
Aku hanya duduk lemas di saat Claire sedang merias wajahku, aku diam seribu bahasa, menahan air mata yang keluar dari mataku. Aku merasa takut sama sekali tidak menyangka Angkasa akan tega melakukan hal ini kepadaku. Pikiranku salah tentang Angkasa yang masih mempunyai sisi baik dari dirinya, ternyata aku hanya dijadikan boneka untuknya disini.
"Nona, sudah selesai." Ucap Claire yang membuatku sadar dari lamunanku. Aku melihat seorang wanita di depan cermin dengan polesan wajah yang natural dan rambut lurus panjang. "Nona terlihat sangat cantik." Ucap Claire memujiku, aku hanya diam tidak mempedulikan kata-katanya.
"Pakaian Nona sudah saya siapkan diatas tempat tidur, saya izin pamit Nona, kalau Nona sudah selesai berganti pakaian, Nona dapat langsung turun ke bawah, karena Tuan Angkasa sudah menunggu dibawah." Ucap Claire yang langsung melangkahkan kakinya. "Claire." Panggilku lemah membuatnya menghentikan dirinya di depan pintu. "Terima kasih." Ucapku yang membuatnya terkejut lagi. "I...iya sama-sama Nona." Ucapnya dan langsung keluar dari kamarku.
Aku melihat dress berwarna biru laut laut dengan motif polos dan satu tali pada bagian atas pundak, belahan pada bagian depannya yang dapat menampilkan sedikit belahan pada dadaku membuatku hanya dapat menghembuskan nafasku berat.
Aku menggunakan dress tersebut pada tubuhku, dress itu terasa sangat sempit ditubuhku dengan panjang diatas lututku, aku hanya memandang diriku di depan cermin dengan tatapan kosong, sama sekali tidak senang dengan penampilanku walaupun ini adalah penampilan pertamaku menggunakan baju yang terlihat mahal dan riasan wajah yang sangat cantik.
Aku keluar dari kamarku, dan turun melalui tangga, aku melihat ke sekeliling yang sepi tidak ada siapapun yang lewat atau melakukan pekerjaannya seperti siang tadi. Langkahku berhenti saat melihat seorang Pria yang membelakangiku yang aku yakini adalah Angkasa, dengan punggung kokohnya dan tangan kanan yang sedang memegang handphone pada telinganya.
Aku berjalan menuruni tangga, sampai Angkasa memutar tubuhnya dan menatapku, matanya terus menatapku dengan masih berbicara dengan lawan bicaranya di telepon. Saat kakiku berhenti pada anak tangga terakhir, dia mendekatiku dan berhenti di depanku.
"Pilihan yang bagus." Ucapnya, tetapi aku hanya diam, tidak berniat sama sekali untuk membalas kata-katanya ataupun menatapnya. "Rafael apakah semua sudah siap?" Ucap Angkasa. "Sudah semua Tuan, tetapi apakah Tuan yakin?." Ucap Rafael menunduk sopan, tetapi sama sekali tidak ada jawaban dari Angkasa, dia berjalan melewatiku dan Rafael menuju pintu. "Tetap jalankan misinya." Ucap Angkasa.
__ADS_1
Setelah itu kami pergi meninggalkan Rumah Angkasa dengan menggunakan mobilnya. Mataku hanya tertuju pada luar jendela mobil dengan tatapan kosong. Mobil itu berhenti di sebuah Hotel. Angkasa mengantarkanku sampai ke depan pintu hotel. "Aku mohon Kassa." Ucapku lemah menunduk tanpa menatapnya.
Dia mengabaikanku lagi dan membuka pintu kamar itu, dengan langkah yang berat aku melangkah masuk ke dalam kamar itu, sampai pintu itu tertutup dan hanya meninggalkanku sendiri di dalam kamar. Aku hanya terduduk lesu diatas tempat tidur di dalam Kamar Hotel ini.
Sampai aku mendengar suara pintu yang terbuka, dimana masuk seorang pria tinggi paruh baya yang menatapku penuh minat, membuatku ketakutan setengah mati, pria itu berjalan kearahku dan duduk di sampingku. Aku menepis tangannya saat dia ingin menyentuh pipiku.
"Jangan menyentuhku!" Ucapku berteriak membuatnya hanya tersenyum. "Kamu adalah hadiah yang diberikan kepadaku cantik." Ucapnya berbisik di telingaku, aku mencoba berdiri tetapi tanganku ditahan olehnya, dia menghempaskan tubuhku diatas kasur. "Tolong Jangan." Teriakku.
Dia menahan kedua tanganku dan menjamah leher jenjangku. "Tolong." Teriakku lagi, PLAK! Tamparan keras aku rasakan pada pipiku, dapat aku rasakan ada sedikit rasa asin darah pada ujung bibirku. "Kamu sangat seksi Sayang, tubuhmu mulus dan wangi." Ucapnya dengan seringai yang menakutkan.
Aku hanya bisa menangis dan memejamkan mata, aku hanya dapat merasakan perih pada bibirku dan Laki-Laki paruh baya itu masih sibuk menjamah setiap lekuk tubuhku. Aku berusaha untuk memberontak tetapi tenagaku masih kalah jauh darinya.
Saat aku melihat tangan kanannya mau menamparku lagi, aku langsung memejamkan mataku untuk menahan rasa sakit, tetapi selama beberapa detik itu juga aku tidak merasakan tamparan itu, membuatku membuka mata dan melihat sebuah tangan yang menahan tangan kanan Laki-Laki paruh baya diatasku.
"Aku akan membunuhmu." Suara dingin yang mengancam, aku sangat mengenal suara itu. Aku merasakan tubuhku lebih ringan karena tidak ada lagi berat seseorang di atasku. "Bawa dia ke tempat biasa, aku akan menyusul kalian, pastikan dia masih hidup sampai aku sendiri yang membunuhnya." Ucap Angkasa.
__ADS_1
Aku melihat Angkasa membuka jasnya dan menutupi tubuhku, dapat aku cium bau mint dan rokok pada jasnya. Pandanganku pun menjadi gelap dan merasakan tubuhku di angkat oleh seseorang. "Kamu berhutang nyawa padaku Bocah, aku benar-benar tidak akan melepaskanmu kali ini, aku serius." Kata-kata terakhir itulah yang dapat aku dengar dari Angkasa sampai kepalaku terasa berat dan penglihatanku menjadi gelap.
Aku terbangun dari tidurku, aku merasakan gelisah dan ketakutan yang luar biasa keringat membanjiri tubuhku, aku melihat ke sekelilingku. Aku berada di sebuah Rumah Sakit, dan mataku langsung tertuju ke seseorang yang tidur di sofa di depanku. "Pergi!" Teriakku membuat orang di depanku itu terbangun.
"Kamu sudah bangun Bocah." Ucapnya, dia berdiri membuatku ingin menjauh darinya, tetapi tanganku tertahan oleh sebuah borgol. "Aku mohon, jangan dekati aku." Teriakku tetapi dia masih tetap mendekatiku dan menarik daguku sedikit kasar. "Lihat aku." Ucapnya dingin, tetapi aku masih takut untuk menatap matanya, aku hanaya dapat tertunduk takut.
Tiba-tiba aku merasakan sebuah kecupan di bibirku, aku sama sekali tidak merespon ciuman itu, aku terdiam membeku dengan air mata yang masih mengalir. "Inilah yang akan kamu alami, jika kamu berada di sekitarku, Bocah." Ucapnya dingin.
"Aku mohon jangan sakitiku, aku mohon." Ucapku lirih dan tiba-tiba aku merasakan sebuah pelukan hangat, ada sesuatu yang mengelus lembut kepalaku. Perlakuan itu mengingatkanku akan perlakuan Ibuku dan Indra, tubuhku yang tadi bergetar hebat karena ketakutan perlahan menjadi normal kembali.
Air mataku masih tetap mengalir pada dada bidang Angkasa, semakin terisak tangisanku semakin erat pelukannya padaku. "Sarah." Panggilnya dengan lembut. "Berjanjilan satu hal kepadaku." Ucapnya lagi, aku hanya terdiam dan terisak dengan tangisanku.
"Jangan tinggalkan aku Sarah, dengan begitu aku tidak akan menyakitimu. Jangan tinggalkan aku, itulah permintaanku. Tetap disisiku selama yang aku mau, tetap bersamaku selama yang aku mau. Bisakah kamu berjanji padaku? Aku akan memberikan semua milikku hanya untukmu, bersediakah kamu Sarah?"
BERSAMBUNG.
__ADS_1