
"Tan..." Panggil zira saat melihat tania yang termenung. Zira datang karena mendapat panggilan dari gabriel.
"Zira...." Ucap tania pelan. Zira langsung berlari ke kasur tania dan memeluk tania erat.
"Yang sabar ya cantik" Ucap zira sambil menciumi kepala tania dan memeluk tania dengan erat.
"Gue enggak tau gue kuat atau enggak zir" Tangis tania di pelukan zira.
"Stt...loe pasti kuat kok" Ucap zira sambil memeluk tania. Zira pun menangis tanpa sepengetahuan tania. Pasalnya,semua kejadian sudah di ceritakan secara jelas oleh gabriel dan yang pasti semua keluarga maupun sahabat tania tau bahwa ia sangat menginginkan anak.
"Udah boleh pulang?" Tanya zira.
"Udah,tapi bentar lagi aja pulangnya,gue masih enggak mood kalau pulang" Ucap tania dan di angguki zira.
"Pak gabriel mana?" Tanya zira.
"Lagi tebus obat" Ucap tania singkat. Tania langsung termenung dan ucapan bimas dan refan langsung terlintas di pikirannya.
"Loe suka?" Tanya bimas.
"Sama siapa?" Tanya tania balik.
"Fajar" Ucap bimas.
"Ya enggak lah,gue enggak pernah suka sama dia meskipun dia ganteng" Ucap tania dan di angguki oleh kedua saudaranya.
"Kalau gabriel gimana?" Tanya refan sambil tersenyum tengil.
Tania langsung menggelengkan kepalanya saat mengingat ucapan refan.
"Enggak mungkin gue suka sama dia" Batin tania. Tania memilih tidur dalam pelukan zira untuk melupakan gabriel.
"Airin ayo pulang" Ucap gabriel. Zira langsung mengangkat kepalanya dan melihat gabriel.
"Tania tidur pak" Ucap zira.
"Bangunin,kita langsung pulang" Pintah gabriel tegas dan dingin. Zira langsung menganggukkan kepalanya untuk menjalankan pintah gabriel.
Zira sudah beberapa kali membangunkan tania,namun hasilnya nihil. Gabriel pun meminta zira untuk menggendong tania sampai ke mobil. Tanpa penolakan,zira langsung menggendong tania ke mobil gabriel.
"Kamu pakai apa ke sini zira?" Tanya gabriel.
"Naik ojek pak" Ucap zira.
"Yaudah,naik aja,saya anterin ke rumah kamu" Ucap gabriel.
"Eh enggak usah pak say..." Ucap zira terputus.
"Naik" pintah gabriel dingin. Zira hanya bisa menelan salivanya dan menuruti ucapan gabriel.
"Enggak tania,enggak sahabatnya,sama aja,keras kepala" Omel gabriel di atas mobil. Zira hanya diam karena tak berani menjawab ucapan gabriel.
Di pertengahan jalan,tania terbangun dari tidurnya dan melihat daerah sekelilingnya.
"Kita di mana zir?" Tanya tania.
"Di mobil pak gabriel" Bisik zira sambil menunjuk gabriel yang sedang menyetir. Tak lama kemudian,tania sampai di rumahnya. Saat melihat sang mama,lagi-lagi tania menangis.
"Udah nak,udah...." Ucap mama sambil mengelus punggung tania.
"Nanti tatan bisa stres kalau gini terus" Ucap mama. Tania langsung di antar masuk oleh mama ke dalam kamarnya. Sedangkan gabriel dan zira masih berada di ruang tamu.
"Zira malam ini tidur sama tatan aja ya nak,temani tatan..." Ucap mama.
"Iya ma" Ucap zira. Zira langsung meninggalkan ruang tamu dan berlenggang menuju kamar tania.
"Bu,maaf atas keteledoran saya waktu menjaga airin" Ucap gabriel dan di gelengi mama.
"Enggak ada yang salah dalam hal ini,mungkin ini udah jadi takdir tatan" Ucap mama.
"Bu,saya mohon izin untuk beberapa hari ke depan saya belum bisa main ke sini" Ucap gabriel.
"Lah? Nak gabriel mau ke mana?" Tanya mama.
"Saya ada urusan bu di luar kota" Ucap gabriel.
"Sekitar tiga sampai tujuh hari saya di luar kota" Ucap gabriel dan di angguki mama.
__ADS_1
"Baik-baik kerjanya ya nak..." Ucap mama dan di angguki gabriel.
Tak lama gabriel pamit,tiba-tiba si kembar datang dengan tergesa-gesa dan langsung masuk ke kamar tania.
"Tatan..." Ucap si kembar langsung melompat ke kasur tania saat melihat sosok yang tengah tertidur.
"Ck,sakit woi" Pekik zira saat refan dan bimas memeluknya dengan erat. Refan dan bimas terkejut bukan main saat melihat zira yang berada di bawah selimut.
"Kalian ngapain?" Ucap tania yang baru selesai mandi.
"Enggak tau tuh,adek loe enggak jelas tan"
"Baru sampai langsung meluk gue" Ucap zira.
"Yeee... Maaf kak zira,kita kirain tatan tadi" Ucap refan sambil memukul pelan lengan zira.
"Kenapa loe pukul gue?" Ucap zira sambil menjauhi lengannya dari refan.
"Alah,biasanya cewek-cewek pada gitu. Dikit-dikit mukul" Ucap refan meledek.
"Gue tonjok loe entar refan,sakit badan gue loe himpit" Ucap zira kesal.
"Widih,gimana mau laku kalau kayak gini?" Ledek bimas.
"Iya,galak amat" Sambung refan. Zira langsung memukul kepala bimas dan refan menggunakan bantal.
"Hahaha,canda kak zira" Ucap bimas dan refan kompak.
"Loe berdua mandi dulu,entar gue ceritain kejadiannya" Ucap tania. Refan langsung berlari menuju kamarnya dan di susul oleh bimas.
"Ceklek...."
Pintu kamar tania kembali terbuka karena kedatangan bimas dan refan. Tania langsung menceritakan semua kejadian yang menimpanya hari ini secara singkat.
"Udah tan,loe jangan overthingking kayak gitu" Ucap bimas.
"Suatu hari nanti pasti ada cowok yang bisa nerima kekurangan loe" Sambung bimas dan di angguki tania.
"Eh,gue kok deg-deg-an ya kalau dekat jingga" Ucap bimas tiba-tiba sambil memegang dadanya.
"Gue enggak tau kalau gue suka sama dia atau enggak" Sambung bimas. Refan yang mendengarkan ocehan bimas hanya bisa memutar bola matanya jengah.
"Bang,kasih ciri-ciri orang jatuh cinta dong" Ucap bimas.
"Ah,ogah,loe jatuh cintanya sama jingga,coba aja kalau sama si sri,bakal gue kasih tau ciri-cirinya" Ucap refan.
"Yaelah bang,gue enggak tau kalau yang gue rasain itu cinta atau nafsu" Ucap bimas polos.
"Fiks,nafsu" Ucap refan langsung.
"Lah? Kok gitu?" Tanya bimas tak terima.
"Loe emang nafsuan,jelas banget dari muka loe" Ucap refan dan mendapatkan tamparan dari bimas.
"Kak zira tau ciri-ciri orang jatuh cinta?" Tanya bimas di gelengi zira.
"Yang PRO banget masalah percintaan itu kan abang loe bim,gue mah kagak paham yang gitu-gituan" Ucap zira.
"Hah,iya juga sih" Ucap bimas pasrah.
"Bang,please kasih tau gue" Ucap bimas memohon.
"Imbalan" Ucap refan santai.
"Hah?" Ucap bimas.
"Gue minta imbalan..." Ucap refan tersenyum tengil dan membuat bimas mendengus kesal.
"Loe mau apa?" Tanya bimas kesal.
"Playstation 5,boleh?" Tanya refan. Bimas langsung menampar wajah refan dengan kuat.
"Pala bapak loe Ps 5,jajan sekolah gue aja masih minta sama tatan" Ucap bimas kesal.
"Gue beliin loe boba deh,gimana?" Ucap bimas. Refan langsung mengangguk dan menyalami tangan bimas.
"Deal?" Tanya refan dan di angguki bimas.
__ADS_1
"Deal"
"Nah,ciri-ciri orang jatuh cinta itu banyak dek" Ucap refan.
"Salah satunya?" Tanya bimas.
"Loe mau yang bersumber dari gue atau bersumber dari gugel?" Tanya refan.
"Dari loe aja bang,biar lebih mantap" Ucap bimas.
"Astaghfirullah,nih anak udah paham sama yang mantap-mantap" Ucap refan sambil mengelus-elus dadanya.
"Plakk..." Tamparan kembali melayang di wajah refan. Kali ini bukan bimas pelakunya,melainkan zira.
"Stt...kok kak zira nampar gue sih?" Ucap refan sambil meringis kesakitan.
"Loe ngomongin hal unfaedah depan gue,gue sembelih loe!" Ancam zira.
"Hehehe,canda kak,candaa" Ucap refan dengan cengengesan tengilnya.
"Yang pertama loe bakal rasain kalau loe nyaman dekat dia,udah itu aja dulu" Ucap refan.
"Nyaman? Kayak yang gue rasain ke om gagab gitu?" Batin tania.
"Em,nyaman sih,tapi gue takutnya si jingga yang enggak nyaman sama gue" Ucap bimas.
"Kalau target loe enggak nyaman,alangkah baiknya kalau loe berhenti sejenak" Ucap refan.
"Sampai kapan gue berhenti?" Tanya bimas.
"Sampai gue udah dapetin si jingga" Ucap refan sambil tertawa.
"Ih kakak ngen...dors loe,kampret" Ucap bimas kesal dan membuat refan tertawa bahagia.
"Eh,yang kedua loe sering mikirin dia dek" Ucap refan.
"Maksudnya?" Tanya bimas.
"Nih ya,padahal loe lagi melamun,tiba-tiba di benak loe muncul aja dia"
"Terus,tanpa loe minta dia datang di pikiran loe,di bakalan datang" Ucap refan.
"Ehem..." Tania bersuara dan membuat semua yang berada di kamarnya menghadapnya.
"Loe kenapa berdehem kayak gitu tan?" Tanya bimas sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Em? Enggak ada..." Jawab tania langsung.
"Loe mikirin pak gabriel ya tan?" Tanya refan dan membuat tania membulatkan bola matanya sempurna.
"Eng...enggak,sembarangan loe" Ucap tania gugup.
"Acie.... Tatan,udah mulai suka sama pak gabriel nih" Ledek refan sambil menyenggol lengan tania.
"Jangan sembarangan deh bang,gue sekarang enggak suka sama pak gabriel" Ucap tania ketus.
"Kalau besok? Gimana?" Tanya refan tengil.
"Ih,apaan sih" Jawab tania ketus.
"Kok bisa-bisanya semua kejadian yang gue rasain sekarang jadi ciri-ciri jatuh cinta?" Batin tania.
"Pak gabriel,tatan mulai suka nih sama bapak,kalau udah pulang dari luar kota langsung ke sini ya,ajakin nikah...." Ucap refan mengirim pesan suara.
"Woi bang,apaan sih,siniin handphone loe" Ucap tania sambil merebut handphone refan.
"Pak gabriel,tatan salah tingkah nih,cepat nikahin ya" Ucap refan lagi. Tania masih saja berusaha merebut handphone milik refan dan hasilnya nihil.
"Ih,kok muka loe merah tan? Loe beneran suka sama pak gabriel?" Ucap bimas yang kini membuka suara. Tania langsung lari ke depan meja riasnya untuk bercermin dan ternyata benar ucapan bimas,bahwa wajah tania memerah sekarang.
"Enggak....." Teriak tania lantang.
...Ini sebenarnya dua bab ya readers,tapi thor jadiin satu bab aja,biar panjang,wkwkwkwkwk.......
...Maaf telat up :(...
...Calangeyo buat readers semua❤️...
__ADS_1