Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
SENTUHAN


__ADS_3

"Mereka yang tidak tersentuh karena cinta, adalah orang-orang yang berjalan di dalam gelap gulita. Dan pada sentuhan cinta, setiap orang jadi penyair." - Plato.


Samar-samar Laki-Laki itu menjulurkan lidahnya dan berbisik. "Aku tidak tahu apakah ini sebuah keuntungan atau kesialan untukku, setelah dua puluh tahun ini aku memendam dendam kepadamu dan sekarang aku malah bertemu denganmu, aku tidak tahu obsesi ini adalah obsesi ingin menghancurkanmu atau menginginkanmu, kamu membuatku gila, Bocah."


Laki-Laki itu membenamkan wajahnya ke leherku, membelai dengan ujung hidungnya. Dari bawah telinga bergerak ke pundak, menghisap pelan di sana. Tangan-tangannya meremas bagian sensitif pada bagian dadaku, meraba agresif lekuk-lekuk tubuhku yang bergeliatan dibawah kuasanya.


Aku menahan rasa itu dengan membenamkan wajahku pada lengan kekarnya. "Akh. Hah!" Desahku tertahan. "Kamu, di luar kesadaran menebarkan candu yang tidak dapat aku hindari." Ucapnya sebuah kecupan hangat yang akan menjadi merah pada leher jenjangku. "Bergerak dan merintih seperti ini di atas tempat tidurku, bagaimana aku bisa menahan diriku." Ucapnya lagi.


Aku meneguk ludah dan mencengkram rambut tipisnya yang seperti baru dipotong untuk meminta sesuatu yang lebih. " A...aku mohon." Ucapku, dia membuka pertahanan terakhir bagian atasku dengan satu kali gerakan, membuat tubuh bagian atasku terlihat polos, membuatnya denga leluasa menjamah seluruh bagian atasku termasuk bagian sensitifku. "Akh!" Desahku sambil mengeliat dengan tubuh melengkung ke atas.


"Berapa, berapa tarifmu Sarah?" Tangannya mulai bergerilya untuk membuka rok abu-abuku. "Jawab Sarah, ini bukan hanya sekedar menyentuh, aku yakin sekali kamu sudah berpengalaman dalam hal-hal seperti ini atau haruskah aku membuktikannya sendiri." Ucapnya membuat tenggorokanku terasa kering.


Entah sejak kapan, dia membebaskan rokku dari bagian pinggulku, hanya meninggalkan pertahanan terakhir yang menutupi bagian paling sensitifku. Tubuhku terasa panas, lembap dan berkeringat. Dia menahan daguku. "Sarah?" Ucapnya, tetapi aku tidak menjawab membuatnya dengan cepat mengecap bibirku, menempel bergesekan dengan napas hangat saling menyapu.

__ADS_1


Aku mengangkat wajahku dengan bibir sedikit terbuka membuat lidahnya mencoba berpagut dengan lidahku. Tiba-tiba Laki-Laki itu bergerak turun mengecap seluruh lekuk tubuhku, mengecup dengan sedikit kasar bagian sensitif atasku dengan tangannya merangkul pinggulku membuatku melengkungkan tubuhku dengan satu kakiku yang tertekuk. Tak ada lagi jarak antara kedua tubuh.


"Sarah." Bisik lembut dari Laki-Laki itu yang pertama kali kudengar dan tidak pernah ada yang memanggil namaku sedalam itu. Laki-Laki itu menekan pinggulnya maju bersamaan dengan menarik pinggulku kearahnya, sehingga menggesekkan sesuau darinya yang masih tertutupi celana hitamnya dengan bagian sensitifku.


"Akh!" Eranganku dengan bibir yang kugigit sendiri. "Bocah, selain aku siapa yang pernah melakukan ini padamu." Ucapnya, aku tidak menggubris kata-katanya, aku hanya menggerak-gerakkan pinggulku, memberikan tekanan ke bagian mana saja yang memberikan rasa nikmat.


Dengan tangan gemetaran aku meraba kain yang menutupi mahkotaku, aku merasakan jari-jari lain yang bergerak pada punggung tanganku, mencoba menyusupi celah sempit pada kain penutupku membuatku dengan spontan melengkungkan kembali tubuhku dengan mata setengah terpejam.


"Shit, jawab siapa selain aku yang pernah melakukan ini padamu." Ucapnya bersamaan dengan jari-jari yang terus menggeliat dibawah sana, bergerak mengesekkan sesuatu yang membuatku hampir meledak. "Sarah, lihat aku." Laki-Laki itu membawa wajahku untuk menatapnya, bertemu dengan sorot mataku yang sedikit berlinang air mata.


Cahaya matahari yang hangat menyentuh lembut wajahku yang membuatku dengan terpaksa membuka mataku. Aku mendudukkan diriku di tepi ranjang mencoba untuk mengumpulkan jiwaku yang masih belum sepenuhnya kembali, aku merasakan sedikit pusing pada kepalaku.


Aku mencoba berdiri untuk mencari handphoneku dan saat itu aku merasa bingung, mengerjapkan mataku berkali-kali karena terkejut dengan kondisi Ruangan tempatku berdiri sekarang. Aku dimana. aku melihat tasku berada di lantai dengan seragam sekolahku dan braku.

__ADS_1


Aku langsung melihat tubuhku dimana aku menggunakan sebuah kemeja putih lengan panjang yang kacingnya terkancing semua. Air mataku hampir menetes, aku hanya berharap apa yang ada dipikiranku benar-benar tidak terjadi. Aku mohon aku tidak melakukan hal bodoh semalam.


Aku memungut satu persatu bajuku dan langsung menggunakannya. Tiba-tiba suara pintu yang terbuka membuatku menoleh kearah pintu, beberapa Pelayan membawa troli yang berisikan makanan, aku hanya menoleh sekilas dan tidak tertarik. Setelah itu mereka keluar yang membuatku menatap pintu kembali dan dengan terkejut melihat sosok Laki-Laki dengan setelan jas hitamnya, tatapan tajam dan dinginnya membuatku mematung dengan sendirinya. Angkasa Pratama.


Dia mendekatiku yang masih berdiri mematung dengan seragam sekolah yang ada di tanganku. "Bagaimana tidurmu?" Tanyanya, tangannya mulai menyentuh pipiku yang membuatku tersentak dan mundur beberap langkah dengan air mata yang berlinang. "A...apa yang telah kamu lakukan?" Tanyaku bergetar. Aku mohon katakan bahwa kamu tidak melakukan apa-apa.


"Menurutmu apa yang telah kita lakukan?" Ucapnya dengan santainya dan melangkah menuju troli makanan yang dibawa Pelayan tadi. Dia mengambil satu cangkir kopi dan duduk di sofa berwarna abu-abu dan menghisap kopi itu secara perlahan.


Melihat diriku yang masih mematung dengan air mata yang berlinang, dia akhirnya meletakkan kopi itu diatas meja kecil dan berkata kepadaku. "Tenang saja Bocah, aku bukanlah Laki-Laki berengsek yang mengambil kesempatan untuk membobol mahkotamu di saat kamu sedang mendesah dan menyentuh dirimu sendiri dalam keadaan mabuk diatas tempat tidurku." Ucapnya membuatku sedikit bernapas lega.


"A...apakah kamu menyentuhku?" Tanyaku gugup. "Hanya sedikit." Ucapnya. "Apa?" Tanyaku terkejut. "Kamu yang menggodaku, Bocah. Aku bukanlah seseorang yang dapat menahan nafsu melihat tubuhmu itu meliuk dengan menggesek-gesekkannya ke tubuhku dan memohon meminta lebih." Ucapnya.


"A...apa yang kamu lakukan?" Tanyaku. "Kamu masih bisa merasakan kedua kakimu? Artinya aku belum mengisi mahkotamu yang sempit dan belum terjamah itu." Ucapnya lagi, aku hanya tertunduk dan berkata pelan. "Terima kasih banyak." Aku sekilas melihat wajahnya yang dingin itu menunjukkan senyuman tipis di wajahnya. Dia berdiri dari tempat duduknya dan merapikan jasnya. "Lain kali berhati-hatilah dengan apa yang masuk ke dalam mulutmu, Bocah, kamu masih beruntung untuk semalam, tidak tahu apa yang akan terjadi apabila kebodohanmu terulang lagi." Ucapnya.

__ADS_1


Saat dia sudah berada di depan pintu yang mau tertutup dengan sendirinya, dia berhenti sebentar. "Bersihkan tubuhmu di dalam kamar mandiku, semua sudah ada disana termasuk seragam sekolahmu yang baru, makan sarapanmu, setelah itu akan ada sopir yang akan mengantarkanmu pulang." Ucapnya tegas dan berlalu meninggalkanku sendiri di dalam Kamarnya.


BERSAMBUNG.


__ADS_2