Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MENUNGGU ATAU MENYERAH?


__ADS_3

MOHON BANTU VOTE YA! DAN BOLEH KOMENTARNYA UNTUK KISAH INI, SIAPA TAHU BISA MENJADI INSPIRASI AUTHOR UNTUK EPISODE SELANJUTNYA. TERIMA KASIH KARENA MASIH SETIA MENGIKUTI KISAHKU INI! :)


"BUGH!" Aku mendengarkan suara pukulan yang sangat keras yang membuatku membuka mataku dan melihat orang yang membuat Preman tersebut melepaskan genggaman tangannya dengan pukulannya. Mas Bara. "Kamu gak pa-pa Sar?" Ucap Bara yang terlihat khawatir sekaligus emosi melihat Preman yang sedang memegang pipinya dan membersihkan darah pada bibirnya. "Kurang ajar!." Teriak Preman tersebut, tetapi saat Preman-Preman itu mau mendekati Bara, ada sekumpulan Warga yang datang mendekati keributan yang ada di sekitar kami. "Gede!" Teriak salah satu Bapak-Bapak separuh baya memanggil Preman yang berbadan tinggi, berisi dan mempunyai tato di tangannya.


Aku melihat Bapak-Bapak separuh baya tersebut beserta Penduduk Lokal disana menggiring Preman-Preman tersebut menuju keluar Kawasan Tanjung Benoa dengan umpatan-umpatan yang tidak aku mengerti karena menggunakan bahasa Bali. "Mas, Mbak saya selaku Penduduk Lokal disini ingin meminta maaf, Preman-Preman itu memang sudah sering meresahkan para Wisatawan yang berkunjung ke Kawasan Tanjung Benoa ini, sekali lagi saya mewakili Penduduk Lokal disini ingin meminta maaf ya" Ucap Bapak-Bapak separuh baya tersebut saat dia mendekati kami.


"Tidak apa-apa Pak." Ucap Bara berusaha ramah tetapi dengan raut wajah yang masih terlihat kesal, setelah itu Bapak-Bapak itu pun meninggalkan kami setelah memastikan kondisiku baik-baik saja dan situasi yang sudah kembali kondusif. "Kamu beneran gak pa-pa Sar?" Tanya Bara setelah Bapak-Bapak tersebut jauh meninggalkanku dan Bara.


"Aku gak pa-pa Mas, hanya tanganku saja sedikit sakit karena genggaman paksa dari Preman tadi. "Ucapku dengan menunjukkan pergelangan tanganku yang memerah. Dia mengambil tanganku dan mengecek setiap detil pergelangan tanganku yang merah tersebut. "Maaf aku tidak bisa menjagamu, padahal kamu sudah berada di sekitarku." Ucapnya lirih.


"Mas Bara, aku beneran gak pa-pa, aku saja yang mungkin terlalu berani untuk berjalan sendiri di daerah orang." Ucapku. "Dan Mas Bara, bisakah Mas Bara merahasiakan hal ini kepada yang lain? Karena aku tidak mau kejadian ini malah akan menghancurkan kesenangan dalam liburan mereka." Ucapku sedikit memaksa kepada Bara, dia tersenyum kepadaku dan mengusap kepalaku. "Kamu, bagaimana aku bisa menghindar dari perasaanku kepadamu kalau dari kejadian ini saja kamu masih mementingkan perasaan orang lain daripada perasaanmu sendiri." Ucapnya tersenyum.


Bara pun berjanji tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun, dan kami balik kembali ke Pondok yang sudah kami sewa, disana tidak ada siapapun karena yang lain sudah bermain air jauh di depan kami. "Kamu gak mau ikut bermain air juga Sar?" Tanya Bara saat kami sudah duduk dan meneduh di Pondok dari sinar matahari yang mulai bersinar terang.


"Aku disini dulu Mas, Mas Bara sendiri gak ikut main air dengan mereka." Ucapku yang melihat dirinya sudah melepaskan kembali kaos berkancing miliknya yang menunjukkan otot-otot yang terpahat pada tubuhnya. "Hmm, aku tunggu disini dulu saja." Ucapnya berkata tanpa melihat kearahku dan suasana pun menjadi sunyi dimana hanya terdengar deburan ombak yang menyapu pasir putih di depan kami dan suara-suara tawa senang di sekitar kami. "Mas Bara, tadi bagaimana bisa tahu saat aku diganggu oleh Preman-Preman tadi?" Tanyaku memecahkan kesunyian.

__ADS_1


"Aku mengawasimu, saat aku melihat Laura dan Alisha hanya balik berdua ke Pondok, aku menyusulmu dan saat itulah aku melihatmu sedang diganggu para Laki-Laki berengsek yang berani-beraninya menyentuhmu." Ucapnya dengan raut wajah yang langsung berubah emosi. "Terima kasih." Ucapku pelan tetapi dapat aku pastikan dia dapat mendengarkannya yang membuat senyuman tipis pada wajahnya yang tadi terlihat marah.


"Mas, aku." Ucapku terpotong karena bingung untuk merangkai kata-kata yang harus aku gunakan untuk percakapan penting yang ingin sekali aku bicarakan dengan Bara. "Kenapa, katakanlah." Ucapnya melihat kearahku. Aku menghembuskan napasku berat. "Terima kasih untuk cinta dan rasa sayangmu yang besar kepadaku Mas, aku tidak bisa memaksamu untuk berhenti berharap atau menjauhiku karena itu memang hak dan rasa di hatimu." Ucapku melempar jauh pandangan kedepanku.


"Aku minta maaf tidak bisa membalas perasaanmu sekarang ataupun mungkin nanti, jujur di dalam hatiku aku juga tidak menginginkanmu pergi." Tidak terasa air mataku sedikit menetes. "Hanya aku juga tidak mungkin melepaskan orang yang menyayangiku dan berjuang untukku sebelumnya, aku pun menyayanginya sepenuh hatiku." Aku melihat Indra yang tersenyum gembira dan dia melambaikan tangannya kepadaku yang membuatku tersenyum.


"Aku tidak tahu apakah perasaanku kepadamu adalah perasaan sayang dari seorang adik atau." Ucapku terputus dan menundukkan kepalaku karena tidak sanggup melanjutkan kata-kata selanjutnya. "Aku akan menunggu, kamu tidak perlu khawatir lagi, aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Indra, maafkan kebodohan dan sikap keanak-anakanku waktu di mobil tadi." Ucapnya yang aku tidak tahu apa ekpresi yang ada pada wajahnya sekarang, setidaknya aku merasakan kelegaan pada relung hatiku. Terima kasih.


"Sar, ayo main air yuk." Aku langsung mengangkat kepalaku dan melihat Indra dengan napas tersengalnya karena berlari dari pinggir Pantai ke tempatku sekarang. "Kamu menangis? Kenapa Sayang?" Ucapnya khawatir dan menyentuh pipiku lembut, dia membersihkan air mata yang ada di pipiku dan pelupuk mataku. Aku langsung memeluk tubuhnya yang basah dan polos pada bagian atasnya. "Aku tidak apa-apa, hanya kemasukan pasir saja." Ucapku bohong kepadanya. "Ya sudah kalau begitu, ayo kita mulai coba-coba wahana disini." Ucapnya menggengam tanganku dan membantuku berdiri, aku baru tersadar akan Bara, aku melihat dia sudah tidak ada di sebelahku. Kemana dia?


"Ndra, Sar, Baranya mana?" Tanya Laura kepada aku dan Indra. "Aku disini." Terdengar suara Laki-Laki yang ada di belakangku, aku menoleh kepadanya yang sedang tersenyum seolah-olah tidak ada pembicaraan apa-apa saat kami di Pondok tadi.


Dia merangkul Indra dengan bersahabat. "Sampe jatuh gak ini?" Tanya Bara menggoda Indra dan yang lainnya. "Sampai jatuh lah, gak seru kalo gak jatuh." Ucap Indra yang membuat kami semua semakin bersemangat, dan perasaanku cukup lega karena Bara mulai membuka pertemanan dengan Indra, dan mulai bisa untuk bersikap biasa saja.


Setelah kami semua siap dengan Life Vest kami masing-masing, kami naik satu persatu ke atas benda berwarna kuning dan berbentuk seperti pisang dengan pijakan kaki disampingnya. Urutan kami disusun secara acak, Indra yang paling bersemangat berada di paling depan, selanjutnya Edgar, Alisha, Laura, aku dan Bara. Semua orang harus memegang pegangan yang ada di depan masing-masing.

__ADS_1


"Mas, maaf ya pegangan yang di belakang gak ada, nanti barengan sama yang di depannya ya." Ucap Mas-Mas yang menjadi Pemegang Wahana ini kepada Bara. "Boleh Sar?" Ucap Bara kepadaku meminta izin untuk memelukku dan memegang pegangan yang ada di depanku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, Bara mulai memajukan sedikit duduknya menempel dipunggungku, tangannya pun mulai melingkar di pinggangku, tangan kami bersentuhan pada pegangan tali dengan selang karet yang melapisinya.


Aku merasakan hembusan napas Bara pada tengkuk leherku yang membuat bulu halusku sedikit bergidik, tiba-tiba saja benda yang kami tumpangi ini berjalan dengan sedikit cepat membuatku tersentak ke belakang menempel pada tubuh Bara yang dilindungi oleh Life Vest, kepala Bara pun diletakkannya di pundak kananku, yang apabila aku sekali saja menghadap ke kanan itu dapat langsung mempertemukan bibirku ke pipi pada wajahnya yang berahang tegas.


"Pegangan yang kuat Sar, nanti kamu jatuh." Ucapnya dalam kecepatan benda yang kami tumpangi ini. Jantungku berdegup kencang entah itu karena adrenalin yang keluar saat sedang memainkan wahana ini, atau karena Bara yang ada di belakangku dan memelukku dengan sangat erat menggunakan pergelangan tangannya, seolah-olah takut aku akan jatuh dari Banana Boat ini, tanpa aku sadari ada mata yang sangat tajam seperti pedang seolah dapat menusuk langsung ke tubuh seseorang dari barisan paling depan.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR!

__ADS_1


__ADS_2