
"Kamu udah di apartemen saya?" Tanya gabriel melalui via telepon.
"Udah om,dari tadi malahan kita di sini" Ucap bimas malas.
"Sesuai kesepakatan,rapiin semua kertas yang ada di kamar saya,jangan sampai ada yang tersisa satu pun" Ucap gabriel memerintah.
"Buset,loe kayak bos aja pak,merintah-merintah gue" Ucap bimas kesal.
"Kamu mau keinginan kamu terwujud nggak?" Tanya gabriel dengan nada naik satu oktaf.
"Astaga,iya,iya om...." Ucap bimas kesal.
"Nih,loe aja yang ngomong sama nih perjaka bang,gedeg telinga gue kalau denger suara dia" Ucap bimas sambil menyerahkan handphone refan.
"Eh,refan,airin gimana? Apa kabar?" Tanya gabriel.
"Acie,ahai...nanyain cinta nya tuh..." Ucap refan menggoda. Gabriel hanya bisa mendenguskan nafasnya pelan.
"Si tatan nambah kacau sih pak,kemarin motor dia di tabrak sama orang sampai hancur" Ucap refan.
"Lah? Kok bisa?" Tanya gabriel terkejut.
"Tatan juga enggak tau dan enggak mau tau gimana kronologi kejadiannya pak,alhasil motor tatan yang udah hancur dia kasih sama orang yang jadi saksi di sana" Ucap refan.
"Lah? Kok gitu? Bukannya bisa di benerin?" Tanya gabriel.
"Nah itu dia pak,kita saudaranya tatan aja enggak habis pikir sama jalur pikirannya si tatan" Ucap refan.
"Waktu tatan pulang ke rumah,dia cuma diam aja di kamar"
"Terus kalau duduk sama mama dia diam aja,kayak aneh aja sih kalau ngelihatin tatan kayak gitu" Ucap refan.
"Kayaknya banyak banget sih beban pikiran tatan semenjak kecelakaan tempo hari" Ucap refan.
"Terus gimana kalau dia ke kampus?" Tanya gabriel.
"Awalnya sih bawa mobil punya dia,tapi gara-gara hampir nabrak orang,akhirnya si tatan di antar-jemput sama kak zira " Ucap refan menjelaskan kejadian yang tania alami akhir-akhir ini.
"Astaghfirullah" Ucap gabriel sambil memegang kepalanya.
"Nanti kalau kamu udah sampai di rumah,telepon saya,saya mau ngomong sama airin" Ucap gabriel.
__ADS_1
"Jangan ngomong aja,nikahin tuh tania" Teriak bimas dari kejauhan. Gabriel hanya diam dan tak membalas ucapan bimas.
"Pokoknya semua pekerjaan kalian harus selesai hari ini" Ucap gabriel dan langsung mematikan sambungan telepon.
Bimas dan refan membersihkan apartemen milik gabriel. Sekarang,sudah waktunya mereka pulang ke rumah.
"Dek,kerjaan kita belum selesai" Ucap refan.
"Hah? Emangnya apa lagi kerja kita?" Tanya bimas.
"Kalau loe mau dapetin game baru,loe harus banget setuju-in hal ini" Ucap refan.
"Setuju-in? Hal ini? Emangnya apaan?" Tanya bimas. Refan langsung tersenyum dan membisikkan sesuatu di telinga bimas.
"Hah? Serius?" Tanya bimas tak percaya dan di angguki refan.
"Gimana? Loe bisa terima?" Tanya refan.
"Hah.... Insya Allah bisa bang" Ucap bimas pasti dan di angguki refan.
"Sekarang kita pulang" Ucap refan dan diangguki bimas.
*****
"Wa'alaikumsalam,siapa?" Ucap bimas. Tania langsung berjalan untuk membuka pintu rumah dan di kejutkan oleh kehadiran gabriel yang berada di hadapannya.
"Lah bapak? Kok udah pulang?" Ucap tania terkejut.
"Kenapa? Enggak suka?" Tanya gabriel dingin. Tania yang enggan menjawab ucapan gabriel pun langsung masuk ke dalam rumah dan di susul oleh gabriel
"Mana refan sama bimas?" Tanya gabriel celingukkan mencari bimas dan refan.
"Kita di dapur om,lagi makan" Teriak bimas.
"Siapa yang masak? Airin?" Tanya gabriel berlenggang menuju dapur.
"Tatan? Bisa masak? Apa kata dunia" Ucap refan meledek tania. Tania hanya bisa memutar bola matanya malas dan mengambilkan nasi untuk gabriel.
"Makan pak" Pintah tania dan langsung di angguki gabriel.
"Istri idaman" Satu ucapan gabriel yang membuat tania langsung membatu. Setelah mereka makan,gabriel kembali celingukkan mencari sesuatu.
__ADS_1
"Mama kalian ke mana?" Tanya gabriel sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah.
"Lagi di luar,ada acara nikahan temen anaknya" Ucap bimas dan hanya di angguki gabriel.
"Eh airin,kamu kenapa semakin parah akhir-akhir ini?" Tanya gabriel sambil menatap tania dengan tajam. Tania hanya diam dan enggan membuka suara.
"Dosen-dosen kamu telepon saya terus setiap hari" Ucap gabriel.
"Nilai kamu kacau-balau kata mereka" Ucap gabriel sambil mengeluarkan file nilai tania yang ada di handphone-nya.
"Tugas-tugas yang saya kasih sama kamu udah kamu kerjakan?" Tanya gabriel dingin dan di gelengi tania. Gabriel langsung menghelakan nafasnya sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kamu kerjakan,saya...." Ucap gabriel terputus saat mendapatkan panggilan telepon.
"Saya angkat telepon ke depan dulu..." Pamit gabriel.
"Eh airin,kalau ada yang mau kamu tanyakan panggil saya" Pintah gabriel dan di angguki tania.
"Noh,tan,pak gabriel baik banget sama loe" Ucap refan.
"Iya tuh,loe di samperin lagi ke rumah gara-gara nilai loe anjlok" Ucap bimas. Tania langsung mengerutkan dahinya dan menatap bimas dengan heran.
"Kok loe tiba-tiba loe belain gabriel sih?" Ucap tania.
"Bukan belain taniaa,tapi itu kenyataan" Ucap bimas lagi. Tania yang enggan membalas ucapan tania pun langsung membuat tugas yang di perintahkan oleh gabriel.
"Kok yang ini jadi kayak gini ya hasilnya?" Tania mulai kebingungan dengan tugas yang ia buat.
"Tanya sama pak gabriel aja deh" Tania langsung keluar rumah untuk menemui gabriel. Namun,tania mendengarkan sayup-sayup obrolan gabriel melalui via telepon dengan seseorang.
"Satu hal yang mau saya bicarakan sama ibu" Ucap gabriel. Tania pun memilih untuk menyimak obrolan gabriel.
"Saya sering kerja ke luar kota bu,apakah anak ibu bisa terima itu setelah menikah dengan saya nanti?" Ucap gabriel. Tania yang mendengarkan hal tersebut seperti merasakan cekatan di lehernya dan berhenti bernafas dalam beberapa detik.
"Kapan saya bisa ketemu ibu?" Ucap gabriel.
"Saya lamar anak ibu secepatnya" Ucap gabriel sangat tegas. Tania mengurungkan niatnya untuk menghampiri gabriel,akhirnya tania memilih untuk pergi ke kamarnya dan beristirahat.
"Bang,kalau gabriel nanyain gue kemana,bilangin gue capek,mau istirahat" Ucap tania.
"Brak...." Tania langsung menbanting pintu kamarnya dan membuat refan dan bimas terkejut.
__ADS_1
"Dia kenapa?" Tanya bimas dan di gelengi refan.