
Adzan subuh dari Masjid-Masjid di sekitar Panti sudah berkumandang, menemani diriku yang masih terbaring diatas tempat tidurku dengan mata yang tidak bisa tertutup dengan nyenyak. Aku duduk di tepi tempat tidurku, memandang sebuah amplop surat diatas meja belajarku dengan tatapan sendu. Aku ambil handphoneku di sebelah bantal kepalaku dengan harapan adanya sebuah pesan atau telpon darinya. Dave.
Aku memutuskan untuk keluar kamar dan melihat adik-adikku di Panti yang sedang bersiap-siap untuk bersekolah. Aku memang adalah yang paling tua tinggal di Panti, sebenarnya dulu ada beberapa keluarga yang ingin mengadopsiku, tetapi aku tidak mau karena aku kasihan melihat Ibu Aisyah yang mengurus Panti sendirian, jadi aku berinisiatif untuk tetap tinggal di Panti membantu Ibu Aisyah mengurus adik-adikku di Panti.
“Kak Sarah gak ke Sekolah?” Tanya Andi salah satu dari adik-adikku di Panti. “Enggak Dek, Kakak lagi gak enak badan, jadi izin dulu ke Sekolah.” Aku duduk didepannya, merapikan seragam sekolah yang sudah digunakannya dan menyisir rambutnya. “Kak Sarah sakit?” Dia menempelkan punggung tangannya di keningku. “Kak Sarah gak pa-pa.” Aku menarik tangannya dari keningku. “Kalian udah sarapan?” Lanjutku bertanya ke semua adik-adik Pantiku yang berjumlah sebanyak delapan orang. “Belum Kak.” Jawab mereka serentak.
“Ya sudah kalian siap-siap dulu ya, nanti Kakak panggilin kalo udah siap sarapannya.” Mereka semua pun mengangguk, setelah itu aku melangkahkan kakiku menuju ke dapur dan melihat Ibu Aisyah yang sedang sibuk dengan kuali yang berisikan nasi goreng yang sedang di gorengnya. “Bu, sini Sarah aja yang masak Bu.” Aku sudah berdiri di samping Ibu Aisyah dan membantunya menyiapkan sarapan. “Kamu gak sekolah Nak?” Tanya Ibu Aisyah setelah dia memberikan spatula wajan yang ada ditangannya kepadaku. “Sarah izin dulu ya Bu hari ini.” Ucapku tidak berani menatap Ibu Aisyah yang berada di belakangku.
“Iya gak pa-pa.” Setelah itu aku dan Ibu Aisyah sibuk mengurusi kesiapan adik-adikku untuk ke Sekolah dan sarapan mereka. Setelah semua adik-adikku pergi ke Sekolah, aku membersihkan tubuhku, membersihkan Panti dan membantu Ibu Aisyah berjualan nasi uduk di Kios depan Panti. Aku menyibukkan diriku dengan berbagai hal tersebut, agar dapat mengalihkan perhatian dan pikiranku akan Dave. “Kamu kenapa Nak?” Tanya Ibu Aisyah
__ADS_1
“Eh gak pa-pa Bu.” Aku tersentak dari lamunanku setelah selesai membantu Ibu Aisyah di Kios nasi uduknya dimana hari sudah menunjukkan pukul dua siang. “Ehmm Bu.” Ucapku ragu-ragu ke Ibu Aisyah. “Iya Nak, kenapa?” Tanya Ibu Aisyah. “Sarah boleh izin keluar sebentar Bu, mau ke Rumah Dave.” Ibu Aisyah menghentikan aktifitasnya yang sedang mengeringkan piring yang sudah aku cuci. “Kamu mau ngapain lagi ke tempat dia Nak.” Tanya Ibu Aisyah yang sekarang sudah duduk didepanku. “Sarah mau menitipkan surat untuk Dave, Bu.” Aku tertunduk tidak berani menatap Ibu Aisyah, dan aku akan siap juga apabila Ibu Aisyah tidak mengizinkanku karena khawatir dengan keadaanku nanti.
“Ya sudah gak pa-pa, kamu hati-hati nanti ya, kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi Ibu.” Ucap Ibu Aisyah. “Iya Bu, makasih.” Aku memeluknya dengan hangat kepada wanita yang sudah sangat menyayangiku layaknya anaknya sendiri. Setelah itu aku bersiap-siap untuk menitipkan surat yang akan kuberikan kepada Dave, saat aku menunggu angkot ataupun taksi yang lewat di depan Gang Jalan Panti, tiba-tiba ada sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti pas didepanku. Kaca mobil tersebut pun terbuka dan menunjukkan sosok laki-laki yang kemarin menemaniku disaatku sedih. Kak Indra.
“Kamu mau kemana?” Masih dengan bicara to the pointnya tanpa ada basa-basi terlebih dahulu. “Ehmm aku.” Aku ragu-ragu untuk mengatakan kepadanya kemana tujuanku. “Masuk, aku antar.” Dia membuka pintu mobil penumpangnya, sehingga aku dengan terpaksa masuk ke dalam mobil tersebut. Di dalam mobil aku tidak banyak berbicara, hanya diam menatap keluar jendela mobil. “Kemana tujuan kita?” Tanya Indra yang masih melihat kearah jalan. “Ehmm ke Rumah Dave Kak.” Ucapku pelan. “Oke.” Itulah hal yang aku suka dari Indra, dia tidak pernah bertanya detil, karena dia tahu kapan seseorang mau bercerita kapan seseorang tidak mau bercerita.
Setelah satu jam perjalanan kami di mobil dengan suasana yang hening, dimana hanya terdengar celotehan dua penyiar radio dari dalam mobil Indra, akhirnya kami sampai di depan Gerbang Rumah Dave. “Kak Indra tunggu disini ya.” Ucapku. “Iya.” Aku melepaskan seat beltku dan membuka pintu mobil. Saat sudah berada di depan Gerbang Rumah Dave, aku menghembuskan napasku berat. Jangan menangis lagi Sarah, jangan menangis.
“Saya hanya menjalankan perintah.” Lanjutnya lagi. “Gak pa-pa Pak, saya maklum, saya juga salah kemarin karena terlalu memaksa.” Ucapku dengan tersenyum. “Terima kasih Mbak, kalau begitu saya ke dalam dulu panggilin Bi Iyemnya, Mbak Sarah tunggu disini dulu ya.” Aku menggangguk, setelah itu Pak Aryo masuk lagi ke dalam untuk memanggil Bi Iyem. Jangan menangis Sarah, tahan air matamu.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, wanita paruh baya yang aku tunggu sedari tadi akhirnya datang. “Bi Iyem.” Aku langsung memeluknya dengan erat. “Non Sarah, Non baik-baik aja?” Ucap Bi Iyem. “Sarah baik-baik aja Bi.” Aku melepaskan pelukanku dengan air mata yang sudah ada di pelupuk mataku. Bi Iyem hanya tersenyum melihatku. “Bi Iyem, Sarah mau nitip ini.” Aku mengeluarkan sepucuk surat dari dalam tasku. “Sarah, titip ini buat Dave ya Bi.” Aku berusaha tersenyum dengan menahan air mataku yang hampir terjatuh.
“Iya Non, akan Bi Iyem kasih langsung ke Aden Dave.” Bi Iyem mengambil surat yang aku berikan kepadanya. “Terima kasih Bi, Bi Iyem kapan balik ke Australianya?” Tanyaku mengalihkan pikiranku. “Besok Non, setelah semua urusan di Rumah ini selesai.” Ucap Bi Iyem. “Bi Iyem hati-hati ya besok, semoga nanti kita bisa bertemu lagi ya Bi.” Ucapku dan langsung memeluk erat Bi Iyem dengan perasaan sedihku.
“Iya Non, Non Sarah juga jaga diri baik-baik ya.” Ucap Bi Iyem dengan mengelus punggungku lembut. Setelah itu aku izin pamit dengan Bi Iyem dan masuk lagi ke dalam mobil Indra. “Maaf ya Kak lama.” Ucapku setelah berada di dalam mobil dan menggunakan seat beltku. “Gak pa-pa, kamu mau kemana lagi?” Tanya Indra. “Kak Indra mau anterin aku ke sebuah tempat Kak?” Tanyaku ragu-ragu. “Oke.” Jawab Indra dengan yakin. Setelah itu mobil berjalan lagi meninggalkan kenangan indahku dan Rumah yang dulu sering aku kunjungi selama enam bulan terakhir.
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
__ADS_1
Terima kasih supportnya!!!