
"Zira loe tau nggak tempat bekam daerah sini?" Tanya tania melalui via telepon.
"Ngapain loe nanyain tempat bekam?" Tanya zira.
"Mau beranak...." Jawab tania ketus.
"Nggak usah banyak tanya loe zira,kalau loe tau bilang tau,kalau nggak tau, bilang nggak tau..." Ucap tania ketus.
"Widihhh,santai dong tan..." Ucap zira.
"Loe mau bekam jenis apa?" Tanya zira.
"Terserah yang penting bekam...." Ucap tania.
"Buka handphone loe,tuh udah gue share location " Ucap zira. Tania langsung memutuskan sambungan telpon secara sepihak.
"Kurang ajar,nggak tau terima kasih nih anak..." Upat zira.
Sedangkan tania langsung mencari kontak gabriel dalam ponselnya dan langsung menelpon gabriel.
"Pak,bapak mau ikut nggak?" Tanya tania langsung.
"Kemana?" tanya gabriel dengan nada herannya.
"Ke tempat bekam untuk ngilangin masuk angin abis jagain saya di rumah sakit kemarin..." Ucap tania.
"Terus bapak kan kemarin mabuk di atas bus,khikhikhik...." Ledek tania dan membuat gabriel kesal.
"Otw..." Ucap gabriel langsung mematikan sambungan teleponnya.
Untungnya setelah acara kemah kemarin,tania dan gabriel tidak ada jadwal mengajar di kampus. Alhasil mereka pun bisa mengistirahatkan diri di waktu luangnya.
Tak lama kemudian klakson mobil berbunyi di depan rumah tania. Tania langsung berlari dan masuk kedalam mobil gabriel.
"Jangan duduk di belakang,kamu pikir saya sopir kamu...." Ucap gabriel dingin. Tania hanya memutar bola matanya malas dan menuruti perintah gabriel.
Mobil gabriel yang bisa membuka atap secara otomatis pun membuat tania kegirangan.
"Azek,naik mobil sultan mah beda...." Ucap tania sambil memakai kaca mata hitam.
"Beli mobil baru pak?" Tanya tania.
"Enggak,masih minjam" Jawab gabriel seadanya.
"Pak,pak,foto dulu kita..." Ucap tania sambil mengambil handphone nya dan memotret dirinya dan gabriel.
"Ah,nggak bagus hasilnya...." Ucap tania. Gabriel pun menyerahkan handphone nya dan menyuruh tania mengambil gambar menggunakan ponselnya.
"Widih,memang beda kualitas handphone sultan sama handphone kentang...." Ucap tania.
"Hai aku kentang,kamu sultan ya...." Ucap tania layaknya memainkan boneka,tetapi bonekanya diganti dengan handphone.
Gabriel menatap tania tak percaya, semakin lama ia bersama tania semakin merasakan aura keanehan dari diri seorang 'tania airin putri'.
"Bapak nunggu apa lagi?cuss jalan..." Ucap tania girang. Tania masih sibuk memotret dirinya menggunakan handphone gabriel.
"Eh pak,ntar kirim ya hasil fotonya ke saya,ya!" Oceh tania dan hanya di angguki oleh gabriel.
"Calon bapak nggak marah liat foto saya ada di handphone bapak?"Tanya tania.
"Ngapain marah?"Tanya gabriel.
"Yaaaa saya takut aja ntar di grebek sama calon istri bapak terus di bilang pelakor...."
__ADS_1
"ihhhh...amit-amit..." Ucap tania sambil mengetuk tangannya didashboard mobil gabriel. Gabriel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat aksi tania.
"Gimana mau marah,calon aja nggak ada,huh...naseb-naseb" batin gabriel.
"Mana masih di istikhara kan lagi,haduh..." Batin gabriel lagi.
"Eh,ini dimana tempatnya?" Tanya gabriel. Tania menunjukkan maps kepada gabriel untuk mencari lokasi yang akan dituju.
"Tumben kamu ngajakin saya? Kamu mau modus ya sama saya?" Tanya gabriel penasaran. Tania langsung mengeryitkan dahinya dan melototkan matanya.
"Idih,sembarangan...." Ucap tania ketus.
"Saya kalau mau modus nggak bakal cari yang tua kayak bapak..." Ledek tania. Gabriel hanya mendengus kesal saat mendengarkan ucapan tania.
"Saya mau cari tumpangan gratis,makanya saya ajakin bapak,sekalian sopirin saya..." Ucap tania santai. Gabriel telah menduga bahwa ia di peralat oleh tania.
Mereka berhenti sejenak untuk membeli makanan dan minuman. Untuk kesekian kalinya tania meminta gabriel berhenti karena meliat kios boba.
Sekitar empat puluh lima menit mereka menempuh jarak kepergian dan sampailah ketempat yang di tuju.
Tania melototkan matanya saat telah sampai ditempat yang dituju. Tak berbeda dengan tania,mata tajam gabriel pun membulat dengan sempurna.
"Bekam lintah...." Ucap tania terkejut sambil menunjuk spanduk didepannya.
"Pak pulang aja yuk,nggak jadi deh...." Ucap tania dengan nada menciut. Gabriel menyeringai saat melihat wajah ketakutan tania.
"Zira,dasar teman nggak guna loe ya..." Upat tania yang sedang menelepon zira. Zira sudah sangat hafal dengan obrolan yang akan di bahas oleh tania.
"Loe yang pe'ak tan,gue kan udah nanya bekam apa,loe jawab bekam apa aja..."
"Jadi yang gue tau cuma bekam lintah..."
"Trus gue shareloc deh sama loe..." Ucap zira santai. Tania langsung mematikan sambungan telpon dan meringkuk kakinya di atas jok mobil.
"Keluar....." Ucap gabriel dingin yang meminta tania keluar dari mobil.
"Kan tadi kamu yang minta buat pergi bekam,terus kenapa nggak mau sekarang?..." Tanya gabriel.
"Saya nggak tau kalau ini tuh bekam lintah,saya pikir cuma bekam angin..." Ucap tania. Gabriel memutari mobilnya dan membuka pintu mobil supaya tania keluar. Gabriel pun menarik lengan baju tania dengan paksa.
Tania pun membrontak,tetapi tak membuat gabriel gentar. Gabriel sangat ingin melihat wajah ketakutan seorang tania yang dikenalnya sangat bar-bar plus aneh. Gabriel langsung membawa tania masuk kerumah tempat bekam lintah tersebut.
"Oh iya,ini balas dendam untuk kamu airin,saya pengen lihat kamu tersiksa kali ini,hihihi" batin gabriel menyeringai bahagia.
"Bekam lintah untuk 2 orang sekaligus bisa?" Tanya gabriel.
"Bisa pak,silahkan masuk..." Ucap resepsionis tersebut. Gabriel menyeringai dan kembali menarik lengan baju tania. Gabriel sengaja tak menyentuh kulit wanita siapa pun kecuali muhrimnya. Maka dari itu setiap ia hendak memegang siapapun ia tak akan berkontak langsung dengan kulit seorang perempuan.
Gabriel mengaktifkan sistem video di handphonenya dan membuat tania keheranan.
"Bapak ngapain?" Tanya tania.
"Mengabadikan momen..." Ucap gabriel santai. Dua orang tukang bekam pun datang dengan membawa peralatan bekam dan sesuatu yang menggeliat didalam botol kaca.
"Alamak jang,besar banget...." Batin tania berteriak saat melihat lintah yang berada didalam botol kaca.
"Idih,seram juga nih lintah..."
"Buset,gede banget lagi" Batin gabriel saat melihat lintah.
Tukang bekam mulai membersihkan punggung tangan gabriel dan tania. Tania hanya memperhatikannya tanpa berkutik sedikit pun,hal yang serupa pun dilakukan oleh gabriel.
Saat tangan sudah dibersihkan,saat nya lintah diambil dan akan ditempelkan di punggung tangan.
__ADS_1
"Sakittttt...." Jerit tania kuat.
"Belum airin..."Ucap gabriel dengan memutar bola matanya malas.
"Mbak...mbak...belum mbak,lintahnya masih saya pegang..." Ucap perempuan parubaya yang menangani tania. Tania hanya cengengesan dan menampakan aura kebodohannya.
"Ada-ada aja kamu airin..." Ucap gabriel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sakiiiittttttttt......" Teriak mereka berdua kompak. Gabriel dan tania menjerit sekencang mungkin dan membuat semua pengunjung bekam lintah yang lain pun menatap mereka berdua. Tania mencubit kuat perut gabriel dan membuat gabriel merasakan sakit yang lebih parah.
"Akh,sakit,sakit,sakit......" Ucap tania sambil mengehentakkan kakinya kuat.
"Airin jangan dihentak gitu lantainya nanti jebol. sttt...." Ucap gabriel dan kembali teriak saat lintah semakin kuat menghisap darahnya.
"Hahahahaha,gabriel mau nangis ya nak...." Ledek tania saat melihat gabriel menahan sakitnya.
"Murid nggak tau di untung kamu..."Ucap gabriel sambil melototkan matanya saat tania memanggilnya tanpa imbuhan 'pak' dan dibalas cibiran oleh tania.
"Gabriel cengeng,gabriel cengeng,akhhhhhhh......" Ledek tania dan diiringi teriakannya.
"Hahahahaha,lintah sedot aja darah airin sampai dia mampus...." Ledek gabriel dan membuat pasangan paruhbaya tersebut tertawa kecil.
"Udah berapa lama pacaran nak?" Tanya ibu yang menangani tania.
"Kita nggak pacaran buk,hubungan kita itu sebatas..." Ucap tania terputus.
"Boss dan anak buah...." Ucap gabriel girang.
"Hahahahaha..."Sambung gabriel lagi. Tania langsung mencubit lengan gabriel dengan gemas dan membuat gabriel meringis kesakitan.
"Hahahahaha,bahagianya aku..." Ucap tania yang sekarang tertawa.
"Udah nikah nak?" Tanya si bapak yang menangani gabriel.
"Belum pak..." Ucap gabriel dan tania kompak.
"Aciee,jodoh nih kayak nya...."Ucap si bapak dengan nada menggoda sambil menyenggol pelan lengan gabriel.
Gabriel menatap tania dari atas kebawah,begitu pula sebaliknya. Gabriel langsung bergidik ngeri saat membayangkan bahwa tania yang akan menjadi istrinya.
"Nggak mau saya pak,kan masih banyak yang lain selain dia..." Ucap gabriel sembari menunjuk tania menggunakan mulutnya.
"Idih,nggak usah ke-pd anda pak gabriel saya juga nggak mau jadi istri bapak..."Ucap tania sinis dengan menekan kata 'pak gabriel'.
"Misalnya ntar kalau stok cewek sama cowok habis di dunia dan tinggal kalian berdua gimana?apa kalian mau menikah?" Tanya si bapak dengan senyumnya.
"Mau gimana lagi pak,saya sih mau-mau aja,dari pada mati jadi pejaka tua...." Ucap gabriel santai. Pasangan paruhbaya tersebut pun tertawa saat mendengarkan ucapan gabriel.
"Kalau kamu nak? Gimana?" Tanya si ibu.
"Terima aja kali ya buk,nggak ada salahnya nikah sama mahluk satu ini" Ucap tania.
Gabriel melototkan matanya dan dibalas cibiran oleh tania.
"Awas kamu airin,saya jadiin kamu istri saya beneran baru tau rasa!"Ucap gabriel geram.
"Uwuuu,rasa apakah itu?" Balas tania dengan nada meledeknya.
"Rasa kebahagiaan lah,masa saya mau nyiksa istri sendiri..."Ucap gabriel.
"Kalau cowok itu nyiksanya ditempat yang empuk,ya kan pak?" Tanya gabriel diiringi dengan seringaian. Si bapak pun mengacungkan dua jempol saat mendengar penuturan gabriel. Kedua lelaki tersebut pun tertawa cekikikkan.
"Mereka bahas apa tuh buk?" Tanya tania dengan wajah polosnya. Si ibu pun hanya tertawa kecil dan mengelus kepala tania lembut.
__ADS_1
"Kalau kamu udah nikah nanti pasti tau,apalagi dia yang jadi suami mu...." Ucap ibu tersebut. Tania tak paham sedikitpun dengan ucapan ibu tersebut dan memasang wajah blo'onnya sehingga membuat ketiga orang disekitarnya tertawa terpingkal-pingkal.
"ihhh...kalian ngeledekkin aku ya?" Tanya tania sambil cemberut. Semua orang kembali tertawa dan membuat tania semakin kesal.