
"Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang." - Soekarno.
"Halo Sar, kamu kemana aja? Aku coba telepon dari semalam kenapa gak diangkat." Ucap Rizka diujung telepon saat aku mengangkat teleponnya di dalam mobil. Setelah aku keluar dari Apartemen Angkasa Pratama yang sangat mewah itu, sekarang aku sedang diantarkan dengan mobilnya pulang ke Panti.
Waktu sekarang menunjukkan pukul tujuh pagi, artinya aku masih mempunyai waktu tiga jam untuk mempersiapkan diriku mengikuti wawancara beasiswa di Sekolah. Tetapi sebelum aku meyakinkan diriku seratus persen untuk mengambil beasiswa itu, aku ingin berbicara dengan Ibu Aisyah perihal hal ini.
"Maaf Riz, semalam aku tidak mengabarimu, tetapi aku baik-baik saja." Ucapku berusaha untuk terdengar normal seperti biasanya "Syukurlah deh Sar, semalam saat aku menunggumu di mobil, ada Penjaga Klub dari Butterfly yang mengatakan bahwa kamu sudah diantarkan ke Rumah, sebelumnya aku sempat ragu dengan perkataannya, jadi aku menunggu disana sampai jam sebelas malam, tetapi aku tidak melihat kamu Sar, jadinya aku langsung pulang sendirian, teman-teman kita yang lain juga langsung pulang tidak lama setelah aku pulang." Ucap Rizka.
"Iya Riz, aku juga meminta maaf karena membuatmu menunggu." Ucapku. "Oh iya, Sar kamu sudah baca berita pagi hari ini di koran?" Tanya Rizka. "Hmm belum Riz, aku belum dengar berita apa-apa hari ini." Ucapku. "Oke, hmm Galang yang kemarin ngajak kita ke Klub Malam itu yang ternyata pemiliknya adalah seorang milyarder muda Angkasa Pratama, Galang katanya di keroyok oleh beberapa Preman, tetapi tidak tahu apa masalahnya dan Polisi juga terlihat tidak menindaklanjuti masalah tersebut." Ucap Rizka.
Aku sedikit terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Rizka, apakah semua ini dilakukan oleh Angkasa Pratama, apa dia yang telah memukul Galang. "Sar, halo Sar kamu masih disana?" Tanya Rizka membuatku terbangun dari lamunanku. "Eh iya Riz, iya, ya sudah ya Riz, ini aku sudah mau sampe Panti, sampai ketemu lagi ya." Ucapku setelah itu menutup sambungan teleponku dan Rizka.
__ADS_1
Mobil yang aku tumpangi masuk ke area Panti, Ibu Aisyah terlihat sedang bersih-bersih di Warung Nasi Uduknya, aku melihat Ibu Aisyah sedikit heran melihat ada mobil mewah yang datang ke Panti. Mobil pun berhenti. "Terima kasih ya Pak." Ucapku yang hanya dijawab anggukan oleh supir tersebut.
"Bu." Panggilku kepada Ibu Aisyah dan mencium tangannya, setelah mobil yang mengantarkanku tadi masuk lagi ke Jalanan Ibukota. "Kamu dianterin siapa Nak?" Tanya Ibu Aisyah heran. "Oh itu tadi temen Bu." Ucapku bohong. "Dan maaf Bu, aku semalam tidak pulang, aku menginap di Rumah Rizka." Ucapku berbohong lagi, aku tidak ingin membuat Ibu Aisyah khawatir karena hal mengerikan yang terjadi padaku semalam. Maafkan Sarah Bu.
"Iya gak pa-pa Nak." Ucap Ibu Aisyah lembut kepadaku. "Bu sebenarnya ada yang ingin Sarah bicarakan." Ucapku sambil duduk di salah satu bangku panjang di Warung Ibu Aisyah. Ibu Aisyah pun mengikutiku dan duduk di sebelahku.
"Bu." Ucapku dan menghembuskan napasku berat. "Sekarang Sarah sedang bingung." Lanjutku lagi. "Kamu bingung kenapa Nak?" Tanya Ibu Aisyah. "Sarah mendapatkan tawaran beasiswa dari Sekolah untuk ke Luar Negeri di Australia, tetapi Sarah ragu." Ucapku menunduk.
Perkataan Ibu Aisyah tadi berhasil membuatku terharu dan memeluknya dengan penuh rasa kasih sayang." Terima kasih Bu, Sarah akan berusaha semaksimal mungkin disana apabila Sarah mendapatkan beasiswa tersebut dan akan membuat Ibu dan Adik-Adik tersenyum bangga melihat Sarah." Ucapku dalam pelukannya.
Setelah percakapanku dengan Ibu Aisyah, sekarang aku sudah memantapkan hatiku untuk berusaha keras mendapatkan beasiswa itu. Aku membantu Ibu Aisyah mempersiapkan semua kebutuhan dalam Warungnya terlebih dahulu, dan sekitar jam sembilan pagi aku berangkat ke Sekolah menggunakan Angkutan Umum. Aku harus bisa mendapatkan beasiswa ini, harus.
__ADS_1
Angkutan Umum yang aku tumpangi sudah berhenti di depan SMA XYZ, aku melangkahkaan kakiku masuk ke dalam Sekolah, menuju sebuah Auditorium tempat wawancara semua Univeritas terbaik dalam Negeri ataupun Luar Negeri untuk SMA XYZ.
Auditorium ini mengingatkanku akan awal mulanya kisah hidupku di SMA XYZ ini, bertemu dengan orang-orang yang sekarang banyak menjadi kenangan dalam langkah hidupku baik itu buruk ataupun baik, dan ternyata di Auditorium ini juga yang akan menjadi saksi hidup kelanjutan hidupku selanjutnya, membuatku sedikit merasakan keharuan dalam hatiku.
Di dalam Auditorium ini sudah terdapat beberapa Siswa Siswi yang dipilih oleh Sekolah dan yang berniat untuk mendapatkan beasiswa dari beberapa Universitas disini. Semua Universitas sudah mendapatkan Stan mereka masing-masing dengan nama setiap Universitas di mejanya, tetapi ada satu Ruangan yang sepertinya sengaja dibuat khusus untuk satu Univeritas, saat aku sedikit mendekat aku membaca nama Universitas itu diatas pintu masuk Ruangan itu. Australian National University.
"Sarah." Suara seseorang memanggil namaku, aku mencari kearah sumber suara yang ternyata adalah Ibu Kepala Sekolah, beliau berada di depan Stan Australian National University. Aku mendekatinya dan memberi salam dengan sopan. "Kamu sudah Ibu tunggu daritadi, Ibu pikir kamu tidak akan datang Sarah, tetapi Ibu sangat bersyukur kamu dapat datang sekarang karena hari ini tiba-tiba, salah satu penyumbang terbesar dari Universitas ini datang ingin ikut untuk mewawancarai Siswa-Siswi yang akan di seleksi masuk ke Universitas ini." Ucap Ibu Kepala Sekolah kepadaku yang membuatku gugup.
"Sarah Gibran." Panggil seorang Wanita cantik menggunakan kemeja berwarna merah muda yang dipadu dengan celana panjang berwarna putih dimana perpaduan itu terlihat elegan dan menawan padanya. Aku melihat Wanita cantik itu dari atas ke bawah menebak umurnya yang dalam perkiraanku hanya berbeda satu atau dua tahun saja dariku. Aku langsung mendekatinya dan tersenyum ramah. "Halo, saya Sarah Gibran." Ucapku dia menatap sejenak penampilanku dan ada senyuman tipis dari wajahnya.
"Halo Sarah Gibran, saya Cassandra, kamu bisa panggil saya Cassy." Ucapnya mengulurkan tangannya untuk mengajakku bersalaman. "Saya adalah salah satu perwakilan dari ANU di Australia, yang ditunjuk untuk membantu penyeleksian Mahasiswa baru disana, saya juga adalah Mahasiswi yang berkesempatan mendapatkan beasiswa ini tahun lalu. Dan hari ini kamu akan di wawancarai oleh salah satu Investor terbesar dari ANU, jadi bersiap-siaplah oke." Ucapnya yang membuatku gugup. Dia menyentuh pundakku lembut dan sedikit berbisik di telingaku. "Kamu tenang saja tidak perlu gugup, salah satu orang yang akan mewawancaraimu ini sangat menyukai Wanita cantik seperti kamu." Ucapnya yang membuat dahiku mengernyit, belum sempat aku bertanya lebih lanjut, dia sudah membuka pintu di depanku dan menampilkan tiga ruangan di dalamnya. Aku diminta Cassy untuk masuk ke Ruangan paling ujung sebelah kiri, saat aku masuk mataku membulat dan hanya tertuju pada orang yang duduk di belakang meja tersebut dengan seorang Bodyguard di sampingnya. Angkasa Pratama.
__ADS_1
BERSAMBUNG.