
"Jangan tinggalkan aku Sarah, dengan begitu aku tidak akan menyakitimu. Jangan tinggalkan aku, itulah permintaanku. Tetap disisiku selama yang aku mau, tetap bersamaku selama yang aku mau. Bisakah kamu berjanji padaku? Aku akan memberikan semua milikku hanya untukmu, bersediakah kamu Sarah?" Ucap Angkasa.
Dia melepaskan pelukannya, menyentuh lembut pipiku dan aku melihat senyumannya yang tulus kepadaku, tidak ada lagi tatapan kosong di matanya, aku bisa melihat diriku pada mata coklatnya itu. Tiba-tiba aku merasakan sebuah hembusan nafas menerpa wajahku,
Wajah Angkasa hanya beberapa jarak dari wajahku, dan Angkasa mempertemukan bibirnya dengan bibirku, aku merasakan bibir bawahku dihisap lembut olehnya membuatku membuka sedikit celah mulutku, dan tanpa menunggu waktu Angkasa memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.
Aku mengeluh pelan saat Angkasa menarik pinggangku kearahnya, aku tidak bisa berpikir apa-apa, aku merasakan ciuman Angkasa semakin intim. Saat dia melepaskan ciumannya untuk memberikan waktu kepada kami mengambil nafas.
Dia tersenyum kecil dan membersihkan air liur pada ujung bibirku. Aku berusaha untuk melihat kearah lain, tetapi wajahku ditahan olehnya. Aku merasakan ciuman kembali yang lebih intim, Angkasa menekanku membuatku terbaring di atas tempat tidurku.
Dia ikut naik ke atas tempat tidurku dengan ciumannya yang sekarang menuntut untuk meminta lebih, aku melenguh pelan saat Angkasa menggigit bibir bawahku. Tangan kananku yang masih terborgol tidak dapat melakukan apa-apa, aku berusaha mendorong tubuhnya dengan tangan kiriku, tetapi dia melepaskan tangan kiriku dan meletakannya diatas kepalaku.
"Akh." Aku menarik nafas sebanyak-banyaknya saat Angkasa mulai mengecup dan memberikan tanda kemerahan pada leherku. Dia kembali menatapku dengan senyumannya dan mempertemukan bibirnya kembali ke bibirku. Aku menahan pundaknya dengan tangan kiriku agar dia tidak melakukan hal yang lebih lagi.
"Kasssa Engh." Aku menahan desahanku, saat tangannya sudah masuk ke dalam baju pasienku dan mengenggam lembut dadaku yang masih tertutup pakaian dalam. Aku hanya diam terbuai oleh perlakuan yang dia berikan. "Kassa akh." Aku mendesah saat Angkasa membelai kedua bagian sensitif pada dadaku.
__ADS_1
"Kamu mendesah terlalu kuat Sayang, kita masih berada di Rumah Sakit sekarang." Ucapnya pelan, aku masih memejamkan mataku, masih terbuai akan perlakuan Angkasa pada bagian sensitif di dadaku. Dia mengigit pelan leherku, membuatku mendesah lebih kencang dari sebelumnya.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang terbuka, membuatku dengan spontan mendorong tubuh Angkasa, tetapi dia tidak bergeming. Dia hanya menatap orang yang masuk ke dalam Ruanganku. Angkasa menarik selimut di bawah kakiku dan langsung menutup tubuhku sampai ke kepala.
Aku merasakan Angkasa turun dari tempat tidurku. "Berengsek." Ucap Angkasa, aku menarik selimut sampai ke bahuku dan melihat seorang Dokter yang masuk ke dalam Ruangan Perawatanku. "Lo harusnya mengunci pintu ini dulu Bodoh." Ucap Dokter itu kepada Angkasa tanpa rasa takut.
Dokter itu mendekat kearahku. "Halo, aku Fahmi, Dokter pribadi orang bodoh dan mesum ini." Ucap Fahmi melihat kearah Angkasa dengan tertawa kecil, sedangkan Angkasa hanya menatapnya datar. "Cepat periksa dia, dan perhatikan tangan dan mata lo kalau lo masih mau menggunakannya di Rumah Sakit ini." Ucap Angkasa penuh ancaman.
"Ck, baru pertama kali ini gua ngelihat lo posesif pada seorang wanita." Ucap Fahmi. Setelah itu Fahmi memeriksa keadaanku dengan sulit, karena Angkasa selalu mebentaknya saat Fahmi ingin memeriksa denyut nadiku atau menyentuh tubuhku yang lain untuk keperluan medis.
"Dia hanya mengalami shock, tetapi kita masih belum tahu untuk kedepannya, karena gua harus menemuinya lagi, mungkin 3 hari lagi setelah kepulangannya hari ini." Ucap Fahmi, aku melihat sekilas ke arah Angkasa yang sedang duduk di sofa dan melihat Fahmi kembali.
"Aku sudah boleh pulang?" Tanyaku. "Sebenarnya belum, tetapi Bocah bodoh itu memintanya, dan kamu tahu sendiri tidak ada yang berani menolak perintah Bocah bodoh ini." Ucap Fahmi melihat kearah Angkasa sekilas. Tiba-tiba handphone Angkasa berbunyi, dia melihat kearahku sekilas dan langsung mengangkat telepon tersebut sambil berjalan menuju pintu dan menghilang.
Fahmi membuka borgol pada tangan kananku. "Bocah bodoh itu melakukan ini karena takut kamu akan kabur darinya." Ucap Fahmi. "Dok." Panggilku. "Panggil saja aku Fahmi." Ucapnya lagi. "Hmm apa hubunganmu dengan Kassa, ma...maksudku Tuan Angkasa." Ucapku gugup karena aku tidak pernah menyebutkan nama Angkasa dengan Kassa di depan orang lain selain Angkasa sendiri.
__ADS_1
Fahmi tertawa melihat sikapku yang gugup ini. "Santai saja Sarah, kamu bisa memanggilnya dengan Kassa di depanku." Ucapnya, dia mengambil kursi dan duduk di sebelah tempat tidurku. "Hmm aku dan Kassa adalah sahabat baik, aku mengenalnya saat dia ingin berkonsultasi tentang kehidupannya, Bocah bodoh itu terlalu banyak mengalami hal-hal mengerikan di masa lalunya." Ucap Fahmi melihat kearah lain dengan raut muka sedih.
"Kalau aku boleh tahu, apa itu?" Tanyaku. "Maaf Sarah, aku tidak dapat mengungkapkan rahasia Pasienku, tetapi yang jelas dia bersikap berbeda denganmu." Ucapnya membuatku menunduk memandang jari-jariku yang sedang bertaut.
"Angkasa Pratama adalah orang yang unik dan keras kepala, kalau kamu ingin mengenalnya lebih dalam, kamu harus mengupas satu per satu kulitnya Sarah, dan aku pikir kamu bisa melakukannya." Ucap Fahmi dengan tersenyum.
Tidak lama kemudian Angkasa masuk ke dalam Ruangan Perawatanku. "Apa yang lo bicarakan sama dia?" Ucap Angkasa datar. "Tenang saja Bocah, gua hanya memberikan nasihat kepadanya." Ucap Fahmi, tanpa mempedulikan tatapan tajam Angkasa dia pergi menuju pintu. "Kita ketemu lagi 3 hari ke depan Sarah." Ucap Fahmi di depan pintu dan keluar dari Ruangan, meninggalkanku berdua bersama Angkasa.
"Aku ingin pulang." Ucapku saat Angkasa sudah duduk di tepi tempat tidurku, dia mengusap pipiku lembut. "Kita akan pulang ke Rumahku sekarang." Ucapnya sebelum dia berdiri aku menahan tangannya membuatnya menatapku heran.
"Aku ingin pulang ke Panti Kassa." Ucapku pelan. Dia duduk kembali dan menatapku. "Baiklah, aku akan mengantarkanmu pulang ke Panti, tetapi kamu harus sudah memberikan jawaban atas pertanyaanku kepadamu, setelah konsultasimu dengan Dokter berengsek itu." Ucap Angkasa dan aku mengangguk paham.
Di dalam mobil, aku hanya diam, Angkasa tidak ikut bersamaku karena dia mengatakan dia mempunyai pekerjaan lain yang harus dikerjakannya. Aku diantarkan oleh dua Bodyguardnya yang diminta Angkasa untuk mengawasiku selama 24 jam penuh.
Mobil yang aku tumpangi pun sudah tiba di depan Panti. "Terima kasih." Ucapku kepada mereka. Aku turun dari mobil itu melangkahkan kakiku menuju ke dalam Panti. Aku melihat kebelakang dimana mobil yang aku tumpangi tadi masih terparkir tidak bergerak sama sekali dari tempatnya tadi berhenti. Apakah mereka akan benar-benar menunggu disana selama 24 jam.
__ADS_1
BERSAMBUNG.