
Hari kedua selama kami di Bali, kami memutuskan untuk pergi ke daerah Uluwatu Bali setelah Laura memberikan beberapa opsi daerah tempat wisata di Bali, kami sedang menikmati sarapan mewah kami di Hotel, dan seperti biasa Indra menghabiskan banyak sekali makanan di pagi hari ini, dia menghabiskan satu piring nasi goreng dengan dua sosis sebagai tambahan lauknya, setelah itu dia mengambil satu piring dengan tiga omelet diatasnya dan terakhir dia mengambil 3 slice roti bakar dengan coklat sebagai selainya.
"Jodo kita bokol main air haro ini?" Tanya Indra kepada Laura dengan mulut yang penuh dengan roti bakar dan selai coklat yang menempel pada sisi bibir kanannya. "Ndra, habisin dulu makanannya baru ngomong." Ucapku sambil membersihkan selai coklat pada bibirnya, dia menelan roti bakarnya habis dan meminum air putih yang aku berikan kepadanya.
"Jadi hari ini kita bakal main Water Sport Kak?" Tanya Indra lagi kepada Laura. "Iya hari ini tempat wisata kita adalah Tanjung Benoa, disana kalian bisa main Water Sport seperti Banana Boat, Flying Fish, Jet Ski, atau mungkin kalian bisa juga main Intro Scuba Diving dan Sea Walker." Ucap Laura menjelaskan kepada kami yang membuat mata kami semua berbinar gembira.
"Jadi kalian semua jangan lupa bawa baju ganti dan baju renang, setelah agak siangan kita bisa ke GWK Bali (Garuda Wisnu Kencana) dan terakhir ke Pura Uluwatu Bali. Lanjut Laura, setelah kami semua sarapan, kami balik ke Kamar masing-masing untuk mempersiapkan diri di hari kedua liburan kami di Bali ini. Saat waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, kami para cewek keluar dari Kamar dan langsung menuju ke Lobi Utama bertemu dengan para cowok yang sudah menunggu di depan Lobi Utama.
Aku karena balik lagi ke Kamar karena lupa membawa handphoneku, berpapasan dengan Bara di dalam Lift dimana dia terlihat sangat gagah, dengan kaos berkancing dengan warna putih dan celana pendek berbahan jeans berwarna biru navi yang terlihat sangat pas di tubuhnya yang berisi dimana memperlihatkan lekuk tubuh dan ototnya.
__ADS_1
"Apa yang ketinggalan Sar?" Tanyanya saat kami berada di dalam Lift. "Handphoneku ketinggalan Mas, Mas Bara sendiri kenapa balik lagi ke Kamar? Ada yang ketinggalan?" Tanyaku balik. "Iya, kunci mobil ketinggalan, entah mengapa selama disini aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik, pikiranku selalu kemana-mana." Ucapnya dengan wajah yang terlihat serius.
Aku tidak tahu berkata apa-apa untuk membalas perkataannya, yang membuat suasana di Lift itu menjadi canggung dan terasa lama sekali untuk Lift ini bergerak dari Lantai Lima ke Lobi. "Sebelumnya aku pikir aku dapat memendam rasa ini, ternyata aku tidak bisa hmm dasar Bara bodoh." Ucapnya tersenyum lirih dengan perkataannya sendiri. "Aku harap aku dapat melakukan hal yang sama kepadamu seperti yang dia lakukan, menyentuhmu, membuatmu tertawa bahkan mendapatkan perhatian darimu hanya dengan membersihkan sesuatu dari wajahku, aku minta maaf Sar, sepertinya aku tidak bisa melupakanmu dan maaf aku melanggar janjiku untuk dapat melihatmu bahagia bersama orang lain." Ucapnya bersamaan dengan pintu Lift yang terbuka otomatis saat sudah sampai di Lobi, Bara pun langsung melangkahkan kakinya keluar Lift dengan sekali melihat kearahku tersenyum. "Aku akan memperjuangkanmu." Ucapnya sebelum benar-benar pergi meninggalkanku sendiri. Kenapa hatiku terasa sedikit pedih.
Di dalam mobil aku masih memikiran kata-kata Bara tadi selama di Lift, aku sesekali melihat kearah kaca spion di tengah mobil dimana Bara yang sesekali melihat kearahku dari sana. "Sayang." Panggil Indra yang menyadarkanku dari lamunanku. "Eh i...iya." Ucapku sedikit gugup. "Kamu lagi mikirin apa?" Tanyanya meneliti setiap ekspresi dari wajahku. "Hmm gak mikirin apa-apa kok Ndra, cuma sedikit ngantuk aja." Ucapku bohong.
"Hmm, bentar lagi kita sampai kok, dan kamu terlihat cantik hari ini, mungkin bukan hari ini tetapi setiap hari, apalagi waktu kita di Private Pool." Ucapnya berbisik di telingaku saat menyebutkan kata terakhirnya yang membuatku tersipu malu, dan tiba-tiba mobil berhenti mendadak membuat semua penumpang yang ada di dalam mobil terkejut. "Kenapa Bar?" Tanya Laura khawatir dan melihat kearah Bara serius. "Capek atau ngantuk ya Mas? Kalau capek biar aku gantiin gak pa-pa Mas." Ucap Edgar di belakangku dan Indra. "Enggak kok, maaf ya, tadi aku seperti lihat ada kucing lewat di depan mobil." Ucap Bara yang sempat melihatku lagi dari kaca spion mobil dengan wajah yang sedikit kesal.
Mobil kami sudah masuk kawasan Pakiran Tanjung Benoa, suasana hati kami yang tadi sebelumnnya sedikit takut langsung berubah excited saat melihat hamparan pasir putih yang disisir oleh Lautan yang berwarna biru muda, dengan keceriaan dan ketegangan para Wisatawan saat mereka menaiki berbagai wahana yang ada di Water Sport Tanjung Benoa ini.
__ADS_1
Kami langsung turun dengan cepat dari mobil, Laura sudah berada di pinggir Pantai untuk menyewa sebuah Pondok untuk kami meletakkan barang-barang kami, Semua cowok sudah melepaskan kaos ataupun kemeja yang mereka gunakan dan bersiap untuk bermain air sebentar sebelum mencoba wahana-wahana yang ada disini, sedangkan kami semua ceek mengganti pakaian kami di Ruang Ganti. Saat aku ingin balik ke Pondok, aku mencari Laura dan Alisha, tetapi tidak menemukan mereka, sehingga aku memutuskan untuk balik sendiri ke Pondok. "Halo Mbak." Panggil seorang Laki-Laki yang tidak aku kenal, aku melihat sekilas sosok tersebut.
Laki-Laki tersebut berperawakan tinggi dengan badan yang berisi, berkulit hitam dengan tato pada lengan kirinya dan berwajah seram yang membuatku sedikit takut, aku melangkahkan kakiku sedikit cepat, tetapi langkahku terhenti karena sosok tersebut berhenti di depanku dengan dua temannya yang lain. "Maaf Mas, Pak saya mau izin lewat, permisi." Ucapku sopan. "Kenapa harus buru-buru, Gadis Cantik seperti kamu harusnya tidak boleh jalan-jalan sendiri seperti ini, mau kita temani?" Ucapnya yang membuatku semakin takut. Indra aku takut.
"Maaf, saya mau lewat." Ucapku lagi dengan sedikit bergetar. "Kenapa harus buru-buru Gadis Manis, ayo ikut kita." Ucapnya, dia langsung menarik dan menggenggam tanganku dengan sangat kuat sehingga membuatku meringis kesakitan. "Tolong lepasin, tolong lepasin." Ucapku berontak dan tiba-tiba aku teringat akan masa laluku dulu waktu aku diculik oleh seorang Bapak-Bapak dengan janji membelikanku es krim, tetapi saat itu aku ditolong oleh Ibuku dan Dave, tetapi sekarang apa yang harus aku lakukan. Ibu tolong Sarah. "BUGH!" Aku mendengarkan suara pukulan yang sangat keras yang membuatku membuka mataku dan melihat orang yang membuat Preman tersebut melepaskan genggaman tangannya dengan pukulannya. Mas Bara.
BERSAMBUNG.
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
__ADS_1
Terima kasih supportnya!!!
JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR!