
Aku merapikan rambutku yang tergerai karena Angkasa mengambil ikatannya, aku melihat dia menyimpan ikatan rambut tersebut di atas dashboard mobil. Setelah itu mobil Angkasa pergi meninggalkan Panti Asuhan, tetapi saat di tengah perjalanan, aku merasa sedikit bingung karena arah yang dituju oleh mobil Angkasa bukan ke arah tempat tinggal Keluarga Indra. “Kita mau kemana?” Tanyaku heran. “Aku ingin meminta izin kepada Ibumu.” Ucap Angkasa yang membuatku terkejut dengan kata-katanya.
Mobil Angkasa masuk ke dalam sebuah tempat pemakaman umum dan memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang dijaga oleh seorang Bapak-Bapak Tua. Angkasa turun terlebih dahulu dari mobil dan sedikit berlari ke sebelah pintuku dan membukanya. “Terima kasih.” Ucapku sambil menyambut tangan kanannya yang terulur untuk membantuku keluar.
Aku menghela napasku berat, entah mengapa tiba-tiba hatiku menjadi sedih. Aku teringat akan masa-masa sulitku bersama Ibu, sampai aku bertemu dengan Om Alex yang ternyata merupakan Ayah Angkat Angkasa, seseorang yang ternyata tidak aku sangka akan menjadi pendamping hidupku.
“Ayo.” Angkasa mengambil tanganku dan menggenggamnya dengan tangan kanannya, sementara itu tangan kirinya sudah memegang dua buah karangan bunga yang entah kapan dia membelinya. Angkasa menuntunku menuju ke pemakaman Ibuku dan Om Alex yang letaknya memang sedikit jauh ditengah.
Pemakaman Ibuku dan Om Alex tidur berdampingan dan saat kami sudah sampai disana, aku dapat melihat perubahan pada pemakaman Ibuku dan Om Alex yang lebih terawat dan bersih. Entah sejak kapan pemakaman mereka sudah dibuat sedemikian indah dengan porselen berwarna putih. “Aku yang meminta penjaga disini untuk merawat pemakaman mereka.” Ucap Angkasa yang mungkin sudah menyadari akan kebingunganku. “Terima kasih.” Ucapku dengan menggenggam tangannya lebih erat.
Aku tidak menyangka Angkasa akan melakukan hal-hal seperti ini, banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan kepadanya, hanya saja rasa rinduku kepada kedua Orang Tuaku yang sudah beristirahat dengan damai di depanku mengalahkan semuanya. Angkasa memberikan kepadaku karangan bunga ditangannya kepadaku. Aku meletakkan
__ADS_1
karangan bungaku dan menyentuh nisan mereka, aku merasakan kerinduan yang sangat memenuhi setiap sudut hatiku kepada mereka.
“Ibu, Ayah, Sarah datang.” Ucapku dan secara perlahan air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku. “Sarah rindu, Sarah disini sedang bahagia dan Sarah akan segera menikah Bu.” Ucapku lirih. “Sarah akan menikah dengan seseorang yang akan melindungi Sarah, jadi Ibu dan Ayah jangan khawatir lagi ya.” Ucapku.
“Halo Nyonya Gibran.” Ucap Angkasa yang ternyata sudah duduk di sebelahku. “Namaku Angkasa Pratama. Sayang sekali aku belum pernah bertemu dan berbicara dengan anda secara langsung, karena bila hal itu terjadi, aku mungkin sudah memenuhi rumah anda dengan seribu mawar.” Ucap Angkasa yang membuatku tertegun dengan kata-katanya.
“Akan aku pastikan Putri anda akan menjadi Wanita paling bahagia di dunia ini, percayalah aku tidak akan meninggalkannya sendirian, aku akan menjaganya dengan baik.” Lanjut Angkasa. Sekarang tangan Angkasa berpindah ke nisan Om Alex yang merupakan Ayah Angkatnya sendiri. “Halo Papa, maafkan aku sempat membenci dirimu, tetapi terima kasih karena telah menjaga seorang malaikat tak bersayap untuk bersamaku sekarang. Sekarang biarkan tugas itu menjadi tugasku. Sekarang biarkan Papa dan juga Nyonya Gibran tenang disana dan nikmatilah bulan madu kalian berdua disana. Aku berjanji akan sering mengunjungi kalian, bersama Sarah dan mungkin bersama cucu kalian kelak.” Ucap Angkasa menatapku.
Air mataku tak terbendung lagi. Selama ini aku selalu merasa datang kesini hanya akan mengingatkanku pada rasa kesepian dan sendiri. Aku selalu pergi seorang diri, tidak pernah ditemani oleh orang lain. Aku merasa hal itu biasa saja, tetapi sekarang aku merasakan kehangatan yang luar biasa bahagia. “I love you.” Ucapku memeluk pinggang Angkasa. “I love you too.” Ucap Angkasa dan mengecup kepalaku.
Setelah mobil berhenti di depan Rumah yang sederhana, tidak mewah dan besar, tetapi sangat terlihat nyaman untuk kehidupan sebuah Keluarga. Aku melihat ada kedua Orang Tua dari Angkasa dan juga Kak Laura sudah berdiri di depan pintu rumah mereka dengan wajah ketakutan. Apa mereka sudah tahu kalau kami akan datang?
__ADS_1
Setelah Angkasa memarkirkan mobilnya, dia turun terlebih dahulu dan membukakan pintu untukku. “Kassa seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini, aku bisa turun sendiri.” Ucapku tetapi diacuhkan olehnya. Kami berjalan beriringan dengan Angkasa yang menggenggam tanganku, aku dapat melihat wajah heran dari Keluarga Indra saat aku tersenyum dan ingin menyapa mereka.
Papa Indra tiba-tiba langsung bersujud di Kaki Angkasa membuatku dengan spontan langsung menunduk untuk membantunya berdiri kembal, tetapi tanganku ditahan oleh Angkasa sehingga aku tidak bisa mendekati Papanya Indra. “Om, berdiri Om.” Ucapku tetapi tidak didengarkan oleh Papanya Indra.
“Maafkan kami Tuan Muda, maafkan kalau kami membuat kesalahan lagi, maafkan kami.” Ucap Papanya Indra dengan suara penuh ketakutan. “Berdirilah.” Ucap Angkasa dengan suara tegas membuat Papanya Indra terkejut, Laki-Laki paruh baya itu pun langsung berdiri dengan kepala tertunduk dan bahu bergetar.
“Saya disini hanya ingin meminta anda sekeluarga untuk kembali ke Rumah anda yang dulu.” Ucap Angkasa dengan wajahnya yang datar seperti biasa. “Ma…maksud anda Tuan?” Ucap Papanya Indra yang sekarang sedikit melihat ke arah Angkasa tetapi masih dengan wajah ketakutan. “Hutang-hutang anda sudah saya anggap lunas, dan silahkan bawa Keluarga anda kembali ke Rumah anda sebelumnya.” Ucap Angkasa lagi.
Papanya Indra terlihat mengerjap tidak percaya dengan kata-kata yang keluar dari mulut Angkasa. “Anda boleh berterima kasih kepada calon istri saya.” Ucap Angkasa melingkarkan tanganku pada lengannya. Laki-Laki paruh baya itu terkejut kembali termasuk Mamanya Indra dan juga Kak Laura.
Setelah itu kami masuk ke dalam Rumah sederhana dari Keluarga Indra yang membuatku sedikit merasa sedih, karena sebelumnya Keluarga Indra adalah Keluarga yang cukup terpandang dan berada. Tetapi sekarang melihat tempat tinggal dan kondisi mereka yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya membuatku benar-benar merasa sangat sedih. Tetapi untungnya Angkasa melakukan hal yang tidak pernah aku duga, dimana Keluarga Indra dapat kembali ke Rumah mereka dahulu dan menganggap hutang-hutang dari Keluarga Indra sudah lunas.
__ADS_1
Bahkan Papanya Indra dijadikan partner bisnis oleh Angkasa, agar Papanya Indra dapat membangun kembali perusahaannya dahulu yang sempat bangkrut, tentu saja hal itu membuat Keluarga Indra sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Angkasa, termasuk aku yang semakin terpesona akan sikap Angkasa sekarang yang menjadi lebih hangat, hanya saja terkadang aku merasa malu saat Angkasa sudah bersikap aneh seperti tidak mau melepaskan genggaman tanganku dari tangannya, bahkan aku sama sekali tidak diperbolehkan untuk berpelukan bahkan bersentuhan dengan Keluarga Indra, dimana hal itu membuat Keluarga Indra senyum-senyum sendiri melihat tingkah Angkasa yang seperti ini.
BERSAMBUNG.