Airin Kesayanganku

Airin Kesayanganku
Episode 48


__ADS_3

Beberapa hari ini tania di sibukkan oleh semua tugasnya yang sudah menumpuk. Belum lagi ia harus hadir ke sekolah tempatnya mengajar.


"Tatan enggak apa-apa sendiri?" Tanya mama.


"Enggak apa-apa ma" Ucap tania.


"Kita liburan loh tan,seriusan enggak ikut?" Tanya bimas.


"Kalau gue ikut nambah numpuk ntar tugas gue" Ucap tania.


"Yaudah kalau gitu" Jawab bimas seadanya.


"Btw,muka loe pucet banget tan" Ucap refan sambil memrhatikan wajah tania.


"Tatan sakit nih"


"Mama enggak jadi pergi deh" Ucap mama. Tania pun langsung mendorong mama dengan pelan agar keluar dari rumah.


"Tatan cuma kecapekan. Biasalah begadang" Ucap tania.


"Biasalah..." Ucap bimas dan refan berbarengan dengan nada yang sering viral akhir-akhir ini. Tania pun langsung menoyor kepala refan dan bimas secara bersamaan.


"Sakit blo'on" Ucap bimas dan refan bersamaan. Tania hanya mencibir ucapan si kembar.


"Kalau ada apa-apa telepon mama ya nak" Ucap mama dan di angguki tania.


Mama dan kedua saudara tania pun pergi ke luar kota untuk liburan dalam beberapa hari ke depan.


"Kamu enggak ke kampus airin?" Tanya gabriel lewat telepon.


"Enggak pak,saya enggak kuat ke kampus" Ucap tania.


"Lah kenapa?" Tanya gabriel.


"Kepala saya sakit pak" Ucap tania.


"Oh,yaudah semoga cepat sembuh" Ucap gabriel seadanya.


"Hem,iya" Ucap tania.


"Oh iya,nanti sore saya ke rumah kamu" Ucap gabriel.


"Hem,terserah..." Tania yang malas berdebat pun langsung mematikan teleponnya.


Tania membersihkan rumahnya terlebih dahulu,namun saat membuka pintu kamar refan dan bimas,seperti ada sesuatu yang mengganjal di belakang pintu.


"Ck,apaan nih?" Decak tania. Tania pun mendorong dengan sangat keras pintu kamar si kembar dan di kagetkan oleh tumpukan baju kotor milik refan dan bimas.


Ingin meluapkan marah tapi target yang di marahi tak ada,ingin membersihkan semuanya kepala tania sakit dan pengelihatannya semakin berkurang.


"Astaghfirullah...." Ucap tania sambil memegang kepalanya.


Tanpa ada pilihan lain,tania terpaksa mencuci tumpukan kain kotor milik si kembar.


"Stt....Sakit baget kepala gue" Tania pun menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya dan memilih untuk berbaring dan berusaha menggapai handphone-nya.


"Sri tolong beliin gue makan dong" Ucap tania di sambungan telepon.


"Lah? Kok suara kakak ipar lemes sih?" Tanya sri.


"Gue cuma kecapean aja"


"Udah,beliin sana makanan apa aja" Tanpa menunggu jawaban sri,tania pun memutus sambungan telepon.


Tak lama menunggu,sri pun datang dan memberikan apa yang tania minta.

__ADS_1


"Sumpah uni,loe pucet banget" Ucap sri.


”loe sakit? Udah ke dokter?" Tanya sri dan di gelengi tania.


"Gue cuma capek aja sri,udah pergi sana,gue mau istirahat" Usir tania sambil mengibas-ibaskan tangannya di udara. Sri pun langsung pergi atas permintaan tania.


*****


"Loe di mana?" Tanya raka.


"Di rumah,kenapa?" Tanya tania lesu.


"Enggak apa-apa"


"Gue kirain loe di kampus"


"Udah dulu,gue lagi di atas mobil nih" Ucap raka dan langsung mematikan sambungan telepon. Tania merasa kedinginan di udara panas pada siang hari ini. Tania pun memilih merebahkan tubuhnya di atas kursi dan istirahat di sana.


"Gue kenapa ya? Kok gue lemes banget sih?" Ucap tania berusaha menggapai gelas yang berada di atas meja.


"Gue telepon mama aja kali ya?" Tania mengambil handphone-nya dan mencari nomor mama.


"Ah...enggak-enggak...adek-adek gue udah lama banget pengen liburan"


"Kalau mama tau gue sakit,yang ada entar mereka balik lagi" Ucap tania sambil menyimpan kembali handphone-nya.


"Ah,istirahat bentar palingan sembuh" Tania pun memutuskan untuk istirahat kembali.


Siang menjelang sore,gabriel pun datang ke rumah tania sesuai ucapannya di telepon. Namun saat gabriel sedang di perjalanan,ia mendapatkan telepon dari ari,bahwasannya ia harus bertemu client sekarang.


Alhasil,gabriel pun menemui client-nya dan berbincang mengenai kerja sama mereka. Tak lama waktu yang di habiskan untuk membahas seputar proyek pada hari ini. Tanpa membuang waktu,gabriel pun langsung menuju rumah tania.


"Woi gabriel,loe kapan balikin mobil gue" Ucap ari di sambungan telepon.


"Ah,bacot banget sih loe"


"Kapan loe beli mobil hah? Bukannya mobil loe udah laku?" Tanya ari.


"Duit dari mobil lama gue bakal gue pakai buat modal nikah" Ucap gabriel.


"Alah,bullshit loe kampret" Upat ari kesal. Gabriel yang muak mendengarkan suara ari pun langsung mematikan sambungan telepon dan beralih menelepon tania.


Sudah beberapa kali gabriel menelepon tania namun tak kunjung di angkat.


"Ck,kemana sih nih anak?" Ucap gabriel. Gabriel pun menambah laju kendaraannya dan membelah jalanan ibu kota.


"Assalamualaikum..."


Gabriel langsung masuk ke dalam rumah tania karena pintunya tak tertutup.


"Assalamualaikum..."


Gabriel tak kunjung mendengarkan suara tania. Saat hendak duduk di atas kursi,gabriel pun terkejut saat melihat tania tidur di sana.


"Astaghfirullah..." Gabriel langsung mengelus dadanya pelan dan menggoyangkan pelan badan tania.


"Airin..." Panggil gabriel dan tak di sauti sedikit pun oleh tania.


"Airin..." Gabriel pun mengangkat sebelah alisnya dan melihat wajah pucat tania.


"Kamu beneran sakit?" Tanya gabriel sambil melihat wajah tania dengan teliti.


"Hello airin,hei airin..." Ucap gabriel sambil menggoyangkan kembali badan tania.


"Gimana nih?"

__ADS_1


"Gue enggak pernah nyentuh kulit cewek" Batin gabriel.


"Bismillahirrahmanirrahim..." Gabriel pun menyentuh dahi tania dan merasakan suhu badan yang teramat panas.


"Astaghfirullah,airin..." Ucap gabriel. Tanpa ba-bi-bu gabriel pun mengangkat tubuh tania ke dalam mobilnya. Tak lupa gabriel juga membawa handphone milik tania.


Gabriel yang panik pun langsung membawa tania menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan tania.


"Pak,mohon ke administrasi dulu ya" Ucap perawat dan hanya di angguki oleh gabriel.


Setelah memenuhi persyaratan,gabriel kembali ke ruangan tania dan melihat tania yang sudah di infus.


"Haduh...pak gabriel lagi..." Gumam tania yang masih bisa di dengar oleh gabriel.


"Udah sadar kamu?"


"Kamu kok hobi banget sih bolak balik rumah sakit?" Tanya gabriel.


"Ya karena luka saya belum sembuh makanya suka ke rumah sakit" Ucap tania puitis.


"Alah,sok-sok punya luka kamu"


"Jangan minta di obatin kalau tuh luka kamu cipatakan sendiri" Ucap gabriel sambil melihat tania dengan tatpan sinisnya. Gabriel langsung melihat ke arah infus tania yang hampir habis dan segera memanggil perawat.


"Saya sakit apa sih pak?"


"Bentar lagi boleh pulang kan bu perawat?" Tanya tania kepada gabriel dan perawat.


"Kamu itu sakit tifus,terus kamu juga dehidrasi"


"Makanya infus kamu cepat habis,soalnya tubuh kamu kekurangan cairan"


"Dan dirimu kekurangan kasih sayang" Ucap gabriel di hadapan perawat dan tania. Mata tania pun langsung membulat sempurna.


"Dari pasangan tentunya..." Sambung gabriel. Tania yang kesal pun mencubit lengan gabriel sampai gabriel meringis kesakitan. Sedangkan bu perawat hanya bisa terkekeh pelan saat melihat dua insan yang berada di depannya.


"Boleh pulang sudah ini kan bu?" Tanya tania.


"Saya udah sehat kok" Sambung tania.


"Untuk sekarang belum boleh,nanti kalau di hasil pemeriksaan selanjutnya bu tania sudah menunjukkan beberapa perkembangan yang baik,baru boleh pulang"


"Itu pun atas izin dokter" Ucap bu perawat.


"Jadi,sekarang banyak-banyak istirahat"


"Jangan banyak begadang,jangan stress,jangan kecapekan" Nasehat bu perawat.


"Nah,dengar tu pak..." Ucap tania dan membuat jidat gabriel berkerut.


"Lah? Kok saya?" Tanya gabriel tak terima.


"Jangan pura-pura bego deh pak"


"Saya sering begadang itu karena tugas dari bapak"


"Saya mudah stress itu juga karena sering di omeli bapak"


"Terus saya kecapean itu karena sering di suruh-suruh sama bapak"


"Semua kejadian hari ini berasal dari bapak" Ucap tania yang langsung mengkambing hitam kan gabriel. Gabriel pun langsung memutar bolanya malas dan melirik tania dengan tatapan sinisnya.


"Saya pamit ya pak,bu...." Perawat undur diri dengan sopan karena merasa tak enak mendengarkan semua ucapan tania yang di tujukan kepada gabriel.


"Dasar cewek bar-bar"

__ADS_1


"Masa semua penyebab dia sakit berasal dari gue sih?" Batin gabriel tak terima.


__ADS_2