Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MOVE ON (2)


__ADS_3

Hidup tidak selalu seperti yang kamu mau, hal baik dan buruk selalu terjadi, namun semua itu telah diatur Tuhan, dengan akhir yang indah.


Mobil Indra pun sudah berada di sekitaran Pantai Ancol dimana hari sudah gelap saat kami sudah sampai di tempat tersebut, sehingga tempat tersebut hanya diterangi oleh lampu-lampu jalanan di sekitarnya. Aku keluar dari mobil Indra, memandangi setiap sudut yang ada di area tersebut, setiap sudut yang dulu pernah aku kunjungi bersama laki-laki yang selalu membuatku bahagia.


Aku menyandarkan tubuhku di depan mobil Indra, memandang sendu kearah gelombang laut yang bergulung dengan perlahan. Indra ikut bergabung bersamaku menyandarkan tubuhnya  di depan mobil putihnya itu. “Kak.” Aku tidak melihatnya, mataku masih memandang penuh arti dengan mengingat memori-memori indah saat aku dulu berada disini bersama Dave.


“Iya.” Jawab Indra. “Apakah aku memang tidak pantas untuk bahagia ya kak?” Aku menunduk dan tidak terasa air mataku menetes kembali. “Hidup tidak selalu seperti yang kamu mau, hal baik dan buruk selalu terjadi, namun semua itu telah diatur Tuhan, dengan akhir yang indah.” Ucap Indra. Aku merasakan tangan Indra melingkar di punggungku, dia mengelus lembut pundak sebelah kiriku.


“Aku akan menjagamu, tidak akan aku biarkan satu orang pun membuatmu sedih selama aku masih ada di sisimu Sarah.” Lanjutnya. Aku menangis dalam dekapan Indra yang hangat, mencoba dengan perlahan melepaskan perasaan dan kenangan indahku bersama Dave yang terbawa dengan gelapnya malam itu.


Keeseokan harinya, aku memandangi cermin di depanku dengan seragam Sekolah yang kugunakan, saat suara ayam yang mulai berbunyi membangunkan orang-orang yang akan melakukan aktifitas di hari ini. Kamu bisa Sarah, kamu bisa.


Setelah kemarin malam aku mencoba menghadapi dan merelakan perasaanku terhadap Dave dan satu hal lagi yang harus aku hadapi yaitu teman-teman di Sekolahku. Aku keluar dari kamarku, sementara adik-adikku yang lain juga sedang bersiap-siap untuk pergi ke Sekolah. Aku seperti biasa setiap pagi membantu Ibu Aisyah untuk menyiapkan sarapan.


“Kamu yakin ke Sekolah Nak?” Tanya Ibu Aisyah, saat aku dan dia sedang menyiapkan piring di meja makan. “Iya Bu, Sarah yakin, Sarah juga gak mau beasiswa Sarah di cabut Bu, gara-gara Sarah sering tidak masuk Sekolah.” Ucapku dengan yakin walaupun dalam hatiku aku masih meragukan semua itu. “Kalau ada apa-apa, telpon Ibu ya.” Ucap Ibu Aisyah memelukku. “Iya Bu.” Setelah itu aku, Ibu Aisyah dan adik-adikku sarapan bersama sebelum kami semua melakukan aktifitas kami masing-masing. Aku sudah menunggu di depan gang jalan tempat biasa Dave menjemputku. Hmmm.

__ADS_1


“Ayo berangkat bareng.” Suara seorang Laki-Laki di dalam mobil yang sudah ada di depanku. “Eh Kak Indra.” Tiba-tiba mobil Indra sudah berada di hadapanku. Indra membukakan pintu mobilnya, aku pun masuk ke dalam mobil putihnya itu. “Kak Indra kenapa bisa lewat sini.” Tanyaku saat menggunakan seat beltku. “Barusan, udah siap?” Ucapnya singkat dan aku menganggukkan kepalaku.


Dalam hatiku, aku merasa sangat senang karena bisa pergi ke Sekolah dengan seseorang bersamaku, sehingga aku tidak sendirian saat melewati koridor Sekolah dengan bisikan-bisikan dari teman-teman Sekolahku.  Tidak lama kemudian mobil Indra sudah masuk ke dalam Gerbang Sekolah bersamaan dengan jantungku yang berdegup kencang. “Jangan takut, ada aku disini.” Ucap Indra yang seakan tahu dengan kecemasanku. “Iya Kak.”


Aku membuka pintu mobil masih dengan perasaan yang takut. Aku melihat kearah Sekolah dengan tatapan yang penuh akan kekhawatiran. Apa aku bisa?


“Ayo.” Indra mengulurkan tangan kanannya dengan telapak tangan yang terbuka, dia tersenyum kearahku untuk membuatku yakin bahwa semua akan baik-baik saja. Aku menatap wajah tampannya itu, dan dengan yakin aku mengulurkan tanganku dan mengenggam tangan laki-laki itu dengan erat.


Kami berjalan beriringan dengan tangan yang saling bertautan satu sama lain, saat melewati koridor Sekolah, aku menggenggam lebih erat tangan Indra dengan wajah yang tertunduk, tidak berani melihat ke kearah teman-teman Sekolahku, aku mendengar mereka berbisik tidak jelas di telingaku. Aku merasakan tanganku juga digenggam erat oleh Indra seakan tidak ingin dilepaskannya. Perasaan ini.


Aku dengan cepat melepaskan genggaman tanganku dengan canggung. “Ma-makasih Kak.” Ucapku dengan tertunduk malu. Dia tersenyum kearahku dan mengusap lembut kepalaku. “Aku ke Kelas dulu ya.” Ucap Indra dan langsung pergi meninggalkanku yang berdiri mematung. Aku memperhatikan sosok Indra pergi menuju ke Kelasnya sampai menghilang dari penglihatanku. Terima kasih Kak.


Aku masuk ke dalam Kelasku dan aku merasa gugup kembali, pikiranku yang sebelumnya teralihkan dengan sosok Indra, kembali memikirkan apa yang seharusnya aku hadapi hari ini di Sekolah. Aku berjalan menuju kearah kursiku, mengabaikan tatapan-tapan penuh arti dari semua teman-teman sekelasku. Saat sampai di tempat dudukku, aku menghembuskan napasku dengan berat melihat bangku di sebelah kiriku yang kosong dengan ketidak adaannya seseorang.


“Sar.” Panggil Rizka teman sekelasku yang duduk persis berada di depanku. “Iya Riz.” Jawabku. “Kamu gak pa-pa?” Ucapnya khawatir. Aku membuat senyuman di bibirku agar tidak membuatnya khawatir. “Aku gak pa-pa Riz.” Ucapku. “Kamu tenang aja Sar, berita-berita seperti ini akan hilang dengan sendirinya di Sekolah, setelah mereka semua mendapatkan berita yang lebih heboh lagi.” Ucapnya menenangkanku. “Terima kasih Riz.”

__ADS_1


“Uhmm dan Sar, soal Dave, aku turut prihatin ya.” Rizka mengelus tanganku. “Iya Riz, makasih ya.” Aku tersenyum kearahnya, setidaknya ada satu orang lagi yang masih berhati baik untuk mau berteman denganku. Tidak lama kemudian bel pun berbunyi, bersamaan dengan masuknya guru kami ke dalam Kelas. Aku harap semuanya baik-baik saja.


“Sar, istirahat bareng yuk.” Ucap Rizka saat guru kami sudah keluar kelas dan dibunyikan bel istirahat Sekolah. Aku menganggukkan kepalaku dan mengikuti Rizka yang sudah berjalan terlebih dahulu di depanku sampai ke depan pintu Kelas. “Makan bareng yuk.”


“Eh Kak Indra.” Aku kaget karena sudah ada sosok Indra berdiri di depan pintu Kelasku. Tidak hanya aku yang terlihat terkejut dengan keadaan jam dua belas siang ini, semua teman-temanku terlihat terkejut dengan kehadiran sosok pria misterius di SMA XYZ yang tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun di Sekolah ini, tiba-tiba menunjukkan dirinya di depan Kelas adik kelasnya.


“Kok Kakak disini?” Tanyaku heran. “Nungguin kamu, ayo ke Kantin.” Ucapnya melihat kearahku menghiraukan pandangan kaget dari teman-teman sekelasku. “Ehmm Sar, aku duluan ya ke Kantinnya.” Ucap Rizka yang baru aku sadari sedari tadi berdiri di sampingku. “Eh iya Riz, maaf ya.”


Rizka menganggukkan kepalanya dan tersenyum penuh arti kearahku, setelah itu dia pergi meninggalkanku dan Indra di depan pintu Kelas. “Ayo.” Indra langsung menggenggam tanganku dan menarikku berjalan di sampingnya menuju ke Kantin dengan senyuman yang belum pernah aku lihat sebelumnya dari wajah tampannya itu. “Kak Indra kenapa? Kok senyum-senyum gitu? Sehatkan?” Dia hanya melihatku dengan senyumannya itu tanpa berkata apa-apa. Hmmm.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!

__ADS_1


__ADS_2