
"Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam. Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu." - Chairil Anwar.
"Sarah." Suara seorang Laki-Laki yang sangat aku kenal dan kurindukan saat ini, aku merasakan kehangatan di pipiku oleh sentuhannya. "Sarah." Panggilnya lagi membuatku mengerjapkan mataku dan melihat sosok itu disini bersamaku. "Indra?" Aku langsung dengan cepat memeluk dirinya.
"Kamu kemana aja Ndra?" Tangisku dalam pelukannya. "Kenapa gak jawab semua pesan dan teleponku." Ucapku lagi masih memeluknya, aku tidak sia-siakan untuk menghirup wangi mint yang selalu membuatku nyaman. Aku merasakan tangannya mengelus lembut punggungku.
"Maafkan aku ya." Ucapnya, aku melepaskan pelukanku dan membersihkan air mata yang sudah membasahi dan wajahku. Aku melihat Indra yang terlihat tampan dengan kaos putih yang digunakannya. "Kamu sudah beritahu Orang Tua kamu dan Kak Laura Ndra? Mereka sangat khawatir akan keadaan kamu." Ucapku dan dia hanya tersenyum kepadaku tanpa menjawab satu pun dari pertanyaanku.
Dia menangkup pipiku dengan telapak tangannya yang hangat membuatku memejamkan mataku untuk menyerap kehangatannya tanpa sisa. "Aku boleh menciummu? Aku rindu kamu Sarah." Ucapnya lembut yang aku jawab dengan anggukan kepalaku.
Dia mengikis jarak antara tubuhku dengan dirinya, dia merengkuh pinggangku yang kecil dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah berada di tengkuk kepalaku. Dengan hembusan napas terlembut Indra mengecup bibirku.
Kecupan yang lembut, hanya sekecup pada mulanya, kemudian berlanjut menjadi kecupan dan gesekan antara kedua bibir. Bibir Indra terasa hangat dan lembut, Indra memberikan sedikit gesekan bibirnya yang menghangatkan pipi dan sekujur tubuhku.
Saraf-saraf dalam tubuhku mulai belajar mencicipi kenikmatan dari ciuman Indra, aku menikmatinya dengan kaku namun teratur, membalas setiap gerakan bibirnya, Indra menggesekkan bibirnya lembut, tepat ketika aku memiringkan kepalaku.
__ADS_1
Indra meremas pinggangku, mengangkat tubuhku berada diatas pangkuannya, membuatku semakin mendekat dan menempel sempurna, kami menghentikan ciuman hangat tersebut saat kami berdua kehabisan napas. Indra menangkup pipiku lembut dan berbisik lembut di telingaku. "Tolong aku Sar."
Aku langsung terbangun dari mimpiku dan membuka mataku di tengah kegelapan Kamarku dengan napas yang tersengal-sengal, aku mencari ke sekeliling sosok yang ada bersamaku tadi tetapi nihil, sosok itu tidak ada sekarang bersamaku.
Aku memeluk lututku menangis tertahan di kesunyian Kamarku dimana jam dinding yang menunjukkan waktu empat pagi, yang ternyata aku tertidur selama kurang lebih satu jam. Kamu dimana Ndra, aku rindu. Aku mengambil handphoneku di nakas sebelah tempat tidurku.
Kulihat pencarian pada browserku sebelumnya yang menunjukkan semua hal tentang Angkasa Pratama, aku cek lagi pesan-pesanku kepada Indra tetapi belum ada satu pun yang dibalasnya. Tidak ada juga pesan dari Laura, Edgar, Alisha ataupun teman-teman lainnya yang semalam aku coba hubungi.
Aku mencoba menelpon lagi nomor Indra, walaupun aku tahu hasilnya akan sama saja. Saat dering pertama sampai ketiga teleponku sama sekali tidak diangkat oleh pemiliknya yang membuatku memutuskan untuk menghentikan panggilan tersebut.
Aku mencoba menelpon lagi ke handphone Indra yang ternyata sudah tidak aktif lagi. Hal ini membuatku teringat akan kata-kata Indra dalam mimpiku . "Tolong aku Sar." Tidak terasa air mataku menetes lagi. Apa yang sebenarnya terjadi denganmu Ndra. Saat itu aku memutuskan untuk membersihkan tubuhku dan berencana untuk pergi ke Rumah Indra atau kemanapun sampai aku mendapatkan informasi keberadaan Indra.
Kediaman Indra terasa sepi, Orang Tua Indra dan Laura duduk dengan wajah khawatir dan cemas, Laura masih sibuk dengan handphonenya mencari tahu kepada setiap orang yang mungkin tahu tentang keberadaan Indra, tanpa mereka sadar akan kedatanganku di jam enam pagi ini.
Laura meletakkan handphonenya diatas meja Ruang Tamu dan duduk di sofa dengan wajah yang kusut dan kantonng hitam di matanya, aku duduk di sebelahnya. "Kak." Panggilku pelan, dia pun menoleh dan hanya tersenyum kepadaku. "Sudah dapat informasi terbaru Kak?" Tanyaku dan dia hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu.
__ADS_1
"Kamu ada informasi terbaru Sar?" Tanyanya. "Belum ada Kak, hanya saja." Aku mendekatkan lagi tubuhku untuk sedikit berbisik agar percakapanku dan Laura tidak didengar oleh Orang Tuanya. "Tadi pagi aku mencoba menelpon handphone Indra lagi, dan diangkat hanya saja tidak ada suara." Ucapku pelan.
"Tetapi saat aku ingin mencoba menelpon kembali handphone Indra sudah tidak aktif lagi." Ucapku pelan, aku melihat perubahan raut wajah dari Laura yang terlihat cemas dan takut. "Aku takut ini adalah sebuah penculikan Sar." Ucap Laura pelan sekali tetapi masih bisa terdengar olehku.
"Kita tidak coba menghubungi Polisi Kak?" Tanyaku khawatir. "Tidak bisa Sar, kita bisa melaporkan ke Polisi apabila Indra sudah hilang lebih dari 24 jam, dan juga." Ucapan Laura tepotong karena dia takut akan mengatakan kata-kata selanjutnya.
"Dan juga apa Kak?" Tanyaku penasaran, Laura menghembuskan napasnya berat sebelum berkata-kata. "Dan juga apabila hal ini berhubungan dengan Tuan Angkasa Pratama kita tidak bisa berbuat apa-apa lgi, bahkan pihak Kepolisian pun mungkin tidak dapat berbuat apa-apa." Ucapnya sedih bercampur takut dan cemas.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Kak, kita tidak mungkin membiarkan sesuatu terjadi kepada Indra sedangkan kita tidak berbuat apa-apa." Ucapku kepada Laura dan Laura hanya bisa terdiam dan bingung apa yang harus dilakukannya, aku melihat Papanya Indra sedang sibuk menggunakan handphonenya untuk menghubungi beberapa koleganya yang mungkin bisa membantu dalam pencarian Indra, sedangkan Mamanya dari tadi menangis terisak karena mencemaskan anak Laki-Laki satunya.
Aku mendekati Mamanya Indra dan mencoba untuk menenangkannya. "Bagaimana Pa? Apa ada informasi terkait anak kita." Ucap Mamanya Indra terisak dengan tangisannya kepada Papanya Indra, Papanya Indra duduk di sofa dengan lesu.
"Mereka takut Ma, berita tentang Tuan Angkasa yang datang ke Rumah kita untuk menagih hutang sudah tersebar kemana-kemana, mereka semua takut dan tidak mau membantu kita apabila hal yang kita alami sekarang terkait dengan Tuan Angkasa." Ucap Papanya Indra sedih.
Disaat kami sedang mencemaskan keberadaan Indra, tiba-tiba Satpam yang menjaga Rumah Indra berlarian dari Pintu Utama dengan tergesa-gesa. "Maaf Tuan, Nyonya, Den Indra." Ucapnya dengan napas yang tersengal, kami semua langsung berdiri saat mendengar nama Indra. "Den Indra ada di depan Gerbang." Ucapnya yang membuat kami langsung melangkahkan kaki kami ke depan Gerbang. Indra.
__ADS_1
BERSAMBUNG.