
FOLLOW AUTHOR DAN JANGAN LUPA UNTUK VOTE KISAH SARAH YA GUYS!!! BIAR TAMBAH SEMANGAT!!!
"Restu itu tidak kita dapatkan, hanya karena Orang Tua belum tahu yang sebenarnya. Kita hanya perlu membuat semuanya menjadi jelas, agar mereka bisa memahami apa yang kita rasakan."
"Tadi telepon dari siapa?" Tanyaku. "Dari, dari Kak Laura bilang kalau Mama masuk Rumah Sakit dalam kondisi kritis sekarang, karena stroke." Ucapnya sedih. "Kita ke Rumah Sakit Sekarang." Ucapku menarik tangannya. Kami keluar dari Ruang Rapat tersebut dengan tergesa-gesa, kami mengambil tas di Kelas kami masing-masing dan meminta izin kepada Guru.
"Ndra, lo mau kemana?" Teriak Edgar melihat sahabatnya yang pergi terburu-buru, tetapi Indra tidak menghiraukannya. "Ndra, cerita sama gua, lo lagi ada masalah apa? Terus lo mau pergi naik apa? Kemana mobil lo?" Tanya Edgar dengan sedikit ngos-ngosan, karena mengejar sahabatnya itu sampai ke depan Pintu Gerbang. "Sorry Gar, gua gak bisa cerita sekarang." Ucap Indra ingin menghindari Edgar.
"Come on Ndra, gua ini sahabat lo, apa lo masih belum percaya sama gua?" Ucap Edgar menahan Indra dengan merentangkan kedua tangannya. Indra melihat kearahku yang berada disampingnya, aku menganggukkan kepalaku untuk memperbolehkannya mengatakan hal ini kepada Edgar. "Mama...Mama masuk Rumah Sakit Gar." Ucap Indra dengan raut wajah cemas, khawatir dan bercampur sedih.
"Oke, lo tunggu disini sama Sarah, gua bakal anterin lo, tunggu disini lima menit." Edgar langsung belari masuk lagi ke dalam Sekolah, mungkin untuk mengambil peralatan Sekolah dan Mobilnya. Aku menggenggam tangan Indra yang terasa sedikit gemetaran. "Bagaimana kalau aku sampai terlambat Sar, ini semua salahku." Ucap Indra tertunduk, aku menarik kepalanya untuk bersandar di pundakku.
"Semua akan baik-baik saja Kak, itu kan yang selalu Kakak katakan kepadaku disaat aku risau? Kita doakan Mamanya Kak Indra akan baik-baik saja, dan." Aku mengangkat kepalanya dan menangkup kedua sisi wajahnya dengan kedua telapak tanganku. "Kakak harus minta maaf sama Mama dan Papa ya, walau bagaimanapun mereka adalah Orang Tua Kakak, yang sudah melahirkan dan membesarkan Kak Indra menjadi orang yang sangat aku kagumi sekarang ini." Ucapku berusaha membuat orang tersayangku ini tersenyum. "Terima kasih, selalu ada di sisiku Sarah." Dia mengeup keningku lembut.
__ADS_1
Suara klakson mobil Edgar membuat kami tersadar akan keadaan sekitar. "Ayo cepetan, malah pacaran." Teriak Edgar dari dalam mobilnya, aku dan Indra pun langsung masuk ke dalam mobil Edgar, setelah itu Indra memberitahukan alamat Rumah Sakit tempat Mamanya di rawat, mobil Edgar melaju sedikit cepat ditengah keramaian Jalanan Ibukota.
Setibanya kami di Rumah Sakit setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, dan Edgar memarkirkan mobilnya di Area Parkiran Rumah Sakit, kami berjalan dengan cepat masuk ke dalam Rumah Sakit, Indra sudah tahu Ruangan tempat Mamanya di rawat, jadi kami tidak perlu lagi menanyakan ke Pusat Informasi Rumah Sakit, Indra melangkahkan kakinya lebih cepat daripada aku dan Egar yang berada di belakangnya.
Setelah terlihat Kamar dengan nomor Ruangan 306, Indra pun langsung masuk ke dalam Ruangan tersebut, aku menahan tangan Edgar yang ingin menyusul masuk ke dalam Ruangan tersebut. "Kak, kita tunggu disini dulu saja, biarkan Kak Indra di dalam bersama keluarganya." Ucapku dan dijawab anggukan oleh Edgar. "Kamu harus ceritakan semua ini kepada gua Sarah, apa yang sebenarnya terjadi dengan Indra." Ucap Edgar menatap lekat kearahku.
Kami pun duduk di tempat menunggu pasien di depan Rung Pasien 306 itu, aku menghembuskan napasku berat, menyenderkan tubuhku pada bangku berwarna hitam tersebut, aku menceritakan semuanya saat Indra pergi dari Rumahnya karena lebih memilih diriku, dan Indra sudah tinggal di Panti Asuhan dan kerja part time sebagai Barista di coffee shop.
"Kamu!" Ucap Papa Indra menunjukkan jari telunjuknya kearahku, membuatku mundur lebih takut lagi. Kak Indra. "Om saya bisa jelaskan terlebih dahulu." Ucap Edgar kepada Papa Indra. "Kamu diam Gar, jangan ikut campur dulu urusan keluarga Om." Teriak Papanya Indra. "Dan kamu, saya kasih tahu saya Doni Chandra Kusuma, jangan sebut nama saya kalau saya tidak bisa menghancurkan hidup kamu, kalau kamu masih berani menunjukkan wajah kamu di depan saya." Teriak Om Doni, yang membuat beberapa Keluarga Pasien di Lorong Rumah Sakit tersebut mengalihkan perhatian mereka kepada kami. Apa yang harus aku lakukan.
"Maaf Pak, tolong hargai Pasien lain yang sedang beristirahat." Ucap salah satu Suster yang mendekati kami karena suara keras dari Om Doni. Tatapan Om Doni masih tajam melihat kearahku, tanpa menghiraukan perkataan dari Suster tersebut. Kak Indra, apa yang harus aku lakukan.
Aku melihat kearah Edgar, memberikanku isyarat untuk pergi dulu, aku pun membalikkan tubuhku dan berjalan sangat cepat menuju ke Pintu Keluar Rumah Sakit, sambil berjalaan tidak terasa air mataku menetes secara perlahan, aku mengambil handphoneku dan mencoba menelpon Kak Indra. Angkat Kak, tolong katakan apa yang harus aku lakukan. Tiba-tiba saja hujan turun dengan sedikit deras diluar.
__ADS_1
"BRUK!" Aku dengan tidak sengaja menabrak seseorang. "Sarah?" Suara seseorang Laki-Laki di depanku yang masih kabur di penglihatanku, karena semakin banyaknya air mata di sekitar mataku. Mas Bara. "Apa yang kamu lakukan disini? Dan mengapa kamu menangis?" Tanyanya terlihat khawatir. "A...aku." Ucapku terbata-bata dan ragu untuk mengatakan hal ini kepadanya.
"Sudah, ayo kita berteduh dulu." Ucap Mas Bara sambil melepaskan jaketnya dan melindungi tubuhku yang sedikit basah, aku dan Mas Bara pun berlari ke arah Food Court di dalam Rumah Sakit tersebut. Mas Bara meninggalkan setelah aku duduk di salah satu Meja Makan, dia menuju ke salah satu konter makanan untuk memesankan minuman hangat untukku dan dirinya.
"Ini." Ucap Mas Bara memberian satu gelas susu hangat ditangan kananny. "Terima kasih Mas." Ucapku dan mengisap sedikit susu coklat tersebut untuk menghangatkan tubuhku. "Apa yang sebenarnya terjadi Sarah? Dan mengapa kamu menangis?" Tanya Mas Bara dengan seragam Pilot yang sedikit basah pada tubuhnya karena memberikan jaketnya kepadaku.
Aku menangis tersedu di tempatku duduk, menundukkan kepalaku, melihat satu gelas susu hangat itu yang berada dalam dekapan kedua telapak tanganku. Mas Bara beridiri dari tempat duduknya dan berjalan pelan berdiri di sebelahku. "Menangislah, keluarkan kesedihanmu, kamu tidak perlu malu, ada aku disini." Ucap Mas Bara menempatkan kepalaku dalam dekapannya, dia mengelus lembut rambutku dengan aku yang sedang menangis pada tubuhnya, tanpa kusadari ada seseorang yang sedang melihat keadaan kami.
BERSAMBUNG
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!
__ADS_1