
Kalau enggak bisa dapat juara dua,minimal dapat juara satu - gabriel
*****
Tania pun menuju jendela kamar gabriel dan menenangkan diri disana. Saat seperti ini tania hanya bisa berharap bahwa sesak nafasnya bisa hilang.
Saat hendak menuju kulkas,tania di kejutkan oleh bayangan tinggi besar yang tepat berada di hadapannya. Jantung tania berpacu karena terkejut dengan apa yang ia lihat. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh yang tak jauh dari dirinya.
"Aaaaaa...."
Tania berteriak keras dan memundurkan badannya sambil meraba-raba barang yang berada di sekitarnya untuk memukul bayangan tersebut.
"Prang...."
Suara pecahan pun terdengar di kamar gabriel dan membuat gabriel terbangun dari tidurnya. Gabriel pun langsung menghidupkan lampu kamarnya untuk melihat keadaan sekitar.
Terlihat tania sedang berjongkok dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan. Gabriel pun menghampiri tania dan membawa tania untuk duduk di kursi dan memberikannya air.
"Kamu enggak apa-apa airin?" Tanya gabriel sambil memperhatikan getaran pada tubuh tania. Tania hanya bisa menggelengkan kepalanya tanpa berkomentar sedikitpun.
Gabriel langsung memperhatikan tania dengan seksama. Gabriel khawatir jika nantinya tania akan terluka. Setelah memastikan bahwa tania tak terluka,gabriel pun langsung membersihkan serpihan kaca yang berada di lantai kamarnya.
Saat melihat ke arah tania,tiba-tiba gabriel gagal fokus saat tubuh tania bergetar semakin kuat. Gabriel pun menghampiri tania dan menggoyangkan pelan badan tania.
"Airin..."
"Airin..."
"Hei airin..." Panggil gabriel pelan.
Tak ada reaksi dari tania dan membuat gabriel semakin keheranan.
"Nih anak kesambet penunggu hotel atau gimana?" Batin gabriel sambil melihat jam dinding.
"Mana sekarang masih jam 02.00 pagi" Batin gabriel lagi.
__ADS_1
Tania menelungkupkan kepalanya ke atas lutut sambil terisak pelan. Seketika bulu kuduk gabriel langsung berdiri. Gabriel pun langsung berta'awudz agar kecemasannya hilang.
"Airin,kamu enggak apa-apa kan?" Tanya gabriel pelan. Tania masih seperti keadaan sebelumnya. Ia hanya bisa terisak pelan dan tersedu-sedu.
"Saya takut pak...." Ucap tania pelan. Gabriel pun menghelakan nafasnya pelan dan membuatnya sedikit pelan saat mendengarkan suara tania.
"Udah enggak usah takut,ada saya di sini..." Ucap gabriel duduk di kursi yang sedikit berjauhan dengan tania.
"Udah,berhenti dong nangisnya airin"
"Saya merinding dengerin kamu nangis" Ucap gabriel sambil menatap tania dengan tatapan sedikit takut. Tania pun menganggukkan kepalanya pelan.
"Sholat malam dulu yuk airin,mau?" Ajak gabriel. Tania pun menatap pintu kamar gabriel dengan tatapan sedikit takut.
"Kamu kenapa? Lihat hantu?" Tanya gabriel penasaran.
"Saya takut ngambil mukena saya pak" Ucap tania. Lagi-lagi gabriel hanya bisa menghelakan nafasnya dan berlenggang ke kamar tania untuk mengambil mukena. Saat sudah mengambil mukena tania,tiba-tiba tatapan gabriel langsung tertuju pada lorong hotel yang gelap nan sepi.
Gabriel yang ketakutan pun langsung berlari masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu kamar.
"Bapak kenapa?" Tanya tania heran. Gabriel sedikit linglung saat mendengarkan pertanyaan tania.
"Udah,kamu wudhu dulu gih" Ucap gabriel dan di angguki tania.
Setelah selesai melaksanakan sholat tahajud,mereka pun melaksanakan beberapa sholat sunnah lainnya.
"Udah balik gih ke kamar mu" Ucap gabriel. Tania langsung menggelengkan kepalanya sambil menatap pintu.
"Takut..." Ucap tania pelan.
Akhirnya gabriel meminta tania tidur di ranjang miliknya,sedangkan gabriel tidur di sofa yang berada tak jauh dari kasur.
"Bapak enggak ngapa-ngapain saya kan?" Tanya tania khawatir.
"Insya Allah kalau enggak khilaf" Jawab gabriel santai sambil memejamkan matanya di atas sofa.
__ADS_1
"Jangan gitu dong pak,saya kan jadi taku.." Ucap tania terpotong.
"Kalau kamu ngomong lagi jangan salahkan kalau saya khilaf" Ucap gabriel. Tania langsung menutup matanya dan kembali melanjutkan istirahatnya.
*****
"Nih pakai" Ucap gabriel sambil memberikan sesuatu.
"Apaan nih?" Tanya tania sinis. Gabriel cukup kesal dengan sikap tania saat ini. Jika tadi malam tania ketakutan,sekarang tania malah kembali ke sifat aslinya.
"Menurut kamu?" Tanya gabriel balik.
"Baju dan jilbab" Ucap tania.
"Tuh tau. Nih pakai" Ucap gabriel sambil meletakkan baju tersebut di atas ranjang kamar tania. Tania hanya menga-nga dan menatap baju tersebut dengan seksama.
"Saya beliin itu khusus buat kamu"
"Sebagai bentuk apresiasi belajar keras kamu selama ini" Ucap gabriel.
"Em,tapi pak...saya enggak suka di kasih baju sama orang lain" Ucap tania. Gabriel langsung melirik tania dengan sinis.
"Terserah kamu,mau pakai syukur,enggak mau juga enggak apa-apa" Ucap gabriel datar. Tania hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil melihat punggung gabriel yang sudah menjauh.
Setelah selesai mandi,tania langsung ke lantai dasar hotel untuk sarapan. Akhirnya tania memakai baju yang di belikan gabriel. Gabriel hanya melihat tania dengan tatapan datarnya. Akan tetapi dalam hatinya cukup senang saat mengetahui pakaian yang ia beli sangat cocok untuk tania.
Setelah melewati perlombaan yang sangat sengit,tania hanya bisa menghelakan nafasnya pelan dan menatap bukunya sambil tersenyum.
"Baca apa airin.." Ucap gabriel.
"Alhamdulillah...Huh,seneng banget bisa menang" Ucap tania sambil memeluk bukunya girang. Gabriel turut senang saat melihat ekspresi girang dari tania.
"Kalau enggak dapat juara dua minimal juara berapa airin..." Ucap gabriel.
"Juara satu..." Ucap tania girang. Tania melihat piala yang berada di tangan gabriel dan memegangnya dengan bangga.
__ADS_1
Tania memenangi perlombaan yang dilaksanakan pada hari ini. Tania cukup senang,pasalnya hal tersebut bisa menggantikan jerih payah belajarnya selama ini.
"Kita di kasih waktu empat hari,kamu mau langsung pulang atau liburan dulu?" Tanya gabriel.