
Mempertahankan cinta lebih berat daripada membangunnya.
“Rita.” Panggil seseorang yang ternyata adalah Tante Sonia, “Eh hei Son, sendirian?” Tante Sonia dan Tante Rita berpelukan hangat layaknya seorang teman baik. “Iya sendirian, kamu sama siapa?” Tanya Tante Rita. “Aku sama Sarah.” Ucap Tante Rita yang menunjukku yang ada di belakangnya kepada Tante Sonia. “Selamat siang Tante Sonia.” Ucapku sopan tetapi dibalas dengan tatapan tidak suka dari Tante Sonia.
“Oh siang, Albert mana Rit gak kelihatan.” Tante Sonia melihat ke sekeliling tempat di sekitar kami untuk mencari sosok Om Albert. Hmmm. “Aku cuma berdua Son sama Sarah kesini.” Ucap Tante Rita lembut. “Oh gitu, ya udah aku langsung balik kalo gitu ya.” Ucap Tante Sonia yang terlihat sedikit kecewa. “Oh udah mau balik, ya udah kalo gitu hati-hati ya, bye.” Ucap Tante Rita. Setelah itu Tante Sonia pergi meninggalkanku dan Tante Rita dengan sempat melirik kearahku tajam.
…..
“Ini Tante susu kotaknya.” Ucapku setelah mengambilkan susu kotak yang diminta oleh Tante Rita dan memasukkannya ke dalam trolley belanjaanya. “Ada lagi yang mau dicariin Tante?” Tanyaku. “Ehmm gak ada lagi kayaknya, setelah ini kita ke coffee shop dulu ya, kamu suka kopi kan?” Tanya Tante Rita kepadaku. “Gak terlalu sih Tante, tapi nanti saya bisa pesen yang lain gak pa-pa.” Ucapku sopan. “Oke.” Setelah itu aku dan Tante Rita pergi ke kasir untuk membayar semua belanjaan yang dibeli oleh Tante Rita.
…..
“Dave terlihat sangat bahagia sama kamu ya.” Ucap Tante Rita saat kami sudah duduk di sebuah coffee shop yang letaknya masih di dalam Pusat perbelanjaan tersebut. “Tante senang lihatnya.” Lanjutnya yang membuatku tersenyum malu. "I-iya Tante, saya juga senang bisa deket sama Dave."
Dia tersenyum, setelah itu kami hanya terdiam untuk beberapa detik. “Sar, sebenarnya Tante ajak kamu pergi berdua kesini, ada yang mau Tante omongin.” Ucap Tante Rita terlihat sangat serus dari nada bicaranya. “Iya apa Tante?” Aku melihat Tante Rita yang terlihat agak ragu-ragu untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
“Tante tahu kalau kamu tahu tentang hubungan Papanya Dave dengan Tante Sonia.” Ucap Tante Rita yang membuatku sedikit terkejut. “Ha?” Tante Rita hanya tersenyum, tetapi aku tahu senyuman itu hanya ditunjukkannya agar dia terlihat tegar. “Bagaimana Tante bisa tahu?” Tanyaku. “Tante waktu itu juga ada disana melihat kamu di belakang toilet Restoran Tante kemarin.” Aku hanya terdiam, tertunduk dan tidak berkata apa-apa lagi.
__ADS_1
“Maaf Tante.” Ucapku tertunduk tidak berani melihat kearah Tante Rita. “Kenapa harus kamu yang minta maaf? Tante yang harusnya minta maaf karena kamu bisa sampai melihat hal seperti itu.” Dia meminum kopinya dan melihat kearah lain . “Tante pikir dengan Tante lebih dekat dengan wanita itu, mereka dapat lebih berhati-hati dalam melakukan hal menjijikan itu.”
Dapat sekali aku lihat ada aura kemarahan dan kesedihan yang tertahan dari wajah Tante Rita. Dia menghembuskan napasnya berat, dan melihat lagi kearahku dengan tersenyum “Tante harap kamu tidak kasih tahu Dave tentang hal ini.” Lanjutnya sambil meletakkan gelas kopinya diatas meja. “Kenapa Tante?” Tanyaku.
“Biarkan Tante saja yang merasakan semuanya, Tante tidak mau Dave merasa sedih akan hal ini, kamu juga pasti tidak mau Dave merasa sedih kan?” Dia menatapku lekat dan aku menganggukkan kepalaku. Kami terdiam selama beberapa detik.
“Tante.” Ucapku pelan. “Iya.” Tante Rita melihat kearah lain lagi dengan wajah yang terlihat sedih memikirkan sesuatu. “Kenapa Tante masih mau bertahan?” Tanyaku seidkit takut menyinggung perasaannya. “Suatu saat nanti, kamu akan tahu bahwa nama baik keluarga akan lebih penting daripada apapun, termasuk perasaanmu sendiri.” Ucapnya. Apa aku memang harus diam?
…..
“Gimana tadi pergi sama Mama?” Tanya Dave saat kami berada di kamarnya, ketika aku dan Tante Rita sudah balik ke rumah dari Pusat Perbelanjaan tadi. “Asik kok Dave.” Ucapku. “Great.”
“Dave.” Panggilku ke Dave. “Iya.” Jawabnya. “Kamu menyayangi orang tuamu?” Tanyaku ragu-ragu. “Kenapa tiba-tiba kamu tanya begitu?” Aku memainkan jari telunjukku di dada bidangnya. “Jawab aja.” Ucapku. “Tentu aku menyayangi mereka Sayang, sama seperti aku menyayangimu.” Bagaimana kalau kamu sampai tahu dengan keadaanku Dave, apakah semua akan berubah?
“Kamu kenapa?” Dia menghadapkan badanku kearahnya “Dave, ada yang ingin aku beritahukan kepada kamu.” Aku tertunduk tidak berani menatapnya. “Apa?” Dia menarik daguku sehingga membuatku menatap wajahnya, wajah laki-laki yang sangat aku sayangi sepenuh hatiku.
Dengan cepat aku langsung mempertemukan bibir kami dan tak terasa ciuman kami menjadi basah karena air mataku yang jatuh di wajahku. “Kamu kenapa sayang?” Dave menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya, membersihkan air mataku dengan ibu jarinya.
__ADS_1
“Aku sangat menyayangimu Dave, aku takut kamu akan meninggalkanku.” Dia menarikku ke dalam pelukannya. “Aku juga sangat menyayangimu Sayang, kamu jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, aku janji.” Maafkan aku Dave, aku belum bisa mengatakan kepada kamu yang sebenarnya.
…..
“Kamu hati-hati selama disini ya Nak.” Ucap Tante Rita saat kami sudah ada di Bandara untuk mengantarkan mereka balik ke Australia. “Iya Ma, Mama juga sehat-sehat disana ya.” Mereka berdua berpelukan hangat dengan kecupan di pucuk kepala Dave dari Mamanya, setelah itu Dave berpamitan juga kepada Papanya.
“Sarah, kamu jaga diri baik-baik juga ya, makasih udah mau jagain Dave, Tante seneng kamu yang menjadi orang terdekat dan sayang sama Dave.” Ucap Tante Rita. “Iya Tante, Tante juga sehat-sehat disana ya.” Dan Tante Rita tiba-tiba memelukku dengan hangat yang membuatku memeluknya balik dengan erat. “Jagain Dave ya Sarah, jangan buat Dave merasa sedih.” Ucap Tante Rita lirih. “Iya Tante.” Setelah kami semua berpamitan, akhirnya orang tua Dave pun masuk ke dalam Bandara meninggalkan aku dan Dave yang saling berpegangan tangan.
“Kita mau kemana Dave?” Tanyaku saaat kami sudah berada di dalam mobil selepas mengantarkan orang tua Dave di Bandara. “Kita ke Pantai Ancol ya, aku lagi mau berduaan sama kamu.” Ucap Dave mencium punggung tangan kananku saat kamu sudah berada di dalam mobil. “Iya.”
Tidak lama kemudian mobil Dave sudah berada di sekitaran Pantai Ancol dimana saat itu hari sudah gelap, sehingga tempat tersebut hanya diterangi oleh lampu-lampu jalanan di sekitarnya. Kami tidak turun dari mobil, kami hanya saling mengahangatkan tubuh kami dari pendingin yang masih menyala dari mobil Dave dengan saling berpagutan lidah. Tangan Dave mulai bergerilya di setiap lekuk tubuhku, dengan bibirnya yang masih bertemu dengan bibirku saat aku sudah duduk di pangkuannya dengan juniornya yang sudah terasa menyentuh pada bagian bawahku.
“Dave.” Dave melepaskan ciumannya dan menghentikan tangannya yang sudah berada di dalam kaos putihku. “Kenapa Sayang?” Dia menatap lekat wajahku yang tertunduk dengan kening kami yang saling bertemu. “Aku belum pernah ngelakuin ini.” Ucapku dengan masih tertunduk. “Maaf.” Lanjutku. Dia mengeluarkan tangannya dari balik kaosku.
“Gak pa-pa Sayang, maafkan aku juga karena terlalu terburu-buru meminta kamu melakukan hal ini.” Dia menangkup wajahku dan mencium sekali bibirku dengan lembut. Setelah itu aku dan Dave akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil dan berpegangan tangan selama kami menyusuri Pantai yang ada di sekitar kami. Tuhan jangan bawa dia pergi dariku, aku mohon.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!