Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#13 WP?S2


__ADS_3

Kami tiba di sebuah Kafe dengan papan nama Leisure Park Cafe. Sebuah kafe dengan konsep sinar matahari sebagai lampunya, semua Bodyguard Angkasa sudah berdiri di luar pintu untuk menjaga Kafe tersebut, lebih tepatnya menjaga Angkasa.


Aku masuk bersama Angkasa yang menggenggam tanganku di sampingnya, Rafael mengikuti kami dari belakang, dan saat di dalam Kafe, dia berhenti hanya mengamatiku dan Angkasa yang berjalan menuju sebauah meja yang sudah di siapkan oleh Pelayan di dalam Restoran tersebut. Aku baru menyadari bahwa di dalam Kafe ini hanya ada aku, Angkasa dan para Bodyguardnya, tidak ada orang lain lagi. Apakah dia pemilik Kafe ini atau menyewanya untuk dirinya sendiri?


Pelayan itu mencatat semua pesanan kami dan hanya membutuhkan waktu beberapa menit sampai makanan itu datang. "Sayang." Panggil Angkasa saat aku sedang menikmati sebuah burger dengan double cheese di tangan kananku. Dia membersihkan noda keju pada sudut bibirku.


"Kamu sudah punya jawaban untuk pertanyaanku semalam?" Tanyanya yang membuatku tersedak, dia langsung berangkat dari tempat duduknya dan menyerahkan satu gelas air putih kepadaku. "Terima kasih." Ucapku dan dia kembali duduk di depanku.


"Kassa, hmm maksudku Sayang." Ucapku melihatnya yang sedang serius melihatku setelah mengesap kopi hitam di depannya. "Aku tidak tahu apakah menikah adalah keputusan yang tepat untukku saat ini, aku masih mau melanjutkan pendidikanku, ingin membantu Ibu Aisyah dan Adik-Adikku di Panti dan yang paling penting." Ucapku menunduk menatap tanganku yang sedang saling menautkan jari di atas meja.


"Aku tidak tahu apakah keluargamu akan bisa menerima kehadiranku." Aku merasakan tanganku di genggam membuatku melihatnya yang sedang memberikan sebuah tatapan serius kepadaku. "Kamu masih bisa melakukan semua itu, tetapi masih dalam pengawasanku." Ucapnya menekankan kata-kata terakhirnya.


"Dan soal Keluargaku, akan aku pastikan mereka tidak akan mengganggu ataupun menyakitimu." Ucapnya membuatku menggenggam balik genggaman tangannya. "Aku akan memberikanmu waktu sampai kamu sendiri yang mengatakan siap, tetapi selama itu aku masih ingin mengikatmu." Ucapnya.


"Mengikatku? Bukankah aku sudah terikat denganmu dengan menandatangani berkas waktu itu." Ucapku yang membuatnya tersenyum kecil. "Bukan, bukan itu yang aku maksud, aku ingin sebuah pertunangan, memberitahukan semua orang bahwa kamu benar-benar milikku." Ucapnya yang membuatku tidak dapat berkata apa-apa sampai kami menghabiskan sarapan kami dalam keheningan tidak ada lagi yang bersuara hanya saja tangan Angkasa yang selalu jahil menyentuh tangan, pipi dan rambutku.

__ADS_1


Hari ini adalah jadwal pertemuanku lagi dengan Fahmi, dimana Angkasa mengantarku menuju ke Rumah Sakit tempat Fahmi bekerja yang ternyata Rumah Sakit itu adalah miliknya. Di dalam Rumah Sakit Angkasa tetap membawa semua Bodyguardnya, membuat kami menjadi pusat perhatian dari semua orang di dalam Rumah Sakit.


Jujur aku sangat merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini, melihat tatapan heran, iri dan penasaran dari mereka yang melihatku. Aku melihat ada beberapa orang yang melihat ke arah kami dengan mengambil video atau foto dari handphone mereka yang mungkin akan menjadi berita di setiap koran dan majalah keesokan harinya.


Aku dan Angkasa masuk ke dalam Ruangan Fahmi. "Selamat siang Sarah." Ucap Fahmi yang mengulurkan tangannya di hadapanku untuk bersalaman tetapi langsung di singkirkan oleh Angkasa secara kasar membuat Fahmi memutar bola matanya.


"Silahkan duduk Sarah." Ucap Fahmi yang sepertinya mengacuhkan keberadaan Angkasa di sebelahku. "Bagaimana keadaanmu hari ini, sehat?" Tanya Fahmi kepadaku setelah aku duduk di depannya. "Tentu saja sehat Dokter Bodoh, kalau dia tidak sehat bagaimana dia bisa berdiri disini untuk bertemu dengan lo." Ucap Angkasa yang membuatku dan Fahmi melihatnya secara bersamaan, tetapi dia hanya memasang wajah datar dengan tangan yang masih menggenggam tanganku.


"Bocah." Ucap Fahmi dengan penuh kesabaran. "Hari ini adalah jadwal konsultasi gua bersama Sarah, untuk memastikan kesahatan fisik maupun kejiwaannya, kalo lo disini, bagaimana Sarah akan bisa mengungkapkan keluh kesahnya kepada gua." Ucap Fahmi kepada Angkasa.


Tetapi Angkasa sama sekali tidak menghiraukan kata-kata dari Fahmi, dia hanya menatapku dengan wajah bahagia dan senyuman yang selalu terukir di wajah tampannya. "Tetapi Bocah, tetap saja Sarah membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri mengungkapkan semua permasalahannya, kegelisahannya kepadaku Dokternya." Ucap Fahmi menekankan kata 'Dokternya' pada ujung kalimat, agar Angkasa tidak mengancam untuk membunuhnya.


"Terlebih lagi kegelisahannya saat dia akan masuk ke duniamu dan Keluargamu." Ucap Fahmi dengan nada serius, seakan tahu dengan isi pikiranku. Aku melihat Angkasa dengan wajah memohon dan berusaha tersenyum. "Beri aku ruang kali ini, aku tidak akan kemana-kemana." Ucapku memohon kepadanya untuk memberikan privasi kepadaku bersama Fahmi untuk berkonsultasi. "Baiklah, aku akan menunggumu di luar, dan lo Dokter Bodoh." Ucap Angkasa yang kali ini mengeluarkan tatapan tajam dan membunuhnya kepada Fahmi.


"Hati-hati dengan mata lo saat melihat dia, hati-hati dengan tangan lo saat menyentuh dia, kalo lo masih mau hidup." Ucap Angkasa penuh ancaman, Fahmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Angkasa. Angkasa berangkat dari tempat duduknya dan mencium keningku. "Aku di luar, menunggumu." Ucapnya dengan penuh senyuman.

__ADS_1


Setelah itu dia keluar dan menatap Fahmi penuh peringatan sebelum menutup pintu Ruangan Praktek Fahmi. Aku menghembuskan napasku berat. "Mau minum?" Tanya Fahmi kepadaku, yang aku jawab dengan mengangukkan kepalaku, setelah itu Fahmi memberikanku satu gelas air putih yang langsung aku terima dan aku minum sampai habis. "Terima kasih." Ucapku, aku melihat dia tersenyum kepadaku saat aku meletakkan gelas kosong di atas meja.


"Oke Sarah, bagaimana perasaan dan keadaanmu sekarang?" Tanya Fahmi kepadaku. "Aku...aku pikir aku baik-baik saja?" Ucapku kepadanya. "Hmm, baik-baik saja? Hanya itu?" Tanya Fahmi lagi kepadaku karena belum yakin dengan jawabanku.


"Aku pikir, iya aku baik-baik saja." Ucapku sekarang menunduk melihat jari-jariku yang sedang bertaut satu sama lain. "Oke, bagaimana dengan Angkasa? Apakah kamu masih takut dengannya? Karena waktu kemarin saat kamu berada di Rumah Sakit ini, dapat aku lihat sekali rasa takutmu yang besar saat kamu melihat Angkasa, bahkan saat kamu mendengarkan suaranya saja kamu langsung memejamkan matamu ketakutan." Ucap Fahmi.


"Kassa, aku rasa aku tidak merasakan rasa takut seperti dulu lagi, hanya saja ketakutanku sekarang adalah." Aku menahan sesuatu yang akan mengalir dari sudut mataku. "Rasa takut berada di sekitarnya, aku takut aku tidak terlalu pantas untuk berada di dunianya, aku takut tidak akan di terima oleh Keluarganya." Air mataku mulai mengalir secara perlahan.


"Aku hanya ingin hidup normal seperti orang lain, menikah dengan seseorang yang aku cintai dan mencintaiku, hidup dalam sebuah rumah kecil yang nanti akan dipenuhi kehangatan dari anak-anak kami, aku hanya ingin menjadi seorang istri yang setiap pagi memasakkan sesuatu sebelum suaminya pergi bekerja, menunggu suaminya pulang di malam hari tanpa adanya kekhawatiran atau rasa takut akan banyak hal yang mungkin akan terjadi pada keluarga kecilku." Ucapku dengan tangisan.


"Apakah kamu mencintainya Sarah?" Tanya Fahmi yang membuatku memejamkan mataku selama beberapa menit, mencari jawaban itu di dalam pikiran, tubuh dan hatiku. "Iya, aku mencintainya." Ucapku membuka mata dan melihat kearah Fahmi yang sekarang tersenyum kepadaku.


"Kalau begitu katakan semua hal yang kamu rasakan kepadanya, katakan apa yang menjadi ketakutan dan kerisauanmu, katakan apa yang kamu inginkan dalam hidupmu. Aku pikir Angkasa akan sangat dapat mengerti semua hal itu, dan dari penglihatanku saat ini, bagaimana seorang Angkasa Pratama memperlakukanmu seperti sesuatu yang sangat berharga untuknya yang tidak pernah dia tunjukkan kepada siapapun di hidupnya, dia akan melakukan apapun untukmu, karena kamu benar-benar sudah menaklukan seorang Angkasa Pratama di kakimu Sarah." Ucap Fahmi yang membuatku menunduk lebih dalam.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2