Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
#7 WP?S2


__ADS_3

Setelah itu aku mendekatkan diriku lagi di depan laptop, dan membuka sebuah aplikasi rekaman video dan memulai sebuah rekaman. Aku membalikkan laptop tersebut menghadap ke depan layar televisi, aku berdiri di depan layar laptop tersebut, menatap langsung kearah mata tajam milik Angkasa. Dia merentangkan kedua tangannya pada senderan kursi dan menekuk kaki kirinya di atas kaki kanannya. "Lakukanlah." Ucapnya memberi izin.


Aku membuka kancing kemeja kotak-kotakku secara perlahan tanpa melepas kontak mataku dengan Angkasa. Sampai aku tidak menyadari tanganku sudah mencapai kancing terakhir kemejaku, aku melepaskan kemejaku secara perlahan memperlihatkan pakaian dalam berwarna hitam yang aku dapatkan dari lemari Angkasa, dengan renda-renda yang terlihat transparan pada kedua bagian sensitif di dadaku.


Saat kemejaku terjatuh, aku memutuskan melihat kamera pada laptop di depanku. "Tatap aku." Perintah Sang Penguasa, membuatku langsung menatapnya lagi. Dengan sedikit takut aku membuka resleting celana jeansku dan melepaskannya dari kaki putihku, menampilkan penutup tubuh bagian bawahku yang berwarna senada dengan warna penutup bagian atasku.


Aku melihat Angkasa yang masih tidak bergeming dari tempat duduknya saat matanya seperti menelanjangi tubuhku. Aku menjadi salah tingkah selama beberapa detik karena bingung harus melakukan aksi apalagi dalam videoku, sedangkan Angkasa menatapku lebih intim seperti menuntut lebih dalam aksiku. Aku harus meakukan sesuatu yang terlihat panas, apabila aku ingin video yang aku submit lolos di Hiram Club.


Otakku langsung bergerak cepat saat melihat botol air mineralku yang ada di atas meja. Aku mengambil botol air mineral itu dan membukanya, saat aku merasakan posisi berdiriku sudah tepat di depan kamera. Aku menuangkan air tersebut secara perlahan dari atas kepalaku dengan mendongakkan kepalaku ke atas dan mulut yang sedikit terbuka.


Aku merasakan air itu mengalir secara slow motion, bergerak mengalir ke dalam tenggorokanku yang kering, dan beberapa mengaliri wajahku dan turun melalui leherku, turun lagi membasahi penutup bagian atasku mengikuti setiap lekuk bentuk bagian sensitifku, sampai ke bagian paha dalamku yang membuatku menekukan kaki kananku karena merasakan dinginnya air tersebut.


Tiba-tiba aku terkejut, Angkasa memelukku, jemarinya menggali punggungku, mencakar lembut leherku, dan meremas rambut bagian dalamku yang sedikit basah. Angkasa menautkan bibirnya kepadaku, lembut dan menggerus, ciuman yang kurasakan tidaklah lembut, tetapi panas.

__ADS_1


Angkasa melepaskan ciumannya tanpa tersengal sedikit pun, berbeda denganku yang rakus untuk menghirup udara. "Tolong katakan iya Sarah, memintalah kepadaku untuk menjadikanmu milikku, kamu membuatku gila, tubuhmu, baumu semua yang ada padamu menjadi feromon yang sama sekali tidak dapat aku tolak." Ucap Angkasa menatapku seperti meminta tolong.


Aku yang masih diam membuatnya merengkuh pinggangku dan mengangkat tubuhku menggantung pada tubuhnya, membuatku dengan spontan menautkan tanganku pada lehernya dan kakiku tertaut pada pinggangnya. Aku melihat laptop yang sudah tertutup tidak tahu sejak kapan.


Dia membawaku untuk duduk kembali diatas sofa dengan masih memegang erat pahaku agar aku tidak terjatuh. Setelah dia duduk, aku yang berada di atasnya hanya dapat melihat wajah tampannya yang tegas, dengan rahang yang keras. Tanganku menggenggam pundaknya yang kokoh dan kuat.


Tangannya yang tadi ada di bagian pahaku sekarang berpegang pada tengkuk leherku. Dia membawa wajahku mendekati wajahnya dan mulai menautkan bibirnya lagi kepada bibirku, tangannya berpindah ke pinggulku dan dia menggerakkan sendiri pinggulku dan mengesekkannya pada bagian tubuh bawahnya yang membuatnya menggeram.


"Kassa, kita harus berhenti." Ucapku sedikit tersengal karena jujur aku merasakan suatu kenikmatan yang beda setiap kali kulitku bersentuhan dengan kulit Angkasa. Angkasa seolah-olah tidak mendengarkan perkataanku, dia masih menggerak-gerakkan pinggulku dan menyimpan wajahnya di dadaku dan memberikan kecupan dan gigitan pelan di sekitar dadaku dengan geraman tertahan yang keluar dari mulutnya. "Akh Ka...Kassa." Aku mendesah saat aku merasakan sesuatu yang bergesek di bagian paha dalamku, aku melengkungkan tubuhku ke belakang membuatnya dengan leluasa menjamah seluruh bagian sensitif di dadaku.


"Kassa, aku mo...hon hentkan, aku belum." Ucapku tersengal dengan wajah menengadah keatas menahan geli yang luar biasa. "Aku tahu." Ucapnya yang sekarang melihatku diatas tubuhnya. "Aku akan menunggumu sampai kamu siap." Ucapnya dan menghentikan tangannya yang menggerak-gerakkan pinggulku.


Aku masih berusaha mengatur nafasku, meredam sesuatu yang panas dari salam tubuhku, sesuatu yang baru pertama kali aku rasakan. Saat nafas dan suhu tubuhku kembali normal, aku baru merasakan tubuhku menggigil kedinginan.

__ADS_1


Angkasa membuka kemejanya dengan cepat dan langsung memakaikan kemeja hitamnya itu padaku dan mengancingnya. Aku ingin menurunkan tubuhku dan duduk di sebelahnya, tetapi dia menahanku. "Tetaplah disini." Ucapnya lembut tanpa ada nada penekanan dan memerintah membuatku menuruni keinginannya.


"Jawablah pertanyaanku sekarang Sarah, aku mohon, aku sudah seperti orang gila menunggumu untuk menjadi milikku. Apa yang kamu mau pasti akan aku berikan kepadamu, apapun itu." Ucapnya memohon, ini baru pertama kalinya aku mendegar seoarang Angkasa memohon sesuatu. "Aku hanya ingin memastikan hatiku." Ucapku singkat dan membuatnya tidak bertanya lagi kepada orang lain.


Dari atas pangkuannya aku hanya dapat melihat tubuh Angkasa yang terpahat sempurna, tetapi dibalik pahatan sempurna itu aku melihat ada beberapa goresan, luka bakar dan beberapa luka jahitan pada beberapa bagian tubuh atasnya itu. "Sentuhlah aku jika kamu mau, kamu dapat menyentuhku dimanapun kamu mau." Ucapnya yang melihatku memperhatikan setiap lekuk tubuhnya.


Aku dengan sedikit ragu-ragu, tetapi memberanikan diriku menyentuh sebah luka goresan pada bagian dada sebelah kirinya, mengikuti alur dari luka tersebut dengan jari telunjuk kananku membuatnya memejamkan matanya seperti menahan sakit yang luar biasa. Aku melepaskan jariku tidak mau melihatnya merasakan sakit seperti itu. "Apa yang terjadi denganmu, Kassa? Mengapa kamu bisa mendapatkan luka sebanyak ini." Tanyaku kepadanya, dia menghembuskan nafasnya berat.


"Maafkan aku, jika aku membuatmu terluka dengan pertanyaanku." Ucapku meminta maaf. Tidak beberapa lama dia menempatkan wajahnya pada dadaku  dan memelukku erat. Aku merasakan kemejaku sedikit basah sekarang. Kassa menangis?


Aku membelai rambut undercutnya yang terpotong rapi. "Ada apa Kassa? Aku disini, semua akan baik-baik saja." Ucapku lembut dan kassa menarik tengkuk kepalaku, menariknya untuk memberikan kecupan penuh kasih sayang pada bibirku dan dia sendiri yang melepaskan tautan lidah kami. "Kamu tidak akan suka dengan apa yang aku ceritakan, aku memang seorang pembunuh, terlebih lagi aku adalah orang yang membunuh Ibu kandungku sendiri." Ucapnya memandangku penuh arti. Apa yang ingin kamu ceritakan Kassa.


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2