Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#25 WP?S2


__ADS_3

Aku tidak mau memikirkan itu sekarang, aku hanya ingin fokus untuk menyiapkan air hangat untuk mandi Angkasa, aku tidak ingin Laki-Laki itu menjadi sakit. “Kass…” Panggilku terpotong saat mendengar suara berat dari Angkasa. “Sayang, panggil aku Sayang bukannya aku sudah memperingatkan hal ini kepadamu.” Ucapnya di belakangku. Aku pun menoleh ke belakang ke arah sumber suara Angkasa, seketika wajahku langsung memerah melihat tubuh Angkasa yang hanya ditutupi oleh sebuah handuk yang dililitkan pada bagian pinggangnya, memperlihatkan lekukan tubuh Angkasa yang terpahat sempurna.



“Kamu tidak mau mandi bersamaku?” Ucapnya yang dengan sengaja melepaskan handuknya secara perlahan. “Ti…tidak, aku akan mempersiapkan pakaianmu .” Ucapku langsung dengan cepat keluar dari Kamar Mandi dimana sekilas aku dapat melihat senyuman jahil dari Angkasa. Huft hampir saja.


Aku mempersiapkan pakaian Angkasa sebuah polo shirt berwarna merah marun dengan celana bahan berwarna abu-abu dan sepatu sneakers berwarna putih. Setelah kurang lebih lima belas menit aku menunggu Angkasa mandi dan sampai sekarang belum selesai juga, aku memutuskan untuk mandi saja di Kamarku. Aku melangkahkan kakiku ke pintu dan saat aku ingin membuka pintu, tanganku ditarik oleh Angkasa, dia mendorongku sampai punggungku bertemu dengan pintu Kamarnya yang membuat pintu tersebut tertutup kembali.


“Kamu mau kemana?” Tanyanya dengan kedua tangannya yang berada di kedua sisiku untuk memenjarakanku. “A…aku.” Ucapku gugup dan menelan salivaku kasar. “Aku tidak ingin orang lain melihatmu seperti ini.” Ucapnya dengan datar, mata tajamnya melihatku yang sedang menggunakan pakaian tidur yang dapat aku bilang bisa memperlihatkan lekuk tubuhku. “Aku pikir kamu masih lama, jadi aku memutuskan untuk mandi di Kamarku saja.” Ucapku dengan wajah merah dan tersipu malu.

__ADS_1


Aku malu karena sekarang, aku benar-benar dapat melihat tubuh Angkasa dan dapat mencium bau maskulin dari tubuhnya yang menyeruak masuk ke dalam hidungku. “Kenapa wajahmu bersemu merah seperti itu Sayang?” Ucapnya yang memperlihatkan senyuman jahilnya. “Kamu tahu bahwa kamu dapat melakukan apapun pada tubuhku Sarah.” Ucapnya yang membuat desiran darahku bertambah cepat. Aku bisa mati jantungan kalau seperti ini. “Kamu mau menyentuhku?” Tanyanya yang langsung mengambil tanganku yang sedikit bergetar, dia meletakkan telapak tanganku pada dadanya, dapat aku rasakan basah pada dada bidangnya dan ada beberapa tetesan air jatuh ke tanganku yang berasal dari rambut Angkasa yang masih basah dan juga dari wajahnya.


Aku melihat dengan jelas bahwa sekarang terdapat bulu-bulu halus pada wajah Angkasa yang sepertinya belum dicukur oleh Angkasa, tetapi justru hal itu yang membuat wajahnya semakin tampan dan menawan. Aku merasakan napas Angkasa yang mulai menyapu wajahku karena wajahnya yang mulai dia dekatkan ke wajahku. “Kass…” Belum selesai aku memanggil namanya, bibir Angkasa sudah menempel pada bibirku. Selama beberapa detik aku terdiam, tidak tahu hal apa yang akan aku lakukan sampai aku merasakan lidah Angkasa mencoba berusaha masuk ke dalam mulutku.


Aku membuka sedikit mulutku yang membuat Angkasa langsung memasukkan lidahnya dan mencoba membuat lidahku untuk ikut bermain dengan lidahnya. Ciuman yang aku rasakan awalnya hanya kecupan biasa sekarang menjadi penuh dengan hasrat. Angkasa menarik leher bagian belakangku untuk lebih dekat dengannya. “Errngh.” Tanpa sadar aku mengeluarkan erangan dengan sendirinya dari mulutku membuat Angkasa tersenyum senang. Bibir Angkasa sekarang berpindah ke bagian leherku, memberikan sebuah kecupan hangat yang membuatku dengan spontan memejamkan mata. Aku merasakan rasa yang aneh pada tubuhku den entah mengapa tubuhku menjadi terasa panas.


“Kassa, please.” Ucapku dengan memejamkan mataku, kakiku terasa lemah dan mungkin saja akan jatuh kalau saja Angkasa sekarang tidak mengangkatku, aku melingkarkan tanganku pada leher Angkasa, dan Angkasa sendiri mengangkat kakiku agar tetap berada dalam dekapannya. Angkasa kembali mempertemukan bibirnya dengan bibirku, tetapi kali ini dengan lebih penuh hasrat, dapat aku lihat mata Angkasa yang seperti siap untuk menerkamku, napasnya terdengar memburu sampai akhirnya kami melepaskan pertemuan bibir kami karena kehabisan napas.


Aku melangkahkan kakiku menuju Kamar Mandi dan langsung menutup pintu Kamar Mandi dengan cepat. Aku menyandarkan punggungku pada pintu Kamar Mandi. “Apa yang barusan terjadi.” Ucapku berbicara sendiri. Aku langsung membersihkan tubuhku di bawah shower ingin menghilangkan rasa panas dan aneh dari tubuhku dengan air yang mengalir dari shower di atasku. Tetapi bukannya menghilang, pikiranku dan tubuhku bahkan masih merasakan lembutnya bibir dan sentuhan Angkasa pada tubuhku. Aku harus menyingkirkan pikiran aneh ini. Dengan cepat aku menyelesaikan mandiku dan keluar dari Kamar Mandi dengan menggunakan kimono mandi dan rambut yang sudah aku lilitkan dengan handuk.

__ADS_1


Aku melihat sebentar ke sekeliling Kamar Angkasa, dan ternyata Laki-Laki itu sudah tidak ada di Kamar lagi, baju dan sepatu yang tadi aku siapkan sudah tidak ada pada tempatnya. Mungkin Angkasa sudah pergi untuk sarapan. Aku melihat ke arah tempat tidur, dimana disana terdapat dua buah kotak berwarna hitam dan putih, aku membuka kedua kotak tersebut yang ternyata isinya adalah sebuah dress berwarna krem bermotif bunga dan sepatu flat berwarna krem. Kapan Angkasa membelikan ini. Aku pun menggunakan dress yang diberikan oleh Angkasa, mengeringkan rambutku dan sedikit merias wajahku dengan make up yang natural, dan juga aku mengikat rambutku menjadi satu ikatan ke belakang.



Setelah aku melihat diriku di depan cermin dan aku rasa diriku sudah siap untuk pergi ke Panti Asuhan dan ke tempat Keluarga Indra, aku keluar dari kamar Angkasa, tetapi saat turun tangga aku dikagetkan dengan suara pukulan yang sangat kuat dan diiringi oleh suara rintihan seseorang yang merasa sangat kesakitan. Dengan cepat aku melangkahkan kakiku menuju ke arah sumber suara. Aku melihat seorang Laki-Laki yang memeluk kaki kanan Angkasa di depan pintu utama Rumah Angkasa.


Dengan kejam Angkasa menendang wajah Laki-Laki tersebut sehingga menimbulkan lebih banyak lagi darah yang keluar dari hidung dan mulut Laki-Laki tersebut. “Angkasa hentikan, dia kesakitan.” Teriakku ke Angkasa sambil berlari menghampirinya. “BERHENTI DISANA, SARAH!” Teriak Angkasa kepadaku dengan tatapan tajam yang membuatku berhenti untuk mendekatinya. Tatapan itu adalah tatapan membunuh yang pernah aku lihat saat pertama kali bertemu dengan Angkasa. Tatapan yang membuatku takut akan kehadirannya. Aku hanya bisa diam, mataku hanya melihat punggung besar milik Angkasa dan tanpa sadar bahuku bergetar ketakutan.


“Kassa.” Panggilku pelan dengan suara bergetar namun aku bisa melihat Angkasa tersentak dengan panggilanku. Dia melihatku dengan wajah kecewa dan menyesal. “Rafael, pastikan bahwa Bocah berengsek ini memberitahukan kita siapa yang menyuruhnya untuk memata-matai Rumah ini.” Ucap Angkasa kepada Rafael Bodyguardnya. “Roy…han, Bos Royhan yang menyuruh saya.” Ucap Laki-Laki itu yang berhasil membuat wajah Angkasa khawatir dan pucat, dengan langkah cepat dia menghampiriku dan langsung memelukku ke dalam dekapannya. “Kassa.” Ucapku pelan. “Percaya padaku, aku tidak akan membiarkan satu orang pun membuatmu terluka, hanya percaya padaku.” Ucap Angkasa.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2