
"Kamu kenapa airin?" Tanya gabriel sedikit panik. Tania meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
"Enggak tau pak,sakit perut saya" Ucap tania meringis kesakitan.
"Kita ke rumah sakit yuk..." Ajak gabriel.
"Eng..." Ucap tania terputus.
"Jangan nolak,takutnya ada apa-apa,ayo ke rumah sakit" Ucap gabriel yang tak terima penolakan.
"Bisa jalan sendiri?" Tanya gabriel dan hanya di angguki oleh tania. Setelah tania keluar dari rumah,gabriel langsung menggendong rara yang tertidur dan menyusul tania.
Tiba-tiba handphone gabriel berdering.
"Gab,loe di mana?" Tanya ari.
"Gila loe ya,kita meeting hari ini" Ucap ari tanpa menunggu jawaban dari gabriel.
"Di undur dulu aja ri,gue sekarang mau ke rumah sakit" Ucap gabriel.
"Hah? Siapa yang sakit? Oi gab,halo?" Tanya ari. Gabriel langsung mematikan sambungan telepon karena Gabriel enggan menceritakannya sekarang,saatnya ia pergi menuju rumah sakit bersama tania.
*****
"Bu tania airin putri ...." Panggil perawat. Tania,gabriel dan rara yang berada di gendongan pun masuk menuju ruang pemeriksaan.
Dokter melakukan pemeriksaan terhadap perut tania,tak lupa dokter pun mengetuk-ngetuk perut tania dan membuat tania semakin ke sakitan.Tak lupa dokter me-rontgen daerah perut tania.
"Gimana dok?" Tanya gabriel.
"Enggak ada penyakit yang khusus atau parah kok pak"
"Istri bapak cuma sembelit" Ucap dokter. Tania yang baru saja duduk di samping gabriel pun langsung mematung.
"Istri? Sembelit?"
"Astagaaa..." Batin tania frustasi.
"Malu gue sumpah,gue kesini cuma kena sembelit" Gumam tania merutuki dirinya sendiri.
__ADS_1
"Saya bukan istri dia dok" Ucap tania tak terima.
"Undaaaa...."
"Ayaaaa...."
Rara memanggil tania dan gabriel saat terbangun dari tidurnya.
"Rara sudah bagun nak" Ucap tania dan gabriel kompak. Tania pun langsung diam dan menatap gabriel dengan tatapan malasnya.
"Owalah,lagi ngambekkan istrinya ya pak" Sedari tadi dokter sibuk memerhatikan gerak-gerik tania dan gabriel. Gabriel hanya tersenyum mendengarkan penuturan dokter tak membantah sedikit pun ucapan sang dokter.
"Sering-sering makan sayur ya bu,biar enggak sembelit" Ucap dokter. Tania hanya tersenyum dan cengengesan saat mendapat nasehat dari dokter.
"istra-istri,istra-istri" Batin tania menggerutu.
"Oh iya,udah berapa hari bu tania enggak buang air besar?" Tanya dokter. Tampak tania berpikir sejenak dan menghitung menggunakan jarinya.
"Empat hari dok,hehe" Ucap tania sambil mengacungkan ke-empat jarinya. Gabriel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mengetahui selama itu tania tidak buang air besar.
"Banyakin makan sayur ya buk,terus tebus obatnya di depan" Ucap dokter sambil menyerahkan resep.
Setelah menebus obat,tania langsung menuju pusat perbelanjaan bersama gabriel untuk membeli bahan dapur rumah tania.
"Bapak enggak keberatan kan pak nganterin saya ke swalayan?" Tanya tania.
"Santai aja,saya juga ada yang mau di beli" Ucap gabriel.
"Rara mau apa nak?" Tanya gabriel sambil melirik rara sekilas.
"Es kimmm..." Jawab rara cadel dengan nada girangnya. Gabriel pun mengelus kepala rara dengan tangan sebelah kirinya,sedangkan lengan sebelah kanannya di gunakan untuk memegang kemudi.
"Hah...." Keluh gabriel.
"Kenapa pak?" Tanya tania.
"Kamu suka sama anak-anak enggak airin" Tanya gabriel. Tania mengangkat sebelah alisnya dan melihat gabriel yang sedang mengemudi.
"Suka dong" Ucap tania sambil menciumi pipi tembem rara dengan gemas.
__ADS_1
"Saya dari kecil suka sama anak-anak pak,yaa.. meskipun saya ini rada judes" Ucap tania.
"Asal bapak tau nih,saya itu dari dulu pengen banget punya anak"
"Dari SMA malahan..." Ucap tania dan membuat gabriel terkejut.
"Dari SMA?" Serius kamu?" Tanya gabriel tak percaya dan di angguki oleh tania.
"Saya pernah hampir adopsi anak yang ada di panti asuhan,tapi mama saya malah marah" Ucap tania.
"Kenapa?" Tanya gabrie.
"Kata mama saya,saya itu masih labil udah pengen punya anak. Emosi saya juga belum stabil.Terus dia juga bilang kalau saya itu masih SMA,yang di utamakan itu belajar,bukan ngurus anak,terlebih lagi itu anak adopsi" Ucap tania mengingat semua ucapan mama.
"Terus nih pak,mama saya juga bilang kalau ngurus anak itu bukan perihal yang mudah"
"Apalagi ngurus anak zaman sekarang" Sambung tania.
"Ibarat kata nih ada emas dan sama ada anak perempuan"
"Yang lebih mahal dan yang paling susah di jaga ya anak perempuan"
"Ketimbang emas mah,mudah di dapat,mudah di cari,mudah di ganti kalau rusak. Lah kalau anak perempuan? Udah susah di dapat,susah di didik eh kalau udah sekali rusak ya tetap rusak"
"Rusaknya sampai ngehancurin perasaan orang tua sama ngehancurin kepercayaannya" Ucap tania panjang lebar.
"Bapak paham kan rusak nya anak perempuan yang kayak gimana?" Tanya tania.
"Paham. Yang udah gitu-gituan sama yang bukan mahromnya kan?" Gabriel tanya balik dan di angguki oleh tania.
"Saya sih setuju sama omongan mama kamu airin" Ucap gabriel.
"Kamu itu mesti ingat dan jalankan semua ucapan baik mama kamu..."
"Untungnya kamu didik sama ibu dan di iringi ilmu agama,jadi kamu enggak tersesat-tersesat banget gitu..." Sambung gabriel.
"Tersesat?"
"Maksud bapak saya itu agak sesat orangnya? Gitu" Tanya tania dengan nada murka.
__ADS_1