Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MENYERAH?


__ADS_3

"Semua hal-hal hebat yang layak dimiliki membutuhkan pengorbanan besar yang layak diberikan." - Paullina Simons.


Keesokan pagi, dengan sinar matahari yang dengan lembutnya menghangatkan bumi beserta mahluk hidup di dalamnya, aku menunggu angkutan umum dengan sedikit tidak bersemangat di pinggir trotoar, karena memikirkan hal apa yang akan dibicarakan oleh Kak Indra, dan apa yang akan aku lakukan apabila nanti bertemu dengan Mas Bara saat mengembalikan jaketnya nanti saat pulang Sekolah, karena aku sudah mengirimkannya pesan semalam untuk mengembalikan jaketnya hari ini. Apa yang harus aku lakukan untuk mengakhiri hari ini.


Perjalananku di dalam angkutan umumpun sama sekali tidak terasa olehku, yang tiba-tiba saja, mobil tersebut sudah berada di depan Gerbang Sekolahku. Aku melihat sebentar kearah Parkiran Sekolah, mencari mobil Indra yang mungkin ada terparkir disana, tetapi sama sekali tidak ada mobil berwarna hitam miliknya tersebut. Apakah dia tidak ke Sekolah hari ini, karena semalam pun dia tidak pulang ke Panti.


"Sar." Suara seorang Perempuan yang memanggilku, menyadarkanku dari lamunanku. "Kak Alisha." Ucapku setelah melihat sosok Alisha yang memanggilku. "Kamu berangkat sendiri? Indra mana?" Tanyanya dan melihat kearah sekitarku. Aku menundukkan kepalaku dan menghembuskan napasku berat setelah mendengar pertanyaannya tersebut. "Apa yang terjadi Sar? Kalian ada masalah?" Tanyanya lagi. "Gak ada apa-apa kok Kak." Ucapku berusaha tersenyum kearahnya. "Aku, duluan ya Kak ke Kelas, ada tugas yang belum aku kerjakan untuk hari ini." Ucapku bohong dan aku pun langsung berjalan sedikit cepat meninggalkan Alisha dengan wajah kebingungannya. Aku tidak mau melibatkan banyak orang lagi dalam masalahku.


Aku masuk ke Kelasku dengan sedikit tidak bersemangat. "Pagi Sar." Panggil Rizka saat aku sudah duduk di kursiku. "Pagi Riz, apa kabar kamu hari ini Riz?" Tanyaku kepada Rizka. " Aku baik-baik aja Sar, kamu apa kabar? Hari ini kamu kelihatan kurang bersemangat." Tanya Rizka melihat wajahku lekat. "I'm okay Riz, cuma hmm sedikit ngantuk aja." Jawabku. "Eh, Sar jaket itu." Ucap Rizka dengan menunjuk jaket yang ada di tanganku. "Oh iya ini jaketnya Mas Bara Riz, dan aku lupa kenapa gak aku titipin ke kamu aja ya, daripada Mas Baranya yang harus repot-repot untuk kesini nanti pulang Sekolah." Ucpaku.

__ADS_1


"Ohh, pantesan dia semangat banget mau anterin dan jemput aku ke Sekolah, karena mau ketemu kamu hmm." Ucap Rizka dengan wajah sedikit marah. "Hmm maaf ya Riz." Ucapku. "Eh bukan, aku bukan marah sama kamu Sar, sama Mas Bara hahaha, tetapi gimana ceritanya jaket mas Bara ada di kamu?" Tanya Rizka, aku pun menceritakan kepadanya apa yang terjadi denganku kemarin. "Oh my God, terus orang tuanya Kak Indra gimana Sar? Dan kamu baik-baik aja kan?" Tanya Rizka yang terlihat sangat khawatir dari raut wajahnya.


"Aku gak tahu Sar, aku hanya berharap semua baik-baik aja, aku gak tahu apa yang salah selama ini dengan hidupku, aku hanya ingin bahagia, tetapi mengapa setiap kali aku akan merasa bahagia dengan seseorang, pasti akan ada saja masalah yang menghancurkan kebahagiaanku." Ucapku mengusap sedikit air mata yang keluar dari ujung mataku. "Sar, aku yakin, suatu saaat kamu akan bahagia, dan kamu pasti bisa menyelesaikan setiap masalah yang kamu hadapi dan itu akan membentuk karakter pribadi kamu yang semakin kuat, kamu tetap sabar ya, kalau kamu butuh teman cerita atau ada sesuatu yang butuh pertolonganku, aku akan coba buat bantu oke." Ucap Rizka mengusap lembut punggung tanganku. "Terima kasih Riz." Ucapku.


Tidak lama kemudian suara bel masuk Sekolah pun dibunyikan, aku pun mengikuti pelajaran hari ini sampai dengan selesai tanpa ada kabar satu pun dari Indra. Saat bel Sekolah pulang, handphoneku berbunyi dan menampilkan pesan dari Indra, bahwa dia sudah menunggu di Parkiran Sekolah. Aku bergegas meraikan peralatan Sekolahku dan melangkahkan kakiku menuju ke Parkiran Sekolah.


Kak Indra. Aku melihat sosok itu sedang menyandarkan tubuhnya pada mobil yang belum pernah aku lihat sebelumnya, aku mendekatinya dengan napas yang tersengal-sengal karena berlari dari Kelasku menuju Parkiran Sekolah. "Kak." Aku memanggilnya yang membuatnya menoleh kearahku dengan raut wajah datar, dia memberikan isyarat kepadaku untuk lebih dekat kepadanya. Saat aku sudah berada di sampingnya di sedikit mendorong tubuhku pada mobilnya dan mengunci tubuhku dengan kedua pergelangan tangannya di kedua sisi tubuhku.


"Jawab Sarah." Ucapnya dengan sedikit berteriak. "A..ak." Ucapku terpotong saat ada seseorang memanggil namaku di belakang Indra. "Sar." Panggil Laki-Laki tersebut, yang membuatku dan Indra menoleh ke sumber suara tersebut. Mas Bara.

__ADS_1


"Halo Indra, kita bertemu lagi." Ucap Bara mengulurkan tangannya kepada Indra untuk bersalaman, Indra pun menerima jabatan tangan tersebut dan menatap lekat wajah Bara yang sedang tersenyum kepadanya. "Apa yang membuatmu kesini?" Tanya Indra saat mereka melepaskan jabatan tangan mereka. "Oh, aku kesini mau mengambil jaketku yang ada pada Sarah." Ucap Bara dengan santai, dia melirik kearahku membuatku menjadi gugup. "Halo Sar, jaketnya ada?" Tanya Bara kepadaku. "Oh, ini Mas." Aku memberikan jaket tersebut kepada Bara dengan Indra yang melihat detil setiap pergerakanku, Bara menerima jaket tersebut dan seperti memeriksa sesuatu pada saku jaketnya. Apakah dia memastikan bahwa buku kecil itu masih disana?


"Terima kasih Mas atas pinjaman jaketnya dan maaf saya lupa kemarin untuk mengembalikannya." Ucapku yang dibalas senyuman olehnya. "Tidak apa-apa Sarah, saya senang dapat menolong kamu." Ucapnya. "Dan Indra." Ucap Bara melihat kearah Indra lekat dan menepuk pundaknya. "Kamu tidak perlu cemburu kepada Sarah, dia sama sekali tidak melakukan apapun, seharusnya kamu akan lebih mengerti dengan permasalahan yang dihadapinya kemarin." Ucap Bara kepada Indra.


"Maksudnya?" Tanya Indra dengan wajah yang sedikit heran. "Kamu tanyakan saja nanti masalahnya kepada Sarah, dan Indra aku hanya akan mengatakan ini sekali." Ucap Bara melepaskan tangannya dari pundak Indra dan melihatku dengan tersenyum "Jika kamu tidak mau berkorban untuknya, aku pasti akan dengan cepat mengganti posisimu, jangan sampai kamu membuatnya bersedih lagi, karena dia sudah seharusnya hidup bahagia." Ucap Mas Bara, yang membuatku ataupun Indra terkejut dengan perkataannya. Apa maksudnya?


"Baiklah, kalau begitu aku izin pamit dulu, Sarah semoga kamu bisa hidup bahagia oke, dan Indra ingat perkataanku tadi." Ucap Bara dan dia meninggalkanku dan Indra dengan benak yang penuh dengan tanda tanya akan perkataannya. Aku melihat kearah Indra yang terlihat penuh dengan pikiran pada kepalanya saat dia melihat kepergian Bara dari hadapan kami. "Kak?" Panggilku kepadanya, dia melihat kearahku. "Apakah aku orang yang bisa membuatmu bahagia Sar?" Tanya Indra yang membuatku bingung.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2