Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#21 WP?S2


__ADS_3

Angkasa membujuk Kakeknya untuk mau dirawat di Rumah Sakit, namun pria tua itu bersikeras menolak karena Kakek Angkasa merasa sakitnya tidaklah parah sehingga beliau merasa tidak perlu sampai dibawa ke Rumah Sakit dan juga Kakek Angkasa tidak menyukai suasana Rumah Sakit.


Angkasa akhirnya mengalah dan memanggil Dokter Keluarga Pratama untuk memeriksa kondisi kesehatan Kakeknya. "Sayang." Panggilku kepada Angkasa di saat kami sedang menunggu Dokter tersebut memasang selang infus pada lengan kiri Kakek.


"Iya." Jawabnya. "Hmm aku ingin merawat Kakek disini dan mungkin tinggal disini sementara." Ucapku kepada Angkasa, dia melihatku lekat. "Kamu yakin?" Tanyanya lagi. "Aku yakin, karena aku tidak bisa melihat Kakek disini sendiri dengan kondisi yang sedang tidak sehat seperti ini, jadi izinkan aku buat menginap disini merawat Kakek ya?." Ucapku kepada Angkasa yang tiba-tiba langsung memelukku.


"Kamu benar-benar meyakinkaku bahwa aku tidak salah memilih Malaikat bersayap yang akan menemani sisa hidupku, terima kasih." Ucap Angkasa dengan mengecup keningku lembut. Setelah Dokter Keluarga Pratama memasang selang infus kepada Kakek dan memberikan beberapa obat, aku berinisiatif untuk menyuapi Kakek Angkasa yang sekarang sedang terlihat sangat lahap memakan suapan yang aku berikan.


"Anak nakal, kamu tidak perlu memasang muka ingin membunuh Kakekmu ini hanya karena Calon Istrimu menyuapi Kakek seperti ini." Ucap Kakek Angkasa yang sedang menyenderkan tubuhnya pada kepala tempat tidur. "Hmm." Ucap Angkasa dengan penuh penekanan tetapi tidak dapat berbuat apa-apa membuatku hanya bisa tersenyum kecil dan menggleng-gelengkan kepalaku melihat kelakuan Angkasa seperti ini.


"Nak." Panggil Kakek Angkasa saat aku sedang meletakkan piring yang sudah kosong dan mau mengambilkan satu gelas air putih untuknya. "Kassa mengatakan kamu mau menginap disini untuk merawat Pria Tua ini." Ucap Kakek Angkasa lembut kepadaku.


"Iya Kek, mohon izinkan Sarah untuk merawat Kakek sampai Kakek sehat kembali." Ucapku dengan sedikit memohon. Dia tersenyum lembut kepadaku membuat hatiku terasa hangat. "Terima kasih Nak, Kakek sangat beruntung akan mendapatkan Cucu sebaik dan berhati mulia seperti kamu." Ucapnya mengusap punggung tanganku lembut. "Sama-sama Kek, hanya ini yang bisa Sarah lakukan untuk kebaikan Kakek karena mau menerima Sarah disini." Ucapku berusaha menahan air mataku. Setelah itu aku memberikan satu gelas air putih dan obat dari Dokter kepada Kakek Angkasa.

__ADS_1


"Kalian bisa tidur di Kamar sebelah Kamar Kakek, tidur satu kamar saja, itu akan sangat baik untuk hubungan sepasang Kekasih." Ucap Kakek Angkasa yang membuatku sedikit terkejut, sedangkan Angkasa yang ada di belakangku tersenyum dengan seringai kecilnya yang menakutkanku. Setelah itu kami meinggalkan Kakek Angkasa untuk beristirahat.


....


Terhitung sudah lima hari aku dan Angkasa menginap di Rumah Kakeknya, dimana selama lima hari itu juga pada siang hari aku diminta Angkasa untuk bertemu dengan Debora yang diminta Angkasa untuk mengurusi acara pertunangan kami karena Debora sendiri mempunyai sebuah tempat pusat kecantikan yang bernama D'Beauty.


D'Beauty sendiri merupakan pusat kecantikan dan fashion yang biasa dibicarakan TV atau majalah-majalah, tempat orang-orang kaya, sosialita bahkan artis merawat diri dan penampilan mereka. Aku turun dari mobil dan memandang sebentar bangunan bertingkat dihadapanku yang berdiri dengan megah.


Jujur saat aku masuk ke dalam bangunan itu, aku merasa malu ketika melihat penampilan-penampilan orang-orang yang keluar masuk bangunan ini dengan high fashion style yang ada pada setiap inci tubuh mereka. "Kak Sarah." Suara teriakan Debora yang sudah terdengar saat aku baru saja masuk ke dalam pusat kecantikan miliknya.


Setelah berjam-jam lamanya yang aku sendiri tidak tahu apa saja perawatan yang dilakukan oleh Debora kepadaku dari ujung kepala sampai ujung kakiku. Setiap aku kesini Debora sendirilah yang menangani perawatan untukku, karena dia sudah diberi peringatan oleh Angkasa bahwa tidak ada yang boleh menyentuhku selain Debora sendiri atau dia akan menghancurkan D'Beauty sampai rata dengan tanah.


Debora memang Bos di D'Beauty namun bagaimana pun D'Beauty adalah anak perusahaan Pratama Group, jadi jabatan Bos besar masih dipegang oleh Angkasa. Angkasa dan Debora bekerja sama bukan karena semata-mata Debora adalah adik sepupunya, tetapi karena Debora sangat berbakat, dia adalah seorang Make Up Artist dan juga Designer papan atas.

__ADS_1


Aku melihat ke depan cermin, menatap seorang Wanita dengan rambut panjang yang sedikit dibuat bergelombang dan berkilau, kulit yang terlihat semakiin putih dan lembut seperti porselen mahal, bibir tipis sedikit berwarna merah dan kedua pipi yang bersemu. Gaun berwarna putih yang ketat memperlihatkan sedikit lekuk tubuh dengan panjang sepaha dan high heels berwarna hitam pada kakinya.


"Wah, Kak Sarah cantik sekali, aku ingin menjadikan Kakak model untuk menjadi Brand Ambassador D'Beauty, mau ya Kak?" Ucap Debora dengan sedikit berteriak. "Ha? Model? Aku tidak bisa Debora, aku bukan seorang Model." Ucapku dengan sedikit ketakutan sekarang. "Ayolah Kak, Kakak sangat cocok dengan image D'Beauty, image mempesona dan seksi tetapi tetap masih terlihat polos dan murni." Ucap Debora mencoba merayuku. Bagaimana ini.


"Hmm, mungkin sebaiknya kamu menanyakan hal itu kepada Kassa." Ucapku kepada Debora dan berharap dalam hati agar Angkasa tidak menyutujuinya. Debora terlihat berpikir dan berjalan bolak-balik mendengar saran yang aku katakan tadi. "Baiklah aku akan mencoba menelpon Kak Kassa, walaupun ini akan sangat beresiko." Ucap Debora dengan mengeluarkan handphonenya.


Sebelum dia menelpon Angkasa, Debora mengambil fotoku terlebih dahulu dan mengirimkannya kepada Angkasa. Debora masuk ke dalam sebuah Ruangan yang aku yakini sebagai Kantor pribadinya, aku duduk di atas sofa berwarna hitam, melihat ke sekeliling Ruangan yang kosong dan hanya ada beberapa Karyawan D'Beauty yang lewat mondar-mandir di depanku dengan sekali melirik ke arahku dengan senyuman pada wajah mereka.


Setelah kurang lebih 15 menit Debora menelpon Angkasa, dia keluar dari Kantor pribadinya dengan raut wajah yang sulit aku tebak. Dia mengambil tempat duduk di sebelahku dan menghembuskan napasnya berat. "Ja...jadi bagaimana?" Tanyaku dengan sedikit gugup.


"Hmmm Laki-Laki posesif itu sama sekali tidak memberikan izin untukku menjadikanmu Brand Ambassador D'Beauty Kak, apalagi setelah dia melihat fotomu yang aku kirimkan kepadanya, membuatnya langsung mematikan teleponku tanpa berkata apa-apa." Ucap Debora yang terlihat kecewa dan menyenderkan tubuhnya ke kepala sofa.


Aku merasa senang dengan jawaban yang Angkasa berikan kepada Debora, tetapi dalam hati kecilku, aku merasa tidak enak hati karena membuat Debora menjadi kecewa seperti ini. Setelah itu aku izin dengan Debora untuk balik ke Rumah Kakek karena merasa aku telah meninggalkan Kakek sendiri di Rumah terlalu lama, sedangkan Angkasa  sendiri sedang pergi bekerja.

__ADS_1


Saat aku keluar dari bangunan D'Beauty aku terkejut melihat Angkasa yang sudah berdiri di samping mobil sport berwarna merahnya. Dia melangkah dengan cepat ke arahku sambil melepaskan jas hitam yang digunakannya, saat dia sudah berdiri di depanku, dapat aku lihat raut wajahnya yang sedikit marah dan jas yang dilepaskannya tadi langsung dia gunakan untuk menutupi kepala dan tubuhku. "Seharusnya aku tidak membawamu kesini, dirimu yang terlihat seperti ini malah membuat semua orang menatapmu yang membuatku sama sekali tidak suka." Ucap Angkasa.


BERSAMBUNG.


__ADS_2