
"Bu dewi" Panggil tania sambil melambai-lambaikan tangannya. Buk dewi pun langsung berjalan menghampiri tania sambil membawa seorang anak kecil berusia 5 tahun.
"Bunda..." Panggil bocah tersebut dengan nada girang. Tania langsung menggendong bocah kecil tersebut dan menciuminya dengan gemas.
"Kamu apa kabar sayang?" Tanya tania.
"Aca baik-baik aja kok bunda" Ucap tasya. Tasya merupakan cucu bu dewi. Karena tania sering berkunjung ke rumah bu dewi,seiring berjalannya waktu tasya atau yang kerap di panggil aca pun semakin dekat dengan tania.
"Aca main sama bunda ya hari ini,boleh kan?" Tanya tasya.
"Boleh dong" Ucap tania senang.
"Bu dewi langsung ke kampus hari ini?" Tanya tania.
"Iya sayang,enggak apa-apa kan kalau tasya di sini seharian" Ucap bu dewi.
"Enggak apa-apa,aca nginap aja di rumah tatan bu,biar besok pagi tatan anterin pulang" Ucap tania.
"Aca mau kan nginap di rumah bunda?" Tanya tania.
"Mauuuu..." Ucap tasya berjingkat kegirangan dalam gendongan tania.
"Yakin enggak nangis?" Tanya tania.
"Yakinnn" Jawab aca.
"Janji?" Tanya tania sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Janjii..." Jawab aca sambil menautkan jarinya ke jari tania.
Bu dewi si dosen tania pun langsung mengelus lembut kepala aca dan tersenyum saat melihat tingkah cucunya.
"Papa aca jadi honeymoon bu?" Tanya tania berbisik.
"Jadi,malam tadi langsung berangkat"
"Udah kebelet katanya" Ucap bu dewi berbisik di iringi kekehan. Tania pun ikut terkekeh geli akibat ulah bu dewi.
Bu dewi langsung berpamitan pergi ke kampus,sedangkan tania dan tasya langsung masuk ke dalam rumah.
"Aca,bunda beresin rumah sebentar ya,sudah itu kita langsung main,oke?" Ucap tania.
"Oke" Jawab tasya sambil mengangkat jari jempolnya.
Setelah membersihkan dan memastikan semua sudut rumah sudah bersih,tania pun langsung menyiram bunga di halaman belakang rumahnya.
"Aca mau tolong bunda,aca mau tolong" Ucap tasya sambil berusaha merebut selang air.
"Nanti baju aca basah" Ucap tania mengingatkan.
"Enggak apa-apa bunda,aca mau tolongin bunda" Ucap tasya yang masih saja berusaha merebut selang air. Tania langsung memberikan selang air tersebut. Tasya yang mendapatkan selang air pun sangat kegirangan dan menyirami bunga sambil bersenandung ria.
Setelah menyirami bunga,tania dan tasya pun langsung masuk ke dalam rumah. Mereka pun bermain bersama,bak ibu dan anak. Cukup lama mereka main,tanpa sadar waktu sudah berjalan sangat cepat.
"Assalamualaikum" Ucap bimas dan refan bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" Jawab tania dan tasya. Bimas dan refan langsung terdiam saat melihat tania sedang bersama anak kecil.
"Ini siapa tan?" Tanya bimas sambil menunjuk tasya yang berada di hadapannya.
__ADS_1
"Aku anak bunda" Ucap tasya sambil memeluk tania dengan erat.
"Hah? Seriusan? Maksudnya apaanih?" Tanya bimas lagi. Sedangkan refan masih saja diam tanpa berkutik.
"Nanti gue ceritain. Sekarang loe berdua makan dulu,sudah itu langsung mandi" Ucap tania dan di angguki oleh refan dan bimas.
"Masa si tatan udah punya anak?" Tanya refan berbisik kepada bimas sambul berlenggang masuk ke kamar.
"Ngelantur aja tu bocil" Ucap Bimas sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah refan dan bimas mengganti baju dan makan. Tatapan mereka pun langsung beralih saat mendengarkan tania yang sedang bercerita dengan tasya.
"Terus sejak kapan bunda punya dedek?" Tanya tasya penasaran. Pasalnya sedari tania menceritakan tentang keluarganya.
"Bunda punya dedek itu waktu bunda masih TK" Ucap tania sambil menyuapi tasya makan.
"Oh,gitu... Aku juga mau punya dedek ah" Ucapnya dengan nada khas anak-anak.
"Kan papa sama mama aca lagi buat dedek untuk aca" Ucap tania. Bimas dan refan hanya bisa terpenganga dari kejauhan saat mendengarkan ucapan tania.
"Bahaya nih tatan,sama anak kecil aja vulgar banget bahasanya" Ucap bimas kepada refan.
"Iya. mulutnya tatan kayak enggak ada rem-nya" Sambung refan dan di angguki bimas.
"Terus dedek bunda ada berapa?" Tanya tasya. Tania pun menunjukkan dua jarinya sambil tersenyum.
"Dua?" Tanya tasya dan di angguki tania.
"Dedek bunda ada dua,cowok semua" Ucap tania sambil tersenyum.
"Aca enggak pernah lihat dedek bunda"
"Siapa nih? Bunda tolong aca" Ucap tasya. Refan dan bimas pun langsung menghadap tasya sambil mencibir.
"Luek...." Cibir refan dan bimas. Tasya langsung melihat bimas dan refan dengan tatapan tak sukanya.
"Oom kenapa?" Tanya tasya polos sambil menghadap refan.
"Anjrit oom" Ucap refan dengan nada tak percaya. Bimas dan tasya langsung tertawa saat mendengarkan nada protes yang keluar dari mulut refan.
"Anjrit itu apa bunda?" Tanya tasya. Tania,refan dan bimas pun terpenganga dengan penuturan polos tasya.
"Emangnya itu apa? Kapan aca dengarnya?" Tanya tania pura-pura tak tahu. Tasya langsung menunjuk refan dan membuat refan terkejut.
"Om ini tadi ngomong anjrit" Ucap tasya dengan wajar datarnya. Tasya dan bimas pun di buat bingung karenanya.
"Em... Itu bukan yang kayak tasya dengar"
"Tadi abang refan ngomong astaghfirullah" Ucap tania.
"Abang? Jadi aca manggil dia abang?" Tanya tasya sambil melirik refan. Tania hanya mengangguki sambil tersenyum.
"Kalau dia? Aca manggil dia apa?" Tanya tasya sambil menunjuk bimas.
"Panggil dia abang bimas" Ucap tania.
"Mereka semua dedek bunda" Ucap tania sambil menggenggam tangan refan dan bimas.
"Oh,gitu..." Ucap tasya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Halo abang bimas,halo abang refan" Ucap tasya sambil melambaikan tangannya.
"Nama aku tasya,panggil aja aku aca" Ucap tasya ramah. Bimas dan refan pun langsung duduk di samping tasya dan menatap tasya dari atas ke bawah.
"Ayah kamu duda?"
"Makanya kamu di titipin di sini? Iya kan? Iya?"
"Supaya tatan bisa jadi ibu sambung kamu,iya kan? Iya?" Tanya refan dengan nada penuh introgasi. Sedangkan tasya langsung terpenga-nga karena tak paham dengan ucapan refan.
"Hus,dia mana paham apa itu duda" Ucap tania berbisik.
"Loe pe'ak sih bang" Ucap bimas sambil menepuk pelan lengan refan.
"Oh iya bunda,jadi astaghfirullah itu di ucapkan kapan?" Tanya tasya.
"Waktu kita berbuat kesalahan" Ucap tania.
"Em...kalau anjrit gimana? Boleh di ucapkan waktu berbuat kesalahan?" Tanya tasya dengan tatapan polos. Mata tania,bimas dan refan pun saling menatap setelah mendengarkan ucapan tasya.
"Anjrit lah,gimana gue jelasinnya?" Tanya tania lewat kontak mata tanpa berbicara sedikit pun.
"Sumpah,gue enggak ikut-ikutan ya" Jawab bimas melalui kontak mata sambil mengangkat kedua tangannya.
"Anjrit dah loe dek" Upat refan melalui kontak mata tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"Hahh...." Suara keluhan langsung terdengar dari mulut mereka bertiga. Sedangkan tasya menatap mereka secara bergantian dengan tatapan kebingungan.
"Bunda,bolehkah kita ngomong anjri..." Ucap tasya langsung terputus saat tangan bimas sudah membekap mulutnya.
"Stt....aca mau makan es krim enggak?" Tanya bimas dan langsung di angguki tasya. Bimas pun tersenyum dan melepaskan tangannya dari mulut tasya.
"Eh,tunggu bentar..." Ucap tasya sambil mengangkat sebelah tangannya bak meminta seseorang untuk berhenti.
"Jadi boleh ngomong anjrit?" Tanya tasya lagi sambil menatap bimas,tania dan refan secara bergantian. Mereka bertiga pun kembali terpenga-nga dengan pertanyaan tasya. Tasya yang melihat ekspresi orang di sekitarnya pun langsung cengengesan.
"Udah yuk bang,katanya mau beli es krim" Ucap tasya santai. Mereka bertiga pun menghelakan nafasnya dengan sangat pelan saat tasya tak mempertanyakan kembali kata yang ia dengar.
"Ya sudah ayo..." Ucap bimas sambil menggandeng tangan tasya.
"Aca pergi dulu ya bunda,bang refan" Ucap tasya sambil melambaikan tangan dan di balas oleh tania dan refan.
"Anjrit..." Ucap tasya tiba-tiba saat tersandung batu. Bimas yang awalnya menggandeng tangan tasya pun langsung melepaskannya.
"Canda anjrit" Sambung aca cengengesan. Refan yang merasa sangat berdosa akibat penuturan tasya pun merasakan pusing yang teramat di kepalanya.
"Gue enggak kuat nanggung dosa berat-berat Ya Allah" Teriak refan sambil menjambak rambutnya penuh frustasi. Tania tertawa terbahak-bahak setelah mendengarkan ucapan penuh pasrah dari refan.
"Solat istikhoro dek biar dosa loe di ampuni" Ucap tania.
"Lah? Kok istikhoro? Bukannya solat tobat ya?" Ucap refan sambil menatap tania dengan tatapan herannya.
"Iya,itu maksud gue...hehehe" Ucap tania sambil menepuk pelan bahu refan.
"Jauh banget perbedaannya anjrit" Ucap refan kesal.
"Opp...mulut...." Ucap tania mengingatkan.
"Entar kedengaran sama tasya bisa mampus gue di cerca pertanyaan lagi" Ucap refan dengan nada kesal. Tania kembali tertawa dan membuat refan menatapnya dengan tatapan kesal.
__ADS_1