.


Dia menarikku dalam pelukannya. "Terima kasih." Bisiknya di telingaku, aku membalas pelukannya yang hangat dan menempatkan kepalaku di dada bidangnya, membuatku dapat mendengarkan degup jantungnya yang entah mengapa sekarang dapat menenangkanku.


"Lo gak mau berterima kasih sama gua, Bocah?" Tanya Fahmi yang sudah berada di belakang kami. "Terima kasih." Ucap Angkasa sangat pelan sekali tetapi masih dapat terdengar olehku dan Fahmi. "Apa gua gak denger?" Tanya Fahmi mengejek. "Lo mau cari mati." Teriak Angkasa menatapnya tajam membuatku terkekh geli di dadanya.


Setelah itu aku dan Angkasa pun memutuskan untuk pulang dengan mobilnya yang di supiri oleh salah satu Bodyguardnya. Mobil itu melaju kencang dimana hanya deruan lembut suara mesin mobil yang terdengar mengisi keheningan dariku dan Angkasa.


Aku tetap setia memandangi gedung-gedung yang seolah berlari cepat meninggalkannya ke belakang, satu menit kemudian aku melihat kearah Angkasa yang sdang fokus dengan handphonenya, baju santai polos yang digunakannya tidak mengurangi aura dan pesonanya.

__ADS_1


Tetapi tiba-tiba Angkasa menolehkan kepalanya kepadaku, aku seperti tertangkap basah menjadi salah tingkah dan menolehkan kembali ke kepalaku melihat ke arah jendela. Mengapa aku jadi melihat dia. Angkasa mengulurkan tangannya membuatku selama beberapa detik terdiam melihat tangannya di depanku.


Aku dengan ragu meraih tangannya lalu menggenggamnya dengan lembut. Aku hanya terdiam memandangi tangannya yang melingkupi tanganku, dan tidak berusaha melepaskan genggaman tangannya itu. "Aku ingin kamu tinggal bersamaku." Ucapnya melihatku dengan lembut.


"Aku nanti akan mengumumkan pertunangan kita, jadi sampai hari itu tiba aku ingin kamu selalu di sisiku." Lanjutnya lagi memberikan penekanan di setiap kata-katanya yang tidak dapat aku bantah lagi. "Ta...tapi." Ucapku terpotong karena jari telunjuknya menutupi bibirku. "Tidak ada kata tapi, aku akan membicarakan ini hal ini dengan Ibu Pantimu." Ucap Angkasa yang membuatku tidak dapat berkata-kata lagi


Sesampainya mobil Angkasa di depan Panti, aku pun turun dari mobil tersebut diikuti oleh Angkasa beserta para Bodyguardnya yang sudah berbaris di depan Panti sebelum kami turun. "Ibu." Panggilku kepada Ibu Aisyah yang ada di Warung nasi uduknya.


"Nak, kamu kemana aja?" Tanya Ibu Aisyah yang langsung memelukku erat. "Sa...Sarah." Ucapku yang terpotong saat Angkasa sudah berdiri di depanku. "Sarah bersamaku selama ini." Ucap Angkasa, wajah Ibu Aisyah berubah ketakutan karena melihat seorang Sang Penguasa di depannya.


Angkasa menggenggam tanganku dan melihatku dengan wajah bahagia. "Saya ingin membicarakan sesuatu kepada anda, boleh kita bicarakan di dalam Panti?" Ucap Angkasa dengan bahasa formal tetapi tidak ada sama sekali kesan menakuti atau dingin dalam setiap kata-katanya.


Ibu Aisyah hanya menganggukkan kepalanya membuat Angkasa langsung melangkahkan kakinya menuju ke dalam Panti dengan tangannya yang masih tertaut dengan tanganku. "Kamu boleh mempersiapkan barang-barang yang akan kamu bawa sekarang, aku ingin berbicara empat mata dengan Ibu Pantimu." Ucap Angkasa kepadaku saat kami sudah berdiri di tengah Ruang Tamu Panti.


Aku menganggukkan kepalaku dan melihat ke arah Ibu Aisyah sekilas yang ada di belakangku memberikan senyuman tulus kepadanya bahwa semua baik-baik saja. Setelah itu aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam Kamar dengan melihat Angkasa dan Ibu Aisyah yang sudah duduk berhadapan di Ruang Tamu.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untukku mempersiapkan semua baju-bajuku yang ada di dalam lemari ke dalam sebuah koper karena memang barang-barang yang aku punya tidak terlalu banyak di dalam Kamar ini. Setelah kurang lebih sepuluh menit, seseorang mengetuk pintu Kamarku. "Masuk." Ucapku yang sedang mengangkat koperku dari atas tempat tidur ke lantai.


"Nak." Panggil seseorang yang membuatku menolehkan kepalaku ke arah Pintu. "Ibu." Ucapku kepadanya, Ibu Aisyah melangkahkan kakinya masuk ke dalam Kamarku, memperhatikan Kamar yang sudah mulai kosong dengan barang-barang kepunyaanku.


Aku duduk di tepi tempat tidurku diikuti oleh Ibu Aisyah di sebelahku, aku memeluknya, merasakan kembali kehangatan pelukannya layaknya seorang Ibu kepada anaknya. Dia mengusap kepalaku lembut membuatku menahan sesuatu yang akan jatuh dari mataku.


"Apakah kamu yakin dengan keputusanmu Nak?" Ucap Ibu Aisyah memecahkan keheningan di antara kami. "Sarah yakin Bu." Ucapku di dalam pelukannya. "Ibu tidak dapat berbuat banyak untuk hal ini apabila kamu sudah yakin dengan keputusanmu, Ibu hanya bisa berdoa agar kamu selalu mendapatkan kebaikan dan perlindungan dalam kehidupan yang akan kamu jalani nanti." Ucap Ibu Aisyah sedikit bergetar


"Ibu menyayangimu seperti anak kandung Ibu sendiri, melihatmu yang dulu berdiri sendiri di depan makam Ibumu, mendengar perkataan-perkataan tidak baik tentang dirimu dan Ibumu, membuat hati kecil Ibu tergerak untuk menyayangimu. Lihat kamu sekarang sudah bisa menjadi seorang anak yang tegar, dapat bertahan dalam situasi apapun bahkan kamu tumbuh menjadi seorang Gadis yang baik hati dan pintar." Ucapnya membuatku mulai meneteskan air mataku.


"Ibu bangga kepadamu Nak, Ibu sangat banga. Tetaplah menjadi Sarah dengan kelembutan hati dan tegar seperti yang Ibu kenal ya Nak." Ucap Ibu Aisyah menangis dan mengecup pucuk kepalaku lembut. "Terima kasih Bu, terima kasih karena sudah menganggap Sarah seperti anak Ibu sendiri." Ucapku.


"Terima kasih karena telah merawat Sarah, membimbing Sarah dan selalu memberikan rasa kasih sayang yang besar kepada Sarah. Sarah tidak dapat membalas semua rasa cinta, rasa sayang dan jasa-jasa Ibu yang telah Ibu berikan kepada Sarah, hanya kata terima kasihlah yang dapat Sarah berikan kepada Ibu." Ucapku membuat kami menangis, mengenang masa-masa sulitku yang selalu di temani oleh seorang Ibu Aisyah. Terima kasih Bu.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2