
"Ck,apa lagi sih pak..." Ucap tania jengah tanpa mengalihkan pengelihatannya dari layar telepon.
"Eh,maaf" Ucap lelaki tersebut dan kembali menutup pintu.
"Eh,bu tania?" Ucap nya dan membuat tania melihat si pemilik suara. Mata tania membulat setelah tau siapa pemilik suara tersebut.
"Eh?" Tania terkejut saat melihat ari yang berada di hadapannya.
"Bu tania di rawat?" Ucap ari dan di angguki oleh tania.
"Terus kenapa kayak kesal gitu waktu saya masuk ke sini?" Tanya ari.
"Maaf pak ari,saya kira yang masuk tadi dosen sewot saya" Ucap tania sambil mendengus kesal.
"Hem,cepat sembuh ya bu tania"
"Btw,saya salah masuk ruangan,teman saya di rawat juga di sini" Ucap ari dan hanya di angguki oleh tania.
"Maaf saya enggak bawa buah tangan ya bu tania" Ucap ari.
"Sans aja pak ari..." Ucap tania santai. Ari pun langsung pamit undur diri dari hadapan tania.
*****
"Gab,loe di mana?" Tanya ari di sambungan telepon.
"Loe di depan kamar gue,somplak" Ucap gabriel langsung mematikan sambungan telepon. Ari langsung menghampiri gabriel dan melihat gabriel dari atas ke bawah.
"Loe kenapa? Enggak percaya?"
"Masih maksain gue buat terbang malam ini?" Tanya gabriel. Ari hanya mendengus pasrah dan menepuk pundak gabriel pelan.
"Ya udah,loe istirahat aja"
"Biar gue sendiri yang pergi malam ini" Ucap ari penuh keterpaksaan.
"Btw,di samping kamar loe ada temen gue gab"
"Dia ngajar di sekolah yang sama tempat gue ngajar" Ucap ari.
"Siapa?" Tanya gabriel penasaran.
"Ck,yuk ke sana bentar" Ucap ari. Gabriel pun ber-akting seolah-olah sakit betulan. Ari meminta gabriel untuk duduk di kursi roda. Sedangkan gabriel duduk di sana sambil memegang infus.
"Ari ini goblok sedari kecil atau gimana sih?" Batin gabriel.
"Masa dia enggak tau kalau tangan gue pura-pura di infus"
"Mana di kasih selotip lagi tangan gue" Batin gabriel sambil melihat tangannya.
"Gab" panggil ari.
"Hemm..." Saut gabriel.
"Loe tau enggak sekarang loe mirip apa?" Tanya ari.
"Apa?" Tanya gabriel.
"Mirip ibu-ibu habis melahirkan yang duduk di atas kursi roda" Ucap ari sambil tertawa.
"Kurang ajar loe..." Upat gabriel.
Karena tak memperhatikan jalan,gabriel pun tak tau bahwa ruangan yang di tuju adalah kamar tania.
"Bu tania...." Sapa ari. Gabriel pun mengangkat kepalanya dan membulatkan matanya setelah melihat mata tania.
"Pak gabriel" Ucap tania terkejut saat melihat gabriel yang berada di kursi roda dan tangan yang terinfus. Sedangkan gabriel hanya bisa merutuki kebodohannya karena ia tak menolak ajakan ari.
"Loe kenapa kayak orang cacat gitu gabriel..." Ucap tania melalui kontak mata dan tak mengeluarkan suaranya.
"Stt.... Diam kamu,enggak usah banyak tanya" Balas gabriel sambil melotot ke arah tania.
"Eh? Bu tania kenal sama gabriel?" Tanya ari.
__ADS_1
"Dosen saya..." Ucap tania sambil melihat gabriel dengan tatapan jengah.
"Bapak kok jadi kayak gitu? Bukannya tadi bap...." Ucap tania terputus.
"Ri,loe pergi aja langsung,entar ketinggalan pesawat"
"Nanti gue balik ke kamar sendiri..." Ucap gabriel memotong ucapan tania.
"Ingat gab,cepat sehat loe"
"Padahal meeting hari ini penting banget" Ucap ari.
"Ntar semua laporan gue kirim ke email loe" Ucap ari dan di angguki gabriel.
"Ya udah,gue langsung ke bandara ya gab" Ucap ari dan di angguki oleh ari.
"Hati-hati" Ucap gabriel dan di angguki oleh ari.
"Bu tania cepat sembuh ya" Ucap ari sambil tersenyum manis ke arah tania.
"Plakk...."
Gabriel menampar pipi ari dan membuat ari meringis mesakitan.
"Apa bego?" Upat ari kesal.
"Jangan goda-in murid gue loe"
"Gue tampol loe entar..." Ucap gabriel sambil menatap ari dengan tatapan setannya.
"Lah,suka-suka gue mau senyum kek,jungkir balik kek,apa urusannya sama loe?" Ucap ari dengan nada kesal.
Setelah memastikan ari sudah pergi,gabriel pun menghembuskan nafasnya lega dan berdiri dari kursi rodanya.
"Terus sekarang gimana?" Tanya gabriel.
"Apanya?" Tanya tania.
"Sekarang siapa yang bakal jagain kamu kalau kamu lagi sakit kayak gini?" Tanya gabriel.
"Lagian,kan ada suster di sini" Ucap tania.
"Jangan ngadi-ngadi deh airin..."
"Suster enggak bakalan bisa jaga kamu 24 jam" Ucap gabriel.
"Kamu saya suruh telepon mama kamu,kamu enggak mau"
"Saya suruh telepon tunangan kamu,kamu malah marah-marahin dia" Ucap gabriel sambil mendengus kesal.
"Saya marah gara-gara dia enggak ikhlas pak" Ucap tania emosi. Padahal alasan lain tania tersurut emosi adalah karena mendengar suara perempuan yang sedang bersama raka tadi.
"Ada banyak cara untuk menyelesaikan masalah airin"
"Kamu tenangin diri kamu dulu,baru lanjut ngomong sama saya" Ucap gabriel sembari duduk di seberang tania.
Tania pun menarik nafasnya dalam-dalam dan berusaha menetralkan pikirannya. Sedangkan gabriel yang di seberang sana sedari tadi memperhatikan tania.
"Udah tenang?" Tanya gabriel.
"Belum pak" Jawab tania langsung tanpa melihat gabriel. Gabriel pun menganggukkan kepalanya dan memeriksa handphone-nya.
"Pak..." Panggil tania.
"Udah tenang?" Gabriel langsung melihat tania. Tania menganggukkan kepalanya dan melihat gabriel.
"Bapak kenapa malah pura-pura sakit?" Tanya tania sambil melihat infus gabriel.
"Saya ada jam penerbangan hari ini buat ketemu client"
"Tapi ada sesuatu hal yang nggak bisa saya tinggal" Ucap gabriel.
"Alhasil,saya pura-pura sakit.." Ucap gabriel. Tania hanya bisa meng-oh ria kan ucapan gabriel.
__ADS_1
"Nih anak enggak peka atau bego sih? Bukannya jelas kalau gue pura-pura sakit gara-gara cuma mau nemenin dia" Batin gabriel.
"Terus,pak ari itu temen bapak?" Tanya tania dan di angguki gabriel.
"Dia temen saya dari sekolah menengah pertama sampai sekarang" Ucap gabriel.
"Pantesan deket banget..." Ucap tania.
"Udah tidur sana..." Ucap gabriel. Tania hanya bisa bersungut dan mendengarkan ucapan gabriel.
Setelah memastikan tania tidur,gabriel pun meminta bawahannya untuk membelikan beberapa stel baju tidur untuk tania.
Tak lupa,ia juga menyuruh bawahannya untuk membeli buah dan membawakan baju ganti miliknya.
*****
Gabriel pun menemani tania selama di rumah sakit. Ia rela tidur di atas kursi demi menemani tania. Pasalnya,tak ada siapa pun yang bisa di hubungi untuk menjaga tania.
Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari,tania pun terbangun dari tidurnya dan merasakan mual yang luar biasa. Suara tania pun berhasil membuat gabriel terbangun dari tidur.
"Hoek....."
Tania menggigil dan merasakan mual yang teramat hebat. Gabriel hanya bisa mengelus-elus pundak tania untuk menetralkan rasa mual tania.
"Pak saya mau muntah..." Ucap tania lesu. Gabriel pun memapah tania menuju kamar mandi dan membantu tania untuk mengeluarkan cairan yang sedari tania membuat tania merasa tak nyaman.
Baru saja naik ke atas bangkar,tiba-tiba tania menyemburkan muntahan-nya dan mengenai baju gabriel. Tania hanya bisa memegang pundak gabriel dan menatap gabriel dengan tatapan bersalahnya.
"Enggak apa-apa,saya udah siapin baju ganti kok" Ucap gabriel datar.
Lagi-lagi,tanpa aba-aba tania mengeluarkan semua isi perutnya dan pastinya mengenai gabriel. Tania merasakan sakit kepala yang luar biasa. Alhasil,gabriel pun meminta tania untuk menyandar di bangkar rumah sakit.
"Jangan ngintip ya airin..."
Gabriel membuka bajunya dan membersihkan semua muntah tania menggunakan bajunya. Saat gabriel membuka baju,mata tania membulat sempurna dan langsung memutar kepalanya agar tak melihat gabriel.
"Gila,bagus banget body nih dosen" Batin tania sambil mengintip gabriel dari sela-sela jarinya.
"Mata gue enggak berdosa kan?" Batin tania lagi.
Setelah membersihkan muntah tania,gabriel pun mandi sejenak dan menggant bajunya. Setelahnya,ia meminta tania untuk mengganti baju di kamar mandi.
"Bisa sendiri enggak airin? Kalau enggak bisa saya panggilin suster?" Tanya gabriel.
"Em,insya Allah bisa" Ucap tania berusaha bangkit.
"Tapi saya enggak ada baju ganti pak..." Ucap tania lesu. Gabriel memberikan paper bag kepada tania yang berisikan baju. Tania pun langsung mengganti baju ke kamar mandi.
Lagi-lagi gabriel harus membersihkan selimut dan alas kasur tania yang terkena muntahan. Alhasil Gabriel pun mengganti selimut dan alas kasur yang baru.
"Raka itu yang mana orangnya?" Tanya gabriel. Tania langsung membuka media sosial milik raka dan menunjukkan foto raka kepada gabriel.
"Oh,ini orangnya..." Ucap gabriel dan di anggguki tania.
"Mau makan apa airin?" Tanya gabriel saat tania sudah keluar dari kamar mandi. Sejenak tania melihat arah jam yang sudah tengah malam.
"Enggak deh pak,agak siang-an dikit makannya" Ucap tania dan di angguki gabriel.
"Makan buah mau?" Tanya gabriel dan di angguki tania. Gabriel mengupas apel untuk di makan oleh tania.
"Eh airin,si zira mana? Sama aisyah? Kemana mereka?" Tanya gabriel saat mengingat para sahabat tania.
"Lagi keluar kota pak,mereka ada kerjaan di sana" Ucap tania.
"Sebenarnya kerjaan bapak itu apa sih pak selain jadi dosen?" Tanya tania.
"Emm...."
"Kapan-kapan deh saya ajakin kamu ke kantor saya"
"Tapi saya enggak bisa janji loh airin..." Ucap gabriel.
"Yaelah pak,ngasih tau pekerjaan aja ribet amat" Ucap tania ketus. Gabriel hanya bisa memutar bola matanya dan menatap tania dengan tatapan jengah.
__ADS_1
"Ketusnya kumat lagi..." Batin gabriel.