
“Aku mencintaimu.” Ucap Angkasa membuat jantungku berdegup mendengarkan ucapannya barusan, entah mengapa semenjak malam hangat yang kami lalui semalam, perasaanku dengan Angkasa bertambah lebih besar, bahkan aku merasakan setiap hembusan napas yang aku hirup itu berasal darinya. “Katakan sekali lagi.” Pintaku.
“Aku mencintaimu, aku mencintaimu…dan aku mencintaimu.” Ulangnya tepat di wajahku dan mengecup hidungku berkali-kali membuatku tertawa geli akan perlakuannya itu, aku merasakan perasaan hangat yang tidak dapat aku jelaskan dan memeluknya dengan erat. “Aku juga mencintaimu Kassa.” Ucapku.
Aku merasakan silau matahari mengenai wajahku membuatku melihat jam di sebelah Angkasa yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Kita akan kemana hari ini?” Tanyaku yang sedang menidurkan kepalaku di atas dada hangat Angkasa.
“Apa yang ingin kamu lihat disini?” Tanyanya. “Uhmm aku ingin melihat laut di Paris.” Ucapku melihat wajahnya dan menyentuh bulu-bulu haus yang mulai tumbuh di wajahnya. “Oke.” Ucapnya, Angkasa pun mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang dengan menggunakan bahasa Perancis.
Melihat Angkasa masih sibuk dengan handphonenya meembuatku berinisiatif untuk membersihkan tubuhku yang sudah terasa sedikit lengket, aku mengambil kimono mandi yang terletak berserakan di lantai bersama dengan pakaian Angkasa. Tempat ini benar-benar menjadi kacau.
Setelah itu aku membuka selimut yang menutupi tubuhku dan aku terkejut melihat ada noda darah pada tempat tidurku. “Itu adalah tanda bahwa kamu sepenuhnya sudah menjadi milikku.” Ucap Angkasa yang ternyata memperhatikan keterkejutan ku, aku tersipu malu dengan perkataannya. “Kamu mau kemana?” Tanyanya. “Aku mau ke kamar mandi.” Jawabku dan langsung berdiri dari tempat tidur. “Ahhh.” Aku hampir terjatuh ke lantai kalau saja Angkasa tidak menahan tubuhku. “Kenapa?” Tanyanya dengan khawatir. “Uhmm sakit.” Ucapku yang merasakan sakit pada tubuh bagian bawahku, Angkasa turun dari tempat tidur dengan tubuh polosnya dan langsung mengangkat tubuhku layaknya pengantin baru.
“Biarkan aku memandikanmu dan maafkan aku karena membuatmu tidak dapat berjalan seperti ini.” Ucapnya mengecup bibirku lembut. Aku hanya dapat tersenyum malu dan menyembunyikan wajahku pada dadanya. Angkasa menggendongku masuk ke kamar mandi sampai di bawah shower dengan tubuh kami yang masih polos.
Tubuhku dibasahi oleh air hangat dengan Angkasa yang menahan tubuhku agar tidak terjatuh. Saat tangan Angkasa mulai menyabuni tubuhku, aku merasakan ada sesuatu yang mengeras pada tubuh bagian belakangku. “Kass.” Ucapku membalikkan tubuhku. “Sarah, aku menginginkanmu lagi.” Ucapnya dengan raut wajah laparnya.
__ADS_1
Aku mendekatkan bibirku padanya, membuatnya langsung ******* bibir bawahku dengan lidah yang langsung menerobos masuk ke dalam mulutku yang terbuka. “Nghh.” Eranganku tak tertahan saat lidah Angkasa menari di dalam mulutku. Aku melingkarkan tanganku pada lehernya saat Angkasa mengangkat tubuhku dan melingkarkan kakiku pada pinggulnya. “Akhh.” Teriakku saat sesuatu dari tubuh Angkasa mencoba masuk ke dalam tubuhku.
“Masih sakit?” Tanya Angkasa khawatir yang aku jawab dengan anggukan kepalaku. Angkasa membawa tubuhku menempel ke dinding dan mulai menjelajahi leherku dan membuat tanda kepemilikannya. “Emmhhh.” Rintihan tertahan dari mulutku membuat Angkasa semakin rakus menjelajahi tubuhku sampai ke dadaku yang membuatku melengkungkan tubuhku membuatnya dengan leluasa bermain pada bagian dadaku.
“Ka…Kass hmm aakuu menginginkanmu, lakukan.” Ucapku dengan napas berat. Angkasa yang mendengarkan perkataanku langsung mencoba memasukkan sesuatu pada dirinya dalam diriku secara perlahan. “Emhh.” Aku masih merasakan sedikit sakit saat Angkasa melakukan itu, tetapi rasa geli dan nikmat yang aku rasakan mengalahkan itu semua.
“Sarah, kamu benar-benar membuatku gila.” Ucapnya, aktivitas panas di dalam kamar mandi itu berakhir selama kurang lebih satu jam dengan tempo yang semakin cepat dan suara kami yang memenuhi seisi kamar mandi itu.
Setelah benar-benar membersihkan tubuhku, dimana Angkasa sudah keluar terlebih dahulu dari kamar mandi. Aku melihat sebuah pakaian berwarna putih, sepatu flat berwarna senada dan…pakaian dalam?
kapan Angkasa membeli pakaian ini, dan sebuah pakaian dalam yang menurutku sangat terlalu tipis, menghela napas berat aku mengambil pakaian yang sudah disiapkan oleh Angkasa dan menggunakannnya.
Sebuah mobil sport berwarna hitam sudah terparkir di depan lobi gedung apartemen dan seorang Bodyguard Angkasa memberikan sebuah kunci kepadanya. Angkasa membukakan pintu mobil untukku dan mempersilahkanku untuk masuk. Kali ini Angkasa membawa mobil itu sendiri tanpa seorang supir.
__ADS_1
Mobilpun melaju cepat menuju ke dalam jalanan kota paris dan memperlihatkan bangunan-bangunan indah dengan arsitektur yang menawan setiap orang yang melihatnya. Aku hanya mengenal beberapa nama dari bangunan-bangunan yang kami lewati seperti Museum Louvre yang sangat populer dengan piramid kacanya, ada juga Istana Versailles yang merupakan rekam jejak sejarah kerajaan Perancis.
Tanpa terasa kami memasuki sebuah kota yang bernama Marseille dimana aku melihat sebuah papan bertuliskan Le Vieux Port. Mobil kami berhenti di depan sebuah kapal yang tidak terlalu besar, berwarna putih dengan nama Alexander. Alexander? Seperti nama ayah.
Angkasa mengajakku keluar dari mobil dan melingkarkan tangan kirinya di pinggangku berjalan mendekati kapal menemui seorang Laki-Laki yang sudah berada di samping kapal. “Bonjour.” Ucap laki-laki itu dengan menundukkan kepalanya. “Semua sudah siap?” Tanya Angkasa saat menerima sebuah kunci dari laki-laki itu.
“Semua sudah disiapkan Tuan.” Jawabnya, setelah itu Angkasa meminta laki-laki itu pergi. “Selamat bersenang-senang, Nyonya.” Ucap laki-laki itu sebelum berlalu meninggalkanku dan Angkasa. “Kamu akan mengendarai kapal ini sendirian, Kassa?” Tanyaku saat melihat isi di dalam kapal itu yang tidak terdapat satu orang awak kapal pun di dalamnya. “Kamu masih meragukanku, Nyonya Pratama?” Ucapnya yang sedang menanggalkan kemeja putihnya dan hanya menggunakan celana pendek berwarna hitam dengan kaca mata hitamnya, membuatku memalingkan penglihatanku dari tubuh Angkasa yang berhasil membuat jantungku berdegup kencang sekarang.
Angkasa mulai menyalakan mesin kapal pada kemudi, dan menjalakan kapal itu meninggalkan Le Vieux Port. Selama perjalanan, aku tidak henti-hentinya mengagumi keindahan laut disini, merasakan kehangatan sinar matahari yang membuat kulit tubuhku hangat, dan juga pemandangan Angkasa yang terkadang sibuk mengemudikan kapal dan mengarahkan layar kapal untuk mengubah arah.
Aku mengambil sun block yang sudah aku siapkan dari tas yang aku bawa dan berniat untuk mengoleskannya pada tubuhku. “Mau aku bantu?” Tanya Angkasa yang berdiri di depanku dengan topless dan sedikit keringat yang membasahi tubuhnya yang membuatku berhasil menelan saliva kasar.
“Hmm bo…boleh.” Ucapku gugup. Angkasa mengambil botol sun block di tanganku dan memintaku untuk melepaskan pakaianku, menyisakan pakaian dalam tipis yang diberikannya tadi pagi. Hmm apa ini maksud darinya memberikanku pakaian dalam tipis ini. Aku membalikkan tubuhku dimana Angkasa dapat mengoleskan sun block itu pada bagian belakangku.
__ADS_1
Aku merasakan pijatan Angkasa yang sedikit merilekskan tubuhku sampai aku mendapatkan kecupan yang membuatku geli pada punggungku. Kassa membuka pengikat penutup tubuh bagian atasku, sentuhan dan kecupannya memberikan rasa aneh yang membuatku ingin meminta lebih sampai aktivitas panas itu pun terjadi lagi.
BERSAMBUNG.