Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
KEJAHATAN SESUNGGUHNYA


__ADS_3

"Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti." - Joker.


Aku keluar dari Kamar Mandi dengan handuk yang terlilit melindungi tubuhku, aku melihat jam sudah menunjukkan ke angka sembilan, hari ini aku ada janji dengan Indra untuk pergi menonton pertandingan Tim Basket kegemarannya. Aku membuka lemari mengambil satu rok bermodel midi berwarna navy dan satu kaos putih polos yang nanti akan aku masukkan ke dalam rokku.


setelah kurang lebih setengah jam aku mempersiapkan diriku, sebelum berangkat aku memastikan diriku sudah benar-benar dan mengencangkan ikatan rambutku di depan cermin, aku langsung keluar dari kamar, menyapa adik-adikku di Panti yang sedang sibuk dengan oleh-oleh yang aku bawa dari Bali.


Aku melihat Ibu Aisyah sedang mempersiapkan nasi uduk jualannya, aku membantunya mengangkat beberapa bahan jualannya ke depan Panti, membantu mempersiapkan meja dan membersihkannya. "Anak Ibu cantik banget hari ini, mau kemana?" Ucap Ibu Aisyah lembut kepadaku yang sedang membersihkan meja dan menurunkan beberapa kursi.


"Hmm, Sarah hari ini izin pergi sama Indra ya Bu?" Ucapku. "Iya, tapi kamu gak capek Nak? Kan baru sampe semalam?" Tanya Ibu Aisyah khawatir sambil mengelus lembut rambutku. "Enggak kok Bu." Ucapku. "Ya sudah, kamu hati-hati ya, titip salam buat Nak Indra ya." Ucap Ibu Aisyah, aku pun pamit dan bersalaman dengannya.


Aku menghentikan angkutan umum dengan tujuan yang mendekati daerah Rumah Indra, cuaca hari ini tidak terlalu panas, cuaca hari ini terlihat seperti sedang bersedih dengan awan kelabu yang menyembunyikan sinar matahari yang seharusnya bertugas untuk menghangatkan bumi pada bagian Zamrud Khatulistiwa.


Sekarang adalah bulan Desember yang mungkin memang bulannya untuk musim hujan. Hanya perasaanku saja atau suasana hatiku sedang tidak nyaman sekarang? Tidak terasa angkutan umum yang aku naiki sudah mendekati daerah Rumah Indra.


Aku pun meminta supir untuk berhenti dan turun setelah membayar jasa supir tersebut. Aku berjalan kaki dari tempatku berhenti menuju ke Rumah Indra yang lumayan sedikit jauh, Indra memang tidak bisa menjemputku hari ini dikarenakan ada pekerjaan yang harus dia lakukan.

__ADS_1


Jadi aku mengatakan kepadanya untuk pergi sendiri kesana karena aku sekalian mau lihat kondisi Mamanya Indra, saat aku sedang berjalan, aku melihat dua mobil mewah yang lewat di sebelahku, entah hanya perasaanku atau seperti apa, aku merasakan kedua mobil tersebut berjalan pelan di sampingku di jalan yang sepi ini.


Tiba-tiba mobil itu berhenti yang membuat aku menghentikan langkah kakiku juga, aku merasakan seseorang sedang memperhatikanku dari dalam mobil kedua yang ada di belakang mobil satunya. Aku merasakan sedikit terancam, suasana di sekitarku tiba-tiba menjadi dingin yang membuatku ingin segera pergi dari tempatku berdiri. Apa ynag haruss aku lakukan? Apakah aku telepon Indra saja?


Saat aku ingin mengambil handphoneku dari dalam tasku, kedua mobil itu berjalan lagi yang membuatku bernapas lega dengan kaki yang sedikit gemetaran. Tenang Sarah tenang. Setelah aku menenangkan diriku, aku menggerakkan lagi kakiku menuju ke Rumah Indra.


Saat aku sampai di Gerbang Rumah Indra, aku tidak melhat adanya Satpam atau siapapun yang menjaga gerbang yang sedang terbuka lebar di depanku, aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam, samar-samar aku mendengarkan keriuhan di depan Pintu Utama Rumah Indra.


Aku mendekati sumber suara, aku terkejut dan menutup mulutku dengan telapak tanganku. Aku melihat Papanya Indra sedang terbaring lemah dengan darah yang mengalir dari mulut dan pelipis matanya, Mamanya Indra yang berada di kursi roda dan Laura hanya bisa menangis histeris yang dijaga oleh dua orang berbadan besar yang menggunakan setelan jas hitam dan berkaca mata hitam.


Indra yang terlihat sedang mengamuk dipegang oleh salah satu orang lainnya yang badannya tidak kalah besarnya dengan temannya yang lain. "Berengsek, berhenti mukulin Orang tua gua." Teriak Indra kencang, aku melihat para Satpam dan Asisten Rumah Tangga Indra hanya dapat berdiri mematung tidak dapat melakukan apa-apa.


"Hutang? Jangan bohong kalian berengsek\, gua tahu kalian ngelakuin semua ini karena Papa gua tidak mau menandatangani tempat kotor yang akan dibangun oleh si An***g yang ada di dalam mobil itu." Ucap Indra lebih keras lagi dari sebelumnya sambil menatap tajam kearah mobil yang pintunya dijaga oleh Laki-Laki berbadan besar itu.


Orang tersebut tidak memperdulikan perkataan yang diucapkan Indra, dia mendekati lagi tubuh Papanya Indra yang sudah terbaring lemah tidak berdaya dan BUGH! satu tendangan lagi yang terdengar sangat keras mengenai perut dari Papanya Indra yang membuat Mamanya Indra dan Laura bertambah histeris, sementara Indra dengan lengan yang dicengkram kuat masih berusaha untuk membantu Papanya.

__ADS_1


Saat aku melihat lagi kedua mobil yang terparkir di depan Rumah Indra, aku baru sadar bahwa mobil tadi adalah mobil yang tadi berhenti di jalan saat aku sedang menuju kesini. Tiba-tiba saja aku melihat pintu mobil yang tadi dijaga oleh Bos dari para Bodyguard itu terbuka.


Keluarlah sosok Laki-Laki dengan aura gelap yang umurnya mungkin diatasku tiga atau empat tahun menggunakan setelan kemeja hitam yang terlihat pas ditubuhnya yang terpahat sempurna,  bentuk wajah dengan rahang yang keras dan kulit yang berwarna sedikit kecoklatan dariku. Sosok itu pernah aku lihat menghiasi setiap majalah bisnis ataupun majalah lainnya yang selalu menceritakan tentang kesuksesan dan kekayaan yang dimilikinya. Angkasa Pratama.


Indra yang semakin kesal dan marah saat melihat sosok Angkasa Pratama keluar dari mobilnya, berhasil lepas dari cengkaraman Penjaga yang menjaganya, dia berlari mendekati Angkasa Pratam dengan genggaman tangan yang sudah berada di udara.


Tetapi dengan cepat Bos daripada semua Bodyguard itu menahan tangan Indra, sayangnya Indra yang tertahan masih dapat berpikir untuk menyemburkan air liur dari mulutnya dan meludahi sosok Angkasa Pratama dan tepat mengenai wajah kerasnya.


"Maafkan saya Tuan." Ucap Penjaga yang memegang tubuh Indra yang berontak hanya dengan satu tangan, tangan satunya sudah terbang ke udara dan siap untuk melayangkannya ke salah satu bagian tubuh Indra, aku ingin berlari melindungi Indra, tetapi tanganku ditahan oleh salah satu Asisten Rumah Tangga Indra. "Jangan Non." Ucapnya. "Tidak apa-apa Rafael." Ucap Angkasa kepada penjaga bernama Rafael itu, dan dengan seketika tangan Rafael yang adi berada di udara langsung turun dengan cepat atas perintah Tuannya.


Rafael menyerahkan sapu tangan bersih berwarna putih kepada Angkasa, Angkasa mengambilnya dan membersihkan wajahnya yang dikotori oleh Indra, dia membuang sapu tangan tersebut di depan Papanya Indra yang terbaring lemah.


Angkasa menatap tajam kearah Papanya Indra dengan tatapan yang membuat semua bulu halus setiap orang berdiri dengan seketika karena kekejaman dari tatapan tersebut. "Maafkan anak saya Tuan, tolong jangan ganggu dia, kalau pun Tuan mau menghukumnya hukumlah saya." Ucap Papanya Indra terbata-bata karena menahan rasa sakit pada tubuhnya, dia berusaha untuk bangkit dan dengan kekuatan yang tersisa pada dirinya, Papanya Indra mencium kaki Angkasa yang tertutupi sepatu pantofel berwarna hitam. Om Doni.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2