
JANGAN LUPA VOTE YA READERS, DAN TETAP DENGARKAN AUDIO BOOK AUTHOR, TERIMA KASIH!!!
"Persahabatan tidak perlu saling mengerti. Karena sahabat akan saling menerima hal yang tak bisa dimengerti."
"Karena gua benci saat tahu ternyata lo orang yang disukai Alisha dan membuat dia menderita sampai saat ini, karena itu gua mau buat lo merasakan apa yang gua rasain saat orang yang lo sayangi kesakitan karena sahabat lo sendiri." Ucap Edgar yang membuatku emosi lagi dan menarik kerah bajunya lagi dan membuat Edgar berada di ujung balkon. "Kenapa Ndra, lo mau buat gua jatuh dari Lantai 3 ini seperti waktu lo menjatuhkan Alisha waktu itu?" Ucap Edgar dengan wajah tenang yang membuatku terkejut dengan perkataannya. "Apa maksud lo?"
Aku melepaskan genggaman tanganku pada kerah bajunya dan mundur beberapa langkah dan menatap kearahnya penuh dengan tanda tanya. "Apa maksud lo Gar?" Tanyaku lebih keras lagi, dia merapikan seragam Sekolahnya. "Gua ngelihat lo waktu itu saat Alisha jatuh dari Lantai ini." Ucap Edgar menatapku tajam. "Saat di Rumah Sakit sebeum Alisha dibawa oleh Orang Tuanya ke Luar Negeri, dia mengatakan kepada Gua bahwa dia mau menerima pernyataan cinta gua, kalau gua bisa membuat orang yang lo sayangi hancur sama seperti dia,dan dia mengatakan bahwa lo sama sekali tidak ada niat untuk menolongnya saat terjun dari Lantai 3 ini." Ucap Edgar, tetapi raut wajahnya berubah muram, dan dia mengambil rokok yang tadi jatuh dari tangannya saat aku menarik kerahnya.
"Alisha bilang kalau dia akan kembali untukku, saat aku sudah berhasil menghancurkan orang yang kamu sayangi dan mengirimkan video tersebut, ternyata." Ucap Edgar tertunduk dan menghempaskan napasnya berat. "Ternyata dia kembali bukan untuk gua, dia kembali hanya untuk lo dan memanfaatkan kebodohan gua menghianati sahabat gua sendiri." Ucap Edgar terdengar serak.
Aku mendengarkan perkataan Edgar, melangkahkan kakiku berdiri di sebelahnya dan merangkulnya erat. "Maafkan gua Ndra, maafkan gua." Ucap Edgar masih tertunduk dalam rangkulanku yang aku tahu dia sedang meneteskan sedikit air mata pada wajahnya. "Gua gak pernah bisa marah dengan sahabat terbaik gua Gar dan gua selalu maafin lo, seharusnya lo kasih tahu hal ini dari dulu, karena gua gak mau kehilangan sahabat terbaik gua." Ucapku tanpa malu menunjukkan adanya sedikit air mata pada pelupuk mataku di depan sahabat yang aku rindukan ini. Setelah itu aku dan Edgar masih berada di Lantai 3 itu sampai jam pulang Sekolah, menghilang dan membolos dari Kelas Kami untuk merajut kembali tali persahabatan yang kami hilangkan, karena kesalahpahaman diantara kami dan mengenang masa-masa indah saat kami memulai persahabatan kami dari kecil.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang bersama di dalam mobil aku masih memikirkan penyelesaian masalahku dengan Alisha, setelah memulai kembali persahabatanku dengan Edgar, bahkan sahabatku tersebut mengatakan bahwa dia bersedia untuk membantuku menyelesaikan masalahku dengan Alisha, tetapi aku menolaknya dan mengatakan biarkan aku berjuang sendiri untuk melindungi Gadisku, sampai tidak terasa mobilku pun sudah sampai di depan Pintu Gerbang Panti Asuhan, aku melihat Gadisku yang duduk manis disebelahku tetapi dengan pikiran yang tidak ada bersamaku sekarang.
“Sarah.” Panggilku yang membuatnya tersadar dari lamunannya. “Eh iya Kak.” Dia terlihat bingung dan tidak menyadari bahwa kami sudah berada di depan Panti Asuhan. Aku melepaskan seat beltku dan menghadap dirinya, menggenggam kedua pundaknya. “Kamu percaya aku kan?” Tanyaku lembut menatap mata indahnya. “Kamu harus percaya semua akan baik-baik saja oke, aku selalu ada untukmu, kamu harus percaya itu.” Ucapku lagi meyakinkan dirinya dan diriku, aku terkesiap saat Sarah mendekatkan bibir lembutnya ke bibirku dan mengecupnya pelan. “Aku percaya kamu dengan sepenuh hatiku Kak.” Ucapnya yang membuatku semakin yakin dengan keputusanku.
Aku mengecup keningnya. “Apapun yang terjadi nanti, kamu harus yakin dan percaya semua akan baik-baik saja, suatu hari nanti kamu akan hidup bahagia, percaya itu Sarah.” Ucapku yang membuatnya bertanya-tanya, apa yang menyebabkannya aku berkata seperti itu, setelah itu kami turun dari mobil dan aku pun juga pamit dengan Ibu Aisyah yang sedang menjaga dagangannya di depan Panti. "Ibu saya izin pamit ya." Ucapku. "Nak Indra tidak mau pamit dulu." Ucap Ibu Aisyah membalas sapaanku. "Gak usah Bu, ada yang mau saya kerjakan di Rumah." Ucapku. "Oh iya Nak Indra, terima kasih sudah au mengantar Sarah pulang." Ucap Ibu Aisyah setelah aku dan Sarah mencium tangan Ibu Aisyah. Aku pun masuk ke dalam mobilku lagi, dan mengecek handphoneku dengan tampilan layar missed call dari Mama. Aku harus menyelesaikan ini semua.
Setibanya sore menjelang malam aku sampai di Rumah, aku melihat mobil Papa yang sudah terpakir di depan Pintu Utama Rumahku. Tidak biasanya Papa sudah pulang jam segini. Aku masuk ke dalam Rumah mempersiapka diriku, saat aku sudah masuk ke dalam Rumah, aku melihat Mama dan Papa sudah duduk di Ruang Keluarga yang aku tahu sedang menungguku.
Papaku menatapku lekat. "Apa yang tidak Papa berikan sama kamu, semua yang kamu butuhkan sudah Papa berikan, mobil, kartu kredit dan semua fasilitas bahkan Sekolah mahal tempat kamu belajar sudah Papa berikan." Ucap Papku tegas dan aku menundukkan kepalaku. "Tinggalkan Gadis itu, jangan membuat malu nama keluarga yang sudah Papa dan Mama kamu bangun selama ini." Ucap Papaku yang membuatku melihat kedua Orang Tuaku yang tidak pernah aku rasakan kasih sayangnya selama ini.
"Tahu apa yang Papa dan Mama tidak pernah berikan kepadaku?" Tanyaku menatap lekat mereka secara bergiliran. "Kasih sayang, dari kecil aku hanya tinggal bersama pembantu di Rumah ini, Papa sibuk dengan dunia politik Papa, Mama sibuk dengan Grup Sosialitanya untuk mendukung karir Papa, Kak Laura? mana dia, Kak Laura lebih memilih untuk tinggal di Bali dan menetap disana daripada di Rumah ini yang besar tetapi kecil dengan kasih sayang." Ucapku dengan sedikit air mata di ujung mataku.
__ADS_1
"Kamu, jadi kurang ajar semenjak mengenal Gadis Murahan itu? Begini cara kamu berbicara dengan Orang Tua Kamu." Ucap Papaku berdiri dengan emosi. "Jangan katakan Sarah Gadis Murahan Pa." Ucapku berdiri dari tempat dudukku. "Ndra, Pa sudah kita bisa bicarakan baik-baik." Ucap Mamaku ikut berdiri di sebelah Papaku dan mengelus lembut tangan Papaku.
"Tinggalkan dia atau pergi dari Rumah ini tanpa satu pun barang yang kamu bawa dari Rumah ini!" Teriak Papaku. "Oke kalau Papa meminta Indra untuk memilih antara Papa dan Mama dengan Sarah yang kalian bilang Gadis Murahan yang mengajari dan memberi arti kasih sayang dan perhatian kepada Indra, Indra lebih memilih untuk pergi dari Rumah ini." Ucapku dan langsung berlalu meninggalkan mereka dan masuk ke dalam Kamarku dan memasukkan beberapa bajuku ke dalam Tas Ranselku.
Aku masih dapat mendengar Mamaku meminta Papaku untuk membujukku agar tidak pergi dari Rumah ini, tetapi aku tidak menghiraukannya lagi, aku keluar dari Kamarku, melewati mereka di Ruang Keluarga. "Indra, Mama mohon kamu jangan pergi ya, Papa kamu hanya emosi saja karena lelah dari Kantor." Ucap Mamaku memohon dan menahan pergelangan tanganku dalam dekapannya. "Biarkan dia pergi Juwita, biar dia merasakan hidup di luar sana tanpa adanya barang-barang yang dimilikinya sekarang." Teriak Papaku.
"Maaf Ma, Indra tidak bisa tinggal disini, jika Mama dan Papa tidak dapat menerima Sarah, maka itu berarti Mama dan Papa juga tidak dapat menerima Indra, Indra mohon maaf." Ucapku melepaskan dengan sedikit paksaan pelukan Mamaku pada pergelangan tanganku. Aku keluar dari Rumahku melewati Satpam yang berjaga di depan Gerbang Rumahku. Kemana aku harus pergi sekarang. Aku memanggil Taksi yang lewat di depan Rumahku, dan tujuanku satu aku ingin berada dalam pelukan dan dekapan Gadisku.
BERSAMBUNG
Mohon vote, love, like dan komentarnya readers, terus ikuti kisahku ya.
__ADS_1
Terima kasih supportnya!!!