
“Seorang pemimpin adalah orang yang melihat lebih dari yang orang lain lihat, yang melihat lebih jauh daripada yang orang lain lihat dan yang melihat sebelum orang lain melihat.”– Leroy Eimes.
Di Pagi keesokan harinya, dimana cuaca terasa sangat bersahabat dengan semua mahluk hidup yang bernapas di hari ini, aku berjalan sendirian masuk ke dalam SMA XYZ tanpa ditemani oleh Indra, setelah dia memberi kabar lewat telpon genggam.
“Halo, Sarah.” Ucap Indra dari ujung telpon. “Halo, kenapa Kak?” Ucapku saat aku sudah berada di depan Gang Jalan Panti. “Hmm, hari ini aku gak bisa jemput kamu buat ke Sekolah ya.” Ucap Indra. “Iya Kak, gak pa-pa, aku bisa sendiri kok ke Sekolah.” Ucapku lagi meyakinkan Indra. “Oke, kamu hati-hati ya, sampai ketemu di Sekolah ya.” Ucap Indra yang terdengar sedang menyembunyikan sesuatu dariku dan terdengar sangat senang.
Aku melewati Lorong Sekolah, dan aku sangat bersyukur sekali dengan kondisi teman-teman Sekolahku hari ini tidak seperti kemarin, mereka terlihat lebih antusias dengan sesuatu yang aku selalu kurang update untuk berita-berita terbaru di Sekolah.
“Sarah.” Teriak suara perempuan dibelakangku. “Eh Kak Adel.” Ucapku menoleh ke belakang, melihatnya yang sedang berlari dengan terengah-engah sambil membawa satu kertas ditangannya. Dia berhenti di depanku menunduk memegang lutut sambil mengatur napasnya.
“Kenapa lari-lari Kak pagi-pagi gini.” Ucapku, setelah itu dia berdiri tegak di depanku membenarkan poni di rambutnya yang dipotong rata. “Aku nyariin kamu tahu dari tadi, ini.” Dia menyerahkan sebuah kertas. Ha? inikan? “Ini berkat kamu, makasih ya udah bujukin Indra buat mau ikut untuk Pemilihan Ketua Osis.” Ucapnya lagi.
“I-iya Kak.” Ucapku gugup dengan menggaruk kepalaku yang tidak gatal, karena aku sendiri tidak tahu kalau Indra akan benar-benar ikut untuk Pemilihan Ketua Osis ini. “Nanti, bantu buat jadi Tim Pemenangnya ya, nanti kita promosi di Kantin waktu jam Istirahat, Oke.” Ucap Adel dengan semangat dan mengedipkan mata kanannya. “I-iya Kak.” Ucapku mengiyakan.
__ADS_1
“Pagi.” Suara Laki-Laki terdengar dari sebelah kiriku yang membuatku dengan spontan menoleh kearah kiri dan tidak sengaja mempertemukan bibirku dengan pipi orang tersebut. “KAK INDRA!” Ucapku terkejut dan langsung mundur beberapa langkah dariku dengan wajah yang memerah. Dia hanya tersenyum dengan apa yang terjadi barusan antara aku dan dia.
“Kalian berdua bisa kali cari tempat yang lebih sepi buat pacaran.” Ucap Adel yang ada di depan kami berdua. “Ya sudah aku duluan ke Kelas, Sar jangan lupa ya nanti jam istirahat di Kantin, Gua duluan Ndra.” Ucap Adel pergi meninggalkanku dan Indra berdua.
“Maaf ya Kak soal tadi.” Ucapku yang merasa canggung dengan keadaan sekarang, tetapi tidak untuk Indra. “Kenapa minta maaf, aku suka.” Ucapnya dengan penuh senyuman di wajahnya membuat pipiku merona merah, setelah itu aku teringat akan kertas yang ada ditanganku. “Kenapa Kakak tidak bilang kalau jadi ikut Pemilihan Ketua Osis?” Tanyaku. “Aku ingin membuat kejutan untukmu, kamu mau dukung akukan?” Ucapnya mendekatkan wajahnya lima centimeter dari wajahku yang berhasil membuat wajahku lebih merah lagi dari sebelumnya. “I-iya Kak.” Ucapku dan mengalihkan perhatianku kearah lain.
“Ya sudah ayo kita ke Kelas.” Ucapnya dan aku pun mengikuti langkahnya sehingga kami berdua berjalan beriringan menuju ke Kelasku. “INDRA!” Aku dan Indra sedikit terkejut mendengar teriakan yang ada di belakangku, kami pun menoleh ke belakang dan memperlihatkan Edgar berjalan cepat dengan ekspresi wajah yang marah dan rahang yang mengeras.
Edgar mendekat kearah Indra, menggenggam kerah seragam Indra dan mendorongnya sampai menabrak dinding Lorong Sekolah tersebut, yang membuat aku mundur beberapa langkah dari mereka dan membuat beberapa Siswa di dekat kami memperhatikan kami.
“Gak usah banyak alasan, Lo tahu gua bisa ngehancurin Lo, kalau saja bukan karena Alis.” Ucap Edgar terpotong dan membuat wajah Indra menjadi berubah sedih, Edgar beralih menatapku dengan tajam dan balik menatap Indra dengan marah. “Apa karena ******* ini, Lo jadi ngelupain persahabatan kita?” Lanjut Edgar menunjuk kearahku dengan jari telunjuknya dan “BUGH!” Satu pukulan di wajah Edgar berhasil dilakukan oleh Indra dan membuat genggaman Edgar pada kerah baju Indra terlepas.
“JANGAN PERNAH LAGI LO BILANG SARAH *******!” Teriak Indra dengan keras kearah Edgar yang sedang memegang pipinya dimana ada sedikit darah di ujung bibirnya. “Hei hentikan kalian berdua, atau kalian berdua akan dapat masalah.” Ucap Adel yang sudah berdiri ditengah Indra dan Edgar bersama dengan Reza untuk memisahkan Indra dan Edgar.
__ADS_1
Edgar berdiri tegak kembali membenarkan seragamnya. “Lo lihat aja nanti Ndra, gua bakal habisin Lo, dan gak ada lagi yang namanya sahabat anj*g antara kita.” Ucap Edgar dan pergi meninggalkan kami semua dan membuatku menjadi ketakutan dengan situasi ini yang mungkin penyebabnya adalah aku. Apa yang telah aku lakukan?*
Bel Sekolah tanda masuk pun telah dibunyikan, aku langsung segera pergi ke Kelasku meninggalkan Indra dan teman-temannya, aku tidak tahu apakah mereka menyadarinya atau tidak. Saat berada di dalam Kelas, aku langsung duduk di bangkuku, aku melihat ada beberapa temanku yang melirik kearahku dan seperti membicarakan sesuatu, yang sudah pasti aku tahu itu adalah masalah pagi tadi antara Indra dan Edgar.
“Sar, kamu gak pa-pa?” Tanya Rizka kearahku. “Anak-anak yang lain lagi membicarakan kejadian tadi di Lorong Sekolah, kamu gak pa-pa?” Lanjut Rizka lagi. “Aku gak pa-pa Riz.” Jawabku dengan tersenyum. Tidak lama kemudian Guru sekaligus Wali Kelas kami masuk ke Kelas.
“Pagi Anak-Anak.” Ucap Ibu Guru kami. “Pagi Bu.” Jawab kami semua satu Kelas kompak. “Sebelum kita mulai pelajaran hari ini, Ibu mau kasih informasi terlebih dahulu, Dave dan Sabrina, per hari ini sudah tidak akan ikut belajar bersama kita disini lagi, mereka pindah Sekolah.” Ucap Ibu Guru yang membuat satu Kelas heboh, terkecuali aku yang sudah tahu informasi itu sebelumnya, tetapi aku tidak tahu juga kalau Sabrina ikut pindah Sekolah juga.
“Mereka pindah kemana Bu?” Tanya Ivan yang dulu duduk sebangku dengan Dave. “Ibu kurang tahu pastinya, Ibu cuma dapat informasi kalau mereka pindah ke Australia.” Jawab Ibu Guru. Semua teman-temanku kembali heboh ada yang sesekali melihat kearahku, ada juga yang menebak mungkin Dave dan Sabrina dijodohkan. Aku tidak mau terlalu memikirkan hal itu, karena aku sekarang sedang mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Dave, dan menjalani kehidupanku sendiri sebelum adanya kehadiran sosok Dave.
Pikiranku sekarang hanya terpaku pada rusaknya hubungan persahabatan antara Edgar dan Indra, yang mungkin penyebabnya adalah aku, karena telah membujuk atau lebih tepatnya meminta Indra untuk ikut Pemilihan ketua Osis, aku sama sekali tidak tahu kalau Ketua Osis ini juga sangat penting untuk Edgar. Apa yang harus aku lakukan.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
Terima kasih supportnya!!!