Wanita Penggoda?

Wanita Penggoda?
3 MUSKETEERS


__ADS_3

“All for one and one for all, united we stand divided we fall.” - Alexandre Dumas\, The Three Musketeers.


"Hentikan Alisha." Ucap Edgar, semua perhatian kami teralihkan ke Edgar. "Edgar." Ucap Alisha menatap Lekat Laki-Laki tersebut. "Cukup Alisha, sudah saatnya kamu berhenti untuk membuat harga dirimu lebih hancur lagi." Ucap Edgar kearah Alisha, Edgar memegang kedua pundak Alisha dengan tangannya.


"Semarah-marahnya aku, atau sebodoh-bodohnya aku dengan apa yang kamu lakukan kepadaku." Ucap Edgar menundukkan kepalanya dihadapan Gadis yang selalu mengisi setiap Ruang di hatInya seolah bertekuk lutus di depan Alisha, Edgar menghembuskan napasnya berat sebelum dia melanjutkan kata-kata dari mulutnya. "Aku sama sekali tidak bisa membencimu, jadi tolong berhentilah membuat dirimu lebih dipermalukan oleh dirimu sendiri, kalau kamu tidak mau melakukannya untukku, setidaknya lakukan untuk dirimu sendiri." Ucap Edgar.


"Kamu tidak memisahkan cinta mereka Sha." Ucap Edgar melihat dan tersenyum kearahku dan Indra secara bergantian. "Tidakkah kamu melihat bahwa cinta mereka akan tetap bersatu, walaupun kamu menghancurkan salah satu dari mereka." Lanjut Edgar, aku merasakan tanganku digenggam erat oleh Indra dan Alisha melihat kearah kami dengan raut muka sedih dan...menyesal.


Alisha menundukkan kepalanya dan menjatuhkan tubuhnya ke dalam dekapan Edgar. "Tidakkah kamu rindu dengan persahabatan kita Sha, dimana semua orang memanggil kita 3 Musketeers." Ucap Edgar mencium pucuk kepala Alisha dan mengelus lembut punggung Gadis itu yang sedang terisak dengan tangisannya. Aku melihat kearah Indra yang tersenyum melihat kedua sahabat terbaik yang pernah dimiliknya.


"Apakah kalian sama sekali tidak ada Kelas? BUBAR!" Teriak Indra sedikit keras melihat ke sekitar kami, dimana para Siswa-Sisw sedang berkumpul di sekitar kami. Mendengar perintah dari Indra, mereka semua pun bubar dengan bisikan-bisikan yang tidak jelas di telingaku.


"Kita ke Kelas yuk, kita tinggalkan mereka berdua." Ucap Indra dengan menggenggam tanganku lebih erat dan aku menganggukkan kepalaku. Saat kamu melewati Edgar dan Alisha, Indra memukul pundak Edgar pelan yang membuat mata mereka saling bertemu dan sama-sama tersenyum, yang membuatku sedikit senang dengan kembali bertemannya kedua sahabat itu.

__ADS_1


Saat aku dan Indra sudah berada di depan Kelasku, Indra mengecup keningku lembut. "Sepertinya aku tidak perlu menjagamu terus, karena kamu sepertinya dapat menjaga dirimu sendiri seperti tadi." Ucap Indra tersenyum melihatku yang membuatku ikut tersenyum. "Sudah berakhirkah semua ini Kak?" Ucapku tertunduk, Indra menarik daguku untuk melihat kearahnya.


"Mau semua ini sudah berakhir ataupun akan ada laginya masalah baru di depan kita, aku akan tetap menjagamu dan selalu untuk terus bersamamu Sarah, sampai kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu." Ucap Indra terpotong karena mulutnya yang tertutup dengan telapak tanganku. "Kamu adalah hal terindah dan terpenting untukku Kak, aku tidak akan mau menggantikanmu dengan siapapun dan apapun." Ucapku dan langsung mengecup pipi kanannya dengan cepat dan langung masuk meninggalkannya yang terkejut dengan perlakuanku sambil menyentuh pipinya yang aku cium tadi. Aku harap aku dapat menjalani hari-hariku dengan orang-orang yang aku sayangi sekarang Tuhan, jangan pisahkan aku dari mereka semua lagi.


Tiga hari kemudian.


Tiga hari sudah, semenjak kejadian waktu itu di Lorong Sekolah bersama Edgar dan Alisha, dan sudah tiga hari juga Indra meninggalkan rumahnya dan bekerja sebagai Barista di salah satu Coffee Shop di dekat Panti Asuhan. Indra selalu berangkat kerja setelah jam pulang Sekolah dan balik ke Panti pada malam harinya.


Dalam hatiku aku selalu mempertanyakan apakah dia baik-baik saja dengan keadaanya sekarang yang serba kekurangan, dibandingkan kehidupannya yang dulu semua serba ada, tidak perlu untuk berusaha terlebih dahulu untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Kak." Panggilku pelan dan dia memperlihatkan wajah tampannya yang terlihat lelah itu, aku menundukkan kepalaku karena ragu mempertanyakan hal ini kepadanya. "Kak Indra yakin Kakak baik-baik saja dengan keadaan sekarang? Kita bisa bicarakan baik-baik dengan Orang Tua Kak Indra, aku yakin semua akan baik-baik saja nantinya." Ucapku melihat kearahnya untuk meyakinkan dirinya.


Dia menghembuskan napasnya berat. "Aku tidak bisa terima saat mereka memandang buruk orang yang Kusayangi Sar, dan untuk apa juga aku disana kalau aku sendiri merasa sendiri di Rumah itu." Ucap Indra menundukkan kepalanya, aku menarik kepala yang penuh beban tersebut ke pundakku. "Tetapi mereka tidak tahu tentang hal tersebut Kak, kemarin Kakakkan sudah mengatakannya kepada mereka, mungkin setelah itu semua akan berubah." Ucapku dengan mengelus lembut kepalanya. "Aku tidak tahu Sar, aku tidak tahu." Ucapnya berat. Aku tetap mengelus lembut kepalanya, berusaha untuk terus bersamanya saat dia sedang mempunyai masalah seperti ini.

__ADS_1


Keesokan harinya di Sekolah, OSIS mengadakan rapat untuk menentukan Susunan Kepengurusan selama masa jabatan yang akan dijalankan oleh Edgar, dimana dalam kepengurusan tersebut Edgar selaku Ketua Osis dapat menunjuk beberapa jabatan penting dalam kepengurusannya, Edgar menunjuk Indra sebagai Wakil Ketua Osisnya, Alisha sebagai Sekretaris dan Adel sebagai Bendaharanya.


Hubungan Edgar, Alisha dan Indra sudah baik seperti saat mereka bersahabat baik dulu, hubunganku dengan Alisha pun membaik, Alisha mengatakan kepada kami semua bahwa dia sudah menghapus video-videoku yang pernah disimpannya, hubungan antara Edgar dan Alisha pun terlihat semakin dekat, dimana aku dapat melhat setiap tatapan dari Alisha saat melihat Edgar penuh dengan rasa kagum dan suka.


"Ndra, nanti balik Sekolah kita nongkrong yuk, lama nih kita gak nongkrong." Ucap Edgar sambil merangkul pundak sahabatnya itu. "Ehmm." Indra terlihat bingung menjawab pertanyaan dari sahabatnya, karena sebenarnya Indra memang belum mengatakan bahwa dia pergi meninggalkan Rumah selama beberapa hari ini dan bekerja saat pulang Sekolah.


"Ayo Ndra, kapan lagi kita kumpul-kumpul kayak dulu lagi." Ucap Adel. "Sarah juga pasti mau ikutkan?" Tanya Alisha kepadaku. "Ha? Ehmm lihat nanti ya Kak, aku ada kerjaan Sekolah dan ingin minta bantuan Kak Indra." Ucapku bohong dan menggenggam tangan Indra yang sedang terlihat bingung.


"Hmm Oke kalau gitu lain kali ya?" Ucap Edgar dan dijawab anggukan oleh Indra, setelah itu mereka semua pergi ke Kelas, meninggalkanku dan Indra di dalam Ruang Rapat. "Kakak gak pa-pa?" Tanyaku masih menggenggam tangannya. "Aku tidak apa-apa, jangan dipikirin ya." Ucapnya mengusap lembut kepalaku.


Tidak lama kemudian tedengar suara handphone Indra berbunyi, dia mengangkatnya dan berjalan sedikit menjauhiku. Aku melihat perubahan raut wajah pada Indra yang terlihat cemas dan khawatir, setelah dia menutup telepon tersebut, dia berjalan mendekatiku dengan tangan yang sedikit gemetar. "Kak, kenapa?" Ucapku cemas. "Tadi telepon dari siapa?" Tanyaku. "Dari, dari Kak Laura bilang kalau Mama masuk Rumah Sakit dalam kondisi kritis sekarang, karena stroke." Ucapnya sedih. "Kita ke Rumah Sakit Sekarang." Ucapku menarik tangannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.


Terima kasih supportnya!!!


__ADS_2