Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
CATATAN HATI SANG KEKASIH


__ADS_3

VOTE KISAHKU INI DAN FOLLOW AUTHOR YA READERS. TERIMA KASIH!!! :)


"Apa yang kamu minta?" Tanyanya lembut, aku menghembuskan napasku berat. "Aku mohon jangan tinggalkan aku." Ucapku melihat kearahnya, dia tersenyum dan mengecupkan bibirnya di keningku. "Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku akan selalu ada disini." Ucapnya meletakkan tangannya pada bagian dadaku. Aku langsung memeluknya dan membenamkan kepalaku pada dadanya, dia pun memelukku erat, mencium pucuk kepalaku berkali-kali. "Tepati janjimu." Ucapku dengan suara terbenam pada dadanya, tetapi aku yakin dia dapat mendengarnya.


Percakapanku dengan Indra saat kami sedang duduk berdua saat liburan terakhir di Bali waktu itu tiba-tiba muncul dengan sendirinya di pikiranku. Aku hanya berharap apa yang aku takutkan tidak akan terjadi, aku berharap Indra tidak melakukan hal-hal bodoh yang dapat membahayakan dirinya.


Aku sedang menunggu Indra yang sedang memebersihkan tubuhnya, dan dengan tumbennya dia berada di dalam Kamar Mandi dalam waktu yang lama tidak seperti biasanya. Sambil menunggunya selesai membersihkan diri, aku melihat-lihat ke sekeliling Kamar Indra yang banyak di dominasi oleh poster-poster Tim Basket kesukaannya.


Mataku tertuju ke sebuah buku berwarna coklat diatas meja belajarnya yang belum pernah aku lhat, aku mengambil dan membuka halaman pertama buku tersebut yang membuatku tersenyum malu karena dia memasang fotoku saat aku sedang melakukan Masa Orientasi Siswa di SMA XYZ, foto itu diambil saat aku sedang melakukan perkenalan diri di depan Kakak Kelas yang lainnya. Aku membaca isi buku yang merupakan curahan hati Indra dengan perlahan.


Masalah perasaan memanglah sangat membingungkan, tentang perbedaan pendapat antara naluri dan logika sering sekali terjadi. Aku bingung apa yang sebenarnya sedang aku rasakan ini, aku takut memiliki rasa yang lebih dengan Gadis itu.


Gadis itu memperkenalkan dirinya dengan cukup percaya diri yang aku tahu hanya berpura-pura agar dapat terlihat kuat di depan orang banyak, padahal kakinya sendiri sedang bergetar hebat karena ketakutan, dia menyebutkan namanya Sarah Gibran, nama yang selalu akan kuingat SARAH GIBRAN.


Jiwa-jiwa nakal dan jahilku pun aku keluarkan hanya untuk dapat mendekatinya, mengenalnya lebih dekat. dimana akhirnya aku dapat melihat mata yang sedari tadi mengganggu konsentrasiku, aku dapat melihat dengan jelas bibir tipisnya, dan kulitnya yang terlihat putih dan halus. Aku merasakan degup jantung yang berbeda saat aku mengikat rambut panjangnya yang lembut, dalam sepersekian detik itu aku dapat mencium wangi tubuhnya yang membuat darahku berdesir dengan cepat.


Dan betapa bodohnya aku, bagaimana dia bisa mengerti dengan perasaanku kalau aku memperlakukannya dengan sangat cuek, kaku dan dingin. Aku hanya dapat berharap isyarat yang aku lakukan kepadanya tadi dapat membuat dia mengerti bahwa aku sudah menaruh hatiku kepadanya pada pandangan pertama.

__ADS_1


Aku tidak bisa berlama-lama berkelahi dengan perasaanku bahwa dengan seiringnya waktu rasa kagumku bukannya memudar malah bermetamorfosis menjadi cinta, tetapi semua terlambat, aku terlambat mengatakan kepadanya bahwa aku menyayangi dan mencintaimu Sarah, saat aku ingin menyatakannya dia sudah dimiliki orang lain dan aku hanya bisa menyendiri dengan ketidakpastian bertahan atau mundur, dan aku memilih untuk bertahan.


Aku bertahan ingin selalu ada di dekatnya saat dia membutuhkan pundak untuknya menangis, aku bertahan ingin selalu menjaganya dari setiap bahaya yang ada di sekitarnya, sampai akhirnya aku mendapatkannya, aku memilikinya, aku dapat melihat mata itu setiap hari tidak hanya dalam mimpiku saja tetapi dalam kenyataanku juga, dan aku dapat mendengarnya memanggil namaku dengan penuh cinta.


Sarah Gibran gadis yang mengubah jalan hidupku, mengubah sikap dan perilakuku, seseorang yang entah mengapa saat aku melihatnya membuat jantungku berdegup kencang, darahku mengalir dengan cepat, keringat dingin selalu bermunculan di setiap celah pori-pori kulitku.


*Kamu adalah tujuan hidupku Sarah, kamu cahaya dalam hatiku yang gelap, aku berharap kamu selalu bahagia, jangan bersedih setidaknya lakukan untuk dirimu sendiri, kamu harus menjadi seseorang yang kuat, kamu harus tahu banyak orang yang mencintai dan menyayangimu, jangan pernah berpikir lagi bahwa kamu hanya sendiri di dunia ini. Aku mencintaimu Sarah Gibran.*


"Sayang." Aku merasakan pelukan seseorang dari belakang tubuhku, bau mint tercium sampai ke hidungku. "Sarah, kenapa kamu menangis?" Tanya Indra, aku menyentuh pipiku yang tanpa aku sadari basah dengan air mataku.


"Kamu kenapa?" Tanyanya lagi, aku mengangkat buku yang aku baca tadi kepadanya membuatnya tersenyum dan memelukku dengan tubuhnya hanya tertutupi dari bagian pinggul sampai lutut dengan menggunakan handuk berwarna putih. "Aku ingin memberikannya untukmu hari ini sejujurnya, tetapi kamu sudah duluan membacanya." Ucapnya dan mengecup keningku


Aku merintih tertahan dengan menggigit bibirku sampai aku tidak sengaja menyentuh sesuatu yang seperti tertahan di bagian tengah antara kaki Indra. "Ndra?" Panggilku, aku melepaskan pertemuan bibir kami dan menatap lekat wajahnya yang menutup matanya dan menahan geramannya, ada sedikit peluh pada dahinya, dia sedang mengatur napasnya untuk menjadi normal kembali.


Tidak lama kemudian dia membuka matanya dan terenyum kepadaku. "Kamu hampir membuat seekor singa menerkammu Sarah, untung aku masih bisa menahan dan mengurungnya." Ucap Indra kepadaku, aku menunduk malu dengan rona muka yang merah.


"Ndra." Panggilku dengan penuh kehangatan. "Aku mohon jangan tinggalkan aku dan terima kasih untuk rasa cintamu kepadaku yang begitu besar." Ucapku masih tertunduk, dia menarik daguku lembut dan mengecup lembut bibirku. "Tetaplah merasa behagia dan disayangi, karena kamu pantas mendapatkannya." Ucapnya lembut yang membuatku tersenyum.

__ADS_1


Setelah itu aku menunggu Indra di Ruang Tamu bersama Keluarganya yang masih terlihat terguncang karena kejadian tadi siang. "Ma, Pa." Panggil Indra kepada kedua orang tuanya, dia memeluk Papanya. "Maafkan Indra yang masih bersifat kekanak-anakan Pa." Ucap Indra serak, aku melihat ada sebutir kristal air mata pada pelupuk matanya yang langsung di hapusnya. Setelah itu Indra memeluk Mamanya dan mengatakan hal yang sama, dari momen yang dilakukan Indra di depanku ini entah mengapa hatiku langsung merasa sedih, ada rasa tidak nyaman di dalam benakku. Apa yang terjadi denganku.


Aku pamit untuk pulang kepada Keluarga Indra karena hari yang sudah hampir sore, saat aku berada di depan Gerbang Rumah Indra, cuaca yang tadiya panas langsung berubah menjadi mendung dan terlihat akan turun hujan dengan sangat deras.


"Yuk." Ucap Indra yang sudah ada di sebelahku menggunakan motor sport berwarna merah yang terlihat gagah saat dia menaikinya. "Ndra, ini sepertinya mau hujan deras, aku pulang sendiri aja gak pa-pa, kamu di rumah aja." Ucapku kepadanya. "Gak pa-pa, aku ingin mengantarmu pulang." Ucapnya bersikeras yang membuatku dengan terpaksa mengikuti keinginannya.


Dalam perjalanan menuju Panti aku memeluk Laki-Laki di depanku dengan sangat erat, tidak ingin melepasnya, entah mengapa hari ini aku hanya ingin bersamanya setiap detik dan waktuku, sampai-sampai aku tidak merasakan motor besar merah Indra sudah sampai di depan Panti.


"Sayang." Panggil Indra menyadarkanku dan membuatku melepaskan pelukanku dari pelukannya, setelah aku turun dari motornya, kami menuju ke depan Panti sampai Indra berhenti di belakangku. "Kamu gak masuk?" Tanyaku heran. "Aku langsung pulang ya." Ucapnya dengan tangan yang masih menggenggam erat tanganku.


"Ndra tapi hari ini mau hujan, gak mau pulangnya setelah hujan reda?" Tanyaku lagi memaksa dengan tangannya yang ku genggam lebih erat, dia hanya tersenyum mendekat kearahku mencium pucuk kepalaku dan mengusapnya. "Aku pulang dulu ya, ada yang harus aku bicarakan dengan Papa dan Mama." Ucapnya yang membuatku dengan terpaksa melepaskan genggaman tanganku.


Dia pergi berbalik dari tubuhku, aku melihat punggungnya berjalan menjauh menuju motornya, sebelum motornya berjalan dia melihat kearahku dan melambaikan tangannya, aku berlari mendekatinya tetapi terlambat motornya sudah melaju, menjauh dan pandanganku tiba-tiba kabur entah menngapa aku tidak dapat melihat sosok Indra dengan sangat jelas, sampai tiba-tiba hujan sudah turun dengan derasnya, pipiku basah entah itu air yang turun dari langit atau air dari mataku. Indra.


BERSAMBUNG.


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.

__ADS_1


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2