
Sinar matahari pagi yang hangat menyusup di antara celah tirai, dengan perlahan aku membuka mataku dan menyesuaikannya dengan bias-bias cahaya yang masuk ke retina mataku. Aku mendudukkan diriku di tepi ranjang, melihat seseorang yang tertidur pulas di atas sofa tanpa menggunakan pakaian atasnya karena dia memakaikan kemeja hitamnya kepadaku.
Dia memilih untuk tidur di sofa karena takut akan melakukan sesuatu yang lebih buruk apabila kami berada dalam satu tempat tidur, dimana hal itu membuatku mengukir sebuah senyuman di wajahku karena dia masih mempedulikan apa yang menjadi kepentinganku di balik sikapnya yang selalu harus mendapatkan apa yang dia mau.
Aku berjalan ke arah jendela lalu membuka tirainya, jendela itu aku buka lebar-lebar membiarkan cahaya pagi yang hangat dan udara pagi yang sejuk memasuki ruangan, aku menghirup udara pagi yang segar itu sampai memenuhi seluruh paru-paruku dengan menutup mataku, merasakan udara itu mengalir menyejukkan dadaku.
Menikahlah denganku. Kata-kata itu berlari-lari di kepalaku, ada perasaan senang, takut, malu dan cemas di dalam pikiranku, semua bercampur menjadi satu sampai aku merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutku dan sebuah kepala yang disandarkan pada pundak kananku.
"Ini hanya aku bukan hantu." Ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur. Aku berdiri mematung karena takut dan bingung apa yang harus aku lakukan dengan sentuhannya sekarang. "Hmmm Kassa." Ucapku tetapi di potong olehnya. "Sayang." Ucapnya lebih seperti perintah.
"Hmm Sa...Sayang, bisakah kamu melepaskan pelukanmu?" Tanyaku takut "Tidak." Ucapnya tidak terbantahkan. Aku melirik ke bawah dimana tangan kekar Angkasa mulai membelai lembut perut rataku membuatku berdiri kaku dan merasakan sesuatu yang keras di belakangku.
Aku merasakan sebuah seringai kecil dari sebelah kananku. "Sebegitu takutnya kamu padaku?" Ucapnya dan melepaskan pelukannya membuatku bernafas lega. Dia berdiri di sebelahku menatap langit biru yang cerah di depan kami. "A...aku hanya terkejut." Ucapku menundukkan wajahku.
"Tatap aku Sarah." Ucapnya, aku melihatnya yang sekarang sudah menyenderkan tubuhnya dan menyilangkan tangannya di depan dada. Dia menatapku tajam membuatku meremat kemeja hitamnya yang sedang aku gunakan. "Kamu sudah punya jawaban atas pertanyaanku kepadamu semalam?" Tanyanya tanpa basa basi. "Huh? Pertanyaan apa?" Tanyaku yang berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
Dia hanya menggelengkan kepalanya, dia menarik tangan menuju ke sofa tempat dia semalam tidur, dia duduk di sofa tersebut dengan menyenderkan punggung kokohnya di kepala sofa, dia mendudukkan diriku di atas pangkuannya lagi. Apakah ini menjadi posisi favoritnya.
Dia membelai wajahku lembut. "Kamu masih takut denganku?" Tanyanya lembut, aku menundukkan kepalaku. "Lihat aku, Sayang." Ucapnya lagi menarik daguku pelan. "Kamu tidak perlu lagi takut denganku, aku adalah milikmu sekarang, kamu dapat melakukan apapun kepadaku, apa perlu aku mencium kakimu untuk membuatmu tahu bahwa aku sudah takluk kepadamu." Ucapnya lagi, dia mau menggeserkan tubuhku tetapi aku menahannya.
"Tidak, aku sudah tahu itu, aku hanya mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan diri, maafkan aku." Ucapku yang kali ini berani untuk menyentuh wajahnya dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia mencium tanganku pada wajahnya, menghirup wangi pada tanganku. "Aku tahu." Ucapnya tersenyum pada wajah tampannya.
Aku mendekatkan wajahku, mengecap bibir hitamnya yang dibalas lembut olehnya, dia memegang pinggulku menahannya. "Jangan bergerak atau aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku sendiri." Ucapnya yang sekarang sedang mengatur nafasnya.
"Aku ingin membersihkan tubuhku dulu dan menuntaskan sesuatu di Kamar Mandi, setelah itu kita pergi ke luar untuk sarapan." Ucapnya dan aku jawab dengan anggukan kepalaku, dia mengecup sekali pipiku, setelah itu dia menurunkanku dari pangkuannya dan pergi menuju Kamar Mandi. Aku menyenderkan kepalaku memejamkan mataku dan tersenyum, tersenyum bahagia dan senang, jantungku berdegup kencang dengan perasaan hati yang berbunga-bunga. Aku jatuh cinta lagi.
"Kamu bisa menyentuh dan menindihku sekarang di atas tempat tidur itu kalau kamu mau?" Ucap Angkasa melihatku yang membuatku sadar dari lamunanku. Aku dengan cepat melaluinya yang tersenyum melihat sikap salah tingkahku. Aku menutup pintu Kamar Mandi di belakangku dan menyenderkan tubuhku pada pintu tersebut, mengatur nafasku. Kenapa aku jadi bertingkah aneh seperti ini.
Setelah aku membersihkan tubuhku, aku mencari handuk di sekitar Kamar Mandi ini. "Dimana handuknya?" Aku mulai cemas, mencari setiap sudut Kamar Mandi tetapi hasilnya tetap saja nihil. Apa yang harus aku lakukan. Aku melihat kemeja hitam Angkasa yang masih tergantung di gantungan belakang pintu, aku mengambil kemeja itu dan menggunakannya. Aku harap dia sudah tidak ada lagi disana.
Aku keluar secara perlahan dari Kamar Mandi, membuka pintunya pelan-pelan agar tidak mengeluarkan suara sama sekali, aku mengintip di balik pintu memastikan bahwa Angkasa tidak ada lagi di dalam Kamar. Aman. Aku melangkah keluar dari Kamar Mandi dengan rambut dan tubuhku yang masih basah, membuat kemeja hitam yang aku gunakan juga ikut basah sehingga mempertontonkan beberapa lekuk tubuhku.
__ADS_1
Aku menyapu penglihatanku ke sekeliling Ruangan untuk mencari handuk, saat mataku melihat lemari besar berwarna hitam, tiba-tiba saja pintu Kamar Ruangan ini terbuka. "Tutup matamu Rafael dan keluar dari Kamar ini atau kamu mau mati sekarang." Teriak suara Laki-Laki di belakangku. "Maafkan saya Tuan." Suara Laki-Laki lain di belakangku.
Setelah pintu itu tertutup, aku baru berani untuk membalikkan tubuhku, menghadap seoarang Laki-Laki yang sekarang menatapku dengan tajam. "Apa yang kamu lakukan? Mencoba untuk menggodaku?" Ucapnya yang semakin dekat ke arahku.
"A...aku mencari handuk." Ucapku takut, dia menghembuskan nafasnya dan mengambil handuk di dalam lemari besar hitam. Dia menyerahkannya kepadaku. "Aku tidak ingin kamu menunjukkan tubuhmu lagi seperti ini di depan orang lain, kamu hanya boleh menunjukkannya di depanku, kamu mengerti?" Ucapnya yang sekarang mengusap pipiku, aku menganggukkan pelan kepalaku mendengarkan ucapannya.
"Aku akan menunggumu di luar, bajumu sudah ada diatas tempat tidur." Ucapnya membuatku sekilas melihat sebuah jumper & blouse dress berwarna hitam di atas tempat tidur. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama, Sayang." Ucapnya mengecup lembut pipiku yang sekarang merona merah.
Dia keluar dari Kamar dan menutup pintunya membuatku dapat bernafas lega. Aku mengeringkan tubuhku dengan handuk dan mengeringkan rambutku menggunakan sebuah hair dryer yang ada di dalam Kamar Mandi. Setelah itu aku menggunakan pakaian yang diberikan oleh Angkasa di atas tempat tidur. Pakaian yang terlihat simpel tetapi sangat anggun yang membuatku tersenyum saat menggunakannya di depan cermin.
Aku membuka pintu kamar dan melihat sosok Laki-Laki yang menghadap ke belakang dengan menggunakan sebuah polo shirt berwarna putih dan celana bahan slim fit berwarna abu-abu yang membuatnya terlihat santai dan menawan.
Dia membalikkan tubuhnya dan mendekatiku. "Kekasihku, milikku." Ucapnya mengecup bibirku, yang membuatku membalas ciumannya itu dengan lembut, tangannya menangkup kedua sisi wajahku yang membuatku memegang kedua tangannya itu. Kami mempertemukan kening kami. "Mengapa kamu tersenyum?" Tanyanya yang melihatku tiba-tiba saja menguhkir sebuah senyuman di wajahku. "Aku bahagia sekarang." Ucapku yang membuatnya juga ikut tersenyum. "Jawablah pertanyaanku, menikahlah denganku maka aku akan memberikan seluruh jiwa dan hidupku untuk mempertahankan senyuman itu di wajah cantikmu." Ucapnya yang membuatku langsung memeluknya.
BERSAMBUNG.
__ADS_1