Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
MASALAH BARU


__ADS_3

Aku akan mendapatkanmu dengan cara apapun, walaupun harus dengan cara yang jahat dan menyakiti orang lain.


Alisha. Aku terdiam dengan pikiranku melayang menembus mobil yang sekarang sedang dikemudikan oleh Indra, bahkan suara radio dari mobil Indra pun tidak mampu untuk mengalihkan pikiran dan perasaanku. Apakah aku cemburu? Perasaanku semakin berkecamuk antara marah, sedih dan sedikit kecewa.


Aku melihat kearah Laki-Laki di sebelahku yang sedang memegang kemudi mobil dengan tatapan lurus ke depan, yang aku tahu pasti dari raut wajahnya dia juga sedang memikirkan sesuatu semenjak dia diajak berbicara berdua bersama Alisha.


Flashback.


“Alisha!” Ucap Indra terkejut dan berdiri dari tempat duduknya di Kelasku. “Halo Indra, apa kabar.” Ucap Alisha tersenyum, dia mengalihkan senyumnya dari Indra kepadaku. “Kamu Sarahkan? Halo aku Alisha, pacarnya Indra.” Ucap Gadis cantik tersebut dan mengulurkan tangannya kearahku untuk bersalaman, sedangkan aku masih bingung dengan situasi yang ada di depanku ini.


“Apa maksudmu Alisha?” Ucap Indra dan menepis tangan Alisha menjauh dari hadapan wajahku. “Ah! Sakit Sayang, tidak bisakah kamu lebih lembut dengan pacarmu ini, dan Sarah bisakah kamu meninggakanku dan Indra, aku ingin berbicara dua mata dengan kekasihku ini.” Ucap Alisha dengan tangan yang ingin menyentuh wajah Indra.


Aku langsung berdiri dari tempat dudukku, dan berjalan cepaat menuju Pintu Kelasku. “Sarah!” Teriak Indra yang membuatku menoleh ke belakang, tetapi dia tertahan oleh tangan kanan Alisha yang menggenggam erat tangan kiri Indra dan aku melihat pemandangan itu langsung berjalan lebih cepat lagi keluar dari Kelas meninggalkan kedua orang tersebut di dalam Kelasku, yang aku tidak tahu akan membicarakan apa.


Aku menatap diriku di depan cermin Toilet Sekolah. Apa yang harus aku lakukan. Aku menghapus setitik air mata yang jatuh turun ke pipiku.  Aku yakin dan percaya dengan Kak Indra. Aku meyakinkan diriku sepenuh hati bahwa Kak Indra tidak akan menghianatiku, aku yakin dengan sepenuh hatiku bahwa Kak Indra akan menjaga dan menyayangiku.

__ADS_1


Flashback off.


“Sarah.” Panggil Indra yang membuatku tersadar dari lamunanku. “Eh iya Kak.” Aku melihat ke sekitar ternyata mobil Indra sudah berada di depan Panti, Indra melepaskan seat beltnya dan menghadap diriku, menggenggam kedua pundakku dengan tangan kokohnya.


“Kamu percaya aku kan?” Tanya Indra dengan tatapan tajam yang lekat ke mataku. “Kamu harus percaya semua akan baik-baik saja oke, aku selalu ada untukmu, kamu harus percaya itu.” Ucapnya lagi dengan penuh keyakinan, membuatku mengikiskan jarak antara kami, aku mengecup pelan bibirnya. “Aku percaya kamu dengan  sepenuh hatiku Kak.” Ucapku dengan yakin dan memantapkan hatiku.


Indra mengecup keningku. “Apapun yang terjadi nanti, kamu harus yakin dan percaya semua akan baik-baik saja, suatu hari nanti kamu akan hidup bahagia, percaya itu Sarah.” Ucap Indra yang membuatku bertanya-tanya, apa yang menyebabkannya berkata seperti itu, tetapi aku tidak mempertanyakan hal itu kepadanya, karena dia mendekapku dalam pelukannya dengan erat seolah tidak ingin kehilanganku. Apa yang kamu sembunyikan dariku Kak?


Malamnya setelah Indra mengantarku pulang, aku masih termenung diatas tempat tidurku, memandang langit-langit kamarku dengan pikiranku yang selalu teringat kata-kata dari Indra. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus yakin dan percaya semua akan baik-baik saja, suatu hari nanti kamu akan hidup bahagia, percaya itu Sarah. “Apa yang terjadi sebenarnya?” Ucapku pelan.


“Perkenalkan saya Juwita, Ibu dari Indra Lesmana.” Ucap Perempuan tersebut yang membuatku terkejut. Ada apa ini? Apa terjadi sesuatu dengan Kak Indra. “Ehmm iya Bu, mohon maaf ada apa ya Bu.” Ucapku sedikit gugup. “Jauhi anak saya, atau kamu akan menyesal di kemudian hari, anak saya tidak pantas dengan gadis seperti kamu.” Telepon itu pun langsung dimatikan dengan sendirinya dan seketika itu juga aku terduduk kaku diatas tempat tidurku. Apa yang terjadi sebenarnya.


Aku mencoba untuk menelpon Indra, tetapi telepon tersebut tidak tersambung, aku mencoba mengirim pesan ke nomor handphone Indra. “Kak Indra, tolong hubungi aku kalau Kakak sudah membaca pesan ini.” Tidak lama kemudian hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, aku ingin menutup Jendela Kamarku yang saat itu sedang terbuka lebar, saat aku ingin menutup Jendela Kamarku, aku melihat sosok Laki-Laki yang berdiri di depan Gerbang Panti Asuhan dengan tubuh yang basah terkena air hujan yang turun dengan derasnya, aku menyipitkan mataku lebih tajam untuk lebih mengenali sosok tersebut. Itu Kak Indra?


Aku bergegas lari keluar dari Kamarku mengambil payung yang berada di dekat Pintu Masuk Panti, aku berjalan dengan cepat menemui sosok Laki-Laki tersebut, saat aku berjalan kearahnya dia hanya tertunduk diam tanpa tahu akan kedatanganku. “Kak Indra.” Ucapku yang langsung meneduhi tubuhnya dengan payung yang kubawa. “Kak Indra ada apa?” Laki-Laki yang kusayangi tersebut akhirnya mempertemukan matanya dengan mataku, saat itu aku tahu bahwa orang yang kusayangi ini sedang bersedih. Aku tidak tahu apakah air yang mengalir dari matanya adalah air matanya sendiri atau air hujan yang membasahi wajah tampannya, satu yang aku tahu pasti raut wajahnya mengisyaratkan bahwa dia membutuhkan diriku.

__ADS_1


Aku langsung memeluk tubuhnya dengan erat, sehingga menyebabkan aku melepaskan payung yang ku pegang untuk melindungi kami dari air hujan yang tiba-tiba turun dari Langit. “Maafkan aku Kak, Maaf.” Ucapku getir dengan wajah yang berada di dadanya, dia mengelus punggungku dengan lembut. “Semua akan baik-baik saja.” Ucapnya yang masih berusaha untuk menenangkanku walaupun hatinya sedang sedih sekarang.


Aku dan Indra pun masuk ke dalam Panti Asuhan, Indra meminta izin kepadaku dan Ibu Aisyah untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, setelah itu aku pun membersihkan tubuhku karena badan kami yang basah terkena hujan yang sekarang sudah reda dan hanya menyisakan rintik gerimis di luar Panti Asuhan.


“Bu Aisyah, saya.” Ucap Indra tercekat dan menundukkan kepalanya sat aku, Indra dan Ibu Aisyah sudah berada di Ruang Tamu Panti, aku langsung menggenggam tangan Indra yang membuatnya menoleh kearahku dan membalas genggaman tanganku, dia pun melihat lagi kearah Ibu Aisyah. “Ibu, saya mohon izin dapat tinggal disini sementara, sampai saya bisa mendapatkan uang yang cukup untuk dapat mencari tempat tinggal yang baru.” Ucap Indra penuh harap kepada Ibu Aisyah, aku melihat kearah Ibu Aisyah yang tersenyum kearah kami.


“Kamu boleh tinggal disini sampai kapanpun Nak, Pintu Panti ini selalu terbuka buat Nak Indra, tetapi Nak Indra sudah tahu sendiri dengan kondisi Panti ini, yang dimana semua serba kekurangan, kalau Nak Indra tidak mempermasalahkan hal itu, Ibu juga tidak mempermasalahkan Nak Indra untuk tinggal disini.” Ucap Ibu Aisyah dengan senyum tulusnya. “Terima kasih Bu, saya sudah bisa diterima untuk tinggal disini sementara sudah sangat bersyukur, sekali lagi saya ingin mengucapkan terima kasih atas kemurahan hati Ibu. “ Ucap Indra tulus.


“Ibu, tidak tahu apa masalah yang sedang dihadapi Nak Indra, tetapi Ibu hanya dapat berdoa semoga masalah Nak Indra dapat terselesaikan dengan baik.” Ucap Ibu Aisyah yang hanya dibalas senyuman oleh Indra. “Baiklah kalau begitu, Ibu pamit dulu ya ke dalam.” Ucap Ibu Aisyah sambil berdiri. “Terima kasih Bu.” Ucapku tersenyum kepada Ibu Aisyah yang dijawab anggukan olehnya.


Setelah Ibu Aisyah pergi meninggalkanku dan Indra di Ruang Tamu Panti, kami hanya diam dengan tangan yang masih saling bertautan beserta suara jangkrik yang terdengar dari luar Panti yang menandakan bahwa hujan sudah benar-benar berhenti. “Aku buatkan the panas dulu ya.” Ucapku ke Indra, saat aku akan berdiri tanganku ditahan oleh Indra. “Kamu disini saja ya.” Ucapnya melihat kearahku dengan senyum yang dipaksa dari bibirnya, aku menganggukkan kepalaku, Indra menyandarkan kepalanya di pundak kananku, seperti lelah akan masalah yang dihadapinya sekarang. “Apa yang terjadi Kak?” Ucapku sambil mengelus lembut rambutnya yang masih sedikit basah, dia menghembuskan napasnya berat. “Aku memilih pergi dari Rumah, karena bertengkar dengan Orang Tuaku.” Ucapnya pelan. Masalah baru apalagi ini.


BERSAMBUNG


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.

__ADS_1


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2