
Setelah pulang dari Panti dan berpamitan dengan Ibu Aisyah dan Adik-Adikku di Panti, kami sampai di Rumah Angkasa yang besar dengan design khas Eropa yang memiiki taman besar di depan Rumahnya. Aku di antar oleh Angkasa menuju ke sebuah Kamar dengan nuansa warna biru laut di setiap sudut Kamar tersebut.
"Ini adalah Kamarmu, Kamarku berada di depan sana." Ucap Angkasa menujuk ke sebuah Kamar di depan Kamarku yang saling berhadapan dengan Kamarnya. "Terima kasih." Ucapku yang membuatnya mengecup keningku lembut.
"Sekarang istirahatlah, kamu sudah terlalu lelah menjalani hari ini." Ucapnya kepadaku dan aku mengangukkan kepalaku. Setelah itu Angkasa pergi meninggalkanku sendiri di dalam Kamar yang berkali-kali lipat lebih besar dari Kamarku yang ada di Panti. Aku merebahkan tubuhku di atas kasur besar dan lembut. Apa yang harus aku lakukan sekarang.
Aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku yang lengket karena aktifitas hari ini, aku masuk ke dalam Kamar Mandi yang berisikan sebuah bathtub, shower dan peralatan-peralataan mandi yang sudah di sediakan oleh Angkasa untukku.
Aku menanggalkan pakaianku dan memasukkannya ke dalam sebuah tempat yang aku yakini sebagai tempat baju kotor dan masuk ke dalam ruangan kaca transparan yang terdapat sebuah shower di sudut ruangannya, aku mengatur suhu air yang di keluarkan oleh shower tersebut dengan suhu hangat yang dapat diterima oleh tubuh lelahku ini.
Aku merasakan sentuhan air hangat tersebut menyentuh tubuhku yang lelah dan berharap semua beban pikiranku ikut menguap bersama uapan air hangat yang sudah mulai mengembun di dinding-dinding kaca di sekitarku. Setelah membersihkan tubuhku cukup lama dan mengeringkan rambutku dengan sebuah handuk kecil, aku membuka lemari besar yang ada di depan Kamar Mandi.
Aku melihat isi di dalam Lemari itu yang lebih seperti sebuah Ruangan kecil yang berisikan barang-barang wanita, seperti sepatu, dress, topi, kaca mata, bahkan di sudut Ruangan terdapat sebuah meja rias yang berisikan alat-alat make up dan berbagai parfum mahal disana. Apakah dia memang sudah menyiapkan semua ini untukku, atau memang Kamar ini adalah untuk para Wanitanya.
__ADS_1
Pikiranku berkecamuk dengan praduga-praduga negatif tentang kehidupan Angkasa yang belum sepenuhnya aku kenali. Selama kurang lebih lima menit aku berdiri di tengah Ruangan dengan pikiran yang terbang entah kemana, aku memutuskan mengambil sebuah baju tidur berwarna merah yang membuatku menggeleng-gelengkan kepalaku karena semua baju tidur di dalam lemari itu bermodel hampir sama dengan potongan yang dapat menunjukkan lekuk tubuh dengan satu tali di pundaknya dan tinggi diatas lutut.
Aku masih bisa bernafas lega karena baju tidur merah yang aku pegang ditanganku sekarang masih mempunyai kimono dengan warna yang sama, sehingga dapat menutupi lekuk tubuhku karena baju tidur itu. Setelah selesai menggunakan baju tidur itu, aku pun melangkahkan kakiku keluar dari Ruangan itu dan menuju tempat tidur.
Saat berada di luar Ruangan yang penuh dengan perlengkapan-perlengkapan wanita itu, aku berdiri mematung melihat Angkasa yang sudah duduk santai di atas tempat tidurku dengan menyenderkan punggung kokohnya pada kepala tempat tidur. Dia menggunakan sebuah kaca mata baca dengan buku di tangannya dan yang lebih mengagetkanku, dia menggunakan baju tidur yang warnanya senada dengan baju tidurku. Apa yang dia lakukan disini.
Angkasa yang merasakan kehadirannku, melepaskan kaca matanya dan meletakannya di nakas sebelah tempat tidur beserta buku yang di bacanya. "Sayang." Panggilnya memberikan isyarat untuk mendekatinya, tetapi tubuhku masih belum memberikan respon untuk bergerak ke arahnya.
"Sarah." Panggilnya lagi penuh penekanan yang membuatku dengan sedikit terkejut langsung mendekatinya perlahan. Aku duduk di sisi sudut tempat tidur bersebrangan dengannya yang sekarang sedang melihat gerak gerikku.
Aku terkejut saat tubuhku diangkat oleh tangan kekar Angkasa dan memindahkan tubuhku duduk diantara kedua kakinya. "Kassa." Ucapku terkejut memanggil namanya karena perbuatannya yang mendadak itu, aku tidak coba melawan hanya mencoba mengikuti apa yang diinginkan oleh seorang Angkasa dengan tubuhku yang tegang dan sekarang.
"Aku hanya ingin memelukmu." Ucapnya dari belakang tengkuk leherku yang membuatku sedikit geli. Dia melingkarkan tangannya pada perut rataku dan membuatku menyenderkan tubuh dan kepalaku pada dada bidangnya. "Aku minta maaf atas sikap burukku selama ini kepadamu dan ini pertama kalinya aku meminta maaf kepada seseorang." Ucapnya yang sekarang sedang sibuk mengecup dan menghirup aroma pada sisi leher sebelah kananku.
__ADS_1
Dia meletakkan dagunya pada pundak kananku. "Katakanlah sesuatu." Ucapnya, aku mendengar suara degup jantungnya yang cepat. "Bisakah aku mempercayaimu?" Tanyaku kepadanya. "Tentu Sayang, aku bersungguh-sungguh dengan kata-kataku." Ucapnya memperat pelukannya kepadaku.
"Aku benar-benar jatuh cinta kepadamu Sarah, kamu benar-benar sudah menaklukkanku." Angkasa menarik daguku lembut mendekatkan wajahnya kepadaku, mengikis jarak bibirnya dengan bibirku, Angkasa mulai menghisap bibir bawahku dengan begitu lembut dan penuh perasaan.
Dia menyapu bibir tipisku dengan lidahnya membuatku memejamkan mata dan membuka sedikit bibirku. Angkasa tidak mau menyia-nyiakan hal itu, dia memasukkan lidah nakalnya ke dalam mulutku dengan tangan yang memegang tengkuk leherku seakan tidak memperbolehkanku menjauh darinya.
Lidahnya mengabsen setiap deretan gigi putihku, lidahnya terus berusaha melilit lidahku membuatku membalas perlakuan lidahnya. Saliva kami saling bertukar yang bahkan membasahi setiap sudut bibirku, jari-jari besarnya dipautkan dengan jari-jariku, saling terjalin dan saling menggenggam.
Aku melepaskan ciumanku karena kehabisan napas oleh ciumannya, dia tersenyum melihatku yang tersengal-sengal karena kehabisan napas, ibu jarinya membersihkan saliva yang ada di sekitar bibirku. Jantungku masih berdegup kencang karena hal intim yang kami lakukan tadi. "Kassa hmm maksudku Sayang, aku lapar." Ucapku mengalihkan pikiranku dengan hal lain, menahan sesuatu yang sudah keras dibalik punggungku.
Dia tersenyum dan mengambil teleponnya di atas nakas. "Bawa makan malam kesini." Ucap Angkasa kepada seseorang di seberang telepon, setelah itu dia menutupnya dan memelukku lagi dengan erat pada tubuhnya. Tidak lama kemudian pintu Kamarku di ketuk oleh seseorang dari luar membuat Angkasa langsung menutup tubuhku sampai ke kepala dengan selimut yang ada di atas tempat tidur.
Aku mendengar ada beberapa Pelayan Angkasa masuk membawakan beberapa troli makanan ke dalam Kamarku dan meletakkannya di sebelah tempat tidur. Setelah aku mendengar pintu tertutup, barulah Angkasa menarik selimut yang menutupi diriku. "Mengapa kamu menutupku seperti itu?" Tanyaku melihat ke arahnya. "Aku tidak suka orang-orang melihat Kekasihku, apalagi dengan baju seperti ini, hanya aku yang boleh melihatnya." Ucapnya yang membuatku merona merah karena keposesifannya itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG.