
"Saya telepon mama kamu,ya?" Ucap gabriel.
"Eh,jangan...enggak usah repot-repot pak..." Ucap tania langsung.
"Mama saya barusan pergi liburan sama adik-adik saya"
"Jadi enggak usah di telepon" Jelas tania. Gabriel pun melirik tania sejenak dan merebut handphone tania.
"Siapa nama tunangan kamu?" Tanya gabriel datar.
"Kenapa?" Tanya tania.
"Saya mau telepon dia" Ucap gabriel.
"Enggak usah pak. Dia enggak bakal datang" Ucap tania.
"Dia sibuk" Ucap tania lagi.
"Ck,emangnya apaan sih kerja dia sampai enggak mau ngeluang-in waktu buat kamu?" Tanya gabriel mendengus kesal.
"Dia baru di angkat jadi manager pak"
"Makanya dia sibuk" Ucap tania.
"Alah,alasan" Tandas gabriel sinis.
"Kalau dia beneran sayang sama kamu,suka sama kamu,bahkan cinta sama kamu,dia seharusnya rela meninggalkan pekerjaannya untuk sementara demi kamu"
"Setidaknya satu jam aja di sini udah cukup" Ucap gabriel lagi.
"Yaelah pak,satu jam itu lama kali..." Ucap tania.
"Menghabiskan waktu sama orang yang kita sayang itu enggak cukup satu jam airin..."
"Bahkan seharian juga enggak cukup..." Ucap gabriel lagi. Tania hanya bisa termenung setelah mendengarkan ucapan gabriel.
"Siapa nama tunangan kamu?" Tanya gabriel.
"Raka..." Jawab tania malas. Gabriel langsung menelepon nomor tersebut. Saat sudah terhubung,gabriel pun meminta tania untuk berbicara dengan raka.
"Ngomong apa?" Bisik tania kepada gabriel.
"Terserah..." Jawab gabriel.
__ADS_1
"Ka,loe ada di mana?" Tanya tania.
"Di rumah,kenapa tan?" Tanya raka.
"Em,loe bisa enggak ambilin baju gue ke rumah?" Tanya tania. Raka yang di seberang telepon pun tampak kebingungan.
"Emangnya loe di mana tan?" Tanya raka.
"Gue di rawat di rumah sakit" Ucap tania.
"Loe bisa kan nolongin gue?" Tanya tania.
"Siapa ka?" Terdengar di seberang sana suara seseorang yang tania kenal. Tania hanya bisa tersenyum miris setelah mendengarkan suara tersebut.
"Hah...Nolongin apa?" Tanya raka sambil mendengus kesal.
"Kalau enggak mau ya udah,santai aja dong nggak usah ngedesah"
"Sampai-sampai gue bisa tau seberapa enggak ikhlasnya loe nolongin gue" Ucap tania emosi dan langsung mematikan telepon. Saat ini tania masih di bakar oleh api amarahnya dan membuat gabriel diam tak berkutik.
"Masih sayang enggak sih dia sama kamu?"
"Kalau enggak sayang lagi,ya jangan di pertahankan"
"Sebelum semuanya terlambat"
"Nikah itu bukan cuma sebulan dua bulan terus kalau bosan bisa di tinggalkan"
"Nikah itu seumur hidup,bahkan bisa sampai ke surga" Sambung gabriel.
"Kasih sayang dan cinta itu sangat penting dalam sebuah pernikahan" Nasehat gabriel panjang kali lebar.
"Kamu juga salah airin"
"Kamu seharusnya jangan nge-gas,kamu harus bisa kontrol emosi" Ucap gabriel mengingatkan tania.
"Terkadang ada laki-laki yang suka sama sikap bar-bar kamu dan tak menolak kemungkinan ada yang enggak suka sama sikap bar-bar kamu" Ucap gabriel.
"Airin,kamu itu calon ibu" Ucap gabriel serius dan di simak serius oleh tania.
"Dari anak-anak saya nanti...hehe" Ucap gabriel menggombal dan cengengesan. Tania pun mendengus kesal setelah mendengarkan gombalan gabriel.
"Grtttt....Grtttt...."
__ADS_1
Handphone gabriel bergetar saat mendapatkan panggilan masuk dari ari.
"Hem...apa?" Tanya gabriel yang berjalan sedikit jauh dari tania.
"Apa,apa...gigi loe noh apa" Ucap ari kesal.
"Bentar lagi kita ke luar kota,loe siap-siap"
"Satu jam lagi gue tunggu loe udah ada di bandara" Ucap ari memerintah.
Gabriel pun melirik tania sebentar. Di lihatnya tania kembali berbaring sambil menatap botol infus.
"Gue enggak bisa pergi ri" Ucap gabriel.
"Gue barusan masuk rumah sakit" Ucap gabriel berbohong. Tania yang mendengarkan suara gabriel pun hanya bisa terkejut dan mengerutkan alisnya.
"Gue lagi di infus,kata dokter gue enggak boleh capek,stess terus kecapekan" Ucap gabriel sambil mengingat kembali larangan dokter yang di tujukan untuk tania.
"Masa sih? Secepat itu loe sakit? Bukannya tadi sore loe ketemuan sama gue?" Tanya ari berturut-turut.
"Loe enggak percaya? Datang aja ke sini kalau enggak percaya" Ucap gabriel kesal.
"Otw..." Ucap ari langsung dan membuat gabriel sedikit kalut. Gabriel pun mencari perawat dan menyewa salah satu kamar di rumah sakit. Tak lupa juga bahwa gabriel meminta memasangkan infus di tubuhnya.
"Bapak kenapa sih?" Tanya tania heran saat melihat gabriel kalang-kabut.
"Stt...diam aja kamu" Ucap gabriel.
"Saya di kamar samping,kamu jangan kemana-mana"
"Kalau ada apa-apa chat saya" Ucap gabriel dan hanya di angguki tania.
Gabriel langsung menuju kamar yang telah di siapkan untuknya. Kamar gabriel pun terletak bersebelahan dengan kamar tania.
Saat tania sedang menonton di handphone-nya,tiba-tiba pintu kamar tania terbuka.
"Ck,apa lagi sih pak..." Ucap tania jengah tanpa mengalihkan pengelihatannya dari layar telepon.
"Eh,maaf" Ucap lelaki tersebut dan kembali menutup pintu.
"Eh,bu tania?" Ucap nya dan membuat tania melihat si pemilik suara. Mata tania membulat setelah tau siapa pemilik suara tersebut.
Suara siapa ya kira-kira?🙀
__ADS_1
...Guys,maaf ya author telat up... Thor lupa kalau hari ini belum up,hehehe... Jangan pernah bosan baca Airin kesayanganku ya guys... See you❤️...