Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
INDRA GUNAWAN


__ADS_3

“Cinta itu seperti angin, kau tidak dapat melihatnya, tapi kau dapat merasakannya.” – Nicholas Sparks.


“Ahh sakit Bu.” Ucapku kesakitan saat tanganku diperiksa oleh Ibu Fatimah penjaga ruang UKS. “Sepertinya tangan kamu terkilir Sar, kayaknya harus diurut nanti biar gak tambah bengkak, nanti pulang kamu coba ke tukang urut ya, ini Ibu kasih obat pereda nyeri dulu, setelah itu kamu istirahat dulu disini, sementara kamu Dave kamu bisa balik dulu ke kelas, biarkan Sarah istirahat dulu.” Setelah itu Ibu Fatimah pun pergi ke mejanya lagi meninggalkan aku yang terbaring di atas tempat tidur dan Dave yang berdiri mematung tidak berkata apapun semenjak kami sampai di ruangan UKS ini.


“Dave, kamu kenapa?” Dia terdiam sebentar melihat kearahku, setelah itu dia duduk di tepi tempat tidur ruangan UKS ini. “Masih sakit?” Tanyanya. “Gak terlalu kok, setelah di urut juga mungkin udah agak enakan nanti, udah jangan sedih gitu.” Ucapku. “Maaf ya aku gak bisa jagain kamu.” Ucapnya sedih. “Gak pa-pa, kan gak sengaja juga tadi jatuhnya, kamu balik ke kelas lagi gak pa-pa kok Dave.” Ucapku. “Iya, kamu istirahat ya, nanti pulang sekolah aku langsung kesini.” Dia mengecup keningku, setelah itu dia pergi kembali ke kelas dimana masih aku lihat guratan kesedihan di wajahnya. Aku gak tahu gimana nanti kalo aku sampai kehilangan kamu Dave.


Setelah itu aku mencoba untuk tidur sampai aku mendengar suara sepatu berlari di depan pintu ruang UKS, berjalan perlahan kearah tempat tidurku yang tertutup tirai putih. “Sreekk.” Suara tirai itu terbuka. Kak Indra?


“Kenapa bisa gini?” Tanya Indra saat dia membersihkan luka pada siku tangan kiriku dengan alkohol. “Ehmm jatuh saat main basket.” Ucapku takut melihat kearahnya. “Kenapa bisa jatuh?” Mana aku tahu kak.


“Jatuh aja.” Ucapku. “Tahan ini agak sakit.” Dia agak menekan sikuku dengan kapas yang sudah dibasahi oleh betadine. “Ahh sakit.” Ucapku. “Abis ini udah gak sakit lagi.” Ucapnya sambil menempelkan plester luka pada kapas tersebut. “Makasih ya kak, tapi kok kakak bisa tahu aku disini?” Dia hanya diam tidak berkata apa-apa hanya sibuk merapikan peralatan yang tadi digunakannya untuk mengobati Lukaku.


“Dulu Indra atlet basket sekolah loh Sar.” Ucap Ibu Fatimah yang tiba-tiba sudah ada di belakang Indra. “Ha? Maksudnya Bu?” Tanyaku. “Indra dulu atlet basket sekolah, kalo ada dia pasti menang tim basket kita lawan sekolah manapun, tetapi gak tahu sekarang kenapa gak pernah main lagi.” Lanjut Ibu Fatimah. Hmm apa gara-gara masalah yang diceritain Kak Edgar ya?

__ADS_1


“Masih sakit?” Ucap Indra setelah Ibu Fatimah balik lagi ke mejanya mengambil peralatan yang digunakan Indra tadi. “Udah gak lagi kak, makasih ya.” Ucapku tersenyum sambil sedikit-sedikit menggerakkan pergelangan tangan kiriku. “Kak.” Ucapku memanggilnya dengan ragu-ragu. “Hmmm.” Kata-kata ini lagi.


“Kenapa Kakak gak pernah main basket lagi?” Dia menatap lurus keluar jendela ruangan ini dengan pikiran yang melayang entah kemana. “Orang tuaku bekerja dalam bidang politik, mereka menuntutku untuk lebih fokus dalam bidang akademikku di Sekolah ini agar bisa menjadi penerus mereka daripada bermain basket yang menurut mereka adalah kegiatan yang tidak berguna untuk dilakukan dan hanya menghabiskan waktu.” Ucapnya dengan masih menatap jauh dengan pikirannya ke luar jendela ruangan UKS ini.


“Tetapi.” Aku memikirkan kata-kataku selanjutnya agar tidak menyinggung perasaannya. “Apakah Kakak memang berminat untuk mengikuti jejak orang tua Kak Indra?” Dia menghembuskan napasnya dengan berat, menundukkan kepalanya dan dapat kulihat aura kesedihannya yang terlukis di wajah putih dan tampannya itu. “Aku sangat menyukai basket.” Jawabnya dan dapat sekali aku rasakan getaran pada suaranya. Aku memberanikan diriku, mengangkat tangan kiriku yang masih sedikit sakit ke tangannya, dan mengusap lembut tangannya itu. Menangislah kak.


“Kamu lapar?” Tanya Indra saat kami habis membahas tentang keluarganya yang ternyata dia mempunyai seorang kakak perempuan yang sudah terlebih dahulu mengikuti jejak orang tua mereka, yang aku tahu ternyata Indra bukanlah orang yang galak-galak banget sepertinya. "Lumayan Kak.” Ucapku. “Kamu mau makan apa? Nanti aku bawakan makanannya kesini.” Tumben dia jadi baik banget gini.


“Ehmm siomay atau batagor boleh deh Kak, minumnya.” Ucapku terpotong. “Es jeruk.” Ucapnya memotong kalimatku. “Kok Kakak tahu?” Dia hanya tersenyum lalu mengusap kepalaku. “Tunggu disini ya.” Setelah itu dia pun pergi ke kantin dimana sebelumnya bertanya kepada Ibu Fatimah apakah mau dibelikan makanan juga atau tidak, dan pastinya Ibu Fatimah yang sangat baik itu menjawab iya. Pasti berat ya jadi Kak Indra, dimana masa depannya sudah diatur oleh orang tuanya bukan berdasarkan kemauannya sendiri.


Dia pun pergi balik ke kelasnya. Ada apa dengan perasaanku ya.


“TENG! TENG! TENG!” Suara bel Sekolah berbunyi. “Sar bangun, pulang yuk udah jam pulang.” Suara seseorang memanggil namaku. “Eh Dave.” Ucapku sambil menggosok mataku. “Ketiduran ya?” Tanyanya. “Iya, kayaknya karena pengaruh obat yang tadi dikasih Ibu Fatimah juga.” Uapku.  “Tangan kamu gimana, masih sakit?” Tanyanya. “Ehmm.” Aku menggerak-gerakan tangan kiriku yang tadi sempat terkilir.

__ADS_1


“Udah gak terlalu Dave, udah agak enakan malah.” Jawabku. “Siapa yang bersihin luka kamu?” Tanya Dave. “Kak Indra.” Jawabku. “Ohh, kamu udah makan?” Tanyanya. “Udah tadi makan siomay.” Jawabku sambil menunjuk piring kosong disebelah tempat tidurku. “Siapa yang beliin?” Dave mngernyitkan dahinya kearahku. “Kak Indra.” “Ohh.” Dan seketika aku merasakan perubahan sikap pada diri Dave. Dia kenapa?


“Ya udah, kita pulang, ini tas kamu sudah aku bawain.” Ucap Dave dengan sedikit ketus. “Dave?” Tanyaku. “Hmm.” Jawabnya. “Kamu kenapa?” Tanyaku yang sudah duduk di sebelahnya dan menggandeng tangan kirinya dengan tangan kananku. “Gak pa-pa.” Jawabnya. “Cemburu?” Tanyaku lagi mengejeknya. “Enggak.” Jawabnya singkat. “Ohh enggak, ya udah aku minta anterin Kak Indra aja kalo gitu pulangnya.” Ucapku dengan pura-pura pergi dan mau melepaskan gandengan tanganku, tetapi dia menarik lagi tanganku agar tetap dalam gandengan tangannya.


“Iya aku cemburu.” Ucapnya pelan. “Aku suka.” Ucapku tersenyum. “Kok suka?” Tanyanya heran. “Itu artinya kamu sayang sama aku.” Aku menyenderkan kepalaku di pundak kirinya dan dia mencium pucuk kepalaku dan tangan kanannya mencubit hidungku pelan.


“Kamu jangan nakal ya.” Ucap Dave yang membuatku tersenyum senang. Setelah itu kami pulang dan saat motor Dave keluar dari gerbang Sekolah dengan sedikit ragu dari kejauhan aku melihat ada sosok siswa laki-laki yang berada di lapangan basket, dia hanya terdiam memegang bola bundar merah itu ditangannya. Kak Indra?


Motor sport Dave berhenti di garasi rumah mewahnya. “Dave kenapa kita pulang ke rumah kamu?” Tanyaku heran saat sudah turun dari motornya. “Aku mau mengambil beberapa barang dulu ya, nanti mau ke rumah Ivan bentar, aku ada pinjem barang dia kemarin soalnya, setelah itu baru aku temenin kamu ke tukang urutnya ya, Ivan bilang tetangganya ada yang bisa ngurut gitu” Ucapnya. “Ohh oke.”


“Ayo masuk dulu.” Aku pun mengikuti Dave masuk ke dalam rumahnya dan ingin segera bertemu Bi Iyem untuk melepas kangen dan mendengar leluconnya seperti biasa, tetapi tiba-tiba Dave berhenti di depanku membuatku menabrak punggungnya. “Dave kenapa?” Aku melihat kearah yang sedang Dave lihat sekarang dan membuatku terdiam juga sama seperti Dave. “Mama Papa.”


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2