Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
PENGAKUAN DAN PENERIMAAN


__ADS_3

"Apakah aku orang yang bisa membuatmu bahagia Sar?" Tanya Indra yang membuatku bingung. "Kak? Apa maksudnya?" Tanyaku mendekatinya, menangkup kedua sisi wajahnya dengan kedua telapak tanganku, dia mencium lembut telapak tangan kananku. "Apakah kamu akan menyerah berjuang bersamaku Kak?" Tanyaku menatap lekat matanya yang akhirnya tebuka karena pertanyaanku.


Dia menggelengkan kepalanya yang membuat hatiku sedikit lega, karena di hatinya masih ada rasa yang tersimpan untukku. "Kak, kita perjuangkan ini bersama-sama, aku memilihmu sebagai orang yang aku percaya dapat membuatku selalu tersenyum di setiap harinya, aku mempercayakan hati dan hidupku untukmu Kak, jadi masih maukan kamu menghadapi semua ini untukku sekali lagi?" Tanyaku yang membuatnya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, aku mencium lembut pipi putihnya. "Terima kasih sayang." Ucapku.


"Sekarang, kita ke Rumah Sakit ya, kita jelaskan semua kepada Orang Tua kamu." Ucapku. "Ta..tapi." Ucapnya yang kupotong dengan menutup mulutnya dengan tanganku. "Tidak ada kata tapi, apapun hasilnya nanti, kita terima, setidaknya aku tahu bahwa kamu dan aku sudah memperjuangkan cinta kita." Ucapku yang membuatnya memeluk tubuhku erat. "Aku akan berjuang dan berkorbang untukmu." Ucapnya dengan mengecup kepalaku berkali-kali. Terima kasih.


Aku dan Indra pun masuk ke dalam mobilnya yang ternyata adalah mobil Laura, Kakaknya Indra. Dimana Indra ternyata tidak pulang dari Rumah Sakit, menjaga Mamanya yang belum sadarkan diri "Sar, aku minta maaf karena saat Papa membuat kamu malu di Rumah Sakit waktu itu." Ucapnya dengan raut wajah sedih dengan masih menatap lurus ke Jalanan, dengan tangan memegang erat kemudi."Kak, i'ts okay aku tahu kondisi Papanya Kak Indra, yang mungkin sekarang sedang penuh dengan pemikiran tentang kesehatan Mama, aku paham tentang itu jadi jangan dipikirin lagi ya." Ucapku, dia mengambil tanganku dan mengecupnya dengan lembut. "Aku sangat beruntung memilikimu Sarah." Ucapnya yang membuatku tersenyum malu mendengar kata-katanya.


Tidak terasa mobil kami pun sudah masuk ke dalam Area Rumah Sakit, yang membuat senyumku tadi menghilang selama beberapa saat, tetapi ku coba untuk mengalihkan pikiranku agar tidak terlalu terlihat oleh Indra. Setelah Indra memarkirkan mobilnya, kami pun turun, Indra menggenggam tanganku erat seakan tidak mau untuk melepaskannya, kami berjalan di Lorong Rumah Sakit, tempat dimana kemarin Papanya Indra meneriakiku di depan semua Suster dan Keluarga Pasien lainnya. "Kita berjuang bersama-sama ya." Ucap Indra mencium keningku, dan saat Indra mau membuka Pinu Ruang Pasien 306 tersebut, pintu itu terbuka dari dalam. Edgar, Alisha.


"Halo Ndra." Panggil Edgar kepada Indra dan memeluk sahabatnya itu. "Lo tenang aja, semua sudah dikondisikan." Ucapnya lagi dengan tersenyum. "Ndra, sekarang sebaiknya kamu masuk dulu, Mama kamu udah sadar." Ucap Alisha kepada Indra, Indra melihat kearahku dan aku menganggukkan kepalaku, Indra pun melepaskan genggaman tangannya dan langsung masuk ke dalam Ruang Perawatan Mamanya.

__ADS_1


"Sar." Panggil Alisha kepadaku. "Eh iya Kak." Ucapku. "Maafkan aku ya, semua ini karena ulahku, tetapi sekarang aku harap semuanya baik-baik saja, aku sudah menjelaskan semuanya kepada Orang Tua Indra." Ucap Alisha. "Maksudnya Kak?" Tanyaku heran. "Aku sudah menjelaskan semuanya bahwa akulah yang mengirimkan pesan kepada mereka, dan meminta Indra untuk menjauhi kamu." Ucapnya lagi dan dia memeluk erat diriku. "Sekali lagi maafkan aku ya, seharusnya kamu memang sudah sepantasnya hidup bahagia Sar." Ucapnya lagi lirih. "Kak, tidak apa-apa, aku tahu semua terjadi karena kesalahpahaman." Ucapku mengusap punggungnya.


"Sudah, malu dilihatin orang." Ucap Edgar menepuk pundak Alsiha, yang membuat Gadis Manis tersebut melepaskan pelukannya dariku. "Gua harap semua akan baik-baik aja ya Sar, Lo memang orang yang paling teat untuk berada di sisi Sahabat gua." Ucap Edgar tersenyum tulus. Setelah itu Alisha dan Edgar pun pamit untuk pulang terlebih dahulu, aku melihat mereka berdua bergandengan tangan selama berjalan di Lorong Rumah Sakit itu yang membuatku senyum-senyum sendiri melihatnya.


Aku mendudukkan tubuhku di Tempat Duduk Ruang Tunggu tersebut, menyandarkan kepalaku. Apakah benar semua ini sudah berakhir? Apakah Keluarga Indra benar-benar akan menerimaku setelah mendengar pengakuan dari Alisha dan Edgar?


"Sar." Panggil Indra di depan Pintu Ruang Perawatan Mamanya yang membuatku tersadar dari lamunanku, aku menatap wajahnya yang tersenyum kearahku. "Ayo masuk." Lanjutnya lagi, aku pun berdiri dari tempat dudukku dan mendekatinya, Indra mengulurkan tangannya yang membuatku dengan cepat menerima uluran tangannya.


"Gak usah takut, semua sudah baik-baik saja." Ucap Indra menenangkanku yang terihat takut untuk masuk ke Ruang Perawatan Mamanya, aku menganggukkan kepalaku dan meyakinkan diriku bahwa semua akan baik-baik saja. Everything will be okay Sarah.


"Tante." Panggilku kepada Mamanya Indra. "Kamu gadis yang cantik dan manis Sarah, pantas saja Indra bisa menyayangi kamu sebegitu besarnya ya." Ucapnya dan sekilas melihat kearah Indra yang tersenyum melihat Mamanya berbicara kepadaku dengan begitu baik. "Bagaimana keadaan Tante?" Tanyaku lembut. "Tante baik-baik saja." Ucapnya yang membuatku entah mengapa meneteskan air mataku dan dengan cepat aku menghapusnya.

__ADS_1


"Terima kasih Tante, terima kasih karena sudah mau bersikap baik sama Sarah." Ucapku lirih. "Sayang, Tante yang harusnya berterima kasih karena berkat kamu, kami tahu apa yang salah dengan perlakuan kami selama ini kepada Indra, dan." Ucapnya terpotong dengan tangannya yang menggenggam tanganku. "Tante minta maaf, karena kami sudah memandang buruk tentang kamu." Aku langsung memeluknya dengan air mata yang menetes pelan di kedua pipiku.


"Tante, Sarah baik-baik saja, tidak ada yang harus Tante dan Om minta maafkan kepada Sarah, Sarah sudah sangat berterima kasih karena Tante dan Om sudah mau menerima Sarah sebaik ini." Ucapku dan aku merasakan punggungku diusap lembut oleh tangannya. "Om juga minta maaf ya Sarah, karena perlakuan Om kepada kamu." Ucap Papanya Indra yang ternyata sudah berdiri di sebelah Mamanya Indra.


Aku melepaskan pelukanku dari Mamanya Indra. "Iya Om, Sarah juga minta maaf kalau ada yang salah dari sikap Sarah." Ucapku. "Halo Sarah." Panggil Kakaknya Indra dan langsung memelukku erat." Halo Kak Laura." Ucapku. "Indra memang tidak salah ya memilih kamu." Ucapnya tersenyum lembut kepadaku.


Setelah itu kehangatan kembali terasa di Ruangan itu, Indra sudah berbaikan kembali dengan keluarganya, di Ruangan itu hanya ada senyuman, canda dan tawa, tidak ada lagi rasa ketakutan karena ketidak penerimaan, tidak ada lagi rasa penghinaan dari diriku, yang ada hanya kehangatan dalam lubuk hatiku yang paling dalam, entah mengapa aku merindukan kehangatan keluarga seperti ini, merindukan kebaikan dan hangatnya kasih sayang dari seorang Ayah dan Ibu bahkan terlebih lagi aku mendapatkan kasih sayang dari seorang Kakak dan orang yang kucintai yang sekarang akan selalu berada di sisiku. Terima kasih Tuhan karena telah memberikanku Keluarga baru yang penuh dengan kasih sayang ini, aku mohon jangan pisahkan aku dari mereka dan orang yang sangat kucintai dengan segenap hati dan perasaanku.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.

__ADS_1


Terima kasih supportnya!!!


Oke, cukup melelahkan juga ya kita melihat masalah yang dihadapi Sarah, bagaimana kalau next UPnya kita kasih sedikit kebahagiaan untuk Sarah, SETUJU?


__ADS_2