
Tania datang ke kampus dengan mata panda-nya. Pasalnya sedari malam tadi,tania tidak bisa tidur sama sekali akibat ulah tasya. Tasya yang mulai merengek saat ingin tidur karena rindu terhadap mama dan papa-nya. Dan tasya yang tidak ingin tidur jika tidak di temani oleh bimas dan refan. Alhasil,mereka semua membentang kasur dan tidur di depan televisi.
Di tengah malam pun tasya kembali menangis karena ia mengompol di atas kasur. Karena bimas dan refan tidur di samping tasya,alhasil mereka pun terkena pipis tasya di tengah malam dan di ganggu oleh tangisan melengking dari tasya.
Tasya menangis bukan tanpa sebab. Tasya menangis karena ia takut di marahi oleh tania karena dirinya pipis di atas kasur.
Bukannya marah,tania langsung membawa tasya untuk membersihkan diri dan mengganti baju yang sudah terkena pipis. Sedangkan bimas dan refan langsung mengganti baju dan langsung pindah ke kamar mereka karena kasur di ruang televisi sudah basah terkena pipis tasya.
Tania kembali teringat saat tasya menangis sambil memeluk dirinya malam tadi.
"Aca kenapa?" Tanya tania sambil membelai rambut tasya.
"Hiks...hiks..hiks..."
Tasya menggelengkan kepalanya sambil memeluk kembali tania dengan erat.
"Aca kenapa nak?" Tanya tania lagi.
"Hiks...hiks...hiks..."
"Aca takut bunda marah..." Ucap tasya sesegukkan. Tania hanya tersenyum saat mendengarkan ucapan tasya.
"Bunda enggak marah nak..." Ucap tania sambil membelai rambut tasya.
"Beneran bunda?" Tanya tasya dan di angguki oleh tania.
Tania hanya geleng-geleng kepala saat mengingat betapa manjanya tasya. Meskipun tasya baru kemarin kenal dengan bimas dan refan,akan tetapi tasya langsung akrab dengan dua saudara kembar tania tersebut dan bertingkah sangat manja.
Sedang asyik-asyiknya tersenyum saat mengingat semua tingkah tasya,tiba-tiba setumpuk kan kertas muncul di hadapannya dan membuat good mood tania langsung hilang.
"Senyam-senyum,senyam-senyum" Ucap gabriel ketus.
"Susun ini semua" Ucap gabriel lagi dan langsung berlenggang pergi. Tania hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menuruti semua perintah gabriel.
__ADS_1
Saat jam kampus dan jam kerjanya sudah habis,tania langsung keluar dari ruang gabriel dan akan pulang.
"Hei airin...." Panggil gabriel. Tania yang mendengar suara gabriel pun langsung mendengus kesal.
"Mau kemana kamu? Pulang?" Tanya gabriel.
"Enggak,saya enggak pulang" Ucap tania. Gabriel langsung menarik helm yang berada di tangan tania dan merebut kunci motor tania.
"Ini apaan hah?" Tanya gabriel sambil memegang kunci motor dan helm milik tania. Tania hanya bisa memutar bola matanya jengah dan kembali masuk ke dalam ruang gabriel.
"Nih,perbarui semua datanya" Ucap gabriel sambil memberikan flashdisk kepada tania.
"Terus bapak ngapain?" Tanya tania.
"Saya kerjain pekerjaan saya yang lain" Ucap gabriel. Tania hanya menganggukkan kepalanya dan langsung mengerjakan tugasnya..
Tak ada obrolan sama sekali di antara tania dan gabriel selama mereka menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing.
"Halo?" Ucap tania.
"Pak gabriel,pak ari kecelakaan di perempatan kantor"
"Sekarang udah di bawa ke rumah sakit" Ucap orang tersebut. Mendengar kata kecelakaan,tania langsung mencari gabriel.
Baru saja ia keluar dari ruangan gabriel,tiba-tiba gabriel sudah berdiri di depannya.
"Astaga...kaget saya pak" Ucap tania sambil mendengus kesal. Tania pun langsung memberikan handphone gabriel dan meminta si penelepon untuk menceritakan kembali semua kejadian.
Gabriel terkejut setelah mengetahui bahwa sahabatnya kecelakaan dan sudah di larikan ke rumah sakit. Gabriel langsung pergi bergegas untuk melihat sahabatnya tersebut.
"Airin saya pinjam motor kamu ya" Ucap gabriel sambil mengambil helm dan kunci motor tania.
"Eh? Terus gue pulang naik apa pak?" Tanya tania.
__ADS_1
"Nanti saja jemput..." Ucap gabriel dan langsung berlari. Tania hanya bisa menggerutu kesal saat gabriel pergi.
"Kalau aja temen loe enggak kecelakaan,enggak bakal gue pinjemin motor gue" Ucap tania kesal.
Gabriel langsung menuju rumah sakit tempat sahabatnya di larikan. Gabriel langsung menuju IGD dan menanyakan ruangan ari.
Ternyata,sesampainya gabriel di sana,ari sedang asyik makan dengan tangan yang di perban. Gabriel yang melihat pemandangan tersebut pun hanya bisa mendengus kesal dan berjalan masuk ke dalam ruangan ari.
"Kok tangan loe enggak patah? " Tanya gabriel sambil menatap ari dengan tatapan datarnya. Ari yang mendengarkan ucapan gabriel pun langsung melemparkan sendoknya ke arah gabriel.
"Kupret loe" Upat ari.
"Seharusnya loe bersyukur dong kalau gue enggak kenapa-napa" Ucap ari kesal.
"Iyaaa. Bercanda gue tadi" Ucap gabriel dengan tatapan datarnya.
Cukup lama gabriel menemani ari di rumah sakit. Saat ari meminta gabriel untuk meninggalkannya pun,tanpa basa-basi gabriel langsung pamit pergi. Pasalnya gabriel teringat dengan tania yang sudah pasti masih menunggunya di kampus.
Di pertengahan jalan,motor yang di kendarai gabriel tiba-tiba mati. Gabriel pun langsung memeriksa tangki minyak motor. Ternyata minyak motor sudah habis.
Untungnya gabriel berhenti di depan pom bensin,Jadi gabriel hanya mendorong motor tania masuk ke dalamnya tanpa menguras banyak tenaga .
Setelah mengisi minyak motor,perhatian gabriel teralihkan ke dalam tempat penyimpanan barang yang berada di bawah jok motor.
Gabriel yang cukup penasaran pun memarkirkan motor tak jauh dari tempat pengisian bensin. Gabriel membuka gulungan kain tersebut dan cukup terkejut dengan apa yang ia lihat.
"Ehem..." Seorang cleaning service paruhbaya berdehem di hadapan gabriel.
"Mas berani juga ternyata bawa benda sakral kayak gitu" Ucap si ibu cleaning service.
"Hah?" Tanya gabriel ling-lung. Si ibu cleaning service pun menggelengkan kepalanya sambil terkikik geli.
"Ganteng sih,tapi hobinya ngoleksi ****** ***** cewek" Ucap si ibu cleaning service. Gabriel langsung menga-nga setelah mendengarkan penuturan si ibu cleaning service.
__ADS_1